
Kringggg........
Bel masuk telah berbunyi, para siswa siswi langsung berhamburan menuju ke kelas masing-masing. Mereka tidak mau berurusan dengan ketua OSIS super dingin dan menyebalkan itu.
Jika sudah bertemu dengan Arkan, maka tamat lah riwayat mu. Hukuman pasti akan menghampiri mu.
2 menit setelah bel masuk berbunyi, barulah Arkan dan antek antek OSIS nya berpatroli. Menyebar ke seluruh penjuru sekolah, memeriksa setiap sudut tanpa memberikan sedikit pun cela bagi murid yang terlambat lolos.
Sementara itu, suara sepatu Kai berlari di koridor kelas terdengar cukup kuat. Dia sangat tergesa-gesa menuju ke kelasnya.
Karena menonton drama Korea, Kai jadi terlambat bangun dan, inilah akhirnya. Dia terlambat.
"Stop!"
Deg
Jantung Kai seakan berhenti berdetak, sama seperti langkah kakinya yang langsung berhenti setelah mendengar suara bariton dari arah belakang nya.
Kai memejamkan mata nya, tamat sudah riwayat nya "Mampus, si brengsek nangkap gue"
Kai membuka matanya kembali, dia hendak kabur. Namun, suara lain terdengar meneriakinya agar tidak kabur.
"Jangan kabur!!!"
Kai terkejut, tadi dia mendengar suara Arkan. Kini malah suara lain. Dengan cepat, dia berbalik dan menatap mereka.
"Huh, ternyata mereka rame" batin Kai menatap sebal Arkan dan antek antek osisnya.
"Mau kabur kemana Lo Kai, murid baru yang ternyata berandalan" ujar Bima.
"Sembarangan Lo" dengus Kai tidak terima dengan ucapan Bima. Namun Bima malah cuek saja.
"Bagaimana ini Arkan, apa dia akan kita bebaskan lagi?" tanya Bima melirik ketua nya.
"Tentu saja tidak, bawa dia ke ruangan!" putus Arkan. Lalu, dia menggiring anggota lain berpatroli ke tempat lain.
"Baik lah, kita akan menyelesaikan murid baru yang cantik" ejek Bima seraya menarik sedikit seragam bagian lengan milik Kai. Seperti tengah menjinjing leher kucing.
"Lepas! Lo pikir gue kucing huh!"protes Kai mencoba melepaskan diri. Namun, Bima tetap memegang bagian baju nya. Kemudian menyeret Kai menuju ke ruangan OSIS.
Sesampainya di ruangan OSIS, Kai menatap seluruh anggota OSIS yang berjumlah 3 orang termasuk Bima.
"Siapa dia Bim?"tanya Dea. Gadis cantik yang menjabat sebagai sekretaris OSIS. Dia menatap Kai tajam. Ini adalah pertama kali dia melihat Kai.
"Lo gak tahu yah, dia itu yang membuat onar di sekolah kita. Baru kemarin masuk, eh malah udah masuk ruang BK" jelas Kasih bendahara OSIS. Dari nada bicaranya, dia terlihat tidak menyukai Kai.
Alis Dea naik satu, dia menatap lekat Kai.
"Gak pernah lihat cewe cantik? Liatin nya begitu amat"cibir Kai santai.
"Belagu banget Lo, anak pindahan juga. Malah songong" balas Dea mulai terpancing emosi. Dia melangkah hendak menyerang Kai. Beruntung Bima sigap dan langsung menahan Dea
"Udah Dea, Lo gak usah terpancing emosi" lerai Bima.
"Lo gak liat apa, dia gak menghargai banget. Gue gak suka lihat nya" ujar Dea geram.
"Gak suka, yah udah. Gak usah lihat. Itu saja kok repot!" Cibir Kai.
"Kai! Lo diem deh. Jangan memancing terus" serga Bima. Dia mulai pusing melihat tingkah dua cewe ini.
"Udah lah Bim, biarin aja Dea ngasih dia pelajaran" kompor Kasih.
Bima menghela nafas dalam, kemudian menarik Dea sedikit menjauh dari Kaila. Agar mereka tidak berkelahi.
Tak lama kemudian, Arkan dan 3 Anggita osis lain nya datang. Arkan menatap Kaila sebentar, lalu beralih menatap Bima dan Dea.
