Arkaila

Arkaila
Kaila berubah??



"Kaila sudah mengetahui tentang rencana ini"


ucapan Viona masih terngiang di telinga Arkan, membuat pria itu terdiam membisu.


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Apa aku harus tetap diam dan mengikuti alur?"


"Atau aku harus melepaskan nya?"


Ucap Arkan bermonolog sendiri. Dia di landa kebingungan. Meskipun selalu bertengkar dengan Kaila, namun hati Arkan masih tetap milik Kaila.


Malam itu,langit terlihat riang. Bintang bintang bertaburan menghiasi langit malam.


"Jika dia membenci ku, kenapa kalung ini masih ada?"


Arkan menatap kalung yang ada di dalam genggaman tangan nya.


Hufff....


Sekarang pukul 7 malam, papa dan mama nya sedang membicarakan kapan dan di mana acara pertunangan mereka.


Sedangkan Kaila??, Arkan tidak tahu apa yang saat ini gadis itu lakukan.


Apa dia kembali melarikan diri? atau malah melawan keputusan ini.


Baik Arkan ataupun Kaila, mereka sama sama tahu, keputusan kedu orang tua mereka adalah keputusan mutlak. Tidak ada yang bisa merubahnya.


Jika ketika kecil mereka bisa mengelak.Namun, Sekarang?? mereka sudah tidak bisa menolak lagi. Karena pada saat dulu, mengelak pengelakan itu merupakan sebuah penundaan waktu yang belum tepat.


"Dek.." Jessica mengusap bahu adik nya, duduk di samping adiknya yang sedang duduk di bangku taman samping rumah nya.


"Lo masih mikirin soal perjodohan kalian?" tebak Jessica, dia turut prihatin dengan adik nya.


Hufff....


Arkan menarik nafas dalam, dia perlahan bangkit, menatap langit yang seakan berkhianat padanya.


"gue gak tahu kak, apakah langkah ini tepat atau tidak" lirihnya.


Jessica ikut bangkit, dia mengusap bahu adik nya.


"Lo harus yakini hati Lo dulu, apakah Lo benar benar menyukai Kaila? atau hanya sekedar rasa persahabatan di masa kecil" ujar Jessica.


"Gue yakin, hati gue yang sekarang dan dulu masih sama" jawab Arkan.


Dia dapat merasakan cinta di hatinya untuk Kaila. Awal nya dia berpikir tidak mencintai Aila lagi, setelah dia bertemu dengan Kaila.


Dan lihat, ternyata dia menyukai orang yang sama.


"Nah, itu artinya Lo harus memperjuangkan nya. Lo harus mengembalikan hati Kaila kembali untuk Lo!"


"Lo harus berusaha, dan gue yakin jika Kaila masih menyukai Lo!" tambah Jessica meyakinkan adik nya.


Arkan kembali menghela nafas, menatap kakak nya penuh keraguan. Namun, Jessica menatapnya penuh keyakinan. Dia yakin, jika adiknya bisa menaklukkan hati batu Kaila kembali.


...----------------...


Kaila keluar dari kamar nya,dia sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.


Perubahan yang dulu pernah luntur, kini kembali lagi.


Kaila yang dingin telah kembali, Tari dan Fahmi menatap putri mereka dengan sendu. Namun, ketika Kaila melirik kedua orang tuanya, mereka langsung memasang wajah tegas.


"Pagi!"sapa Kaila dengan nada cuek, dan tanpa menoleh sedikitpun.


"Gak sarapan dulu?" tanya Tari, Kai pergi begitu saja tanpa menyentuh sarapan yang dia siapkan.


"Hei, Kai.." panggil Tari lagi. Namun, Kai tidak mendengarkan nya. dia berjalan lurus seakan tuli.


"Sudah, lanjutkan saja makan mu. Biarkan dia" ucap Fahmi.


Kaila masuk ke dalam mobil kakak nya, dia sudah mengambil kuncinya tadi. Karena hari ini Ferdian libur, maka dia bisa membawa mobil nya.


Kaila memang jarang mengemudi, namun dia sangat handal dalam mengemudi.


Setiba nya di sekolah, Kai memarkirkan mobilnya sembarangan. Dia tidak tahu, jika parkiran yang dia tempati itu adalah parkiran yang biasanya Arkan gunakan.


Dengan santai, gadis itu keluar dari mobil dan berlalu menuju ke kelasnya.


