
Hari ini adalah keberangkatan syifa. Semua sudah berkumpul di ruang tamu. Mereka mengobrol santai sembari menunggu mobil jemputan syifa datang. Syifa duduk berada di antara kedua orang tuanya. Awalnya ia menolak karena tak biasanya mereka seperti ini. Tapi karena bujukan mama nya yang katanya mungkin hari ini hari terakhir mereka bertemu akhirnya mau tak mau ia menyetujuinya walau ia tetap merasa aneh.
Syifa hanya diam menatap mereka sembari mendengarkan celotehan keluarganya. Sesekali ia ikut menjawab obrolan mereka. Syifa menatap satu persatu keluarganya hingga tatapan syifa berhenti pada mita yang sedari ternyata menatap dirinya.
Pasti banyak yang bertanya kan mengapa ada mita? Yap, mita sudah pulang kemarin malam. Sebenarnya yang membuat syifa dan kedua abang nya heran mengapa mita tidak pulang ke rumahnya sendiri? Mengapa harus di rumah mereka? Ah tapi ya sudahlah yang terpenting semoga bocah itu tidak berbuat hal aneh.
Mita menatap syifa dengan tersenyum membuat syifa bingung dan juga heran. Tumben sekali dia tersenyum kepadanya biasanya hanya tatapan mengejek atau yang lain. Lah ini? Pasti dia kerasukan jin tomang.
Yugo dan helga juga sedari tadi menatap mita heran. Sebenarnya tidak apa-apa jika mita sudah berbaikan dengan syifa tapi yang ia khawatirkan kalau selama ini mita pergi malah untuk merencanakan sesuatu. Tapi mereka tidak ingin menuduh mita tanpa bukti walaupun begitu mereka tetap harus berhati-hati.
"Kamu nanti disana hati-hati ya. Harus baik sama orang sana. Kalau ada apa-apa hubungi kami jangan sungkan" kata mama lembut
"Iya benar kata mama kamu. Kamu kalau ada apa-apa hubungi kami bagaimana pun kami keluarga kamu" ucap papa sambil mengelus rambut syifa.
Syifa semakin dibuat bingung dengan mereka. Apa yang membuat mereka tiba-tiba berubah? Bukannya ia tak bersyukur tapi kalau mereka berubah menjadi baik ketika syifa akan pergi buat apa? Percuma kan? Pasti mereka bakal balik lagi ke aslinya. Tapi syifa tetap menganggukkan kepalanya.
"Iya syif dengerin tuh. Kalau lo butuh apa-apa bisa kok hubungi gue. Siapa tahu kan gue bisa bantu" nah ini ni yang membuat syifa, helga dan yugo curiga. Pasti kalian juga merasa aneh, curiga, heran kan dengan sifat mita yang tiba-tiba berubah?
"Iya mit, makasih. Insya allah nanti gue hubungi kalau gue butuh" yang dibalas senyum oleh mita.
Tin
Tin
Mobil jemputan syifa akhirnya datang. Yugo membantu syifa mengangkat koper ke mobil. Orang tuanya sedang berbincang pada supir yang menjemput syifa. Mereka berempat saling diam tidak ada yang membuka suara.
Syifa melirik ke arah yugo, yang dilirik juga melirik ke arah helga gitu aja terus sampai author punya doi *wkwk canda:v
Seakan mengerti arti tatapan mereka, akhirnya mereka pun bertelepati.
'Bang, lo merasa aneh nggak sih hari ini' batin syifa
'Iya dek, abang merasa hari ini aneh banget sama mereka' sahut yugo
'Benar yang dikatakan bang yugo. Malah abang merasa mereka jadi baik sama kamu saat kamu mau pergi. Aneh aja nggak sih, mereka yang tadinya cuek sama kamu tiba-tiba berubah sekejap. Apalagi tuh sih tengil, baru pulang udah kesambet. Jangan-jangan jiwa dia ketukar sama yang lain' ngawur helga
'Hihi apaan sih bang mana mungkin ketukar sama jiwa yang lain. Yang aneh malah kamu bang' syifa terkikik kecil
'Loh kamu baru tahu kalau helga itu emang aneh? Kudet banget kamu dek' ejek yugo
Helga mengerucut kan bibirnya, 'ish kalian kok tega sih sama aku. Apa yang kalian lakukan itu jahaddd' alay helga
Membuat yugo dan syifa terkekeh, mita sedari tadi menatap mereka bertiga aneh. Kenapa mereka tertawa sendiri? Dan mengapa helga cemberut?
'Aneh mereka kok ketawa sendiri padahal mereka dari tadi cuma diam' batin mita
Mereka bertiga yang mendengar batin mita menghentikan acara mereka. Lalu mereka bersikap biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu dan itu membuat mita semakin heran.
Orang tuanya sudah selesai berbicara lalu mereka menyuruh syifa untuk menghampiri mereka. Lalu syifa pun berjalan menghampiri kedua orang tuanya. Mama mengelus lembut rambut syifa. Syifa bisa melihat di mata mama nya memancarkan kesedihan dan syifa tidak tahu ada apa dengan mama nya.
