Arkaila

Arkaila
Masih Di Villa



Masih di Villa, Arkan menatap Kaila yang tengah tertidur di sofa balkon. Tadi, mereka sama sama duduk dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Arkan sibuk dengan laptopnya, sedangkan Kaila sibuk dengan ponselnya sendiri.


Arkan meletakkan laptopnya, mengambil bantal sofa dan memperbaiki posisi tidur Kaila, yang jika di biarkan seperti itu bisa membuat leher Kaila sakit.


"Ketika Lo tidur seperti ini, Lo terlihat seperti bidadari, sedangkan ketika Lo bangun dan menatap gue penuh benci, Lo terlihat seperti singa mengamuk, ck."


Arkan terkekeh mengingat perlakuan Kaila tadi pagi, saat dia yang patuh dan saat dia membalas perlakuan nya dengan sengaja mengunci diri di dalam mobilnya.


"Terkadang Lo sangat lucu"kekehnya.


Arkan terdiam, wajahnya berubah menjadi tegang saat Kaila menggeliat. Seperti nya tidurnya akan terganggu. Arkan langsung menjauhkan tubuhnya dari Kaila.


"Enggg ....." Kaila terbangun, merenggangkan tubuhnya. Kaila merasa dirinya sudah tertidur cukup lama.


Kaila menoleh, menatap Arkan yang kini pura pura sibuk dengan laptop nya.


"Apa yang sedang Lo lakukan?"tanya Kaila.


"Sedang melihat hasil pertandingan kemarin" jawab Arkan asal, sejatinya dia sedang gugup.


"Benarkah? Tapi laptop Lo mati? Lo ngetik tanpa hidupin laptop?"


Huh.


Arkan baru tersadar, dia lupa jika laptop nya sudah ia matikan dan tidak ia hidupkan kembali.


Kaila menyembunyikan senyumnya, melihat Arkan yang kini sedang salah tingkah.


Kruyuukkkk....


Kaila memegangi perutnya, dia merasa sangat lapar. "Aduh.."


"Apa Lo lapar?" Tanya Arkan.


"Yah, gue sangat lapar." Cicit Kaila menunduk malu. Sedangkan Arkan, dia malah tersenyum.


"Ayo!"


Eh.


Kaila terkejut, Arkan menariknya secara tiba-tiba menuju ke arah dapur.


"Ngapain ke sini?" Tanya Kaila heran. Sedangkan Arkan, dia hanya menjawab pertanyaan Kaila dengan senyuman saja.


Arkan mengambil celemek, dia mulai mengeluarkan bahan bahan makanan, dari dalam kulkas, kemudian mulai memasaknya.


"Lo akan memasak?"decak Kaila tak percaya.


"Tentu saja, apa Lo tidak percaya? Gue akan memasak?"


"Tentu saja gue gak percaya, cowo seperti Lo memasak" ketus Kaila.


Arkan tersenyum, dia tidak menggubris ucapan Kaila. Dia terus melanjutkan kegiatan nya.


Kaila berdiri di depan bartender mini dapur. Mengawasi Arkan yang sedang memasak.


Aroma masakan Arkan mulai tercium, dan itu membuat Kaila merasa semakin lapar. Dia menelan liur ketika Arkan mengangkat ayam saos yang terlihat sangat wangi.


"Astaga, apa rasanya akan selezat aromanya?"batin Kaila.


Cukup lama Arkan berkutat di dapur, akhirnya dia selesai juga.


"Apa secepat itu?" Pikir Kaila, dia tidak menyangka Arkan akan selincah itu. Memasak dua menu, hanya membutuhkan waktu 35 menit baginya.


"Ayo, makan bersama" seru Arkan. Dia menghidang ayam goreng saos bumbu enak, dan sayur bening.


Kaila duduk di meja makan, menatap sajian Arkan dengan lapar.


"Ayo makan, kenapa hanya melihat nya saja?" ujar Arkan pada Kaila yang hanya menatap saja.


"Apa ini bisa di makan? Apa tidak ada racun nya?"


"Ahaha....Sedikit sianida, dan beberapa racun tikus" jawab Arkan di sel tawanya. Membuat kaila langsung menghentikan tangannya yang hendak meraih ayam.


"Kalau begitu, gue gak jadi makan. Gue belum nikah dan ounya anak, bersama suami impian gue" jawab Kaila.


"Makan lah, setidaknya Lo mati karena di racuni, bukan karena kelaparan" ucap Arkan. Dia mengambilkan nasi dan ayam yang dia masak ke dalam piring, dan menyodorkan pada Kaila.


