Arkaila

Arkaila
Masuk Ruang BK



"Astaga.."


"Kai??"


Mia dan Jia terkejut, mereka dan semua manusia yang ada di kantin seakan berhenti bernafas melihat apa yang Kai lakukan.


"Arkan!" tak kalah terkejut nya, Bima langsung mengambil air mineral dari sembarangan meja. Kemudian mencuci wajah Arkan.


"Sial!" umpat Arkan merasakan perih di matanya.


"Kai kenapa Lo lakukan itu" bisik Jia panik.


"Ini masalah besar" balas Mia.


Sedangkan Kai, dia hanya diam. Menatap Arkan yang kesusahan mencuci wajah nya.


Tidak ada tanda penyesalan, tidak ada pertanda takut di raut wajah nya. Kai benar benar tampak biasa saja saat ini.


Seluruh siswa siswi yang melihat kejadian ini, tak menyangka dengan keberanian Kai.


"Kurang ajar banget Lo yah, udah salah. Tapi masih sok benar."


"Ikut gue ke ruang BK!" seret Arkan menarik tangan Kai.


Ini bukan pertama kali nya, pria itu tanpa sadar sudah menyentuh pergelangan tangan Kai dua kali.


Pertama di koridor, dan sekarang di kantin. Tentu hal ini menjadi tabu bagi seluruh siswa.


Arkan menyentuh tangan wanita? manusia kutub yang di kira guy, karena tidak berpacaran.


"Gak, gue gak mau!" tolak Kai.


"Lo harus mau, karena Lo sudah membuat kesalahan besar!" dengus Bima ketus. Dia membantu Arkan membawa Kai ke ruang BK.


"Kai..."


"Kai.."


Mia dan Jia tidak bisa berbuat apa apa. Mereka hanya bisa berdoa Kai tidak mendapatkan hukuman berat.


Setiba nya di ruang BK, Bu Lastri terkejut melihat penampilan Arkan yang berantakan.


"Astaga, Arkan. Apa yang terjadi, mengapa kamu berpenampilan seperti ini. Tidak mencontohkan hal yang baik!" omel Bu Lastri.


"Maaf Bu, tapi ini bukan kesalahan Arkan. Gadis ini yang membuat Arkan menjadi seperti ini" bela Bima pada Arkan.


Bu melirik kearah Kai, dia baru sadar ada siswi lain di sini.


"Kamu?" Bu Lastri menurunkan kaca matanya, melihat wajah Kai dengan sangat jelas.


"Dia murid pindahan Bu, baru hari ini masuk, tapi sudah membuat masalah!" jelas Bima.


Kai mendengus kesal, dia tidak membuat masalah. Tapi, mereka lah yang sejak tadi mencari masalah kepadanya.


"Jelaskan, apa permasalahan nya?" seru Bu Lastri. Tatapan nya beralih pada Arkan.


"Saya tidak tahu apa masalah dia kepada saya Bu. Saya masuk kantin, tiba tiba dia menabrak saya dan kemudian menyiram kuah bakso pedas ke wajah saya" jelas Arkan sesuai dengan apa yang terjadi.


"Tidak Bu, bukan seperti itu" bantah Kai tidak terima.


"Lalu, seperti apa menurut mu?" sahut Bu Lastri.


"Saya duduk di meja kantin, terus saya ingin membantu teman saya yang kesusahan membawa bakso. Makanya saya berdiri dan hendak membantu nya, tapi." Kai berhenti sejenak, kemudian melirik Arkan tajam.


"Tapi apa?" desak Bu Lastri penasaran.


"Tapi dia mendorong saya hingga terjatuh. Dan dia malah menyalahkan saya. Karena itulah saya emosi dan menyiram nya dengan air apa saja di sekitar saya" sambung Kai.


"Dan kuah bakso yang ada di sekitar kamu?" tambah Bu Lastri.


Kai mengangguk, mata nya masih menatap tajam pada Arkan.


"Ini tetap tidak di benarkan bi, sangat berbahaya jika mata Arkan meradang" protes Bima.


"Maaf Bu, meskipun dia ketua OSIS, tetap saja ibu tidak boleh membeda bedakan siswa. Yang salah tetap salah" ujar Kai.


