
Brak!
Pintu ruangan UKS terbuka dengan hempasan yang keras. Salah seorang anggota OSIS dengan nafas tersengal sengal menghampiri Arkan.
" Ada apa ini?" Tanya Arkan dengan sorot mata tajam penuh tanya. Dia juga terkejut karena suara hempas keras itu.
"I-itu- De- hh...Ah bukan ,Tapi- Kai" ucap siswa itu terbata karena nafas nya yang masih tidak beraturan.
Arkan turun dari ranjang UKS tempat dia beristirahat, kemudian memegang bahu siswa yang berusaha menetralkan deru nafas nya.
"Ada apa, katakan dengan jelas. Gue gak ngerti jika Lo ngomong kaya gitu"ucap Arkan.
"Benar, ada apa De? Maksud Lo Dea? Dan Kai?" Sahut Bima berusaha mencerna ucapan siswa itu.
"Iya, Dea dan Kaila baku hantam"ucap nya sedikit terbata.
"Apa??"
Arkan langsung berlari keluar dari ruangan UKS, di susul oleh Bima dan juga siswa itu.
Di tempat tadi, Kaila masih mencengkram rambut Dea, dan menggenggam tangan Kasi yang juga menggenggam rambutnya.
Jia dan Mia heran melihat siswa siswi berhamburan keluar dari kantin.
"Ada yang kelahi"
"Ada yang kelahi"
Sorakan mereka membuat dahi Jia dan Mia berkerut. Karena sangat penasaran, mereka menghentikan salah seorang siswa yang berlari di hadapan mereka.
"Eh...Ada apa, kenapa kalian lari keluar?" Tanya Jia.
"Kai dan Dea berantem" jawab nya singkat, lalu kembali berlari keluar.
"What? Kai dan Dea??" Jia dan Mia saling pandang, mata mereka membol besar setelah mencerna ucapan siswa itu.
"Astaga, Mia ayo cepat!!" Mereka langsung berlari, meninggalkan makanan yang baru saja mereka pesan begitu saja di atas meja.
Ibu kantin melihat nya, dia hendak memanggil kedua gadis itu. Namun, mereka telah pergi begitu cepat.
"Untung udah di bayar" cicitnya, walaupun ibu itu masih merasa sayang. Dan dia kasihan pada siswi yang belum sempat memakan makanan nya.
"Bel kan belum bunyi" gumam nya heran.
Sementara itu, Arkan dengan langkah cepat tiba lorong kelas. Tepat nya tidak jauh dari toilet. Dia menerobos masuk ke dalam kerumunan siswa siswi.
"Astaga" gumam Bima yang terkejut melihat Kaila di keroyok, dan Farhan??? Pria itu seperti pecundang yang selalu terhantam oleh ketiga gadis itu setiap kali Farhan mencoba melerai mereka.
Pawang telah datang, maka pertunjukan ini akan segera berakhir.
"Ada apa ini!" Terdengar suara bariton Arkan menggelegar dan menguap ke udara.
Deg
Dea langsung memainkan peran nya, dia pura pura terjatuh dan lemah. Sedangkan Kasi, dia langsung membantu Dea.
"Dasar ular!" Dengus Kai melihat akting mereka.
Kaila menghembuskan nafas gusar, merapikan penampilan nya yang sudah sangat berantakan.
"Apa yang kalian lakukan! Ini sekolah, bukan ring tinju!" Marah Arkan.
"Tapi dia duluan Arkan, dia mencari masalah sama gue. Lo tahu sendiri kan" lirih Dea terdengar setengah menangis.
Mendengar hal itu, Kaila menatap Dea sinis. Dia tidak terima jika dirinya yang di salahkan.
"Apa Lo bilang! Gue yang cari masalah?" tanya Kaila lagi. " Yang ada Lo tu, yang sengaja mencari masalah sama gue, terus berpura pura tersakiti di depan semua orang!" Kesal Kaila.
"Lo yang sakitin Dea, gue saksinya" sahut Kasi menantang Kaila.
"Saksi bego? Lo jangan berbohong, Lo saja baru datang!" bantah Kaila.
Arkan memejamkan matanya, tidak tahan lagi mendengar perdebatan mereka yang sama sekali tidak ada baik nya.
"Kaila! Dea! Kasi! Ikut gue ke ruangan OSIS!" Titah Arkan penuh penekanan, setelah itu di berjalan lebih dulu meniggalkan mereka.
