Arkaila

Arkaila
Kaila Pinsan



Sudah 3 hari istirahat di rumah, Kai mulai merasa bosan. Dia pun memutuskan untuk masuk sekolah hari ini.


Tari sebenarnya belum mengijinkan putrinya masuk sekolah, karena kondisi Kai masih belum benar benar pulih. Namun, karena Kai terlalu keras ingin masuk sekolah. Dia akhirnya mengijinkan nya.


"Jika kamu tidak kuat, atau merasa pusing. Hubungi bunda yah, biar bunda jemput" ucap Tari khawatir.


"Iya Bun" jawab Kai singkat.


Tari menghela nafas berat, dia hanya bisa pasra membiarkan putrinya pergi ke sekolah.


"Fer, jangan ngebut yah. Pelan pelan aja, kasian adik kamu nanti malah jadi pusing" peringat Tari pada putranya.


"Siap Bun, tuan putri akan tiba di sekolah dengan selamat" jawab Ferdian penuh semangat.


"Yuk dek!"


Kai masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan kakak nya yang menjadi supir nya.


"Siap?" tanya Ferdian melirik Kai yang masih dengan ekspresi datar nya.


"Hmm" jawab Kai dengan deheman nya.


"Berangkat!!!!" Seru Ferdian terus bersikap seperti ketika asik nya kecil dulua.


Biasanya Kai akan semakin bersemangat, mereka akan bersorak bersama dan tertawa setelahnya.


Kini sudah berbeda jauh, Ferdian hanya menatap hampa pada adiknya. Kemudian dia fokus pada jalanan yang mulai terlihat padat.


Sesampainya di sekolah, Kai langsing turun. Dia tampak tidak menghiraukan kakak nya sama sekali.


"Kai!" Panggil Ferdian.


Kai menghentikan langkahnya, berbalik menatap kakak nya yang juga menatap nya dari dalam mobil.


Ferdian tersenyum tipis, kemudian melambaikan tangan nya sambil berkata.


"Semangat yah belajar nya, jika kamu butuh kakak. Langsung hubungi saja. Kakak pasti langsung datang!"seru nya berusaha tetap ceria, meskipun sebenarnya terlihat garing.


Kai hanya mengangguk pelan, kemudian berbalik pergi masuk menuju ke kelasnya.


Hufff haaaa


"Sampai kapan kamu akan seperti ini dek, kenapa kakak merasa kamu semakin jauh. Meskipun sekarang kamu sudah berada di dekat kami" lirihnya menatap nanar kepergian sang adik.


Dari arah lain, Arkan menyaksikan semuanya. Dia melihat Kai tengah bersama Ferdian. Sebuah pertanyaan muncul di pikiran nya.


"Apa hubungan gadis itu dengan Ferdian?"


Arkan memperhatikan kepergian Ferdian, kemudian baru dia pergi menuju ke ruangan OSIS.


Kriinggg!!!


Bel masuk pun berbunyi, tepat saat itu Kai tiba di dalam kelas.


"Kai!" Panggil Jia ketika melihat Kai memasuki kelas.


Mia yang menghadap ke belakang langsung berbalik ke depan.


"Kai" seru nya senang.


Kai tersenyum tipis, berjalan dan duduk ke kursinya.


"Kita seneng, akhirnya Lo sehat Kai" ujar Jia tersenyum senang.


"Iya, kita mau jengukin Lo. Tapi, kita gak tahu di mana rumah Lo" sahut Mia.


"Gak papa, gue udah sehat" balas Kai.


Sebentar mereka bercakap cakap, tak lam kemudian guru pun memasuki kelas.


Pelajaran pertama di mulai, Kai tampak tenang dan fokus memperhatikan guru mengajar di depan.


Di ruangan OSIS, Arkan baru saja memasuki ruangan nya. Dea langsung menyambut dengan senyum manis. Saat itu ruangan OSIS masih ada dirinya sendiri.


"Pagi Arkan, Lo udah sarapan belum?"tanya Dea memberikan perhatian.


"Udah" jawab Arkan singkat. Kemudian dia sibuk dengan laptop nya.


"Lo gk patroli?"tanya Dea lagi, dia mencoba mencari topik lain, agar bisa terus mengobrol dengan Arkan.


"Tidak, Bima dan yang lain akan melakukan nya" Jawab Arkan tetap fokus dengan layar laptopnya. Dia ingin menyelesaikan proposal untuk acara pertandingan basket Minggu depan.


