
Tari terlihat malas menuruni anak tangga, dia berniat ingin ke dapur untuk mengambil air minum.
Langkah malas nya, berubah menjadi sangat cepat ketika melihat Ferdian masuk sembari menggendong Kaila.
"Sayang, ada apa ini. Kenapa adik kamu?"tanya Tari panik.
"Bun, panggilan dokter"pinta Ferdian. Dia menggendong Kaila menuju ke kamar nya.
Tari pun segera menghubungi dokter keluarga nya. Kemudian, dia langsung berlari menyusul Ferdian ke kamar Kai.
Ferdian membaringkan Kai di atas ranjang, menyelimuti tubuh adiknya dengan selimut tebal.
"Aduh Ferdian, apa yang terjadi, kenapa adik kamu jadi begini?" gumam Tari panik, dia duduk di samping putrinya, mengusap rambut putrinya yang terasa panas.
"Aku juga gak tahu ma, tadi saat Kai ngumpul sama teman teman nya, tiba-tiba dia meminta aku menjemput nya" jelas Ferdian.
Tak lama kemudian, dokter pun datang. Bersamaan dengan Fahmi yang juga baru pulang.
Fahmi terkejut melihat dokter mendatangi rumah nya.
"Ada apa ini Bun, kenapa dok-?" Fahmi semakin terkejut melihat Kai terbaring lemah.
"Sudah ayah, biarkan dokter memeriksa Kai dulu. Setelah itu baru kita bicara" ujar Ferdian.
Fahmi mengangguk, dia membiarkan dokter memeriksa putrinya.
Di bawah, Viona baru saja pulang malam mingguan. Dia merasa sedikit aneh.
"Kok sepi yah, apa Ferdian sudah tidur?" gumam nya terheran.
Viona bergegas naik ke atas,dia berniat ingin menemui Kaila.
Tapi, apa yang dia lihat?.
"Astaga, bunda ayah. Ada apa ini, Kaila kenapa?" langkah kaki Viona melebar masuk ke dalam. Dia berdiri di samping ayah dan bundanya yang tengah menunggu dokter selesai memeriksa sang adik.
Mereka berempat sangat deg deg an, menunggu hasil pemeriksaan dokter.
"Apa yang terjadi dokter, ada apa dengan putri ku?" tanya Tari pada sang dokter yang baru saja selesai memeriksa Kaila.
Mereka semua mendekat pada dokter, menunggu jawaban sang dokter.
"Nona Kaila baik-baik saja. Dia hanya demam tinggi,namun sekarang demam nya sedang turun" jelas sang dokter.
Hufff haaa.
"Syukurlah dok" Fahmi dan keluarga nya bernafas lega.
Tari mendekati putrinya, mengusap kening putrinya yang masih terasa panas.
"Ini tidak serius, namun harus di perhatikan. Nona muda tidak boleh terlalu lama di bawah guyuran air hujan. Itu akan membuat kondisi fisik nya melemah" jelas sang dokter.
Fahmi mengangguk, dia melirik putra nya tajam. Sejak dulu, Fahmi sudah memperingatkan putri sulung nya, maupun putra nya.
Agar melarang adik nya bermain hujan, ataupun terkena hujan.
Lihat, sekarang dia jadi seperti ini.
Merasa tatapan ayah nya penuh makna, Ferdian langsung menjelaskan.
"Maaf ayah, aku tidak tahu jika Kai terkena hujan. Jika aku tahu, aku pasti akan melarang nya" tutur Ferdian.
Fahmi tidak membalas, dia beranjak mendekati istri nya yang tengah mengompres Kaila.
"kalau begitu, saya permisi tuan" pamit sang dokter.
"Baiklah dokter, terimakasih banyak" balas Fahmi, kemudian melirik putranya dan memberikan kode agar mengantar dokter keluar.
Tanpa banyak bicara, Ferdian langsung menuntun sang dokter.
"Ayah, memangnya Kaila dari mana?" tanya Viona khawatir.
"Tadi dia pamit pergi ke cafe AiKai, dia di antar oleh Ferdian. Kemudian, dia pulang dalam keadaan seperti ini" jelas Tari hampir menangis.
Kejadian ini hampir sama seperti kejadian 8 tahun yang lalu.
Kaila pulang dalam keadaan basah kuyup, dia menempuh hujan deras menuju ke rumah.
Setibanya di rumah, Kaila malah pingsan tepat di hadapan ayah dan bunda nya.