"Kenapa belum di kasih hukuman?" Tanya Arkan.
"Lo gak tahu aja Ar, mereka mulai nyusahin gue. " Sahut Bima.
"Nyusahin?"ulang Arkan.
Belum sempat Bima menjelaskan, Dea sudah lebih dulu maju dan menjelaskan pada Arkan.
"Gue akan sopan, apabila orang itu sopan sama gue. " Balas Kai menatap Dea tajam. Mereka saling menatap dan marah.
"Lihat kan, dia ini benar benar mengesalkan"geram Dea hendak menyerang Kai.
Melihat Deabingin menyerangnya. Kai pun tak tinggal diam.
"Apa Lo! Lo pikir gue takut sama lo huh!" Tantang Kai.
"Benar benar lo yah, cari mati" Dea mendorong Kai, dia hendak menarik rambut Kai. Namun Arkan dan Bima dengan cepat melerai keduanya.
"Sini Lo gue gak takut!" Ujar Kai lagi.
"Eh eh.." pekik Bima. Dia menarik Dea, sedangkan Arkan menarik Kai, bahkan memeluk Kai yang terus maju kearah Dea.
"Berhenti!! " Bentak Arkan. Membuat kedua nya langsung berhenti.
Kai terkejut, dia langsung mendorong Arkan yang memeluk nya dari belakang.
"Jangan mencari kesempatan!" Dengus nya.
Arkan tidak berkata, dia hanya memberi jarak dari Kai.
"Dea, Lo itu kenapa malah begini sih. Bukan nya jadi contoh yang baik!"ujar Bima heran.
"Buat Lo! Bersihkan halaman belakang sekolah!" Titah Arkan dingin.
"What?" Kai terkejut. Bagaimana mungkin dia mendapatkan hukuman seperti ini.
Bukan hanya Kai, namun seisi ruangan terkejut mendengar hukuman apa yang Arkan berikan.
"Lo gila apa, petugas kebersihan sudah ada. Kenapa gue harus membersihkan nya" protes Kai.
"Terserah gue mau ngasih hukuman apa. Siapa yang menyuruh lo terkambat!" Balas Arkan tak terbantahkan.
Kai melirik Dea, gadis itu tersenyum menang padanya.
"Cepat!" Seru Arkan lagi.
Emosi Kai semakin meningkat. "Oke, kali ini Lo menang."
Kai keluar dari ruangan OSIS, berjalan menuju ke halaman belakang.
Bima mendekati Arkan "Lo gak salah, ngasih dia hukuman itu?"
"Gak, kenapa?" jawab Arkan ketus.
"Udah benar kali Bim, dia pantas mendapatkan hukuman seperti itu." Sela Dea. Dia merasa senang, dan merasa Arkan membela nya dengan memberikan hukuman berat pada murid pindahan itu.
"Jika pekerjaan kalian sudah selesai, kembali lah dan belajar dengan baik" Arkan berlalu dari ruangan OSIS.
"Oke ketua" jawab Dea dan Kasi kompak. Sedangkan Bima, dia hanya mengangguk pelan.
Tumben banget Arkan seperti ini. biasanya dia akan melihat betapa menit keterlambatan.
Bima berlalu menuju ke ruangan kelas nya, dia tidak ambil pusing dengan masalah yang ada. Dia percaya jika Arkan membuat keputusan yang benar.
Di taman belakang, Kai menatap taman yang luas. terlihat sampah berserakan di mana mana.
"Gila banget, sekolah elit.Tapi sampah di mana mana" gerutunya.
Kai mulai memunguti satu persatu sampah plastik. kemudian memasukkan nya ke dalam tong sampah yang tidak jauh dari sana.
Sambil bekerja, dia sambil menggerutu, memakai Arkan dengan berbagai umpatan.
"Awas saja, suatu saat nanti. Gue akan membalas Lo. Gue gak akan beri ampun" gerutunya.
Sebenarnya, halaman belakang, toilet, selalu Arkan larang bagi petugas kebersihan membersihkan nya sebelum bel masuk berbunyi. Dia menyiapkan nya untuk murid yang terlambat.
Jika sudah 10 menit setelah bel berbunyi, dan tidak ada yang terlambat. Barulah Arkan menghubungi petugas kebersihan untuk membersihkan nya.