
"Lintang" lirih perempuan itu sendu.
Gue masih nggak percaya dengan siapa perempuan itu.
"Lo I-intan kan" yang dibalas anggukan pelan. Yap, perempuan itu adalah intan. Awalnya gue nggak percaya tapi melihat respon dia akhirnya gue percaya. Mau gimana nggak percaya, penampilan dia nggak kaya biasanya. Rambut acak-acakkan, mata bengkak, baju ada yang keluar gimana nggak percaya coba.
"Lo kenapa disini? Terus penampilan lo kok bisa kaya gini si" tanya gue kepo. Ya pasti kalau kalian lihat orang lain atau orang terdekat lo lah, penampilannya kaya gini pasti lo kepo dong.
Dia nggak jawab tapi malah nangis dan itu malah membuat gue nggak tega. Soalnya gue orang nya nggak bisa lihat seorang perempuan itu menangis apalagi jika nangis karena gue.
Gue mencoba menenangkan dia tapi nggak bisa malah dia semakin nangis. Mau nggak mau gue membawa tubuh dia ke pelukan gue. Gue bisa lihat dia menegang tapi setelah itu dia kembali biasa.
Awalnya dia nggak respon pelukkan gue tapi akhirnya dia balas pelukan gue. Gue usap punggung dia supaya dia bisa tenang. Setelah gue merasa dia sedikit tenang, gue mencoba untuk bertanya.
"Lo kenapa in? Ada masalah? Kalau ada masalah sini cerita sama gue. Siapa tahu gue bisa bantu atau dengan berbagi cerita lo lega" diam. Dia masih diam nggak jawab pertanyaan gue. Gue bisa ngertiin itu. Tapi akhirnya dia membuka suara. Bukan menjawab pertanyaan gue malah dia bertanya.
"Lin, gimana perasaan lo ketika pacar lo atau orang yang lo sayang lebih care kepada orang lain minus keluarganya atau sahabatnya daripada pasangannya?"
Gue bingung dengan pertanyaan dia. Ini dia bertanya seperti itu apakah punya problem dengan kekasihnya? Atau hanya bertanya?. Tapi gue tetap menjawab pertanyaan dia.
"Ya jelas sakit hati lah. Emang dia nggak bisa apa ngerti perasaan kita dengan sikapnya kaya gitu. Nggak punya hati kalau itu mah. Gue nggak larang sih kalau doi ramah ke orang lain tapi juga harus tahu batasan lah"
"Terus kalau misal doi itu sifatnya dingin, cuek, datar dan lo yang merubah sifat dia menjadi ramah, baik, murah senyum ke semua orang tapi malah itu nggak berlaku ke orang yang udah merubah sifatnya. Menurut lo gimana?" dia tanya dengan natap ke arah gue. Jujur, gue belum pernah merasakan itu tapi gue bisa ngerasain apa yang intan tanya.
"Ya sama kaya jawaban gue pertama. Gue sakit hafi, nggak bakalan terima lah. Enak aja gue udah berusaha merubah sifatnya dia dan sifatnya udah berubah bukannya dampaknya ke kita eh malah orang lain yang ngerasain perubahan sifatnya"
"Dan doi tuh harusnya bersyukur kek ada yang mau merubah sifatnya itu. Bukannya malah nggak adil" gue bisa lihat dia tersenyum tipis. Entahlah kenapa dia tersenyum, mungkin mendengar jawaban gue kali ya tapi gue lega sih akhirnya dia udah nggak sedih lagi.
Hening. Keadaan kembali menjadi hening nggak ada yang membuka suara. Gue sebenarnya mau tanya kenapa dia tadi nanya pertanyaan ke gue kaya gitu tapi gue takut nyakitin dia lagi. Sungguh, mulut gue nggak bisa untuk tanya.
"Tan" panggil gue dan dia menoleh. Eh btw, ini kita udah nggak pelukan ya nanti kalian mikirnya masih pelukan lagi. Kan gue masih menjaga hati untuk syifa seorang eakkk.
"Ya lin?"
"Em..." astagfirullah, kenapa malah gue jadi gugup sih.
"Ya?" sebelum gue ngomong, gue menghela nafas sejenak.
"I-itu... Tadi lo kenapa ya? Ada masalah kah?" dia malah diam dan itu membuat gue nggak enak.
"Kalau nggak mau cerita ya nggak papa sih gue juga nggak maksa"
"Nggak, gue bakalan cerita" gue bisa dengar dia menghela nafas sebelum cerita.
Dia mulai cerita. Gue mendengar dengan seksama cerita dari intan. Dia bercerita mulai dari kekasihnya yang nggak jemput dia seperti biasa berujung dia naik angkot, setelah itu malah ketemu di depan gerbang. Niatnya mau nyapa eh malah melihat adegan yang bikin sakit hatinya.
Ya kalian tahu lah pasti apa yang intan lihat. Habis itu dia lari ke taman belakang sekolah dengan menahan air mata yang ingin jatuh. Dan sampai di taman, dia langsung menumpahkan tangisan nya yang dia tahan.
Begitulah singkat cerita dari intan. Gue bisa melihat betapa sakitnya dia kepada kekasihnya. Tanpa sadar tangan gue mengepal. Menahan amarah yang saat ini meronta. Gue nggak suka melihat perempuan menangis karena laki-laki nggak tahu diri. Gue akan balas laki-laki yang sudah membuat dia seperti itu.
Pov lintang end
***
Hari ini adalah hari yang sangat bahagia bagi seorang perempuan yang kini tengah berdiri di depan cermin untuk melihat apakah penampilannya sudah oke atau belum. Perempuan itu berdandan karena akan dijemput oleh pujaan hatinya setelah sekian lama. Karena akhir-akhir ini pujaan hatinya sangat sibuk.
Entahlah, sibuk karena apa tapi yang terpenting dia sangat bahagia. Tapi sebenarnya tidak baik kalau kita terlalu bahagia, takutnya setelah itu jatuh sejatuh nya. Dia sekali lagi mengecek penampilannya. Setelah merasa sudah cukup, ia langsung turun ke bawah tak lupa mengambil tas sekolahnya.
Saat turun ia melihat keluarganya sudah berada di meja makan. Perempuan itu menyapa mereka dengan ceria.
"Pagi bun, yah"
"Pagi abang"
"Pagi juga sayang" serempak mereka membuat perempuan itu terkekeh.
Lalu perempuan itu menghampiri mereka untuk ikut sarapan pagi bersama.
"Kamu mau sarapan apa nak"
"Em... Roti aja bun"
"Oke. Seperti biasa kan" yang dibalas anggukan dari perempuan itu. Sambil menunggu roti nya jadi, ia mengecek ponsel nya memastikan kekasihnya itu sudah sampai atau belum. Raut wajahnya yang semula ceria seketika berubah menjadi sendu ketika membaca sebuah pesan.
Pacal es ku:))
Maaf, aku nggak jadi jemput kamu soalnya tiba-tiba ada urusan mendadak.
Dengan tangan bergetar ia membalas pesan dari kekasihnya.
Intan
Iya
Pacal es ku:))
Maaf
Perempuan itu atau lebih tepatnya intan menghela nafas. Lagi dan lagi terulang kembali. Ah ya ia lupa seharusnya ia tidak boleh terlalu senang saat kekasihnya itu akan menjemput dirinya. Nyatanya, itu hanyalah sebuah kebohongan. Ia seharusnya tahu sifat kekasihnya.
Mungkin benar jika kita tidak boleh bahagia berlebihan pasti efek nya juga akan tidak enak. Tiba-tiba selera makanya menghilang. Matanya berkaca-kaca sekali kedip ia pastikan akan jatuh.
"Ini nak rotinya" intan memandang roti itu tidak berserela.
"Loh kok nggak dimakan" tanya bunda bingung soalnya tidak biasanya anak perempuannya seperti itu.
"Em... Aku mau langsung berangkat aja bun, takutnya telat" lalu menyalami keluarganya.
"Assalamualaikum" intan langsung pergi tanpa mendengar panggilan dari bunda nya.
Bunda menatap intan aneh dan bingung. Lalu menatap ke arah suaminya dan kedua putranya meminta apa yang telah terjadi pada intan.
Mereka mengangkat bahu pertanda tidak tahu. Bunda menghela nafas pelan. Pusing memikirkan anak putri satu-satunya. Lebih baik ia tanyakan nanti. Keadaan kembali semula tapi tidak dengan satu orang yang masih memikirkan sikap intan tiba-tiba berubah.
Iyap, sedari tadi orang itu memperhatikan sikap intan yang tidak biasanya seceria tadi dan saat melihat ponsel nya tiba-tiba raut wajah intan berubah. Pasti ada hubungannya dengan ponsel itu. Ya, dia harus cari penyebabnya.
'Tenang saja, akan aku cari penyebab hilangnya senyum kamu'
***
Sekarang intan sedang berada di taman belakang. Kenapa begitu? Karena ia tengah menangis. Entah menangis karena apa yang jelas itu membuat hatinya teriris.
Intan terus menangis sampai tidak tahu jika ada orang selain dia. Tiba-tiba orang itu menepuk pundak intan. Intan kaget siapa yang menepuk pundaknya. Lalu ia menoleh kebelakang.
Deg
"Lo I-intan kan" intan membalas dengan anggukan pelan.
Sepertinya intan tahu bahwa lintang pasti bingung dan kaget melihat penampilannya acak-acakkan.
"Lo kenapa disini? Terus penampilan lo kok bisa kaya gini si" intan tidak menjawab malah dia menangis. Lintang mencoba menenangkan intan tapi nggak bisa malah dia semakin menangis.
Lintang bingung tapi sepertinya dengan cara ia memeluknya pasti intan berhenti. Intan merasakan tubuhnya dibawa ke pelukan lintang.
Deg
Tubuh intan menegang. Ia baru pertama kali dipeluk laki-laki lain selain keluarganya. Dan entah kenapa pelukan lintang membuat hatinya menghangat.
'Nyaman' batin intan.
Awalnya intan ragu untuk membalas pelukan lintang tapi entah sadar atau tidak ia pun membalas dan itu membuat semakin dirinya nyaman.
Intan bisa merasakan punggungnya dielus oleh tangan lintang dan itu sedikit intan tenang. Lintang melepaskan pelukan nya dan itu membuat intan seperti tidak rela.
"Lo kenapa in? Ada masalah? Kalau ada masalah sini cerita sama gue. Siapa tahu gue bisa bantu atau dengan berbagi cerita lo jadi lega" diam. Intan diam karena bingung apakah harus cerita kepada orang lain.
"Lin, gimana perasaan lo ketika pacar lo atau orang yang lo sayang lebih care kepada orang lain minus keluarganya atau sahabatnya daripada pasangannya?" intan tahu pasti lintang seperti bingung dengan pertanyaan dirinya.
"Ya jelas sakit hati lah. Emang dia nggak bisa apa ngerti perasaan kita dengan sikapnya kaya gitu. Nggak punya hati kalau itu mah. Gue nggak larang sih kalau doi ramah ke orang lain tapi juga harus tahu batasan lah"
"Terus kalau misal doi itu sifatnya dingin, cuek, datar dan lo yang merubah sifat dia menjadi ramah, baik, murah senyum ke semua orang tapi malah itu nggak berlaku ke orang yang udah merubah sifatnya. Menurut lo gimana?" intan bertanya lagi kali ini menatap lintang.
"Ya sama kaya jawaban gue pertama. Gue sakit hati, nggak bakalan terima lah. Enak aja gue udah berusaha merubah sifatnya dia dan sifatnya udah berubah bukannya dampaknya ke kita eh malah orang lain yang ngerasain perubahan sifatnya"
"Dan doi tuh harusnya bersyukur kek ada yang mau merubah sifatnya itu. Bukannya malah nggak adil" intan tersenyum tipis mendengar jawaban lintang. Syifa bersyukur dicintai oleh laki-laki baik, pengertian seperti lintang. Tidak seperti dirinya.
Hening. Keadaan menjadi hening tidak ada yang membuka suara. Intan yang bergelut dengan pikirannya dan lintang bingung ingin bicara apa.
"Tan" panggil lintang dan intan pun menoleh.
"Ya lin?"
"Em..." intan bisa melihat jika lintang gugup.
"Ya?"
"I-itu... Tadi lo kenapa ya? Ada masalah kah?" intan malah diam dan itu membuat lintang merasa tidak enak.
"Kalau nggak mau cerita ya nggak papa sih gue juga nggak maksa"
"Nggak, gue bakalan cerita" intan menghela nafas sebelum ia cerita.