"Buat kalian, ayo bubar. Bubar!!!" Halau Bima pada siswa siswi yang masih membuat kerumunan.
"Lo juga ikut!" Seru Bima pada Farhan.
Farhan mengangguk pelan, kemudian mendekati Kaila. "Ayo Kai"
Kaila melirik pada Dea sebentar, sebelum dia melangkah pergi. Tatapan matanya sangat tajam, seakan bisa menembus ke dada Dea dan kasih.
Sesampai nya di ruangan OSIS, Arkan menatap Kaila dingin.
"Duduk!" suruh nya, dia menunjuk kursi di depan meja nya dengan sorot matanya.
"Lo juga" ucap Arkan pada Dea.
Dea dan Kaila duduk berdampingan di depan meja Arkan, di depan pria yang menatap tajam pada mereka berdua.
"Sekarang jelaskan, apa yang terjadi. Dari Lo!"tunjuk Arkan pada Dea.
Dengan senyum senang, Dea mulai menjelaskan semua yang dia pikirkan dan tentunya itu akan membuat Kaila tersudutkan.
"Gue gak tahu kenapa, Kaila menabrak gue. Lalu, dia menyolot dan menyerang gue!" Dea menoleh pada Kaila.
"Gue gak ngerti, ada masalah apa gadis pembuat onar ini sama gue" sambung Dea.
"What? Lo jangan bohong yah" bantah Kai. Dia tidak terima di fitnah oleh Dea.
"Gue gak nabrak dia, tapi dia yang memancing gue duluan!" Jelas Kaila meyakinkan Arkan.
"Benar Arkan, gue lihat dengan mata dan kepala gue sendiri. Dea yang sengaja menubruk Kaila dan mencaci Kai!" Tutur Farhan mencoba membela Kaila.
"Bohong Arkan, dia berbohong!" Tukas Dea mulai panik. Dia lupa, jika Farhan merupakan saksi nyata.
"Kenapa gue harus bohong Dea, sudah jelas gue yang bantuin Kaila berdiri, dan kami hendak pergi. Dan Lo mencaci Kaila hingga emosinya tersulut!" Ungkap Farhan.
Melihat Farhan menyudutkan Dea, Kasi hendak bergerak maju dan membela Dea.
"Lo tidak berhak berbicara. Karena Lo, datang setelah semua orang berkerumun. Lo hanya menambah masalah, dengan membantu Dea." Tegas Farhan menghentikan gerakan Kasi.
"Lo membantu Dea, dan mengeroyok Kaila." Sambung Farhan.
Arkan terdiam, dia menatap Farhan tajam. Ada satu kata yang membuat dia merasa tidak suka. Namun, Arkan harus profesional, dia tidak bisa mengikut campurkan urusan pribadi dan urusan keadilan ini.
"Apa ada saksi yang melihat Lo berkata jujur?"tanya Arkan.
Dengan mantap, Farhan mengguk. Dia melirik Bima "Lo bisa pergi dan tanyakan pada semua orang yang menjadi penonton tadi. Mereka yang gue mintai tolong untuk memisahkan mereka berdua" ucap Farhan.
"Kelas 10 IPA 2 dan IPS 3" lanjutnya.
Dea dan Kasi saling melirik, mereka mulai ketakutan. Dia harus melakukan sesuatu.
"Gue akan ikut sama Lo!" Ujar Dea.
"Tidak! Biarkan Bima yang pergi. Kita yang bersalah akan tetap di sini. Agar terhindar dari masalah penyogokan" cegah Farhan.
Dea mati kutu, Kaila tersenyum menyeringai melihat kegelisahan nya.
"Kita lihat, bagaimana kebenaran terungkap" cibirnya.
"Maksud Lo apa. Lo pikir gue salah? cih. lihat saja nanti!" balas Dea penuh percaya diri.
"Sudah diam!" bentak Arkan, darah nya hampir mendidih melihat Farhan berdiri di samping Kaila. ingin rasanya dia menendang pria itu jauh jauh.
"Kai, Lo gak papa kan.?" tanya Farhan penuh perhatian, dia juga merapikan rambut Kai yang berantakan.
"gue gak papa kok" balas Kaila tersenyum manis. Dia melirik Arkan dengan ekor matanya. Dia tahu jika pria itu sedang cemburu. terlihat dari kedua tangan nya yang mengepal kuat.
"Rasain Lo" Kaila tertawa di dalam hatinya.