Arkaila

Arkaila
Apa yang terjadi??



"Kaila kenapa??"


Arkan mendongak, ketika mendengar nama Kaila di sebut. Dia menoleh ke belakang, melihat ada kerumunan siswa siswi di meja yang tidak jauh dari tempat nya.


"Kenapa tuh?" Seru Bima.


"Kaila!"


"Kaila?"


Arkan melebarkan matanya, dia segera beranjak dan menerobos kerumunan. Betapa terkejutnya, pria itu saat melihat Kaila seperti kesulitan bernafas.


Hyuna juga penasaran, dia ikut melihat apa yang terjadi di dalam kerumunan itu.


"Kaila! Lo kenapa?" Tanya Arkan, namun tidak di respon oleh Kaila. Dia terlihat seperti orang yang kekurang oksigen.


"Sebaiknya bawa Kaila ke rumah sakit Kak" seru Jia panik, Mia mengangguk menyetujui nya.


Arkan pun setuju, dengan panik, pria itu menggendong tubuh Kaila, dan berlari menuju ke parkiran mobil.


Saat Hyuna ingin mengejarnya, tiba-tiba tangan nya tertahan. Hyuna menoleh ke belakang, melihat siapa yang menahan tangan nya.


"Kenapa lo-"


Bima langsung menyela ucapan Hyuna, dengan sinis dia berkata. "Jangan coba coba mengganggu kebahagiaan Arkan lagi. Lo hanya membuat dia terpuruk! "


"Apa maksud Lo!"


Bima tersenyum miring, " Lo jangan pura pura bodoh deh. Gue tahu siapa Lo, dan gue yakin Lo hanya akan membawa penyakit bagi hidup Arkan!"


Hyuna menggertak gigi nya, ucapan bima menyinggung hati nya.


"Lo jangan asal bicara, Lo tidak tahu siapa gue! Jadi jangan coba coba ikut campur urusan gue dan Arkan!"


"Stttt..... Awal nya gue tidak tahu siapa Lo, setelah gue mendengar ucapan Lo barusan, gue jadi tahu, Lo yang menyebabkan Arkan menderita selama ini!"


Hyuna menghempaskan tangan Bima, mengusap pergelangan tangan nya yang terlihat memerah, bujti nyata jika bima mencengkram nya sedikit lebih kuat.


"Gue peringatkan lagi sama Lo, jangan ikut campur urusan gue dan Arkan!" Ucap Hyuna memperingatkan Bima.


Setelah itu, Hyuna berbalik pergi, menyusul Arkan yang sudah pergi ke rumah sakit.


"Sial! Gue terlambat!" Geram nya. Semua ini karena Bima, andai saja tadi dia tidak menahan nya. Maka dia akan ikut dengan Arkan.


Hyuna menatap sekeliling parkiran, mobil Arkan sudah tidak terlihat. Mobil yang menumpangi dirinya tadi.


"Siapa gadis itu, mengapa Arkan terlihat sangat cemas ketika melihatnya seperti tadi!"


"Huh!"


Jia mengendarai mobil Arkan, ini pertama kali dan mungkin akan menjadi yang terakhir kali dia memasuki mobil pria itu.


"Ayo lebih cepat lagi Jia!" Desak Arkan dari belakang, dia memeluk Kaila yang masih terlihat seperti orang yang terkena asma.


"Jangan panik Kaila, tenang. Gue ada di sini, gue tidak akan meninggalkan Lo lagi." Lirih Arkan.


"Kaila...Lo harus kuat, Lo harus tahan sampai kita tiba di rumah sakit " lirih Mia panik.


Di dalam mobil itu, hanya ada Jia, Mia, Arkan dan Kaila. Mereka tidak bisa berpikir lagi, tanpa menghubungi pihak sekola, Arkan dengan terburu-buru langsung membawa Kaila ke rumah sakit.


"Ayolah Ji, lebih cepat lagi" kini Mia yang meminta sahabat nya untuk menambah kecepatan nya.


"Ini udah cepat Mia, jalanan sedikit padatm gue gak bisa menambah kecepatan dari ini" balas Jia merasa semakin panik bercampur gugup.


Butuh waktu 10 menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit.


Arkan dengan tergesa gesa menggendong Kaila lagi, kemudian berlari melewati lorong rumah sakit.


"Dokter!! Dokter!!" Teria Jia.


"Ayo baringkan di sini"suruh seorang suster.


