
Jia dan Mia mengikuti ke mana arah mata Kai melihat. Ternyata dia bertentang mata dengan Arkan.
"Lo lihat apa Kai?" tanya Jia.
"Bukan apa apa" jawab Kai malas, dia mengalihkan pandangan matanya.
Sedangkan Arkan,dia masih menatap kearah Kaila. Mengurai segala pertanyaan yang semakin banyak merasuki otak nya.
"Bagaimana Ar, Lo setuju gak?" Tanya Bima.
"huh?" Arkan malah melongo, dia sejak tadi tidak mendengarkan pembicaraan teman teman nya.Fokus Arkan sudah teralihkan.
"Maaf, kalian lanjutkan dulu meeting nya. Gue ke belakang dulu" pamit Arkan. Dia segera bangkit dan berlalu menuju ke ruangannya.
Arkan di Landa kebingungan, ekspresi wajah Kaila masih terngiang di mata nya.
"Bagaimana mungkin, gue melihat Aila?" Gumam Arkan bingung.
Saat melihat rambut basa Kaila, dia merasa seperti melihat Aila. Karena itulah Arkan terdiam di bawah guyuran hujan deras.
"Tapi gak mungkin, Aila gadis yang lembut. Sopan, tidak seperti Kaila. Kasar, jutek, huh sangat berbeda sekali!" Tepis Arkan. Dia duduk di kursi kerja nya di ruangan khusus boss cafe AiKai.
Benar, Arkan merupakan pemilik cafe AiKai. Setelah pulang sekolah Arkan akan di sibukkan oleh kegiatan nya di cafe. Dia merupakan pengusaha muda sukses. Memiliki cafe dengan beberapa anak cabang tersebar di kota nya ini.
Pemikiran yang modern dan ekonomis, Arkan mampu membangun sebuah cafe yang sangat di sukai oleh pemuda dan pengusaha sebagaimana tempat meeting.
Suasana outdoor dan indoor nya di desain khusus sesuai kebutuhan pelanggan.
Seperti outdoor, di desain sesederhana mungkin. Terlihat lebih santai dan sangat nyaman. Terdapat banyak tanaman hias yang akan membuat mata dan hati pelanggan sejuk.
Sedangkan outdoor, didesain dengan berbagai macam nuansa. Ada yang cocok untuk tempat meeting, tempat nongkrong santai juga ada. Pokoknya perfect lah, sesuai selera yang orang orang inginkan.
Cukup lama Arkan berada di dalam ruangan nya, dia mulai kepikiran soal Kaila. Tadi gadis itu cukup lama terkena hujan nya. Apalagi pakaiannya basa kuyup.
"Dia pasti kedinginan" gumam nya seraya beranjak keluar.
Benar saja, Kaila mulai merasa menggigil. Flue mulai menghampiri dirinya.
"Seperti nya gue mulai demam ni" batin Kai. Dia segera menghubungi kakak nya. Meminta agar kakak nya segera menjemput nya.
"Kai, Lo sakit? Lo gak bisa kena hujan?"tanya Jia panik.
Mia langsung memeriksa suhu tubuh Kai. "Panas" pekik nya.
"Udah gak papa, karena efek dingin aja kok" ujar Kai menenangkan teman nya.
"Tapi, Lo pucat banget Kai" ujar Jia lagi.
Kai tidak bisa memungkiri, dia memang mulai terasa pusing.
"Sebentar lagi kakak gue bakalan jemput gue kok"ucap kai.kedua tangan nya terangkat memeluk tubuhnya sendiri.
Kai mulai menggigil, Arkan yang melihatnya. Langsung berlari kearah dapur kafe. Mengabaikan pertanyaan pelayan saat melihat Arkan masuk.
Pria itu meracik obat yang biasa ia buatkan untuk Aila. Sebatang jahe merah, di potong menjadi beberapa bagian. Kemudian di masak dengan air , di tambahkan gula merah.
Setelah mendidih, Arkan langsung menuangkan ke dalam gelas yang berisi setengah air biasa.
"Antarkan pada meja 08"titah Arkan pada pelayan nya.
"Baik tuan muda"
Arkan menghela nafas nya, dia memantau pelayan nya dari meja kasir. Melihat Kai yang menerima obat yang dia racik tadi.