"Mobil siapa ini?" pikir nya.


Arkan mencari tempat parkiran yang lain. Beruntung masih terlalu pagi, jadi dia tidak kesulitan saat memarkirkan mobilnya.


Bima baru saja tiba, dia terkejut melihat mobil lain berada di posisi Arkan parkir.


"Eh Arkan, "


Bima keluar dari mobilnya, dia mengejar Arkan yang juga baru saja keluar dari mobilnya.


"Kenapa Lo gak parkir di tempat biasa?" tanya Bima heran.


"Gak tahu tuh, mobil siapa yang menempati parkiran gue" jawab Arkan.


Bima mengerut, dia kembali melihat mobil yang terparkir rapih itu.


Di kelas nya, Kaila tidak melihat siapapun. Dia tidak menyangka jika dirinya bisa datang sepagi ini.


"What, apa gue bermimpi. Atau ini sebuah keajaiban?" decak Farhan terkejut.


Kaila berbalik dengan cepat, dia menatap Farhan yang tengah melangkah masuk.


"Kai, apa ini benar-benar Lo?" tanya Farhan masih tidak percaya. Sedangkan Kaila, dia hanya memutarkan bola matanya.


Di dalam kekesalan nya, Kaila memikirkan sesuatu yang bisa membuat dirinya membalas Arkan.


"Lo tumben cepat datang?" balas Kaila balik bertanyalah, dia meletakkan tas nya di atas meja. Kemudian duduk di kursinya.


"Aduh Kai, Lo lupa. Gue adalah ketua paling teladan seantero bumi." bangga Farhan.


Kai terkekeh, dan itu adalah hal yang luar biasa. Farhan menghentikan ucapan nya, mata nya tidak berkedip menatapnya.


"Lo tertawa?" tanya Farhan tak percaya.


Seketika itu, Kaila langsung cemberut. Dia paling tidak suka seperti ini, mereka selalu terkejut setiap kali dia tertawa atau tersenyum. Seperti melihat hantu saja, pikirnya.


"Kaila?" Jia dan Mia masuk ke dalam kelas. Sama seperti Farhan, kedua gadis itu juga terkejut melihat Kaila cepat datang.


"Tuh kan, kalian kaget juga" ujar Farhan.


"Apaan sih, sama Lo!", usir Mia mendorong Farhan menjauh dari mereka.


Kabar Kaila datang lebih awal, dan Kaila yang sudah berubah menjadi gadis yang hangat telah menyebar di seluruh penjuru sekolah.


Bahkan ke telinga Dea dan Kasi. Mereka tidak suka mendengarnya, mereka juga memikirkan rencana untuk membuat Kaila di benci oleh seluruh murid.


"Gue gak terima, jika dia di puji!" gumam Dea.


"Apalagi gue"Sahut Kasi.


"Kita harus memikirkan rencana!" ucap Dea.


"Harus!" sahut Kasi.


Sedangkan Kaila, dia malah acuh ketika berpapasan dengan Dea dan Kasi. Dia sudah terlihat seperti siswi yang tegas dan ramah. Benar benar perubahan yang luar biasa.


"Lihat tuh, ngeselin banget!" geram Dea.


Lihat saja, gue tidak akan membiarkan orang seperti kalian menindas gue!


Kaila pergi ke kantin, menyusul kedua teman nya yang sudah lebih dulu ke kantin.


Saat mau masuk ke dalam kantin, Kaila berhadapan dengan Arkan yang juga hendak masuk ke kantin.


Tatapan mata mereka bertemu, tanpa ekspresi keduanya berdiri di depan pintu kantin , saling berhadapan.


"Buset, dia terlihat lebih cakep" puji murid lain yang memperhatikan Kaila. Arkan melirik mereka sebentar, kemudian kembali menatap Kaila.


Cukup lama mereka bertatap muka, akhirnya Arkan memutuskan untuk lebih dulu masuk ke dalam kantin.


Namun, dengan santai nya. Kaila menghentikan langkah Arkan dan itu mampu membuat Arkan malu.


"Pria sejati, adalah pria yang mendahulukan seorang wanita, bukan mendahuluinya"


Jleb.


Langkah Arkan terhenti, Bima yang berdiri di sebelahnya melongo menatap Kaila, dia tidak percaya mendengar apa yang baru saja Kaila ucapkan.