Asyifa

Asyifa
Part 54



Tubuh intan seakan membeku, ia menatap tak percaya siapa yang mencari dia. Orang itu melangkahkan kakinya menuju bangku intan. Pandangan orang itu tak lepas dari mita. Semakin orang itu mendekat, semakin pula jantung mita berdegup kencang.


Orang itu berhenti tepat di hadapan intan. Intan menunduk tidak berani menatap mata apalagi wajah orang itu. Perlahan orang itu mengangkat dagu intan dan pandangan mereka terkunci.


Intan terpesona dengan pemilik mata orang itu. Sedangkan orang itu menatap intan datar tanpa ekspresi. Perlahan orang itu mendekatkan wajahnya hingga menyentuh hidung intan. Intan bisa merasakan nafas dari orang itu.


Tanpa sadar ia menutup matanya seakan orang itu akan menciumnya. Tapi ia tidak merasakan apa-apa. Perlahan ia membuka matanya, seketika ia membulatkan matanya. Orang itu sudah menjauhkan wajahnya dan kini tengah menatap dirinya seakan mengapa ia memejamkan matanya.


Intan merasa malu karena ia sudah terlalu berharap. Intan memalingkan wajahnya. Sungguh ia sudah menduga bahwa pipinya saat ini tengah memerah.


Orang itu mengangkat alis nya melihat salah tingkah intan dan membuat ia tersenyum kecil. Lalu ia mengelus pipi intan membuat semua murid yang berada di kelas memekik histeris. Sedangkan intan tidak peduli dengan suara teman kelas nya, karena ia sangat menikmati elusan di pipinya.


"Nanti lo pulang bareng gue, gak ada penolakan!" setelah mengucapkan itu, orang itu langsung pergi tapi sebelum itu ia mencium pipi intan dengan tersenyum kecil. Segera ia pergi meninggalkan semua orang yang tengah menatapnya tak percaya.


Intan hanya diam membeku karena tak percaya orang itu melakukan di depan teman-temannya. Farah yang memang super kepo pun langsung bertanya.


"Lo sama dia ada hubungan apa? Sepertinya dekat banget malah kaya orang pacaran" farah sangat penasaran. Bagaimana tidak intan bisa dekat dengan orang itu bahkan tadi mencium pipi intan. Wow, sungguh kejadian langka.


Intan diam, bingung ia harus bicara apa. Sebelum ia menjawab tiba-tiba temannya yang lain mengerubungi dirinya.


"Ih tan, kok lo bisa dekat sih sama dia"


"Iya padahal gue aja yang udah berusaha buat ngedekati dia aja ga bisa. Lah lo"


"Gimana rasanya pacaran sama dia tan"


"Lah lo udah pacaran"


Dll.


Intan dibuat pusing dengan pertanyaan temannya. Dan ketika ia akan menjawab pertanyaan mereka, lagi dan lagi bel pulang pun berbunyi. Mereka yang sangat kepo dengan kejadian tadi menghela nafas kecewa tapi tidak dengan intan justru itu membuat ja bernafas lega. Akhirnya ia bisa terbebas dari pertanyaan teman-temannya.


***


Seperti yang orang itu katakan, sekarang intan sedang menunggu di parkir an. Sudah 15 menit ia menunggu tapi orang yang ditunggu tidak menampakkan batang hidungnya. Sungguh saat ini intan ingin sekali mencakar muka orang itu.


Mata intan menatap tajam pada dua orang remaja, dari salah satu mereka adalah orang yang sudah membuatnya menunggu 15 menit. Dan tunggu, ia keluar bersama perempuan apalagi perempuan itu cantik tinggi, dan sexy. Jika dibandingkan dengan dirinya sudah pasti ia kalah telak.


Intan menatap lirih mereka lebih tepatnya ke arah orang yang sudah membuat dirinya membuang waktunya. Ia bisa melihat raut wajah laki-laki itu, sedikit ada rasa senang. Tapi saat dengan dirinya? Jangankan senyum, raut wajahnya pun selalu datar.


"Makasih ya udah mau bantuin gue. Kalau lo nggak bantuin mungkin gue nggak akan selesai"


"Hm... Santai aja kaya sama siapa sih lo" kekeh kecil orang itu membuat hati intan sakit.


