
Setelah membereskan pekerjaan nya,Arkan duduk di ruangan kerja nya di Cafe AiKai.
Dalam genggaman tangan nya, terdapat kalung yang dulu pernah dia berikan pada Aila.
"Masih awet, dan terawat" gumam nya tak percaya, ternyata Kaila masih menyimpan barang pemberian nya.
Arkan membelah liontin kalung, di sana terdapat awalan nama mereka. Yaitu, A+A.
"Apa Lo masih marah sama gue, apa sekecewa itu Lo sama gue?? Maaf, gue minta maaf. Tapi semua itu salah paham" lirih Arkan terisak pada kalung, seolah sedang berbicara dengan Kaila.
Tuk!! Tuk!!
Arkan tersentak, dia langsung menghapus air mata yang menetes di pipi nya.
"Masuk!" Seru nya.
Ceklek.
Salah satu pelayan nya masuk ke dalam ruangan nya.
"Maaf boss, ada yang ingin bertemu dengan mu"
Arkan mengangguk "Suruh masuk saja!" Seru nya.
Pelayan itu mengangguk, Dia kembali keluar untuk memanggil orang yang ingin bertemu dengan bosnya.
"Arkan!"
Deg.
Arkan mengangkat pandangan nya, dia terkejut melihat kak Viona berdiri di hadapan nya.
"Arkan, ternyata kamu yang punya cafe ini?" Seru Viona berjalan ke hadapan Arkan.
"K-kak Viona?"gagap Arkan, mata nya tak berkedip, setelah sekian lama. Ini pertama kalinya Arkan bertemu dengan Viona. Arkan tidak pernah berpikir ternyata mereka sama sekali tidak pindah.
"Kenapa gagap, kaget liat aku di sini?"sinis Viona.
"Bukan begitu-"
"Lalu apa?" Sela Viona.
"Kakak kapan datang ke sini, kenapa tidak memberitahu ku. Ah bukan, kenapa kakak tidak mengatakan padaku, jika kalian tidak pindah!" Tutur Arkan.
"Benar, aku juga ingin memperjelas dengan mu. Sekaligus ingin mencari tahu tentang semua ini!"balas Viona, tanpa di suruh dia duduk di kursi depan meja Arkan.
"Eh, gue di sini juga!" seru Jessica yang baru saja masuk ke dalam ruangan Arkan.
Pria itu melebarkan matanya, bagaimana mungkin kedua wanita ini ada di ruangannya. Apa sebenarnya yang terjadi, apa yang mempengaruhi keduanya, sampai datang mencarinya.
"Kakak juga di sini?" Kaget Arkan.
"Tentu saja,gue gak akan ketinggalan untuk hal ini" jawab Jessica.
Arkan menahan nafas, jika kedua gadis ini bergabung, maka tamat lah riwayat nya.
Mereka bertiga duduk di ruangan VIP cafe Arkan, di mana ruangan ini biasanya di gunakan untuk meeting.
Brak!
Viona menggebrak meja, membuat Arkan terkejut.
"Jadi Arkan!, bagaimana kronologi permasalahan Lo dan Kaila!" tanya Viona penuh penekanan.
Arkan merasa menjadi seorang tersangka saat ini. Menghadapi dua wanita yang duduk di hadapan nya.
"Kak-"
"Arkan, Lo harus mengatakan yang sejujurnya!" potong Jessica.
"Benar! jika kamu berani berbohong, kami tidak akan membiarkan kamu lolos!" sahut Viona.
Arkan menatap keduanya malas, mereka meminta dirinya untuk menjawab dan memberitahu dia. Tapi, mereka tidak memberinya kesempatan untuk berbicara.
"kenapa Lo diam?" seru Jessica. Viona mengangguk setuju, sejak tadi Arkan hanya diam saja.
"Gimana mau ngomong, kalian sejak tadi gak biarkan aku bicara!"jawab Arkan sopan, tidak menggunakan kata Lo gue.
Viona dan Jessica saling tercengir, "yaudah, cerita lah!"
Huff...
"Sebenarnya aku dan Aila hanya salah paham, saat itu aku dan Aila sudah berjanji akan pergi ke taman. Saat aku menunggu nya, tiba-tiba Raisa datang dan memeluk ku. Dia mengatakan, jika kamu datang bersama." tutur Arkan menceritakan kejadian yang membuat dirinya dan Aila terpisah.