"Semoga bisa mereda" gumam nya penuh harap.
Pelayan yang di perintahkan Arkan pun menghampiri meja yang di tempati Kai dan kedua sahabatnya.
"Ini pesanan nya nona" ucap pria itu.
Kai tampak bingung, dia tidak memesan minuman ini. Begitu juga dengan Jia dan Mia.
"Kami tidak ada memesan minuman ini" jawab Jia.
Pelayan itu juga melihat ke nomor meja, memastikan jika dia tidak salah meja.
"Ini beneran pesanan meja no 8,", ucap nya meyakinkan ketiga cewe itu.
"Tapi kami beneran gak ada yang memesan minuman mas" jawab Mia.
Pelayan itu kebingungan sendiri, boss nya memberikan perintah yang tidak jelas.
Kai merasa tubuh nya semakin menggigil, dia melirik ke arah pintu kaca cafe. Tanda tanda kakak nya datang tidak ada.
Tanpa berpikir panjang, Kai pun meraih gelas air jahe itu.
"Ini air jahe kan?"tanya Kai memastikan.
"Benar nona, dan ini boss kami yang meraciknya sendiri" jelas pelayan itu.
Jia dan Mia tampak khawatir, dia hendak melarang Kai meminumnya. Namun, Kai sudah terlanjur meneguk habis minuman itu.
"Kai!" Panggil Jia terhenti.
Kai sudah memberikan gelasnya pada pelayan, dia merasa sedikit lebih baikan. Walaupun masih terasa menggigil. Setidaknya Kai merasa di dalam tubuhnya sedikit memanas.
Drrrtttt...
Ponsel Kai berdering, Ferdian menghubungi nya.
Dengan segera, Kai pun menerima panggilan dari kakak nya seraya melirik ke luar cafe.
Ternyata kakak nya sudah tiba di depan cafe. Dia tengah mengambil payung dan hendak menjemput kami ke dalam.
Kai menatap kedua sahabatnya. "Guys, gue harus segera pulang." Ucap Kai merasa bersalah. Malam Minggu mereka jadi sangat singkat karena dirinya mendadak demam.
"Kita ngerti kok Kai, Lo harus segera istirahat" ujar Mia.
Kai mengangguk, kemudian beranjak keluar dari cafe.
Sedangkan di dalam dapur, Arkan menunggu pelayan yang mengantar minuman tadi kembali.
"Boss" panggil pelayan menghampiri Arkan.
Arkan menoleh, dia mendekati pelayan nya. "Bagaimana?"
"Seorang gadis berambut panjang sudah meminumnya boss. Tapi-" ucapan pelayan itu terhenti.
Arkan sudah pergi begitu saja sebelum mendengarkan pelayannya menjelaskan semuanya.
"Huh, dasar boss aneh" gerutunya.
Arkan kembali ke depan, dia ingin melihat reaksi Kaila. Apakah obat itu dapat mengurangi meriang nya, seperti pada Aila, atau malah biasa saja.
"Kemana dia?" pikir Arkan. Dia tidak melihat Kaila dimana pun. Di meja 8 hanya ada Jia dan Mia saja.
"Hei Arkan. Lo cari siapa?" Tanya Bima menepuk bahu Arkan.
"Gak papa, gue cuma lagi memantau pelanggan gue" jawab Arkan berbohong.
Bima mengerut, dia ikut menatap semua pelanggan yang ada di dalam cafe. Menurutnya tidak ada yang aneh.
"Lo-" ucap Bima terhenti.
Arkan kembali melakukan hal yang sama terhadap Bima. Sama seperti pada pelayan nya tadi. Dia pergi begitu saja tanpa membiarkan lawan bicaranya menyelesaikan perkataannya.
"Arkan!! Tunggu!!" teriak Bima berlari mengejar Arkan menuju ke ruangan nya. Meeting mereka soal pertandingan telah selesai, Bima mengambil keputusan menggantikan Arkan.
...----------------...
"Astaga dek, Lo kenapa?????" tanya Ferdian terkejut melihat adik nya yang tiba-tiba lemas duduk di dalam mobil.
"cepat, gue mau pulang" balas Kai dengan nafas tersengal sengal.
Ferdian yang panik, langsung menancapkan gas mobil nya. Membelah jalan yang mulai sepi karena hujan deras.