
Malam yang indah, namun menjadi malam yang kelam bagi Kaila. Dia berdandan seadanya, meskipun bunda nya menyuruh dirinya berdandan secantik mungkin.
Namun, Kaila lupa jika dirinya semakin terlihat cantik ketika dia berdandan natural.
Tok! Tok!
Ketukan suara di pintu kamar nya, membuat lamunan Kaila buyar.
"Kai, Lo udah selesai?" seru Viona dari luar.
"Sudah, sebentar lagi gue keluar!" balas Kai singkat.
"Baiklah!" balas Viona lagi. Setelah itu, Kaila mendengar langkah kaki Viona menjauh.
Huhh....
Kaila kembali menarik nafas dalam. Meyakinkan dirinya, bahwa ini adalah jalan yang tepat.
"Apa Lo harus melaju nya?" tanya Kai pada pantulan dirinya di cermin.
Seperti yang kakaknya katakan, dia harus melawan, membuat Arkan pergi dari hidupnya, bukan dia yang pergi dan mengalah seperti dulu lagi.
"Baiklah, Season baru telah di mulai. Ini akan menjadi akhir yang berbeda, dan aku akan menjadi bintang utama nya"
Kaila melangkah keluar, menemui keluarga nya yang sejak tadi menunggu kehadiran dirinya.
Sungguh keajaiban bagi keluarga Wilson, saat mendengar jawaban Kaila yang tidak lagi menolak perjodohan ini. Kaila malah menyerahkan semua keputusan kepada kedua orang tuanya.
"Itu Kaila" seru salah satu bibi nya yang di undang di acara private ini.
Acara pertunangan ini, hanya di hadiri oleh kerabat dekat saja. Seperti saudara sekandung Tari, Fahmi, Amora dan Fiandi saja.
Seperti syarat yang Kaila ajukan, dia ingin pernikahan nya tidak di ketahui oleh orang lain. Cukup Keluarga nya saja. Nanti setelah lulus SMA, barulah di adakan acara peresmian pernikahan mereka.
"Ayo sini sayang" Tari menggandeng putrinya, mendudukkan putrinya di hadapan semua keluarga.
Tak lama kemudian, Arkan pun muncul. Dia juga di dudukkan di hadapan semua keluarga.
ruangan keluarga yang luas, telah di dekor menjadi acara pertunangan Kaila dan Arkan. Mereka juga di dudukkan bersama pada kursi yang bernuansa seperti singgah sana.
"Malam ini, kalian berdua adalah Raja dan Ratu di kerajaan kita!!" sorak Jessica.
"Salam Ratu dan Raja" sahu Viona sembari memberi salam ala ala kerajaan.
Kaila memutar bola matanya malas, tingkah kakak nya sangat berlebihan.
Dari sebelah Kaila, Arkan memperhatikan gadisnya yang terlihat sangat cantik malam itu dengan ekor matanya.
Pria itu bersikap seolah dia juga terpaksa, dia tidak mau menjatuhkan harga dirinya hanya karena terlihat bahagia ketika bertunangan dengan Kaila.
"Baiklah, mari kita mulai acaranya!" ujar Fahmi.
"Segeralah kita mulai, agar kita segera makan" sahut Fiandi yang di susul oleh gelak tawa keluarga.
Acara pun di mulai, Kaila dan Arkan di instruksi, agar saling memakaikan cincin pertanda mereka saling terikat satu sama lain.
Saat memakaikan cincin ke tangan Kaila, Arkan terlihat sangat lembut. Sedangkan Kaila, dia malah memasangkan dengan asal asalan.
"Kasar banget jadi cewe" dengus Arkan mengusap jarinya yang kemerahan.
"Bodo amat, emang pantes" balas Kaila acuh.
Ferdian duduk di sofa sudut ruangan, dia memegang ponsel sembari matanya menatap lurus kearah sang adik. Seolah sedang mengawasi, Ferdian benar benar terlihat berbeda.
"Kak!"
Ferdi menoleh, menatap Haico yang sudah duduk di samping nya.
"Liatin apa?"tanya Haico.
Ferdian mengalihkan pandangan matanya, kearah Kaila dan Arkan lagi.
"Lagi ngawasin mereka, gue gak akan biarkan sedetik saja, pria itu memiliki kesempatan menyakiti Kaila!" gumam Ferdian penuh tekanan.
"Kak, kenapa harus di awasi?"
Ferdian kembali menatap Haico, pria ini bodoh atau pura pura bodoh.Geram Ferdian.
