
Besok keberangkatan syifa ke kampung. Syifa sudah diberi tahu oleh mereka. Awalnya syifa sedih tapi karena penjelasan dan pengertian mereka akhirnya mau tak mau syifa menyetujui.
Jadi sekarang yugo dan helga memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan syifa. Mereka sudah berusaha membatalkan niat papa nya tapi karena papa itu orangnya keras kepala jadi ya sudah lah mungkin ini sudah takdir syifa.
Helga juga sudah mulai mau berbicara dengan syifa. Syifa bersyukur akhirnya ia bisa kembali mengobrol dengan helga setelah sekian lama. Kalian pasti bertanya dimana mita berada? Entah lah mereka tidak tahu dimana bocah itu berada.
Mereka juga sempat bertanya kepada orang tuanya tapi jawaban mereka hanya 'sudah biarkan, mungkin dia juga butuh refreshing'. Sebenarnya itu sih bagus akhirnya bocah tengil itu pergi juga. Semoga sih pergi selamanya aja sekalian, pikir mereka berdua.
Sekarang mereka bertiga tengah bersiap-siap. Mereka akan menghabiskan waktu mereka dengan pergi ke dufan. Mereka juga sudah meminta izin kepada orang tuanya.
Mereka pikir tidak akan diizinkan tapi malah diperbolehkan. Entah lah dengan orang tuanya yang suka berubah pikiran tapi yang terpenting sekarang mereka akan menghabiskan waktu bersama tanpa ada yang mengganggunya.
Syifa keluar dari kamarnya begitu juga kedua abang nya. "Dufan i'm coming" kata syifa dengan nada menggemaskan. Helga dan yugo yang gemas pun mencium pipi syifa.
"Ayo" lalu mereka turun dengan kedua tangan syifa digenggam oleh kedua abang nya.
Mereka menghampiri orang tuanya yang sedang menikmati sarapan.
"Ma, pa kita berangkat dulu ya" kata yugo
"Iya hati-hati ya kalian. Ingat jangan sampai kemalaman. Dan kalian jaga adik kalian dengan baik ya" jawab mama lembut membuat syifa teheran-heran dengan mama nya tapi bagus lah berarti mama nya masih menganggap dirinya atau itu cuma skenario? Entah lah hanya tuhan dan author yang tahu.
"Iya ma. Ya udah kalau gitu kita pamit ya. Assalamualaikum" pamit mereka tak lupa mencium tangan kedua orang tuanya.
Setelah berpamitan, mereka pun segera keluar dengan menggenggam erat tangan syifa. Di meja makan, orang tuanya yang melihat terlihat sangat senang melihat mereka.
"Papa yakin dengan keputusan kemarin?" tanya mama sedikit ragu
Papa menoleh, "mama ragu sama papa?" yang dibalas anggukan. Papa menghela nafas pelan, "papa sangat yakin ma. Semoga dengan keputusan ini membuat keluarga kita menjadi baik-baik saja"
***
Di dalam mobil, mereka mengobrol bersama sesekali menyanyi bersama ketika lagu menuju reff.
"Ih aku udah nggak sabar mau naik bianglala pasti seru" heboh syifa membuat helga yang berada di sampingnya menggeleng kepala.
Oh iya jadi posisi mereka duduk itu syifa duduk di belakang dengan helga dan yugo yang menyetir mobil. Awalnya yugo tidak terima, masa ia duduk di depan sendiri sedangkan mereka berdua di belakang seperti supir saja. Tapi karena rengek kan dari sang adik, akhirnya yugo pun mengalah. Tidak apa ia mengalah yang terpenting syifa bahagia.
Mobil mereka pun berhenti di dufan. Syifa yang sudah tidak sabar akhirnya ia turun dari mobil nya dengan semangat membuat kedua abang nya menggelengkan kepala. Lalu mereka menyusul syifa yang sudah jauh.