Arkan pun menurut, dia membaringkan Kaila dan ikut mendorong brankar menuju ke ruangan UGD.


"Maaf yah, kalian tunggu di sini. Biarkan dokter yang akan menangani pasien" cegat suster, lalu menutup pintu suarangan setelah sang dokter masuk ke dalam.


Arkan terdiam, menatap Kaila yang tidak terlihat lagi karena pintu sudah tertutup.


Sedangkan Mia dan Jia, mereka saling berpelukan dan menangis.


"Hiks..Hiks..Kaila.." gumam mereka dalam tangis.


Tap tap tap...


Suara tapak kaki tergesa-gesa terdengar di lorong rumah sakit.


"Kaila...Kaila.."


Ternyata itu adalah bunda Tari, dia setengah berlari menghampiri Arkan yang masih berdiri di depan pintu ruangan UGD.


"Arkan, di mana Kaila? Mana putri Tante??"tanya Tari setengah terisak.


"Sayang tenang dulu, biarkan Arkan menjawab pertanyaan mu dulu" ujar Fahmi. Dia merangkul bahu istri nya, menompang agar tubuh istrinya tidak terkulai lemas.


Mia dan Jia mendekat pada kedua orang tua Kaila, mereka tahu Arkan tidak bisa menjelaskan, karena sejak tadi pria itu hanya diam saja.


"Om, Tante. Kaila tadi abis makan bakso pedas, saat setengah habis, tiba-tiba Kaila mendadak sesak nafas. Awal nya aku kira dia menangis dan bercanda karena pedas. Tapi, lama kelamaan dia kesulitan bernafas, aku memberinya air, eh kaila malah terjatuh dan memegangi dadanya" jelas Jia secara detai,dia yang tahu kejadian sejak awal.


Mendengar penjelasan Jia, Tari langsung terkulai lemas. Dia ambruk di lantai rumah sakit. Menangis sembari memanggil nama Kaila.


"Kaila...Kaila...kamu baik baik saja...putri kita mas, putri kita" Raung Tari.


"Tenang lah sayang. Dokter sedang memeriksa putri kita, mas yakin Kaila tidak apa apa" bujuk Fahmi, agar istri nya kembali tenang.


Arkan masih diam, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Cukup lama mereka menunggu di luar, akhirnya pintu ruangan UGD pun terbuka. Sosok dokter muncul dari dalam sana.


Arkan dan Fahmi langsung menghampiri sang dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi putri saya dok?" Tanya Fahmi.


"Apa dia baik baik saja? Apa yang terjadi padanya dok?" Sambung Fahmi, dia melontarkan pernyataan secara bergantian tanpa henti.


"Nona baik baik saja, dia hanya sedikit tertekan batin, dan membuat dirinya syok. Apakah ada sesuatu yang membuat dia trauma atau semacam nya?" tanya sang dokter.


Tari dan Fahmi saling melempar pandang, mereka tidak tahu hal ini. Selama ini, putri mereka tidak memiliki penyakit, kecuali alergi air hujan.


Berbeda dengan Arkan, dia tertegun setelah mendengar ucapan dokter.


"Apa karena dia melihat gue dan Hyuna? Apa Kaila mengenali Hyuna?"pikir nya.


"Putri saya tidak memiliki trauma apapun dok, setidaknya itu yang kami ketahui dok" jawab Fahmi.


"Sebaiknya, kalian pastikan dan cari tahu dulu. Karena, jika ini terjadi lagi dan terlambat di tangani, akan membahayakan nyawa pasien."tutur sang dokter.


"Baik dok, kami akan menyelidikinya nanti"


"Baik tuan, nyonya. Saya permisi dulu. Silahkan urus administrasi pasien, karena pasien harus di rawat di rumah sakit selama 2 hari. " Jelas sang dokter, lalu pamit undur diri.


Jia dan Mia masih berdiri di tempat, mendengar semua penjelasan dokter.


"Bagaimana bisa, trauma membuat sesak nafas?" Gumam Mia bingung.


"Tentu bisa Mia, ketika kita trauma melihat sesuatu. Kita pasti akan panik, saraf kita tidak akan bekerja dengan baik. Di situlah mulai muncul pemikiran sempit dan sesak nafas" jelas Jia sesuai yang dia mengerti.


Kaila di pindahkan ke ruangan rawat inap, untuk kedua kalinya. Dia masuk rumah sakit lagi setelah kembali ke kehidupan keluarga nya.