
Setelah puas berkeliling kampung yang ditemani oleh zaki. Ia pun pamit untuk pulang pada zaki dan ibu zaki.
"Aku pamit dulu ya bu, zak" ucap syifa
"Iya hati-hati ya, nak. Sering-sering deh mampir ke sini biar ibu ada teman mengobrol. Soalnya suami ibu sama anak-anak ibu sibuk semua jadi ibu sendiri deh" kata ibu dengan raut sedih. Syifa yang memang tidak bisa melihat orang lain sedih akhirnya ia mengiyakan.
"Iya bu, aku bakalan main kok ke sini tapi kalau aku nggak sibuk ya bu" yang dibalas anggukan semangat.
"Iya syif, kalau ada apa-apa jangan sungkan sama kami. Siapa tahu kan kita bisa bantu kamu" ucap zaki yang sudah tidak canggung kepada syifa.
"Nah benar itu yang dikatakan zaki. Jangan sungkan-sungkan ya nak sama kami. Kita kan keluarga, ibu juga menganggap kamu sebagai anak ibu sendiri. Jadi sudah seharusnya keluarga itu saling membantu" syifa menatap pada ibu zaki berkaca-kaca karena di sini ia dianggap seperti anaknya. Lalu syifa memeluk ibu zaki erat dengan air matanya yang entah sejak kapan mengalir.
"hiks makasih bu udah mau menganggap aku seperti anak ibu hiks. Aku berusaha nggak akan kecewa in ibu hiks aku janji bu" syifa terus menangis di pelukan ibu zaki, ibu zaki yang tidak tega dengan syifa mengelus punggung syifa agar bisa tenang. Zaki sedari tadi menatap mereka berdua, tidak lebih tepatnya syifa dengan pandangan sulit diartikan.
"Iya nak, ibu percaya" cukup lama syifa menangis. Dirasa sudah tenang, syifa melepaskan pelukan nya sembari menghapus sisa air matanya.
"Ya udah bu, makasih ya. Maaf udah ngerepotin ibu" ucap syifa tak enak karena sudah merepotkan keluarga zaki.
"Nggak papa nak. Ibu nggak keberatan kok" jawab ibu mengelus pelan rambut syifa. Lalu syifa menatap zaki.
"Makasih ya zak udah mau temani aku keliling kampung ini. Kalau nggak ada kamu mungkin aku akan nyasar"
"Oh tidak masalah kok syif, kata ibu kan kita keluarga jadi nggak ada yang salah kan. Lagian juga kamu orang baru di sini" ucap zaki tersenyum tulus. Syifa tertegun melihat zaki tersenyum menambah ketampanan zaki menambah.
Ia akui memang zaki tampan tapi jika sudah tersenyum membuat ia jauh lebih tampan. Lambaian tangan zaki menyadarkan lamunan syifa.
"Kamu kenapa syif? Kok melamun? Ada masalah?" tanya zaki khawatir. Tunggu, syifa bisa merasakan bahwa laki-laki ini khawatir dengannya.
"Nggak kok aku nggak papa. Ya udah aku pulang dulu ya, udah sore ini" pamit syifa tak lupa mengucapkan salam.
Mereka berdua menatap punggung syifa yang sudah tidak terlihat. Ibu menatap zaki dengan tatapan jahil.
"Kamu naksir ya sama syifa" goda ibu membuat zaki menoleh kepada ibunya.
"Apaan sih bu, siapa juga yang naksir. Ibu geer deh" kesal zaki padahal di dalam hati ia membenarkan ucapan ibunya. Ibu tidak percaya dengan anak laki-laki nya ini.
"Ah masa sih. Kalau syifa diambil orang lain kamu nggak marah nih"
"Nggak! Nggak ada yang boleh mengambil syifa dari aku!" zaki tidak sadar dengan ucapannya barusan. Ibu menatap zaki tersenyum penuh arti.
'ternyata dia sudah besar'
***
Sesampainya di rumah syifa tidak henti-hentinya tersenyum memikirkan kejadian tadi.
Flashback on
Di jalan mereka mengobrol, kadang mereka juga tertawa bersama. Sifat friendly zaki membuat ia merasa nyaman dan jangan lupakan sifat jahil nya. Zaki suka membuat syifa kesal tapi dengan begitu malah membuat syifa senang karena zaki tidak canggung lagi.
