Arkaila

Arkaila
Permasalahan dengan Kaila



Bel sudah berbunyi, menandakan pelajaran periode pertama selesai. Kaila pun ikut menyelesaikan hukuman nya. Di berjalan gontai menuju ke kelas.


setiba nya di kelas, Kaila terkejut melihat semua anggota kelas berdiri bersama di dalam, seakan sedang menunggu kehadiran nya.


Kaila melirik Jia dan Mia, bertanya dengan pandangan nya.


"Kaila, apa Lo di hukum lagi?" tanya Jia bergerak mendekatinya.


"Ada apa ini Jia? apa kalian tidak ke kantin?" tanya Kaila terheran, mata nya menatap satu persatu teman sekelasnya.


Ketua kelas maju, berdiri di hadapan Kaila.


"Gue mau tanya Lo sekali Kaila" jeda ketua. Kaila menatap nya penasaran.


"Apa Lo terlambat hari ini?" lanjutnya.


Kaila menggeleng,tentu saja dia tidak terlambat.


"lalu, kenapa Lo di hukum?" sela wakil ketua kelas.


"Gue tiba di sekolah tepat waktu, hanya karena gue berjalan pelan menuju ke kelas. Mereka berpikir gue terlambat" jelas Kaila.


"Terus, apa mereka menghukum Lo karena itu?" sela Mia.


Kaila menggeleng" gue membela diri, dan terhindar dari tuduhan terlambat, tapi kemarin gue bolos!" lirih nya.


"Tepat sekali!" ketua mendadak menjadi girang. Sesuai dengan tebakan nya.


Kaila menatap ketua heran, mengapa pria itu mendadak terlihat senang, bukan hanya dia tapi, semua orang di sini.


"Lo mungkin bingung Kaila, dan kita di sini minta maaf telah membiarkan Lo di hukum. " ujar Ketua.


"Santai aja, gue yang salah-"


"Tidak!" bantah Jia, membuat Kaila mengerutkan dahi.


Apa yang di maksud Jia, mengapa dia menyangkal pernyataan ini.


"Lo gak salah Kai,kemarin ketika Lo pergi, ketua kelas langsung mengurus surat ijin Lo. Jadi, Lo tidak bolos sama sekali" jelas Mia.


Kaila melongo, dia tidak menyangka teman teman sekelasnya sampai segitu membela dirinya. Bukan hanya dirinya, pada siswa lain juga begitu.


"Bagaimana bisa?" ujar Kaila melongo.


"Tentu bisa baby, dengan kasus ini, kita dapat membuktikan bahwa anggota OSIS menyalah gunakan jabatan, mereka juga tidak mencari kebenaran terlebih dahulu, sebelum menghukum" jelas Ketua.


"Waw, ketua kelas memang bisa di andalkan"sahut salah satu siswi.


"Benar, kita harus memberantas penindasan" sahut yang lain.


"Ok, gue akan ke wali kelas dan ke guru BK. " ketua kelas menatap Kaila.


"Untuk Lo, jangan heran jika nanti nama Lo terpanggil. Bu Riani dan guru BK pasti akan membutuhkan penjelasan Lo."


"jika mereka bertanya, apakah itu benar. Lo harus menjawab yah, dan ijin karena urusan keluarga" jelas Ketua.


Kaila mengangguk, senyum tipis terbit di bibirnya. Melihat kekompakan kelas nya, membuat hatinya terketuk. Apalagi melihat mereka rela tidak makan, demi mendiskusikan kasus ini.


Kaila menatap semua teman sekelasnya, dengan rasa hormat, dia menunduk.


"Terimakasih semuanya, dan maaf. Karena gue kalian jadi terlambat ke kantin" lirihnya tulus.


"Tidak masalah Kaila, asalkan Lo gak datar lagi. Setidaknya, beri kami senyum manis Lo yang memabukkan" celetuk salah satu siswa.


Kaila tersenyum, dia merasa ada rasa kekeluargaan di kelas nya ini.


"Apa cukup?" ujarnya. Seketika para cowo di kelasnya pura pura meleleh, membuat para anak gadis tertawa keras.


"Dasar buaya!" seru Jia. tertawa keras.


Mengapa gue baru mendapatkan kalian, mengapa tidak sejak dulu?


Jia dan Mia berdiri di samping Kaila, kemudian memeluknya erat.


"Lo tenang aja yah, kita semua ada untuk Lo" ujar Mia.


"Benar, kita sahabat, dan berhentilah untuk cemberut dan tertutup pada sahabat Lo ini" sambung Jia.


Kaila mengangguk, dia membalas pelukan kedua sahabatnya.


Mungkin, ini lah saat nya bagi Kaila sedikit membuka hati. Menerima teman teman yang tulus pada nya.


Di ruangan Bu Riani, Ketua menjelaskan segalanya.


"Bu, Kaila di hukum. Atas kesalahannya yang sama sekali tidak di lakukan nya" jelas Ketua memprotes.


"Apa dia terlambat lagi?" tanya Bu Riani.


Ketua menggeleng.


"Lalu apa?" tanya Bu Riani bingung "


"Para OSIS menghukum Kaila dengan tuduhan bolos kemarin. Padahal, sudah jelas saya sudah meminta ijin kepada Bu Riani" jelas Ketua.


"Benar, kamu sudah meminta izin. Lalu, mengapa masih di hukum?" heran Bu Riani.


Di sini lah Ketua mulai melihat kesempatan.


"Mereka melakukan tugas mereka tanpa melihat kebenaran Bu" tambah Ketua.


Bu Riani berpikir sejenak, dia tahu ketua kelas murid nya tidak pernah berbohong, mereka juga tidak pernah membuat masalah.


