Asyifa

Asyifa
Part 56



"SYIFA KAMU DIMANA" teriak menggelegar dari seseorang yang muncul dari dapur. Syifa dan orang tua terperanjat kaget sambil mengelus dada. Orang tua zaki terutama ibunya menatap tajam, kaget, bingung kepada zaki. Zaki terdiam menatap ke arah orang tuanya. Perasannya menjadi tidak enak.


"Zaki? Sini nak duduk bersama kami" ucap lembut ibu membuat zaki meneguk ludah kasar. Ibunya yang menjadi lembut itu seakan pertanda bahaya. Bukan, bukan zaki tidak senang jika ibunya menjadi lembut tapi kadang lembutnya itu akan menjadi macan yang mengamuk.


Dengan langkah pelan, zaki berjalan menuju ke arah mereka. Zaki menguatkan dirinya untuk siap-siap terkena amukan oleh macan betina yang tak lain ibunya.


"Em.. Ada apa ya bu" tanya zaki gugup


Puput, ibu zaki menatap lembut putranya, menarik pelan tangan zaki menuntun untuk duduk di sampingnya. Jantung zaki berdegup kencang, perasaannya semakin tidak enak. Zaki menatap syifa seolah meminta pertolongan tapi yang hanya dijawab gelengan.


Zaki menghela nafas pelan, dirinya sudah benar-benar pasrah. Ditatap nya ibunya yang masih menatap dirinya lembut.


"A-ada apa ya bu" Ibu tidak menjawab pertanyaan zaki, malah mengelus pelan rambut zaki. Semakin lama elusan itu menjadi kasar tanpa diduga ibu menarik rambut zaki keras.


"Aduh sakit bu... Awsh.. Lepas bu" ringis zaki karena tiba-tiba ibunya menarik rambutnya.


"Kamu ngapain disini hah! Berduaan lagi. Ingat nak dosa, ibu nggak larang kamu dekat dengan syifa tapi nggak gini juga"


"Awsh.. Aku nggak ngapa-ngapain bu sama syifa. Cuman makan masakan yang syifa masak. Nggak lebih kok"


"Ibu tahu nak, tapi kan kalian hanya berdua apalagi belum sah. Ibu takut jika orang-orang salah mengartikan itu nak" zaki merasakan jika ibunya melepaskan tangannya dari rambutnya. Zaki maupun syifa terdiam. Mereka terdiam karena ucapan ibu.


Ah syifa melupakan hal itu, jika yang dikatakan ibu zaki itu benar. Mereka berdua belum ada ikatan yang sah jadi syifa paham akan kekhawatiran beliau. Lalu tatapan ibu zaki beralih menatap syifa. Syifa yang ditatap menundukkan kepalanya.


"Kamu juga nak, seharusnya jangan membawa orang lain yang bukan mahram nya sekalipun itu teman kamu ke rumah apalagi rumahnya sepi. Kalau ramai-ramai itu tidak apa-apa tapi jangan sampai hanya berdua di rumah yang sepi. Iya kamu menyangkal jika tidak ada apa-apa yang kalian perbuat tapi kalian tau kan kalau setan itu suka sekali mengganggu manusia" syifa masih diam. Ibu menghela nafas sejenak. Dielusnya rambut syifa yang mulai memanjang dengan sayang.


"Ibu nggak marah sama kamu. Tapi ibu hanya kecewa sama kalian, kenapa malah berduaan di tempat sepi walaupun itu di rumah tapi jika tidak ada orang lain diantara kalian sama saja kalian dosa" syifa semakin menundukkan kepalanya malu karena ucapan ibu zaki menohok syifa.


Ibu bangkit dari duduknya, "Ayo pak, kita pulang" lalu pergi berlalu begitu saja tanpa menunggu ucapan bapak. Bapak ikut bangkit lalu menepuk bahu zaki.


"Bapak nggak marah sama kamu zak apalagi sama syifa tapi yang dibilang ibu ada benarnya. Bapak tahu kalau kalian hanya berteman apalagi kamu sering berkunjung ke rumah nak syifa. Bertamu boleh tapi jangan terlalu sering itu akan menimbulkan fitnah" bapak juga pergi menyusul ibu. Selepas perkataan bapak, mereka berdua hanya diam membisu.