"Kamu baik-baik ya disana. Ingat, jangan nakal, baik-baik sama orang disana terus kalau butuh apa-apa hubungi kami ya" syifa menahan air matanya yang sedari tadi ingin jatuh. Lalu tanpa sadar syifa memeluk erat mama nya dan saat itu juga air matanya tumpah.
"Hiks syifa akan baik-baik disana kok ma hiks syifa nggak akan nakal kok hiks kan syifa anak baik hiks. Syifa nanti akan hubungi hiks kalian kok malah nanti setiap hari hiks. Mama disini jaga kesehatan ya hiks jangan sakit-sakit ya ma hiks syifa nggak mau kalau nanti mama sakit hiks" syifa terus menangis walau ia tahu mama nya tidak akan membalas pelukannya tapi ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah bisa memeluk mama nya setelah bertahun-tahun.
Mama hanya diam tidak membalas pelukan syifa. Syifa lalu melepaskan pelukannya dan menatap mama nya dengan air matanya yang masih membasahi pipinya.
"Ma, aku sayang mama" 3 kata 1 arti membuat mama membeku. Syifa menghapus air matanya, lalu ia menghampiri papa nya. Ia juga melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan dengan mama nya tadi.
"Pa, makasih ya udah mau ngebesarin syifa. Syifa beruntung banget punya ayah yang begitu sayang sama keluarganya. Papa, apa aku boleh meminta sesuatu kepada papa" dan dengan tidak sadar papa mengangguk.
"Aku minta tetap jadi papa yang baik, yang sayang sama keluarga, yang saling menjaga satu sama lain. Oh iya jagain mama ya pa selama syifa pergi dan jagain juga kedua pangeran tampan aku ya pa. Tenang aja kok papa tetap menjadi pria yang tertampan dan super hero ter the best buat aku" ucapan syifa membuat papa nya menetaskan air mata. Bahkan mama nya pun ikut menangis.
Syifa melepaskan pelukannya, ia menatap papa nya sendu. Ia menghapus air mata yang jatuh di pipi papa nya.
"Pa, ingat pesan aku ya jagain mereka selama syifa pergi" syifa pun berbalik badan sebelum ia melangkahkan kakinya ia mengucapkan kata yang membuat kedua orang tuanya membeku.
"Aku sayang kalian terutama untuk papa, super hero ku" lalu syifa melangkahkan kakinya menuju kedua abang nya.
"Bang, jaga diri kalian baik-baik ya. Jaga kesehatan juga jangan sampai sakit oke" ucap syifa sambil merentangkan tangannya. Helga dan yugo yang paham langsung menghamburkan tubuh mereka ke dalam pelukan syifa.
Mereka menangis bersama, "hiks kalian berdua jangan pada berantem ya. Ifa nggak suka kalau lihat kalian berantem apalagi sampai terluka hiks"
"Iya dek kita nggak bakal berantem kok ya nggak bang"
"Iya yang dikatakan helga benar dek. Kita berdua janji nggak akan berantem kok"
"Hiks syifa pegang janji kalian hiks kalau kalian sampai berantem hiks aku nggak mau ketemu sama kalian hiks selamanya" pelukan mereka semakin erat. Orang tuanya yang melihat di belakang juga ikut menangis kecuali satu orang. Sudah tahu lah yah kalian.
'Paan sih drama pake banget' sinis mita
Mereka bertiga yang mendengar pun berhenti lalu menatap satu sama lain sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
Yugo menghapus air mata syifa, "kamu disana baik-baik ya. Jangan berbuat hal aneh disana dan kalau ada apa-apa hubungi kita. Ingat, kita ini abang kamu. Jadi jangan ada yang disembunyikan dari kita, oke?" syifa mengangguk lalu yugo menyuruh syifa untuk segera masuk menuju mobil.
Sebelum masuk ia menatap ke arah keluarganya dengan senyum lalu segera ia masuk ke dalam mobil. Mobil yang syifa tumpangi pun akhirnya jalan. Sekali lagi syifa menatap mereka semua sendu. Sebenarnya dirinya enggan untuk pergi tapi mungkin ini takdir syifa untuk membuka lembaran baru.
Di luar mereka menatap kosong mobil yang ditumpangi syifa. Mereka merasa ada sosok di dalam diri mereka hilang. Mungkin karena syifa pergi jadi jiwa mereka ikut pergi terkecuali mita. Bocah itu menatap sinis keluarga syifa. Sebenarnya ia ingin melancarkan rencananya tapi karena syifa pergi akhirnya ia tunda. Tapi tidak apa-apa yang terpenting sekarang ia bebas tanpa ada yang mengganggu dirinya lagi.
'Bagus. Pergilah yang lama syifa. Semoga kau menemukan kebahagiaan disana atau tidak akan pernah menemukan' batin mita
'Tunggu saja pembalasan ku mita. Karena ulah kau membuat orang yang ku sayang menderita. Tunggu aku mita' batin seseorang
***