"Gue tahu, masa lalu nya. Tapi, kak Viona sudah menceritakan sama gue. Dan semua itu masuk akal" jelas Haico lagi.
"Kak!"
"Kak!" Panggil Haico, sedangkan Ferdian. Dia terus berjalan tanpa memperdulikan panggilan adik sepupunya.
Kaila mendengar Haico memanggil kakaknya. Dia hendak menghampiri mereka. Tapi, Arkan menahan nya.
"Lepas!" serunya tajam.
"Tidak bisa! Lo harus duduk di sini, hingga acara selesai!" tegas Arkan.
Kaila menatap sinis, dia tidak suka sikap Arkan seperti ini.
"Ini hanya formalitas, sesuatu yang tidak gue inginkan. Jadi, jangan menganggap serius ikatan ini!"
Kaila menyingkirkan tangan Arkan, kemudian meninggalkan pria itu begitu saja.
"Lihat saja, Gue akan membuat Lo. Menarik ucapan Lo barusan!" ucap Arkan menatap kepergian Kaila.
Dia malah ikut meninggalkan kursinya. Kemudian ikut bergabung dengan keluarga yang sibuk mengobrol.
Sedangkan Kaila, dia pergi mencari kakak nya. Duduk di bangku taman sendirian.
"Kak" Kaila duduk di samping kakak nya, menggandeng lengan kakaknya seakan takut.
"Kenapa? apa kamu takut keputusan ini tidak baik untuk mu?" tanya Ferdian menebak kegelisahan sang adik.
"Aku hanya takut, jika aku terjebak pada niat ku sendiri. Aku takut, kembali masuk ke dalam lubang yang sama. Aku takut-"
"Sttt....Sudah dek, kamu tidak usah memikirkan apapun. Intinya, kamu perhatikan dirimu sendiri. Jika itu menyakitkan bagi mu, maka lari dan cari aku!" Ucap ferdian memotong ucapan Kaila, dia berusaha meyakinkan adik nya.
"Semua akan baik baik saja, kamu jangan khawatir"
Kaila mengangguk, dia masih memeluk lengan kakaknya.
Cukup lama Kaila dan Ferdian duduk di taman, akhirnya setelah beberapa kali di panggil oleh sang ayah.
Ferdian mengajak Kaila masuk, berpura-pura tersenyum di depan semua orang.
"Kai, sini" Viona melambaikan tangan pada sang adik, ketika Kaila dan Ferdian memasuki rumah.
Tanpa di setujui terlebih dulu, Jessica sudah menarik lengan Kaila dan menuntun nya duduk di antara dirinya dan Viona.
"Kai, lihat lah. Kita lagi memilih gaun cantik untuk pernikahan kamu nanti" ujar Jessica.
"Benar kak, gaun ini cantik cantik semua" sahut salah satu sepupu Kaila yang masih berumur 10 tahun.
"Ini bagaimana?"tanya Viona sembari menunjukkan lembaran gaun berwarna gold pada Kaila.
"Cantik!" Hanya satu kata itu saja yang keluar dari mulut Kaila, dengan ekspresi datarnya.
Seketika, suasana terasa canggung. Kaila yang tanpa ekspresi membuat Viona dan Jessica menelan saliva nya. Mereka greget dengan sikap dingin Kaila, meskipun dia terlihat biasa saja, namun hal itulah yang membuat kedua wanita bibi menjadi tidak enak.
"Eh, ini bagus juga sebagai gaun seragam kita ketika pesta nanti" ujar Viona berusaha mencairkan suasana.
"Tidak perlu membuat seragam, gue berencana acara pernikahan nya sederhana saja" jawab Kaila mematahkan ucapan Viona.
"Yahh, kenapa begitu kak?" ujar gadis belia yang berumur 10 tahun tadi dengan ekspresi kecewa. Dia berharap Kaila menikah dengan acara yang sangat meria.
"Sayang, kakak masih sekolah. Kakak tidak mau, teman teman kakak tahu, jika kakak menikah lebih muda"
"Tapi Kai, tetap saja kita akan membuat acara yang megah, meskipun hanya Keluarga saja yang hadir!" sela Viona.
"Ini pernikahan gue, jika Lo mau meria. Maka segeralah menikah!"
Glek.
Jawaban Kaila bagaikan skakmat bagi Viona. Sinis, sadis, dan dingin.
"Bhahahaha... seperti nya itu bukan ide yang buruk" tawa Jessica.
Prak.
"Aws...." