
Bel istirahat pun berbunyi semua murid berhamburan menuju kantin. Seperti lintang dkk yang sekarang tengah menuju ke kantin. Banyak yang berteriak histeris saat lintang dkk memasuki kawasan kantin.
'Kyaaa mereka ganteng banget si'
'Kak lintang paling ganteng dari yang lain'
'Vino aku padamu'
'Kenapa semakin hari mereka semakin ganteng si'
'Arkaaa so cute'
Itulah teriakan histeris dari fans lintang dkk tapi mereka menulikan pendengaran mereka. Sebenarnya mereka minus arka ingin tertawa saat ada yang berteriak bahwa arka cute tapi karena tidak ingin mempermalukan diri mereka akhirnya mereka hanya bisa menahan untuk tidak tertawa.
Sedangkan arka merasa paling bahagia diantara yang lain karena ada yang mengatakan bahwa dirinya lucu. Dengan gaya cool nya ia berjalan sembari menyapa gadis-gadis cantik.
Lintang tak mempedulikan tingkah arka, ia sedang mencari seseorang yang saat ini ia butuhkan dan hap! Ia akhirnya menemukan dengan langkah tergesa ia menghampiri orang itu.
"Lo temannya syifa kan?" lintang to the point. Yang ditanya memasang wajah kaget.
"Eh lintang, iya gue temannya. Ada apa ya?"
"Gini syifa hari ini masuk nggak?" tanya lintang
"Dia hari ini nggak masuk" lintang panik karena dugaannya benar ternyata syifa tidak masuk.
"Emangnya dia kenapa?" panik lintang
"Dia...." ucapannya terpotong oleh suara arka.
"Hola my bebeb!!!" teriak arka membuat semua murid menatap mereka. Lintang menatap tajam arka, sedangkan yang ditatap hanya cengengesan. Lalu arka meminta maaf dan semua murid melanjutkan aktivitasnya kembali.
"Lo kenapa bawa dia ikut si. Males gue liatnya" kesal orang itu.
"Nggak tahu, tapi gue kasihan aja liat dia jadi gue bawa aja deh syukur-syukur berguna" ujar lintang santai.
Arka yang mendengarnya memanyunkan bibirnya. "Ih bebeb intan kok gitu sih sama aa arka" alay arka
Intan berdecak kesal, malas meladeni manusia aneh itu. Arka yang didiamkan oleh intan malah menjadi-jadi.
"Ih jangan cuekin aku dong beb. Masa didatangi pacar malah dicuekin" rengek arka. Intan yang merasa telinganya panas menatap tajam arka membuat sang empu diam.
Mereka yang menonton aksi drama arka dan intan terkikik. Lintang yang tersadar akan tujuannya menemui perempuan itu pun langsung menanyakan kembali.
"Eh tadi lo belum jawab pertanyaan gue"
"Syifa udah nggak sekolah disini lagi" lintang membulatkan matanya. Apa tadi gadisnya sudah tidak bersekolah disini lagi? ucapan intan membuat hati lintang seperti kosong.
"Kenapa?"
"Gue nggak tahu dia belum cerita ke gue dan dia juga udah nggak di jakarta lagi" ucapan intan membuat lintang lemas.
"Dia sekarang tinggal dimana?" lintang berharap gadisnya masih disini.
"Dia ada di kampung" DAMN! Tubuh lintang seakan dihantam sesuatu. Kakinya lemas, pandangannya kosong, jiwa dan hatinya hilang. Gadisnya, yang selama ini ia cinta telah pergi jauh.
"Thanks" singkat lintang lalu ia pergi meninggalkan teman-temannya memandang dia aneh.
"Dia kenapa sih?" tanya vano bingung
"Entah gue juga nggak tahu" jawab vino yang sama bingung.
"Mungkin dia seperti itu karena dengar orang yang dia cinta udah nggak sekolah disini lagi dan tinggal disini" ujar arka. Penjelasan arka masuk akal juga.
***
Drtt
Dering ponsel mengusik tidur seorang gadis cantik. Perlahan kedua matanya membuka, diambilnya ponsel miliknya. Lalu mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menelepon nya.
