Asyifa

Asyifa
Part 60



Setelah kejadian tadi, kini mereka berdua menjadi akrab bahkan sangat akrab. Dan keakraban mereka membuat tanda tanya besar bagi teman-teman lintang. Apalagi arka yang sangat kepo mengapa bisa lintang dan intan sangat akrab.


Kini lintang dkk sedang berada di kantin. Sebenarnya lintang mengajak intan untuk bergabung dengan mereka tapi intan menolak katanya ia butuh waktu untuk sendiri dan lintang memaklumi nya.


"Em... Lin, gue boleh tanya nggak?" tanya vano pada lintang yang sedang menyantap makanannya.


Lintang berhenti sejenak, sebelum menjawab pertanyaan vano. "Boleh van, mau nanya apa"


Vano terlihat ragu, ia melirik ke arah vino dan arka untuk apakah harus bertanya dan dibalas anggukkan pelan. Lintang menunggu vano berbicara yang malah melirik ke arah vino dan arka. Dan itu membuat lintang penasaran.


"Lo mau ngomong apa" vano menghela nafas pelan, "Lo ada hubungan apa dengan intan"


Lintang mengangkat alisnya mendengar pertanyaan yang menurutnya aneh, "Nggak ada hubungan apa-apa lah cuman teman biasa. Emang kenapa"


"Kok kalian tiba-tiba jadi akrab banget sih. Eh maksudnya kan kalian nggak pernah akrab tuh. Palingan juga saling kenal nama doang kan"


"Ya emang salah gitu kalau gue akrab sama intan?" lintang bingung dengan mereka, memang salah jika ia dekat dengan teman gebetannya?.


Vano terdiam, memang tidak ada salahnya sih jika mereka berdua jadi akrab tapi itu membuat siapa saja curiga. Bisa saja kan ada hubungan tertentu.


"Y-ya nggak ada salahnya sih cuma ya gimana ya kaya aneh aja gitu"


"Aneh gimana?"


"Gini loh lin, kenapa kita mikir aneh? Ya gimana nggak mikir aneh coba, lo yang selama ini nggak pernah dekat sama perempuan lain kecuali syifa tiba-tiba lo dekat sama intan yang sebagai temannya syifa"


"Bukan dekat tapi dekat banget malah dan ya itu membuat kita jadi curiga. Tapi lain halnya jika lo tiba-tiba malah jadi dekat banget sama syifa yang jelas itu orang yang lo suka" jelas vino. Lintang sedikit mengerti, mengapa mereka bertanya seperti itu.


"Oh jadi itu yang bikin kalian curiga. Ya gue emang ngerasa kalau gue sama intan jadi dekat tapi gue serius nggak ada hubungan apa-apa sama intan. Kita cuma sebatas teman biasa, nggak lebih. Jadi kalian jan--" ucapan lintang terpotong oleh arka.


"Atau malah jangan-jangan lo suka sama intan" lintang menatap arka tak percaya. Bisa-bisanya ia di tuduh oleh sahabatnya sendiri.


Ia tahu jika arka suka dengan intan tapi dirinya bukan seorang yang suka menikung temannya sendiri apalagi arka sahabatnya. Dan dirinya juga sudah punya gebetan sendiri, buat apa cari yang lain kalau di depan mata sudah ada.


"Lo!" tunjuk lintang pada arka.


"Lo tahu kan kalau gue suka sama syifa. Bukan suka lagi tapi cinta. Dan lo seenaknya nuduh gue kalau gue malah suka sama intan yang malah temannya orang yang gue cinta"


"Gue tahu ar, lo suka kan sama intan? Dan lo juga tahu kalau gue bukan orang yang suka nikung temannya sendiri apalagi lo itu sahabat gue. Jadi stop nuduh gue kalau gue ada hubungan lain dengan intan"


"Ya siapa tahu kan lo ada hubungan lain. Kita mana tahu" ucap arka santai tidak peduli dengan tatapan tajam lintang.


"Gue udah bilang ar kalau gu--"


"Stop! Kenapa malah berantem sih hanya karena masalah sepele. Buat lo lintang, kalau lo benar-benar cinta sama syifa perjuangin. Jangan bikin syifa terlalu berharap sama lo dengan sikap perhatian lo sama dia. Itu bisa membuat syifa sakit hati"


"Dan buat lo ar, kalau lu juga suka sama intan ya perjuangin. Jangan cuma diam aja nggak ada pergerakan sama sekali. Gimana mau intan juga suka sama lo kalau lo aja diam kek patung nggak ada perjuangan sama sekali"


Mereka bertiga menatap vano tak percaya, selama ini diantara mereka hanya vano lah yang sangat jarang membuka suara. Tapi hari ini ia membuka suara bukan satu kata tapi sangat panjang ini sangat langka.


Vano melihat mereka terdiam pun geram.


"DENGAR NGGAK!!!" bentak vano membuat mereka tersentak kaget.


"D-dengar kok"


"Bagus! Ingat pesan gue tadi baik-baik!" lalu vano pergi meninggalkan mereka.


Mereka menatap punggung vano sebelum benar-benar menghilang dari pandangan mereka.


"I-itu tadi vano kan vin, kembaran lo" tanya arka.


"Gue juga nggak yakin kalau dia kembaran gue" jawab vino yang tak percaya bahwa tadi adalah kembaran nya.


***


Di sisi lain, di tempat yang berbeda terdapat seorang perempuan cantik sedang duduk termenung. Akhir-akhir ini banyak yang difikirkan oleh perempuan cantik itu. Salah satunya masalah yang ia tengah fikirkan yaitu tentang menikah.


Bukannya ia tidak mau menikah tapi ia masih muda dan belum mengerti dan paham tentang pernikahan. Pernikahan itu bukan hanya laki-laki dan perempuan menjadi sah di mata hukum dan agama tapi juga kewajiban dan tanggung jawab.


Ia takut jika dirinya tidak bisa menjalankan kewajiban sebagai seorang istri. Dan juga ia masih ingin merasakan masa-masa muda nya sebelum memikirkan ke hal yang serius.


Terlalu lama melamun, perempuan cantik itu hingga tak sadar bahwa ponsel nya sedari tadi berbunyi.


Drt


Perempuan cantik itu tersentak kaget saat merasakan ada sesuatu yang bergetar. Dilihatnya ponsel nya yang bergetar di atas meja. Lalu ia mengambil ponsel nya. Dahinya berkerut melihat nomor asing masuk ke ponsel nya.


Di bukalah pesan dari nomor asing. Dan ternyata orang itu mengirimkan sebuah foto dan tanpa menunggu ia langsung membuka foto itu.


Deg


Jantung perempuan itu berpacu cepat, keringat dingin keluar dari tubuhnya. Ia menutup mulutnya dan matanya memanas. Ia tidak percaya dengan foto yang di kirim dari seseorang.


"I-ini bohong kan, ng-nggak nyata kan"


Dilihatnya lagi foto itu untuk memastikan bahwa semua itu tidak nyata. Tapi ia melihat foto itu adalah nyata tanpa ada editan. Tiba-tiba dadanya terasa nyeri seperti ada yang mencabik-cabik.


Mata perempuan itu makin memanas dan sebulir air mata lolos, lalu disusul dengan yang lain membasahi pipi cantik nan mulus itu.


"Hiks kalian jahat"