"Makan lah, cacing Lo mungkin sudah sangat kelaparan" ujar Arkan.


Ragu ragu Kaila mulai memegang sendok nya, rasa lapar nya semakin besar melihat ayam yang di lumuri saos dan kecap. Beberapa sayur di potong kecil kecil sebagai teman ayam nya.


Ada satu hal yang Kaila ragukan, dan dia pertanyakan di dalam benak nya.


"Sejak kapan di sini ada nasi?"pikirnya.


Arkan mengikuti arah pandangan mata Kaila, dia tersenyum dan tahu apa yang saat ini Kaila pikirkan.


"Penjaga villa ini yang memasak nasi, gue sudah menyuruhnya ketika kita di balkon tadi untuk memasaknya" jelas Arkan.


Kaila terkejut, dia tidak tahu mengapa Arkan bisa mengetahui apa yang sedang dia pikirkan.


"Makan lah, gue tidak menaruh apapun di sana, Lo juga melihat proses memasak nya" ucap Arkan lagi.


"Kali ini, gue setuju sama perkataan Lo tadi. Setidaknya gue tidak mati kelaparan"


Kaila langsung melahap makanan nya, sekali suap, dia sudah merasa jatuh cinta pada makanan ini.


"Bagaimana mungkin, dia bisa memasak seenak ini? Gue saja tidak bisa memasak telur mata sapi dengan benar" batin nya.


Kaila makan sangat lahap, dia sampai lupa jika di hadapan nya ada Arkan, musuh di masa lalu dan juga di masa depan. Oh jangan lupa, Arkan juga merupakan tunangan nya.


"Tambah lah, habiskan juga tidak masalah" suruh Arkan.


Kaila menyambutnya dengan baik, dia tidak sungkan untuk nambah. Makanan ini sungguh membuatnya lupa diri.


Arkan tersenyum,dia senang melihat Kaila menyukai masakannya. Dia sampai tidak makan, dia malah sibuk melihat Kaila makan.


"Errkkkk... Kenyang banget" gumam Kaila setelah sendawa keras.


"Sudah kenyang?"


Glek.


Kaila terkejut, dia baru sadar jika di sini bukan hanya dirinya sendiri.


"Makanan lo lumayan, dan gue sedikit menikmatinya karena gue lapar" ucap Kaila gengsi mengakui jika makanan yang Arkan buat sangat enak.


"Benarkah? Terlalu biasa sampai Lo menghabiskan semuanya?" sindir Arkan. Kaila merasa sedikit malu, dia melirik piring piring yang sudah kosong. Ada sekitar 4 potong ayam yang dia habiskan.


"Itu karena gue lagi lapar" jawab nya.


"Yaya.. Karena lapar"


Arkan membersihkan meja makan, namun di hentikan oleh Kaila.


"biarkan gue yang bereskan, Lo udah memasak, dan ini biar gue yang lakukan" ucap Kaila.


"tidak apa apa, biar gue yang lakukan" ucap Arkan. namun, Kaila menahan tangan pria itu, dia mengambil piring dan mangkuk tempat lauk yang di masak oleh Arkan tadi. kemudian, membawanya ke wastafel pencucian.


"anggap saja, ini area timbal balik" lirih nya.


"baiklah, gue akan kembali ke balkon untuk membereskan peralatan gue!" ucap Arkan bergegas pergi.


Meskipun Kaila benci dan memusuhi Arkan, setidaknya dia tahu batasannya. Dia tidak akan mau membiarkan Arkan memberinya budi, yang harus dia balas kelak.


Arkan membereskan laptop dan lembaran lembaran kertas yang tadinya sempat berantakan. Pikiran nya melayang, mengingat sikap Kaila yang sudah seperti seorang istri. Meskipun dia tidak bisa memasak, setidaknya mereka saling bekerja sama.


Bug


"Jangan berkhayal, jika gue bakalan jadi istri Lo! gue hanya tidak mau ada hutang budi sama Lo!" cercah Kaila setelah melempar bantal sofa ke wajah Arkan.


"siapa yang berkhayal, Lo kali yang berharap mendapat suami seperti gue!" sangkal Arkan.


"Najis" balas Kaila.


mereka lupa, jika mereka sudah bertunangan. Sikap mereka saat ini, seakan mereka tidak akan pernah menikah. padahal pernikahan mereka hanya menghitung Minggu saja.