"Halo"
Lalu ia melihat nama sang penelepon. Yugo. Oh ternyata kakak resek nya.
"Apaan sih kak teriak-teriak nggak jelas. Sakit nih kuping gue" nah kalau syifa sudah menggunakan kata 'kak' dan 'gue' yugo paham pasti syifa sedang kesal. Syifa mendengar kekehan di seberang sana.
"Hehe maaf lah dek kan abang terlalu bersemangat buat telepon kamu" syifa mencebikkan bibirnya.
"Cepet! Mau ngomong apa!!"
"Santai dikit napa dek"
"CEPAT!!! KALAU NGGAK GUE TUTUP NIH!"
"Iya iya galak banget sih adik kecil kakak" 'masih aku pantau bang' batin syifa
"YUGO BRAMASTA" nah kan yugo sudah membangunkan macan.
"Iyaa ya allah.. Sensi banget sih kamu. Lagi pms ya" syifa mengelus dadanya untuk tetap sabar.
"Gue hitung nih ya kalau nggak ngomong"
"Iya dek iyaa nih gue ngomong" syifa diam ia bisa mendengar bahwa abang nya menghela nafas.
"Dek, abang kangen. Kapan kamu pulang? Abang udah kangen banget sama kamu. Nggak ada yang bawelin abang lagi, nggak ada yang jahil lagi, nggak denger ketawa kamu lagi" syifa bisa merasakan betapa sedihnya abang nya ini.
"Seharusnya kemarin abang sama helga bisa membujuk papa untuk membatalkan kepindahan kamu. Biar kamu masih disini, masih ada disamping abang. Tapi malah abang nggak bisa membujuk papa. Maafin abang dek, abang nggak becus jadi kakak yang baik buat kamu. Aban-..." syifa langsung menyela ucapan yugo.
"Nggak bang, abang udah ngelakuim yang terbaik kok buat aku. Malah aku yang harusnya minta maaf sama abang karena belum bisa jadi adik yang baik. Aku juga kangen kok sama abang, sama bang helga. Aku nggak papa kok dipindahin, mungkin ini udah takdir aku bang. Jadi, abang nggak usah nyalahin diri abang sendiri ya" tanpa sadar syifa menangis dan yugo tahu.
"Iya dek. Abang janji bakal selalu ada untuk kamu, bakal ngelindungi sekuat tenaga abang"
"Iya bang. Oh iya bang helga mana" yugo ingin menjawab tapi sudah didahului oleh helga.
"Haloooo adik abang yang manis" sapa helga mebuat syifa tertawa
"Hahah apa sih bang. Mana mungkin aku manis"
"Ih kamu kok nggak percaya sih sama abang. Kamu kan satu-satunya adik abang yang paling cantik. Nggak ada yang ngalahin deh" syifa terkekeh mendengar ucapan helga. Lalu mereka menghabiskan waktu mereka dengan bertelepon tapi helga meminta untuk video call jadi mereka pun sedang bervideo call.
***
Di sebuah rumah mewah lebih tepatnya ruang kerja terdapat seorang pria yang sedang menunggu informasi dari anak buahnya.
Tok
Tok
Terdengar ketukan pintu, lalu ia menyuruhnya untuk masuk. Terpampang lah anak buahnya yang cukup muda berjalan menghampiri nya. Lalu membungkukkan badannya.
"Ada informasi apa yang kau dapat"
"Saya mendapat bahwa sekarang gadis itu sudah tidak tinggal di jakarta bos" pria yang dipanggil bos itu mengangkat alisnya.
"Dia dipindahkan oleh ayahnya ke suatu kampung"
"Apa ada alasan mengapa ayahnya memindahkannya?"
"Ada bos"
"Apa itu"
"Dia memindahkan putrinya karena untuk menghindari dari rencana seseorang bos"
Pria itu lantas mengangguk paham. "Ada lagi?" yang dijawab gelengan "Kalau begitu kau boleh keluar dan jangan lupa terus cari informasi sebanyak mungkin" lalu anak buahnya pun pergi.
Pria itu sedang berfikir, entah sesang memikirkan apa yang jelas dia kini tengah tersenyum miring.
***