Arkan tertunduk, namun dia tetap mengangguk.
"gue tahu, tapi mungkin dia tidak tahu" lirih Arkan.
Viona terdiam, dia memikirkan apa yang harus di lakukan.
"Aila berpikir aku mengkhianati dia" ujar Arkan lagi.
"Kaila sangat kecewa sama kamu, bahkan dia tidak mau tinggal di sini. 8 tahun dia pergi, meninggalkan kami semua!" tutur Viona.
Arkan mendongak, menatap Viona.
"Jadi, Aila benar pergi dari kota ini?"tanya Arkan.
Viona mengangguk, "Benar, dia baru kembali setelah 8 tahun. Itu juga karena ayah yang maksa"
Aila sangat menderita karena aku, dia terpisah dari kedua orang tuanya karena aku.
"Tapi Lo tenang aja, kita bakalan bantuin Lo!"ucap Jessica.
tubuh Arkan menegak, dia menatap kedua gadis yang sudah dia anggap seperti kakak nya sendiri.
"Serius?"
Viona dan Jessica mengangguk kompak.
"Benar, kita akan membantu Lo dan Kaila menyatu. Selain itu Lo harus menjawab satu pertanyaan kita dengan jujur!" tekan Jessica.
Arkan mengangguk setuju, apapun akan dia lakukan demi Kalian. Sikap dinginnya seketika menguap di udara, ketika berada di depan kedua gadis cantik ini. Bahkan Arkan tidak segan segan memperlihatkan ekspresi senang atau sedih.
"Apa pertanyaan nya?" desak Arkan tidak sabaran.
"Apa Lo benar benar suka sama Kaila? setelah 8 tahun ini, apa Lo masih suka dan cinta?"
"Tentu saja, dulu dan sekarang sama saja. Aku selalu mengharapkan nya, menunggu nya dan memohon kepada Tuhan, agar kita bertemu lagi." jawab Arkan cepat.
Viona saling melempar pandangan, senyum manis terbit di bibir keduanya.
"Bagus, kalau begitu Lo harus ikutin apa yang kami katakan" ucap Viona.
"Tentu!!"
...----------------...
Bel masuk berbunyi, semua siswa siswi berhamburan menuju ke kelas mereka masing-masing. Berbeda dengan Kaila yang terlihat berjalan santai menuju ke kelasnya.
Di saat semua orang takut di hukum, Kaila malah terlihat biasa saja.Dia tidak takut sama siapapun, apalagi dengan anggota OSIS yang semena mena padanya.
Sampai akhirnya, suara seruan menyuruh Kaila berhenti berjalan terdengar di telinga nya, dari arah belakang.
"Berhenti!" Suara bariton Arkan.
Kaila berhenti di tempat, rasa enggan untuk berbalik membuat dirinya kembali melanjutkan langkahnya.
"Heh, kalo di suruh berhenti ya berhenti!" Dea menarik lengan baju belakang Kaila, membuat gadis itu tertarik ke belakang.
"Apaan sih" tepis Kaila berbalik dengan ekspresi kesal nya.
"Lo budek yah, Arkan suruh Lo berhenti!" Maki Kasi.
Kaila melirik mereka sebentar, kemudian menatap Arkan tajam.
"Apalagi sih, kenapa kalian selalu saja mengganggu gue!" Kesal Kaila mulai kehabisan kesabaran, dia merasa anggota OSIS selalu mencari cari agar dirinya bermasalah.
"Heh, Lo pikir kita mau cari masalah sama Lo. Lo nya aja tu yang jadi biang masalah!" Balas Dea.
"sst Diam! Kenapa kalian malah berdebat sih " lerai Bima.
"Arkan, gimana ini. Langsung hukum atau gimana?" Tanya Bima.
Arkan masih terdiam, sorot matanya lurus pada Kaila.
"Bawa aja dulu ke ruangan OSIS, nanti gue putuskan!"Arkan berlalu dari sana, melanjutkan berpatroli nya
Sedangkan Dea dan Kasi, malah tersenyum mengejek pada Kaila. Mereka mengikuti Arkan berpatroli, sementara Bima. Dia mengantarkan Kaila ke ruangan OSIS.
"Ayo, ke ruangan sekarang!" Seru Bima seraya menarik sedikit lengan baju Kaila.
"Lepas! Gue bukan kucing!" dengus Kaila.