
Kai berjalan santai, mengikuti kepala sekolah yang menuntunnya menuju ke kelas yang akan dia tempati.
"Masuk lah, ibu akan memperkenalkan diri mu kepada teman teman baru mu" titah Bu kepsek.
Kai tersenyum tipis, mengikuti apa yang Bu kepsek perintahkan.
Kelas tampak hening, seluruh murid dengan tertib duduk di bangku masing-masing.
Bu Riani, selaku wali kelas 2 IPA. Dia juga merupakan guru yang mengajar pelajaran Kimia. Beliau menyambut pimpinan dengan sangat sopan.
"Bu kepsek"
"Iya Bu Riani, maaf saya mengganggu waktu belajar kalian."
"Tidak apa apa Bu" balas Bu Riani.
Bu kepsek mengangguk ramah, dia berbalik dan menggiring Kai ke sisinya.
"Halo anak anak, ibu datang ke sini membawa teman baru buat kalian. Ibu harap, kalian bisa membantu Kai menyesuaikan diri"
"Apa kalian bisa membantu nya?" tanya Bu Kepsek kepada murid murid nya.
"Bisa Bu" jawab mereka serempak.
Bu kepsek tersenyum manis, dia senang melihat kekompakan anak anak IPA.
"Kalau begitu, ibu tinggalkan sama Bu Riani yah"
"Mari Bu"
"Ya Bu, mari" balas Bu Riani mengantar Bu kepsek ke depan pintu. Setelah itu, dia kembali lagi untuk memperkenalkan Kai pada murid murid nya.
"Oke sayang, sekarang perkenalkan diri mu" titah Bu Riani lembut.
Kai pun mengangguk pelan, dia menatap satu persatu siswa siswi yang akan menjadi teman sekelas nya.
Dengan tatapan datar, Kai menatap semua murid di dalam kelas baru nya itu.
"Perkenalkan,nama gue Arkaila Wilson, panggil saja Kai!" ucap Kai tanpa ekspresi.
"Gak senyum aja udah manis banget!"
"Cantik banget"
"Asoy lah"
Seruan demi seruan pun mulai terdengar, para siswa tampak ribut girang dengan kehadiran Kai.
"Jangan terperdaya Kai, mereka biaya semua" sahut salah satu siswi, kemudian dia tertawa terbahak bersama teman teman wanita nya, setelah melihat raut wajah cemberut para buaya.
Kai tidak bereaksi, dia hanya diam menatap mereka semua yang sebagiannya tertawa.
"Baiklah Kai, kamu boleh duduk di kursi kosong itu." suruh Bu Riani menunjuk ke arah kursi kosong, sebelah nya ada siswi cantik yang langsung melambaikan tangan pada Kai.
Kai mengangguk pelan, kemudian berlalu menuju ke bangku yang Bu Riani katakan.
"Hai, Kai selamat bergabung" sapa Mia tersenyum girang. akhirnya dia memiliki teman sebangku.
"Hai Kai, gue Mia, calon sahabat Lo" ucap siswi yang menyahuti Kai tadi, dia langsung memperkenalkan diri nya.
"Dan gue, calon ipar Lo" celetuk Jia asal.
Kai terkejut meskipun ekspresi nya tetap datar, dia berpikir bagaimana Mia tahu jika dia memiliki saudara laki-laki.
"eh, santai Kai. dia hanya bercanda. Si mentel ini memang seperti itu" ujar Mia menjelaskan.
Sedangkan Jia, dia malah tertawa mendengar penuturan Mia.
Mia Lusiana, gadis cantik yang berumur sama seperti Kai. Dia periang, suka berteman dengan siapapun. Hal yang pasti adalah, dia merupakan anak salah satu konglomerat di kota ini.
Memang, sekolah ini di penuhi oleh anak anak konglomerat. Hanya terdapat beberapa saja yang masuk karena beasiswa.
Jia Smith. Gadis lucu, polos, tapi pro player. Jia adalah seorang play girl. Dia hanya akan mengencani pria selama 1 Minggu. Bahkan lebih parah nya, dia pernah berkencan selama 1 hari saja.
Prak!! prak!!
Bu Riani memukul papan tulis, meminta anak murid nya kembali fokus ke materi yang sempat tertunda ia jelaskan.
Titik fokus seluruh murid kembali terfokus pada Bu Riani.
Kai menikmati pelajaran pertama nya, di sekolah baru. Meskipun di awal dia sudah di cekcok oleh kakak nya, kemudian dia kesal bertemu dengan pria yang menurut nya tidak punya sopan santun itu lagi.
Tapi, semua itu terobati oleh aura persahabatan yang teman teman kelas nya berikan.