Syifa berhenti di depan penjual kembang gula. Helga dan yugo menghampiri syifa. Mereka menatap apa yang syifa lihat. Oh kembang gula mungkin syifa ingin membeli, pikir mereka.
"Kamu mau?" tanya yugo membuat syifa menoleh menatap yugo lama.
"Emang boleh?" ragu syifa karena takut ia tidak boleh membeli kembang gula.
Yugo pun tersenyum, "boleh kok. Apa sih yang nggak buat adik abang ini" mengelus lembut rambut syifa.
Syifa menatap binar, lalu ia pun membeli 3 kembang gula untuk dirinya dan kedua abang nya. Setelah mereka membayar lalu mereka berjalan-jalan sambil melihat wahana apa yang ingin mereka coba.
Mereka berhenti di tiket masuk kora-kora lalu mereka saling melempar pandang. Seakan tahu dengan pikiran mereka akhirnya mereka membeli tiket.
Mereka mengantre menunggu giliran mereka naik. Setelah mendapat giliran, mereka akhirnya menaiki kora-kora. Saat kora-kora sudah dimulai terdengar suara teriakan histeris dari mereka dan pengunjung lain.
"Huaaa mama tolongin yugo. Yugo mau pulang aja" teriak yugo membuat syifa dan helga tertawa terbahak.
Selama kora-kora terus berjalan dan setiap itu juga yugo terus berteriak. Setelah kora-kora berhenti akhirnya mereka pun turun dengan mereka yang masih tertawa kecuali yugo.
"Hahaha lihat deh bang el, masa bang yugo cemen sih. Bang el tadi denger nggak ada suara yang minta tolong katanya mau pulang aja hahaha" ejek syifa.
"Iya dek benar kamu. Masa gitu aja k.o padahal kan dia cowok. Lagian belagu banget tadi bilang nya 'gue berani kok. Masa seorang cowok nggak berani naik beginian' eh pas udah naik beuh teriakan nya paling kenceng tadi dari yang lain hahaha" sambung helga lalu mereka berdua tertawa membuat yugo yang diejek memanyunkan bibirnya.
Memang benar, sebelum mereka menaiki kora-kora yugo bilang ia tidak akan takut dan akan membuktikan bahwa ia adalah cowok terkuat.
"Kenapa tuh bang kok manyun-manyun gitu" masih meledek yugo
Sekarang giliran yugo yang menertawakan mereka. "****** lo berdua. Emang enak makanya jangan ledek gue terus jadi kena karma kan" ejek yugo membuat mereka berdua merenggut kesal.
Setelah acara ledek-ledekan tadi akhirnya mereka melanjutkan untuk memilih wahana yang lain.
"Huh istirahat dulu yuk bang capek nih" ucap syifa yang disetujui oleh kedua abang nya.
Mereka berjalan menuju ke bangku yang kosong dan mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Habis ini mau naik apalagi nih?" tanya yugo
"Bentar bang, capek banget nih aku" kata syifa sembari mengelap keringat nya dan mengatur nafas. Helga yang kebetulan membawa handuk kecil pun membantu mengelap keringat syifa.
Syifa terkejut lalu menatap ke arah sebelah yang ternyata helga sedang mengelap keringat nya.
"Makasih bang" kata syifa tersenyum yang dibalas senyum juga.
Syifa yang merasa sudah sedikit fit membawa kedua abang nya untuk menaiki bianglala.
"Bang, kita naik bianglala yuk. Habis itu kita pulang"
"Ya udah ayo" lalu mereka berjalan menuju wahana bianglala. Setelah yugo membeli tiket lalu mereka menaiki wahana itu. Di saat sampai paling atas, syifa menatap takjub. Ternyata pemandangan nya sangat indah. Sama halnya dengan helga dan yugo, mereka juga menatap takjub.
Syifa menoleh ke arah kedua abang nya, "Bang, makasih ya udah mau luangkan waktu kalian untuk aku" ucap syifa
"Nggak perlu makasih sayang. Sudah menjadi kewajiban seorang abang untuk membahagiakan adiknya" balas yugo membelai rambut syifa lembut.