Semua keluarga panik, dan khawatir. Sama seperti saat ini.
Sedangkan di cafe AiKai, Jia dan Mia merasa sangat heran. Ada apa dengan Kai, mengapa dia pulang terburu buru.
Mia menggeleng pelan, dia juga tidak tahu apa apa.
"Besok kita harus menanyakan pada nya" ujar Jia.
Brak!
Kedua gadis itu terkejut, mereka menatap Bima dan beberapa teman nya menggebrak meja mereka.
"Apa apaan sih ini, dasar tidak punya sopan santu!" maki Jia.
"Dih, galak banget sih. Kita tuh mau nanya sama kalian" ujar salah satu teman Bima.
"Gak mau jawab, dan gak mau tahu" tolak Jia. Dia menarik tangan Mia pergi dari sana.
"Eh Jia, mau kemana??" sentak Mia kaget. Dia tersenyum, dan melambaikan tangan pada Bima.
"Dadaa Bima.."
"Daa Mia" balas Bima tersenyum menggoda. Membuat Mia langsung klepek klepek.
"Aduhh Jia, kenapa sih . Lo tega banget ganggu kesenangan gue. Lihat tu, di Bima tersenyum sama gue" gerutunya.
"Ih ni bocah, Lo gak liat. Mereka udah ngumpul bareng bareng." ketus Jia.
"Memangnya kenapa, toh kita sudah biasa ngumpul sama mereka" balas Mia bete.
Jia memutar bola matanya, Mia lupa jika mereka semua adalah mantan pacar Jia. Jika mereka berkumpul, nanti akan ada keributan.
"Udah deh, ayo pulang" putus Jia masuk ke dalam mobil nya, lalu diikuti oleh Mia.
...----------------...
Enggg...
Kai menggeliat pelan, dia masih merasa kepalanya berdenyut dan pusing.
Meskipun demamnya sudah turun, tapi Kai masih merasakan tubuh nya lemas. Karena itu, dia memutuskan untuk tidak masuk sekolah.
Ceklek.
Tari masuk ke dalam kamar putrinya, memeriksa apakah putrinya sudah baikan atau belum.
Di tangan nya, Tari membawa bubur ayam kesukaan Kai dan teh jahe hangat.
"Sayang, kamu sudah bangun. Ayo kita sarapan dulu" ucap Tari lembut. Dia meletakkan nampan yang dia bawa tadi di atas nakas samping ranjang Kai.
Tari menyibak gorden jendela, membiarkan sinar matahari masuk menyinari seisi kamar Kai.
"Aduh ibu, silau" lenguh Kai seraya menarik selimut hingga menutupi sampai ke kepalanya.
"Sayang, sinar matahari pagi, sangat baik untuk kesehatan. Agar kamu segera sembuh" omel nya. Dia menarik selimut yang menutupi wajah putrinya.
"Ayo, kita sarapan dulu" titah nya.
"Tapi Bun, aku gak lapar. Aku hanya butuh tidur"Kelu Kai kembali ingin menutupi wajahnya, tapi di tahan oleh Tari.
"Tidak sayang, meskipun kamu istirahat tapi tidak makan. Maka kamu akan terus sakit"
Tari menarik tangan putrinya, membantunya agar segera duduk dari tidurnya.
"Ayo, duduk dan cucilah wajah mu, gosok gigi dan makan lah bubur ini"
Kai tidak bisa mengelak, dia harus melakukan apa yang bunda nya perintahkan.
"Baiklah" pasrah Kai.
Tari tersenyum, dia duduk di tepi ranjang putrinya dengan senyum manis menatap setiap pergerakan Kaila.
Setelah selesai mencuci wajah dan godok gigi. Kaila langsung di sodorkan semangkuk bubur.
"Makan lah yang lahap, setelah itu minum obat mu" tutur Tari lagi.
"Iya bunda, apapun yang bunda inginkan akan aku lakukan" jawab Kai patuh, dengan ekspresi wajah merajuk
"Nah pinter" balas Tari terkekeh pelan. Dia mencubit gemas pipi gembul putrinya.
Meskipun sudah dewasa, Kai di mata Tari masih terlihat seperti anak kecil.
Bukankah seperti setiap orang tua terhadap anak anak mereka?😘 cinta dan kasih orang tua, yang tidak pernah merasa putra dan putri mereka telah dewasa. sehingga mereka selalu memanjakan anak anak mereka dengan penuh cinta.