Tidak ada yang membuka suara diantara mereka. Syifa masih menunduk karena malu dan merasa bersalah dan zaki diam karena bingung harus memulai bicara dari mana.


Zaki menghela nafas panjang, ia tidak tahu jika orang tuanya akan berkunjung ke rumah syifa. Tidak. Itu tidak salah yang salah adalah dirinya. Jika ia tidak berada di rumah syifa dan terlalu sering ke rumahnya pasti ini tidak akan terjadi.


"Maaf" suara zaki membuat syifa mendongak. Zaki menatap syifa merasa bersalah.


"Maaf syif, gara-gara aku semuanya jadi masalah. Seharusnya aku nggak terlalu sering berkunjung ke rumah mu. Maaf juga untuk ucapan ibu sama bapak yang mun..." ucapan zaki terpotong oleh syifa.


"Nggak, yang dibilang sama bapak dan ibu kamu itu benar. Nggak seharusnya kita kaya gitu. Harusnya aku juga ingat kalau kita belum ada ikatan yang sah secara hukum atau agama. Apalagi kita berduaan tanpa ada orang lain. Ucapan orang tua kamu nggak salah" hening. Suasana menjadi canggung. Syifa menatap ke arah depan dengan pandangan kosong, ia tidak marah dengan zaki atau orang tua zaki. Tapi ia marah pada dirinya bahwa tidak bisa menjaga diri.


Syifa hanya butuh teman karena selama ini hidupnya kosong, tidak ada yang menarik. Teman hanya intan tidak ada yang lain jadi ketika bertemu zaki ia sangat senang karena akhirnya ia mempunyai teman. Tapi syifa juga lupa kalau terlalu sering membawa orang lain apalagi laki-laki ke rumahnya.


Jika keluarganya mendengar, pasti akan kecewa. Ah selama hidup kan dirinya sudah membuat keluarganya kecewa sampai mereka memilih tidak peduli padanya. Mungkin benar yang dikatakan keluarganya waktu itu jika dirinya pembuat masalah.


"Syif" panggil zaki membuat syifa tersentak kaget lalu menatap zaki tanda tanya.


"Aku tahu cara menyelesaikan masalah ini dengan cara..." jeda zaki membuat syifa penasaran.


"Kita menikah"


***


Di tempat lain terdapat seseorang berlari tergesa-gesa dengan membawa informasi penting. Ia berlari ke dalam rumah dan menuju ke tempat seseorang yang ingin ia beritahukan informasi penting. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung membuka pintu dengan tergesa.


"Bos" seseorang yang disapa bos itu tengah duduk memunggunginya.


"Sudah saya bilang kalau masuk ketuk pintu dulu" ucap orang itu dingin.


"M-maf bos"


"Ada apa kau kemari" sembari membalikkan badan. Menatap tajam anak buahnya.


"Saya membawa informasi mengenai dia bos" mendengar kata 'dia' membuat orang itu menegakkan tubuhnya.


"Cepat katakan"


"Ada yang mengajak dia untuk menikah" orang itu mengernyitkan dahinya sebelum ia tersenyum miring.


"Siapa?"


"Zaki bos" wah wah sepertinya dia berani mengambil miliknya. Baiklah kita lihat saja nanti.


"Siapkan mobil karena kita akan pergi ke suatu tempat" ucapnya masih dengan senyum miringnya.


"Baik bos"


Orang itu tidak sabar untuk menuju ke tempat yang ia sudah nantikan. Mendengar bahwa miliknya ada yang ingin mengambil membuat ia merencanakan sesuatu.


'Kita lihat sejauh mana bocah ingusan itu berjuang'


***


Halo guys, aku up lagi nih!!! Sorry kalau ceritanya melenceng, nggak jelas, atau nggak nyambung. Nggak tahu kenapa pikiran author tiba-tiba menjerumuskan ke situ. Jadi ya begitu ceritanya.


Gimana nih menurut kalian kalau zaki sama syifa menikah? Atau buat keluarganya menyesal dulu?