Tentu hal ini sangat di pertimbangkan oleh Bu Riani. Kasus ini harus di selesaikan, jika tidak, anak didiknya pasti akan mengamuk.


"Baiklah nak, ibu akan membicarakan ini pada guru BK" jawab Bu Riani.


Ketua kelas tersenyum sumringah.


"Baik lah Bu, saya terima kabar baik nya. Untuk menghindari penindasan dan penyalah gunaan jabatan" imbuh nya lagi.


"Iya nak, Sekarang kamu boleh pergi" suruh Bu Riani. Dengan senang hati, ketua kelas pergi dari ruangan Bu Riani.


...----------------...


Di dalam kelas nya, Arkan tengah sibuk mengerjakan tugas nya. karena kesibukannya menyiapkan acara turnamen yang akan dilakukan dua hari lagi, membuat Arkan harus menyelesaikan tugas sekolah nya sendiri di kelas.


"Arkan, dipanggil Bu BK tuh" Arkan menoleh, dahinya mengerut mendengar informasi yang diberikan oleh teman sekelasnya.


Arkan berpikir, apa yang terjadi, tumben sekali guru BK memanggilnya.


" Baik lah, sebentar lagi gue akan pergi menemui nya!" jawab Arkan.


Arkan menyelesaikan tugas nya dengan cepat, waktu nya di sekolah ini tidak akan lama lagi. Sebentar lagi, dia akan lulus. Jabatan nya sebagai ketua OSIS juga akan berakhir dalam waktu 6 bulan ke depan.


Turnamen Basket ini, adalah projek terakhir Arkan setelah menjabat selama 2 tahun.


"Oke siap" gumam nya seraya menyimpan semua buku buku nya.


Arkan segera pergi ke ruangan BK, segala tanda tanya menghinggapi pemikiran nya.


Tok tok!


ketuk Arkan pada pintu ruangan guru BK.


"Masuk!", seru dari dalam.


Arkan pun membuka pintu, di terkejut melihat ada Kaila dan juga Bu Riani, yang Arkan ketahui sebagai wali kelas Kaila.


"Silahkan duduk Arkan" titah Bu Riani.


Arkan menurut, dia duduk di samping Kaila yang menatap sinis kearahnya.


"Maaf Bu, ini ada masalah apa yah? mengapa saya di panggil ke sini?" tanya Arkan bingung.


"Tenang Arkan, kita di sini untuk membicarakan sedikit kesalahan yang mungkin kamu lupakan" ucap Bu Riani.


"Masalah?"beo Arkan terkejut dia melirik pada Kaila, dia berpikir masalah apalagi yang telah gadis ini perbuat.


"Jangan menatap gue, karena kali ini ,bukan gue yang membuat masalah!" tekan Kaila.


"Arkan! apa benar, kamu memberikan hukuman pada Kaila, dan alasan nya karena dia bolos?" tanya guru BK menatap Arkan.


"Ya Bu, dia kemarin bolos, dan hari ini te-" jawab Arkan terpotong.


"Gue gak telat, hanya berjalan pelan menuju ke kelas!" potong Kaila.


"Wah, jika itu benar. Mengapa Lo di tangkap basah oleh anggota gue!" ucap Arkan menyudutkan Kaila.


Bukan nya takut, Kaila malah tersenyum miring.


"Lihat kan Bu, bahkan dia tidak mencari kebenaran nya." ujar Kaila beralih menatap guru BK.


"Ketua kelas saya sudah membuktikan dengan ada nya Bu Riani, dan satpam yang mengetahui saya datang tepat waktu." Kaila sengaja menjeda ucapan nya, kemudian kembali melirik Arkan.


"Lalu, mengapa ketua OSIS yang terhormat ini. Masi menyalahkan saya. Apa dia tidak mencari kebenaran terlebih dulu, sebelum bertindak?"


"Atau, dia hanya ingin menghukum, siapa yang ingin dia hukum saja" lanjut Kaila dengan nada mengejek.


"Jangan sembarangan berbicara Kaila, Lo membuat Maslaah dan sekarang membuatnya semakin besar!" tekan Arkan memperingatkan Kaila.


"Sudah diam!" bentak guru BK, membuat Arkan dan Kaila terdiam.


"Arkan, Kaila kemarin tidak bolos, dia meminta ijin sama ibu." tutur Bu Riani.


"Huh?" Arkan menatap Bu Riani tak percaya, bagaimana mungkin.


"Apa kamu sudah memastikan bahwa Kaila benar benar bolos, atau hanya melihat tanpa mencari kebenaran nya?" tanya guru BK.


Arkan terdiam, tidak tahu apa yang harus di katakan. Ini kesalahan nya, ini kecerobohan nya yang tidak teliti dengan sebuah masalah. Apalagi soal Kaila.


Arkan segera berdiri, menunduk meminta maaf atas kesalahannya.


"Maafkan saya Bu, saya telah ceroboh dan tidak teliti dengan tugas saya."


"Kaila, saya juga meminta maaf atas kesalahan ini. Saya janji ini tidak akan terjadi lagi" lirih Arkan menatap Kaila.


"Baik lah, karena kamu sudah minta maaf, ibu maafkan. Asalkan, lain kali kamu harus lebih teliti!" jawab guru BK, dan Bu Riani mengangguk setuju.


"Terimakasih Bu" jawab Arkan senang.


namun, berbeda dengan Kaila. Dia malah menatap datar Arkan. Dia tidak mau Arkan di maafkan begitu saja.


Dengan keberanian dan kebencian yang kuat terhadap Arkan. Kaila berdiri untuk memprotes.