"Hahah iya.. Ya udah gue duluan ya soalnya udah dijemput. Bye"


"Bye" perempuan itu pergi meninggalkan laki-laki itu sendiri. Lalu tanpa diduga ia melihat ke arah intan. Intan seperti maling yang tengah tertangkap basah mencuri, memalingkan wajahnya. Ia bisa mendengar langkah kaki laki-laki itu.


"Pulang sekarang" datar laki-laki itu berbeda sekali dengan perempuan tadi. Hati intan terasa nyeri, matanya pun berkaca-kaca tapi sebisa mungkin ia mencoba untuk tidak menangis.


Intan hanya mengangguk pelan membuat laki-laki heran. Ada apa dengan intan? Mengapa tidak seperti biasanya? Ah mungkin dia sedang pms. Toh nanti kembali lagi seperti semula.


Lalu ia mengambil kunci mobil nya dan langsung masuk mobil tanpa membukakan pintu untuk intan. Lagi-lagi intan harus menahan rasa sakit untuk kesekian kali. Ia mencoba untuk sadar akan posisi nya. Memang dia siapa? Hanya teman di waktu kosong nya. Bukan orang spesial seperti perempuan tadi.


Sekali lagi ia membuang nafas, mencoba untuk menguatkan dirinya lagi. Lo pasti bisa intan, pikirnya. Lalu ia masuk mobil dan laki-laki itu langsung menancapkan gas mobil.


Di perjalanan hanya ada keheningan tidak ada yang membuka suara. Laki-laki itu merasa heran ada apa dengan intan? Tidak biasanya diam. Ia tahu betul sifat intan yang tidak suka dengan keheningan tapi sekarang yang ia lihat intan diam membisu. Ia berfikir apakah ia membuat salah pada intan? Tapi memang nya kapan ia membuat kesalahan?. Ia harus menanyakan kepada intan apa yang tengah terjadi pada dirinya.


Sedangkan intan, ia memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Ia masih menerka kejadian tadi. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya tapi hari ini sangat berbeda dimana ia tersenyum pada perempuan lain, tidak peduli padanya, bahkan tadi laki-laki itu menatapnya seperti enggan.


Seharusnya intan dari awal sudah sadar akan posisi nya. Tidak mungkin perempuan jelek, bodoh, cerewet seperti dia bisa berdampingan dengan laki-laki sempurna. Itu sangat mustahil. Ia tahu betul bagaimana sifat laki-laki. Dimana saat ada perempuan cantik, kulit mulus, sexy, putih pasti para laki-laki akan berpaling pada pasangannya.


Apalagi mereka bilang hanya sebatas teman padahal lebih dari teman. Dan parahnya lagi, jika perempuan dekat dengan laki-laki lain seperti temannya atau orang asing pasti akan menuduh yang tidak-tidak. Jadi bagi para perempuan sangat muak dengan sifat egois seorang laki-laki. Hanya memikirkan kebahagiaannya tanpa memikirkan bagaimana orang lain atau pasangannya.


Intan terlalu lama melamun sehingga ia tidak sadar jika sudah sampai di rumahnya. Laki-laki yang duduk di sampingnya menepuk pelan pipi intan dan membuat intan terlonjak kaget.


"Ehh..." kaget intan.


Laki-laki itu menaikkan alis nya, sepertinya intan sedari tadi melamun. "Sudah sampai" dengan cepat ia mengedarkan pandangannya dan benar mereka sudah sampai di pekarangan rumah intan.


"Makasih udah mau anterin gue. Lain kali nggak usah, takutnya ngerepotin lo" ucap intan menggunakan kata 'lo gue'. Tanpa menunggu jawaban, intan langsung keluar dari mobil dan berjalan cepat masuk ke rumahnya. Intan langsung berlari menuju ke kamarnya dan menangis sejadi-jadinya. Sedari tadi intan menahan air matanya agar tidak turun dan sekarang ia menumpahkan segala rasa sakit yang ada.


Sedangkan di luar, laki-laki itu masih diam tak bergeming. Ia masih mencoba apa yang sedang terjadi. Tidak biasanya intan seperti itu kepadanya. Mungkin intan sangat lelah ya mungkin, pikirnya. Lalu ia menyalakan mobil nya dan meninggalkan rumah intan


***