Seperti nya gue akan nyaman di sekolah ini.
Pelajaran berjalan sangat baik, siswa siswi tampak belajar dengan serius. Seperti yang orang orang pikirkan soal anak IPA.
Siswa siswi di kelas Kai benar-benar serius dalam belajar. Di kelas nya tidak ada persaingan. Mereka tidak mengejar nilai tinggi, akan tetapi mereka hanya ingin menguasai setiap materi pembelajaran.
Kring!!!!!!
Jam pelajaran pertama pun selesai, Jia dan Mia mengajak Kai pergi ke kantin.
"Ayo Kai, kita pergi ke kantin. Kita akan memperkenalkan Lo sama lingkungan sekolah yang aman dan tentram ini" seru Jia.
"Aduh, Jia Lo berlebihan deh!" sela Mia. Menurutnya malah sekolah ini aneh dengan peraturan yang seakan membunuh.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ke kantin. Dalam sekejap, Mereka bertiga menjadi pusat perhatian.
Paras cantik, bohay, siapa yang tidak akan memperhatikan nya. Apalagi semua orang tahu, si cantik Mia dan si lugu Jia. Kini di tambah dengan si bahenol Kai.
"Gila, komplit banget"
"Astaga, istri pertama, kedua dan ketiga"
Plok.
"Gila lu, menghayal setinggi langit" teplok teman siswa yang berkhayal tadi.
"Doa aja dulu, siapa tahu terkabul" balas nya tercengir.
Sedangkan ketiga gadis itu tampak biasa mendengar gumaman seperti itu. Mereka terus berjalan menuju ke kantin.
Sesampainya di kantin, Jia mengajak Kai duduk di meja yang kosong, kebetulan meja itu berada di sudut.
"Lo mau makan apa, biar sekalian gue pesan"tawar Mia.
"Gue bakso" jawab Jia.
"Gue batagor aja deh" sahut Kai.
"Oke, tunggu sebentar yah, gue bakalan pesan." Mia pun berlalu pergi.
Kini, Kai dan Jia duduk di meja saling berhadapan. Suasana kantin terasa sesak, beruntung mereka kebagian meja. Kalau tidak, maka mereka terpaksa makan di kelas.
"Lo sebelum nya sekolah di mana?" tanya Jia membuka obrolan.
"Gue di desa X, karena sebuah alasan harus kembali ke sini lagi" jawab Kai seadanya.
Jia mengangguk mengerti, dia tidak bertanya lebih lanjut, karena dia merasa itu adalah urusan pribadi Kai.
Untuk menghalau kebosanan dan menambah keakraban, Jia membicarakan tentang sekolah nya.
Jia menjelaskan semuanya pada Kai. Mulai dari peraturan di sini, ketua OSIS nya, pokoknya semua tentang sekolah ini.
"Lo tahu gak Kai, ketua OSIS kita sangat tampan. Gue yakin, Lo pasti akan ngiler saat bertemu dengan nya" u
gumam Jia.
"Benarkah?" balas Kai sedikit merasa geli. Dia tahu siapa ketua OSIS yang Jia ceritakan.
"Tapi, Lo tenang aja Kai. Ketua OSIS kita sangat baik. Dia tidak angkuh yang gue ceritakan itu" jelas Jia di akhir cerita nya.
"Gak angkuh gimana, gak punya sopan santu gitu" gumam Kai dalam hati. Dia sedikit geli mendengar Jia memuji Arkan.
Kai hanya mengangguk pelan, mendengar cerita Jia. Dia melihat kearah depan. Mia tampak kesusahan membawa bakso milik Jia.
Berinisiatif untuk membantu Mia, Kai berdiri secara tiba-tiba tanpa melihat kiri dan kanan.
Bruk.
"Aws..." Kai meringis kesakitan.
"Kai" pekik Jia beranjak membantu Kai berdiri.
"Lo gak papa?"
Kai menggeleng, dia tidak apa apa, hanya terdapat sedikit luka di bagian lutut nya saja.
"Huh, jalan tu liat liat" dengus seseorang dari belakang nya.
Kai berbalik, mata nya melebar melihat Arkan berdiri di sana. Ternyata pria itu lagi yang mencari masalah dengan nya.
"Lo sengaja yah, buat gue jatuh!" tuding Kai marah.
"Lo gila. Semua orang tahu kali, Lo yang gak lihat lihat. Dan sekarang malah menyalahkan orang " dengus Arkan tidak terima di salahkan.
Mia tiba di hadapan mereka,dia yang sedikit kesusahan membawa semangkuk bakso kuah dan sepiring batagor bernafas lega.
Baru saja meletakkan mangkuk bakso di atas meja, tiba-tiba.
Byur...
"Kai!!"