Arkaila

Arkaila
Kaila Bersama dengan Arkan??



Arkan membuka pintu mobil, mengulurkan tangan nya untuk membantu gadis nya keluar. Namun, bukan nya keluar. Kaila malah menepis tangan Arkan dan ingin menutup pintu mobil kembali.


"Jika Lo gak keluar, maka gue akan mencium Lo di hadapan semua orang!" Ancam Arkan.


Kaila langsung terdiam, dia menatap semua teman sekolahnya yang kini berdiri sembari menatap penasaran dengan orang yang akan keluar dari dalam mobil Arkan. Dan tentu saja itu adalah dirinya.


"Gue akan menghitung sampai 3, pada hitungan ke 3 Lo gak keluar, Gue pas-" ucap Arkan terhenti, karena Kaila sudah keluar dari mobilnya.


"Eh, Kaila?"


"Serius Kaila?"


"Dia Kaila??"


"Gadis IPA 2 yang sering telat?"


Semua orang di buat terkejut, mereka tidak menyangka akan melihat Kaila yang duduk dan di bantu oleh Arkan keluar dari mobilnya.


Dea menganga, matanya membulat besar melihat siapa wanita yang keluar dari mobil Arkan.


"Kaila?" Gumamnya menahan amarah.


"Bagaimana bisa?" gumam Kasi juga terkejut.


Kaila menatap semua orang dengan tatapan datar, kemudian menatap Arkan dengan tatapan malas.


"Puas Lo sekarang!" Dengus nya, lalu melangkah pergi.


De langsung berjalan menghadang Kaila, pikiran nya tentang Kaila dan Arkan pergi bersama ternyata benar.


"Heh, gadis brandal!."


Tuh kan, apa yang Kaila malaskan itu terjadi. Jika orang melihat kedekatan dirinya dengan Arkan, akan membuat orang orang yang kurang kerjaan mengganggunya.


"Apaan"


"Lo berani yah, deketin Arkan. Lo-"


"Stttt....." Kaila mengangkat satu tangan nya ke hadapan Dea, agar gadis itu berhenti bicara.


"Sebelum Lo menghadang gue, sebaiknya Lo tanya tuh. Sama Arkan."


"Minggir!" Kaila mendorong Dea menyingkir dari hadapan nya, dia sedang malas berurusan dengan gadis itu.


"Ih kurang ajar banget dia" ujar Kasi.


Dea tidak peduli, dia malah menghampiri Arkan yang menatap sinis kearahnya.


"Arkan, kenapa Lo terlambat. Dan Lo juga bersama Kaila?" tanya Dea terdengar menyedihkan, dia hampir tidak percaya dengan apa yang Arkan lakukan. Sejak dulu dia sudah mengejar pria itu, tapi sedikit saja Arkan tidak menunjukkan ketertarikan kepada dirinya.


"Lo ngomong apa sih Dea, pertanyaan Lo gak patut gue jawab!" Ketus Arkan.


Pria itu melenggang pergi dari hadapan Dea dan Kasi. Membuat gadis itu menelan rasa kecewa, rasa marah dan rasa malu.


"Cih, Dea kalah saing. Sama anak pindahan"


"Bener, kasian"


"Cih, galak dan licik sih"


Kasi menatap mereka tajam" pergi dan berhenti mengurusi urusan orang lain!" Serga nya.


Gerombolan siswi siswi centil, penggila Arkan pun bergegas pergi. Mereka tidak mau berurusan dengan gadis seperti Kasi dan Dea.


"Lo sabar yah Dea, Arkan pasti ad alasan mengapa dia bersama Kaila!" Ujar Kasi, dia berusaha menenangkan Dea yang saat ini sangat marah.


"Berhenti menyebut namanya, gue jijik!!" Teriak Dea. Lalu pergi dari sana.


"Ehh tunggu Dea!!"


Kaila langsung menuju ke lapangan bola basket, sembari berjalan dia menghubungi kedua teman nya. Kaila yakin, Jia dan Mia ada di sana.


"Kai!!"


"Sini!!"


Jia dan Mia melambaikan tangan, saat melihat Kaila masuk ke dalam ruangan lapangan bola basket.


"Lo kemana aja Kai, kenapa tadi tidak masuk?" Tanya Jia setelah Kaila duduk di samping nya.


"Benar Kai, Abang Lo tadi menitipkan ini ke satpam" Mia menyodorkan barang titipan Ferdian tadi.


"Thanks" balas Kaila, dia menyimpannya di dalam tas.