Dea tersenyum kecut, Arkan masih bersikap sama. Padahal, dia sudah mendekati Arkan sejak mereka SMP. Tapi, Arkan tidak pernah tertarik dengan nya.


Bahkan Dea selalu mencegah orang lain untuk mendekati Arkan. Agar perhatian darinya saja yang Arkan lihat.


"Apa sih, kurang gue. Kenapa Lo gak pernah lirik gue" batin Dea sedih.


Ceklek.


Bima dan beberapa anggota OSIS masuk ke dalam kelas, mereka tidak terkejut melihat Dea berdiri di depan meja Arkan. Malahan mereka sudah jengah, melihat usaha Dea yang sia sia.


"Ar, Lo gak ikut patroli?"tanya Bima.


"Gak bisa, gue harus menyelesaikan proposal" jawab Arkan.


Dea terkejut, nada bicara Arkan pada Bima dan pada dirinya sangat berbeda.


"Huh!"


Dea mendengus kesal, kemudian berlalu begitu saja dari ruangan OSIS.


"Kenapa tu cewe?" Heran Bima.


"Paling juga, gagal deketin Arkan" sahut yang lain.


Bima menggeleng."Dasar, gak kapok kapok nya" gumam Bima.


Setelah menyelesaikan proposal nya, Arkan langsung pergi ke ruangan kepala sekolah. Dia harus segera mendapatkan tanda tangan kepala sekolah agar persiapan turnamen segera di lakukan.


Turnamen ini, adalah acara tahunan yang selalu sekolah ini buat. Mereka akan mengundang seluruh SMA yang ada di kota ini, untuk bertanding.


Hadia pertandingan nya adalah piala bergilir, dan uang tunai. Tentu nya turnamen ini akan banyak di minati oleh klub basket di sekolah lain.


Arkan berjalan di lorong kelas, menuju ke ruangan kepala sekolah.


"Semoga segera di setujui, dan gue bisa segera beristirahat untuk beberapa hari ini" gumam nya menatap sampul proposal.


Dari arah yang berlawanan, Kai tampak tergesah gesa berlari menuju ke toilet, tangan nya menutup mulut nya menahan rasa ingin muntah.


Bruk.


"AW .."


Arkan menatap nanar proposal nya berserakan di lantai, karena penjepit kertasnya terlepas.


"Astaga!" Geramnya.


Kai meringis kesakitan, namun rasa sakit itu segera terabaikan ketika rasa mual kembali menghampirinya.


"Wueeekk..."


Semua isi perut Kai segera tumpah di atas kertas kertas yang sedang di punguti oleh Arkan.


"Heh!"bentak Arkan marah. Dia melepas semua kertas nya begitu saja.


"Lo gila apa, kenapa muntah di atas proposal gue!"omel Arkan semakin marah.


Namun, kemarahan nya tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja Kai terkulai lemas. Beruntung Arkan sigap menangkap tubuh nya.


"Hei..Ada apa ini. Jangan bercanda!"panggil Arkan menggoyang goyangkan tu uh Kaila.


Namun, gadis itu tak kunjung menyahutinya.


Arkan terlihat panik, Tampa berpikir panjang. Dia langsung menggendong tubuh Kaila dan membawanya menuju ke UKS.


Bima dan anak anak OSIS lain baru saja selesai patroli, mereka terkejut melihat Arkan tengah menggendong Kaila.


"Arkan, dia kenapa?" tanya Bima.


Arkan tidak sempat menjawab pertanyaan Bima, dia berjalan cepat melewati mereka.


Karena penasaran, Bima dan teman teman OSIS nya pun menyusul Arkan.


"Ada apa sih" gumam nya penasaran.


"Dokter, dokter!" panggil Arkan. Dia membaringkan Kaila di atas tempat tidur yang tersedia di ruangan UKS.


"Ada apa ini Arkan, kenapa dia pingsan?" tanya sang dokter sembari mengambil alat nya dan langsung memeriksa kondisi Kaila.


Arkan tampak cemas, jarang sekali dia bersikap seperti ini. Tapi, tidak ada yang menyadarinya.


"Demam nya sedang naik, Arkan tolong hubungi keluarga nya. Dia harus di bawa ke rumah sakit" suruh sang dokter.


"Baik" jawab Arkan segera menghubungi wali kelas Kaila, untuk meminta kontak keluarga Kaila.


Bima dan yang lain hanya menatap dengan bingung. Tidak ada yang berani bertanya dalam kondisi seperti ini .