"Iya benar dek apa yang dikatakan bang yugo. Jadi kamu nggak perlu bilang makasih ke kita" sahut helga
Lalu suasana menjadi hening.
"Dek" ucap helga pada syifa.
"Iya bang? Ada apa?" syifa melihat helga menghela nafas sebentar.
"Abang minta maaf ya sama kamu. Selama ini abang udah jahat sama kamu. Bahkan abang udah tega banget sama kamu. Saat kamu di jahat in sama mereka abang cuma diam. Nggak membela kamu atau melindungi kamu. Abang merasa nggak pantas jadi abang kamu. Abang nggak berguna, aban-..." helga tidak melanjutkan kalimatnya karena syifa menempelkan jarinya di bibirnya.
"Udah bang yang berlalu biarlah berlalu. Abang nggak jahat kok sama aku. Malah abang baik, baik banget malah. Sampai-sampai aku merasa beruntung punya seorang abang seperti bang el" helga terdiam, baik katanya? Baik dari mana coba disaat adiknya sedang berjuang bertahan dari masalah malah ia sebagai abang nya hanya bisa diam. Dimana coba baik nya?.
Lalu syifa menghadap ke arah helga sebelum melanjutkan kalimatnya ia menghela nafas panjang.
"Abang pengin tahu yang membuat aku bahagia?" helga mengangguk.
"Aku bahagia ketika kalian mengobrol sama aku, cerita bareng, jahil bareng kaya dulu. Aku tunggu abang ngelakuin hal itu. Tapi hasilnya nihil. Sampai-sampai aku pengin nyerah aja gitu. Apalagi bang yugo juga nggak ada disini" perkataan syifa membuat hati mereka berdua merasa sakit. Segitu menderita kah syifa ketika tanpa mereka?.
"Lalu bang yugo akhirnya kembali setelah bertahun-tahun pergi. Akhirnya aku punya teman cerita itu aja udah cukup buat aku senang. Tapi abang tahu yang paling buat bahagia itu apa? Bang el. Iya bang el, karena akhirnya sekian lama aku menunggu bang el buat mau ngomong sama aku lagi itu ternyata nggak sia-sia" helga terkejut. Syifa bahagia karena menunggunya untuk bisa bicara kaya dulu? Helga terharu lalu ia menghamburkan tubuhnya memeluk syifa dan mendekap syifa hangat.
Syifa terpaku kaget, tubuhnya tak dapat bergerak sebelum akhirnya ia membalas pelukan abang nya. Syifa merasa bahunya basah, abang nya menangis? Syifa mengusap pelan punggung abang nya.
"Maafkan abang dek. Abang belum bisa jadi kakak yang baik buat kamu. Belum bisa jagain kamu. Malah abang buat kamu nangis. Maafin abang ya" ucap helga merasa bersalah selama ini.
"Iya bang, aku udah maafin abang kok. Jadi, abang nggak usah merasa bersalah gitu ya" helga menganggukkan kepalanya membuat syifa tersenyum.
Yugo melihat mereka yang akhirnya akur membuat hatinya menghangat. Syifa menatap yugo seakan-akan menyuruh dirinya untuk ikut. Yugo yang mengerti akan tatapan itu pun ikut menghamburkan tubuhnya ke pelukan mereka.
Seakan-akan wahana bianglala mengerti mereka membutuhkan waktu lama saat itu juga mereka merasa seperti lambat. Mereka menikmati waktu mereka di bianglala dengan posisi yang masih saling berpelukan.
Syifa merasa hari ini sangat bahagia. Bahagia karena akhirnya ia bisa menghabiskan waktu bersama dengan mereka walau ia tahu mungkin hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu.
Apalagi ia sangat bahagia ketika helga sudah kembali seperti dulu lagi. Syifa terus berdoa agar mereka selalu diberikan kebahagiaan dan dijauhkan dari semua masalah. Dan semoga keluarga nya kembali utuh.
***