"Mau gimana lagi, Lo kan memang salah" sela Bima semakin geram pada Kai. Dia tidak menyangka Kai seperti ini, sangat menggemaskan, dan membuat emosi naik ke ubun ubun.


"Gue gak salah, dia yang salah!" bantah Kai.


"Lo yang salah, mata gak di pake!" ujar Arkan. Akhirnya dia bersuara juga.


"Sudah jelas Lo yang salah, Lo yang dorong gue!"


"Enak aja, Lo yang gak punya mata!" balas Arkan, dia tidak terima di salahkan oleh gadis ini. Semuanya sudah jelas di depan mata, tapi dia masih saja mengelak.


"Lo yang salah!"


"Lo!!"


"Lo!!"


"Lo yang salah!!"


Bu Lastri jadi pusing, dia memegang pelipis matanya. Entah siapa yang harus dia dengarkan.


"Bu" panggil Bima ketika melihat Bu Lastri terhuyung ke bangkunya.


"Aduh, saya pusing karena kalian. Sebaiknya kalian keluar dulu."


"Untuk kamu,karena ini hari pertama mu, kamu di bebaskan. Tapi, jangan membuat kesalahan lagi. Mengerti!" seru Bu Lastri masih dengan rasa pusing di kepalanya.


"Baik Bu" balas Kai menunduk hormat.


Sedangkan Arkan, dia pergi begitu saja tanpa menoleh pada Kai.


"Selamat Lo kali ini" dengus Bima, kemudian menyusul Arkan.


"Dasar orang orang gila" maki Kai.


Gadis itu berjalan menuju ke kelas nya. Rasa lapar yang sejak tadi membolak balikkan pikiran nya, mendadak hilang.


"Cantik sih, tapi caper sama ketos."


"Huh, baru masuk udah membuat masalah"


"Dih, paling cuma cari perhatian Arkan saja."


"Ih geli"


"Dia tuh, yang berantem sama Arkan"


Kai melirik teman teman sekolah nya, di sepanjang lorong kelas,mereka berbisik bisik menceritakan dirinya.


Perseteruan antara Kai dan Arkan sudah tersebar luas di sekolah ini. Ada yang suka, dan ada yang berpikir Kai sengaja agar bisa dekat dengan Arkan.


Namun, mereka salah orang. Kai tidak akan terpengaruh dengan cibiran seperti itu.


Dengan Angkuh, Kai melangkah menuju ke kelas nya. Pesona kecantikan nya semakin terpencar, apalagi ketika sorot mata nya semakin menajam.


Sesampainya di kelas, Jia dan Mia sudah menunggu Kai. Mereka membawa sebungkus roti untuk Kai.


Menyadari kedatangan Kai, Jia langsung berdiri dan menghampiri Kai.


"Kai, bagaimana. Lo gak kena hukum kan. Lo gak di apa apain kan?" tanya Jia memeriksa seluruh tubuh Kai.


"Ih Jia,bawa Kai duduk dulu" seru Mia.


Jia menuntun Kai duduk di meja nya, kemudian memberikan roti.


"Gue tahu Lo lapar, apalagi setelah menghadapi mereka" gumam nya.


"Kalian memang pengertian" gumam Kai melahap roti nya.


Baru sehari berteman dengan Jia dan Mia. Kai sudah merasa cocok dengan mereka.


"Makasih yah, kalian baik banget" ucap nya haru.


"Tenang, kita sudah cocok sama Lo. Jadi, kita akan selalu ada buat Lo" seru Jia.


"Benar. Kita sudah menjadi sahabat selamanya" sahut Mia girang.


Di sela sela mereka berbicara, tiba-tiba ketua kelas dan anggota lain menghampiri mereka.


"Kai, apa yang ketos itu lakuin sama Lo?" tanya Ketua kelas.


"Benar. Apa mereka berbuat tidak adil sama Lo?" sahut wakil.


"Huh?" kaget Kai mendapat pertanyaan seperti itu dari mereka. Dia tidak tahu, mengapa mereka semua care begini.


Jia menepuk keningnya, dia lupa jika Kai tidak tahu soal perseteruan kelas nya dengan Arkan beserta antek anteknya.