Arkaila

Arkaila
Masih Sama!



Mobil Ferdian terparkir di depan sebuah cafe yang super rame. Apalagi ini adalah malam Minggu.


Kaila merasa sesak, melihat keramaian cafe tersebut.


"Kok rame banget sih" dengus nya.


"Namanya juga malam Minggu dek, yah maklumi aja lah. Apalagi cafe ini memang banyak pengunjung nya" jawab Ferdian seraya merangkul bahu Kaila.


Mereka masuk ke dalam, mencari meja yang kosong. Beruntung ada satu meja yang masi kosong, jadi mereka tidak perlu pindah.


"Nah, di sana kosong" seru Ferdian seraya menarik tangan Kaila menuju ke meja tersebut.


Kaila terpaksa menurut, dia mengikuti kemana arah tarikan tangan kakak nya.


"Lo duduk di sini dulu yah, gue mau pesan makanan dulu" ujar Ferdian.


Kaila mengangguk, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang nya. Sembari menunggu sang kakak, Kaila akan bermain mobile legends.


Selama 30 menit, Kaila sudah menyelesaikan pertandingan nya. Dengan skill nya yang jago menggunakan Beatrix, Kaila mampu memenangkan pertandingan.


"Sudah 30 menit, tapi kak Ferdian belum kembali. Dia memesan makanan, apa membuat makanan?" Gerutunya.


Kaila mencoba melirik ke segala arah, mencari keberadaan sang kakak. Namun, dia malah melihat Arkan tengah duduk di meja yang tak jauh dari meja yang dia tempati.


Namun, meja Arkan terletak agak di sudut, sehingga bisa dengan santai mengobrol dan menikmati suasana cafe.


"Sama siapa dia?" Tanya Kaila Tampa ada yang menjawab nya. Mata nya menyipit, memperhatikan seorang gadis duduk di depan nya.


"Gadis? Apa itu Dea? Atau Kasi?" Tebak nya.


Deg.


Kaila merasa jantungnya akan copot, dia melihat gadis yang sangat tidak ingin dia temui.


Bagaikan mengulang masa lalu, Kaila melihat kejadian yang sama. Arkan bersama dengan gadis itu lagi.


"Hei, kamu lihat apa?"


Ferdian duduk di depan sang adik, menghalangi pandangan mata Kaila dari Arkan dan wanita itu.


"Tidak lihat apa apa, aku hanya menunggu kakak" jawab Kaila berusaha menyembunyikan kesedihannya hatinya.


Ferdian hendak mengikuti arah pandangan mata adiknya, namun Kaila dengan cepat menahan nya.


"Kak, ini apa. Wahh kakak tahu banget makanan kesukaan aku" sorak Kaila mengalihkan perhatian Ferdian.


"Tentu saja gue tahu. Lo itu kesayangan gue" balas Ferdian.


"Hmm...Enak!"


Kaila menelan rasa sakitnya, memperlihatkan senyum bahagia pada sang kakak.


Jika Ferdian melihat ke belakang, dan mendapati Arkan tengah bersama cewe lain. Maka, akan di pastikan. Arkan pulang dalam keadaan babak belur.


"Malam ini, harus nya gue kencan sama kakak gue sendiri. Tapi, mengapa aku harus melihat semua ini?" ucap Kaila dalam hati.


Sementara itu, di meja nya. Arkan merasa tidak nyaman. Dia harus duduk bersama seorang gadis yang dulu pernah membuat Kaila salah paham.


Namun, Arkan tidak bisa menyalahkan gadis ini. Dia juga tidak bersalah, karena semua itu hanya kesalahpahaman saja.


"Besok gue akan masuk ke sekolah yang sama dengan Lo. Gue harap Lo bisa bimbing gue" ujar Hyuna. Dia bercerita tanpa Arkan pertanyakan.


"Baguslah, nanti ada guru yang akan membimbing Lo" jawab Arkan singkat.


Hyuna hanya tersenyum tipis, setidaknya Arkan merespon ucapan nya.


"Apa Lo marah, soal kejadian di masa lalu? Apa karena itu Lo cuek sama gue?" Hyuna mulai berakting, dia baru saja ingin menangis.


"Sudah,tidak perlu menangis. Gue udah maafkan Lo"


"Lagian, ini juga bukan kesalahan kamu." Lirih Arkan mulai terlihat iba pada Hyuna.


"Jika bukan karena gue, mungkin Lo dan Aila pasti masih bersama" ucap Hyuna terisak.


Pria itu terkejut dan ingin menyingkirkan nya. Tapi, gadis itu semakin menangis keras. Alhasil, Arkan membiarkan nya saja.


"Waw, luar biasa sekali" batin Kaila. Dia kembali melihat kemesraan mereka. Meskipun dia melihat dari belakang. Tapi, Kaila yakin calon suami brengsek nya itu tengah bermesraan.


"Ayo pulang kak!" Ajak Kaila yang langsung berdiri dan pergi keluar dari cafe tersebut.


"Eh eh...Kok cepet banget?" Tanya Ferdian, dia segera menyusul sang adik. Beruntung tadi dia sudah membayar makanan mereka.


"Huh, kurang ajar sekali. Sebentar lagi nikah, tapi malah melakukan hal ini. Dasar brengsek!" Maki Kaila.


"Siapa yang brengsek?" tanya Ferdian.


Kaila menggeleng cepat, "bukan siapa siapa, kaki ku tersandung " jawab nya asal.


"Apa itu benar?"


"Tentu saja! Ayo cepat, gue udah mengantuk" desak Kaila. Dia masuk lebih dulu ke dalam mobil. Kemudian di susul oleh Ferdian yang langsung melajukan mobilnya meninggalkan cafe itu.


Dari dalam,Arkan menyipitkan matanya. Dia seperti melihat bayangan Kaila yang masuk ke dalam sebuah mobil.


Ketika ingin memperjelas penglihatan nya, mobil itu sudah melaju pergi.


"Lo liat apa?" tanya Hyuna penasaran. Dia ikut melihat ke jendela, namun tidak melihat siapapun.


"Bukan apa apa. Cepatlah selesaikan makan Lo. Gue mau ke toilet dulu!"


Hyuna tersenyum, menatap kepergian Arkan. Dia kemudian menatap ke piring makanan nya, lalu memakan nya sedikit demi sedikit. Hyuna tidak akan membiarkan waktu ini cepat berlalu. Sudah lama rasa nya dia tidak bersama dengan Arkan. Jadi, dia akan membuat malam ini begitu lama.


...----------------...


Seperti biasanya, Kaila berangkat bersama kakak nya. Dia tidak mau menunggu Arkan, mengingat kejadian tadi malam. Dia merasa jijik dan muak.


"Aku tidak akan sudi bersama dengan nya!"dengus nya dalam hati.


Kaila berjalan menuju ke kelas nya, tiba-tiba terdengar suara nyaring memanggilnya


"Kaila!!!"


Kaila berhenti, dia berbalik melihat siapa yang memanggil dirinya.


"Jia, kenapa Lo lari lari begitu?" gumam Kaila heran melihat sahabatnya terengah setelah berlari kearahnya. dia bisa berjalan saja dan bertemu di kelas.


"Lo itu kok jalan cepat banget sih, dari tadi gue manggil Lo, gue ngejar Lo, tapi Lo seakan semakin jauh!" omel Jia.


Kaila tercengir, dia tidak tahu jika Jia mengejarnya.


"sorry Jia, gue gak denger tadi"


"huh...Sudah lah, ayo kita ke kelas" ajak Jia.


Kaila mengangguk, tersenyum lebar menyembunyikan kekesalan nya pada Arkan.


Setiba nya di kelas, Kaila dan Jia di kejutkan dengan kehadiran Mia. ternyata gadis itu sudah datang lebih awal. Gadis itu saat ini keasikan bermain ponsel nya, sehingga dia tidak menyadari kehadiran kedua sahabatnya.


"Mia, Lo udah datang?" ujar Jia. Mereka duduk ke kursi masing masing.


Mia masih belum sadar, dia tetap fokus dengan ponselnya. wajah nya terlihat menegang, entah apa yang sedang gadis itu lihat.


"Mia!" panggil Kaila seraya menggoyangkan bahu gadis itu.


"Huh?" kaget nya. Mia menatap kedua sahabatnya, dia terkejut melihat mereka sudah ada di hadapan nya.


"Sejak kapan kalian datang? kok gue gak sadar?" gumam nya.


"Lo sih, asik liatin hp aja. kita datang Lo acuhkan. Padahal sejak tadi kita manggil Lo dan ajak Lo ngomong" Rajuk Jia.


"Sorry, gue lagi gak fokus" sesal Mia menunduk sedih.


"Hmm".