"Terus.." seru Jia masih menunggu jawaban Kaila.


"Apa?"tanya Kaila.


"Yah jawaban untuk pertanyaan Jia lah" balas Mia memutar matanya malas, Kaila malah makin hari makin oon.


"Ohh, gue di culik Arkan" jawab Kaila jujur.


"What???" Mata Jia dan Mia membola lebar, seakan ingin keluar dari tempat nya.


Kaila bergidik ngeri, reaksi kedua teman nya terlalu berlebihan bagi nya.


"Lo serius? Terus Lo di bawa kemana. Apa ke ho-mmp"


Kaila menyumpal mulut Jia dengan tangan nya, dia tahu otak kotor Jia mulai beraksi.


"Jangan salah berpikir" dengus nya.


"Terus kemana? Kenapa dia menculik Lo?" Sela Mia juga penasaran.


"Ceritanya panjang" dengus Kaila malas untuk menceritakan kejadian tadi.


Namun, saat mengingat masakan Arkan yang sangat pas di lidahnya. Membuat Kaila merasa lapar kembali.


"Hello...Kaila, apa Lo masih di sini???" Ucap Jia melambaikan tangan nya di depan wajah Kaila. Bukan nya menjawab, gadis itu malah bengong.


"Hiss...Kalian ini, kenapa kepo banget sih. Kaya Dea dan Kasi aja tahu gak!" Ketus Kaila merajuk.


Jia dan Mia malah mengerut bingung, sikap Kaila terlihat berubah ubah. Ada apa dengan gadis ini, mereka hanya penasaran dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Arkan. Tapi Kaila malah ketus begini.


"Yaudah, kalo Lo gak mau cerita, tapi jangan samain kita sama nenek lampir itu dong" Rajuk Mia.


"Bener tu, apa kata Mia." Imbuh Jia. Mereka berpura-pura merajuk, agar Kaila segera menceritakan kepada mereka.


Benar saja, Kaila langsung tersadar dan merasa bersalah pada kedua teman nya.


"Iya deh sorry, gue gak sengaja. Soalnya gue kesal banget sama tu cowo dan dua nenek lampir itu" tuturnya.


Raut wajah Jia dan Mia langsung berubah, mereka menatap Kaila menunggu cerita Kaila selanjutnya.


Huhh...


Kaila menghembuskan nafas gusar, kemudian dia menceritakan semua kejadian yang dia alami dari pagi hingga sekarang.


Reaksi kedua sahabatnya tidak jauh berbeda ketika dia mengetahui jika Kaila di bawa oleh Arkan.


"Lo serius? Arkan membawa Lo naik mobil?"tanya Jia tidak percaya.


Kaila mengangguk pelan, "memangnya kenapa, dan Kenapa juga kalian harus terkejut seperti itu?" Heran nya.


"Kaila, Lo itu gadis beruntung. Selama ini, Arkan jarang membawa mobilnya. Dia juga tidak pernah memboncengi cewe, apalagi membawa cewe masuk ke mobilnya" decak Mia terkagum kagum.


Kaila terdiam, benarkah itu. Arkan tidak pernah dekat dengan gadis mana pun? Lalu bagaimana dengan gadis itu?.


"Eh sudah mulai, sudah mulai"sorak siswi siswi di depan dan belakang mereka, membuat obrolan mereka jadi terhenti.


Jia dan Mia ikut memperhatikan tim yang akan bertanding di lapangan. Saat melihat yang akan bertanding bening bening, mata mereka langsung terbuka lebar.


"Wah seger nih" gumam Jia tersenyum senang.


Pertandingan pun di mulai, tampak penonton sangat heboh saat mereka bertanding. Mereka bersorak menyemangati tim favorit mereka.


Di antara semua orang, hanya Kaila yang diam. Matanya menatap lurus ke depan, sedangkan pikiran nya mulai menjelajah memikirkan semua yang mungkin tidak dia ketahui.


"Mengapa semuanya tidak sama? Bukan kah dulu-" Kaila menepis pikiran nya sendiri, dia tidak mau mengingat kembali kenangan pahit itu.


"Tidak, gue tidak boleh lemah. Itu mungkin siasatnya, agar gue tetap menerimanya dan memaafkan dirinya kembali." Dengus nya dalam hati.


Kaila bertekat, tidak akan lemah dan tidak akan terpengaruh dengan segala cobaan dari Arkan. Dia akan tetap teguh dengan pendirian nya sendiri. Dia akan melawan Arkan, dan membuat pria itu pergi dari hidupnya.