"Jadi..."
Flashback on
Intan tiba di sekolah lalu turun dari angkot tak lupa ia membayar. Disaat ia melangkahkan kakinya masuk ke gerbang sekolah, ia melihat sekilas motor yang melintas dihadapan nya. Intan acuh, tetap melangkahkan kakinya. Tapi tunggu, sepertinya ia mengenal siapa motor itu.
Seperti motor orang yang selama ini membuatnya nyaman tapi kalau dipikir-pikir nggak cuman 'dia' kan yang punya motor kaya 'dia'. Soalnya mana mungkin 'dia' mau membonceng orang lain apalagi seorang perempuan. Tapi bisa jadi kan.
Tidak mau membuat dirinya sakit hati memikirkan 'dia' ia tetap melangkahkan kakinya. Tiba-tiba langkahnya berhenti saat melihat seorang laki-laki yang tidak asing bagi intan bersama perempuan.
Matanya memanas saat melihat pemandangan yang err bisa dibilang membuat hati intan sakit.
Bagaimana tidak laki-laki yang intan kenal tengah merangkul bahu seorang perempuan dengan mesra. Dan kalian tahu siapa laki-laki itu? Yap, laki-laki itu adalah erlan, kekasih intan.
'Jadi ini alasan kamu ada urusan mendadak' batin intan.
"Kamu udah sarapan belum"
"Belum nih, kamu sendiri"
"Belum juga. Kalau gitu kita makan bareng yuk di kantin"
"Ayo"
Percakapan singkat antara erlan dengan perempuan yang intan tidak tahu siapa namanya. Intan tersenyum kecut bahkan dengan dirinya saja belum pernah diperlakukan seperti itu.
Mengingat semua perlakuan erlan membuat dada intan terasa nyeri, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh. Tidak mau dilihat orang lain, ia berlari kencang menuju taman belakang yang sangat jarang dilewati orang sembari menahan tangisan yang akan pecah.
Saat sudah sampai di taman, ia menuju ke arah pohon dan badannya langsung ambruk seketika air mata yang ia tahan pecah. Ia menangis histeris tak peduli dengan penampilannya sekarang.
"Hiks kenapa lo tega ngelakuin ke gue hiks. Gue salah apa sama lo hiks kenapa lo bersikap manis pada perempuan lain hiks sedangkan dengan gue yang sebagai pacar lo hiks nggak pernah diperlakukan seperti itu hiks bahkan untuk hal-hal yang kecil lo nggak pernah hiks"
"Sebenarnya gue itu siapanya lo hiks. Apa gue orang asing hiks dihidup lo. Sampai-sampai gue merasa hiks lo nggak pernah nganggap gue ada hiks"
"Kalau lo nggak anggap gue hiks kenapa lo minta gue jadi pacar lo hiks KENAPA?!!" untung taman belakang sepi jadi intan tidak perlu merasa malu tapi jika ada ya sudah biarkan saja toh nggak ada yang peduli dengan dia.
Flashback off
Setelah selesai bercerita intan bisa melihat tangan lintang mengepal seperti menahan amarah. Intan ingin bertanya tapi takut membuat lintang marah jadi ia urungkan.
Tanpa disadari ada orang lain selain mereka dan orang itu tengah menatap mereka tajam dengan tersenyum miring. Lalu orang itu mengambil ponsel nya untuk menghubungi seseorang.
"..."
"Sudah gue lakukan, tenang saja"
"..."
"Oke gue akan kirim"
"..."
"Hahah santai saja kita kan teman"
"..."
"Yoi sama-sama"
Sambungan pun terputus, lalu dengan gesit orang itu mengirim sesuatu kepada seseorang yang diperintahkan oleh seseorang yang ia sebut 'bos'
Send
Pesan itu sudah terkirim dan sudah dibuka oleh sang penerima. Ia bisa pastikan seseorang itu akan hancur sehancurnya. Karena sudah selesai dengan tugasnya, ia pun pergi takut ketahuan.
***
hayyyy akhirnya author update lagi. tapi author rasa sedikit nggak nyambung atau itu perasaan author aja ya.. tapi yang jelas author udah update terserah kalian mau suka atau nggak yang penting author udah update:))