"Capek juga ya ternyata" ucap syifa sembari mengelap keringat nya. Zaki melihat syifa yang sepertinya kelelahan membantu mengelap keringat nya. Syifa mematung, hatinya mendadak berdesir. Perasaan aneh apa ini batin syifa.
Zaki menatap mata syifa begitu pun sebaliknya. Tidak ada yang ingin memutuskan kontak mata. Zaki melihat di mata syifa menyimpan sekali kesedihan. Entah apa yang membuat perempuan itu sedih tapi ia yakin perempuan cukup banyak menyimpan masalah. Syifa pun sama menatap manik zaki. Tatapan nya teduh membuat syifa betah menatap zaki.
Tanpa sadar mereka berdua memajukan wajah mereka. Sampai hidung mereka saling menyentuh. Mereka bisa merasakan deru nafas masing-masing. Syifa sudah menutup matanya, Zaki hampir saja mencium syifa jika tiba-tiba ia mengingat pesan ibunya.
"Nak, kalau kamu punya pacar atau orang yang kamu sayang. Ingat pesan ibu jangan sekali-kali kamu merusak apalagi sampai berbuat hal senonoh. Seperti kamu menciumnya atau hal yang negatif. Jika kamu mencium kening tidak papa. Tapi jangan sampai kamu mencium bibirnya itu sama saja kamu merusak nya, nak"
"Ingat, pesan ibu nak. Jika kamu melanggar sama saja kamu menyakiti hati ibu"
Zaki langsung menarik wajahnya begitu juga syifa. Mereka memalingkan wajah mereka karena malu. Zaki merutuki kebodohannya untung saja ia tidak jadi mencium syifa. Jika iya maka zaki akan terus merasa bersalah entah kepada dirinya, syifa, atau pun ibunya.
Syifa juga begitu mengapa ia terlalu menikmati keindahan mata zaki sehingga ia tidak sadar. Suasana menjadi canggung, tidak ada yang memulai obrolan. Zaki yang pertama memulai seharusnya ia juga yang harus bertanggung jawab. Dengan segala penuh keberanian ia membuka suara.
"Em.. Syif, pulang yuk ini udah mau sore" ucap zaki yang dibalas anggukan.
Lalu mereka memutuskan untuk pulang. Di perjalanan suasana masih canggung. Syifa yang masih dengan rasa malu nya sedangkan zaki bingung ia harus memulai dari mana.
"Syif" panggil zaki membuat syifa menoleh.
Sebelum melanjutkan kalimatnya, zaki menghela nafas pelan. "Em.. Aku minta maaf ya yang soal tadi" Syif tidak menjawab, ia hanya terdiam. Zaki tidak mendapat jawaban dari syifa, menjadi merasa bersalah seharusnya ia tidak boleh kelewatan.
"Syif, serius aku minta maaf buat yang tadi. Aku nggak sengaja sumpah. Plis, maafin aku ya" mohon zaki.
'aish, kenapa mukanya cute sih' batin syifa
Karena tak tega dan ia juga harus meminta maaf karena ia tidak menegur nya malah ikut juga menikmati.
"Iya nggak papa, aku maafin kok. Aku juga minta maaf ya" raut wajah zaki yang sedih menjadi senang.
"Beneran kamu maaf in aku?" syifa menganggukkan kepalanya.
Zaki bsrsorak ria, lalu ia menggenggam tangan syifa. "Aku janji nggak bakalan ngelakuin hal kaya gitu lagi"
"Janji?"
"Janji" lalu mereka kembali seperti awal tidak ada kata canggung mesti syifa masih ada rasa malu tapi karena lelucon zaki akhirnya ia bisa melupakan kejadian tadi.
Flashback off
Mengingat kejadian hal tidak baik membuat ia merasa malu dan merasa bersalah tapi mengingat zaki menghiburnya dengan segala lelucon nya membuat ia sedikit membaik. Ia sangat bahagia hanya karena zaki bisa membuat ia tertawa lepas.
Ia melihat jam dinding di kamarnya ternyata sudah pukul 19:00. Ia lupa sholat maghrib lalu ia bergegas untuk wudhu. Setelah selesai berwudhu ia mengambil mukena dan sholat. Setelah selesai sholat ia langsung merebahkan tubuhnya karena merasa sangat lelah dan tak lama ia pun tertidur.
***
Halo guys!!! Gimana nih part hari ini? Sedikit nggak nyambung ya? Atau bahasanya nggak jelas? Maaf ya soalnya yang ada dipikiran aku ya gitu mungkin bahasanya yang nggak jelas author minta maaf yaa.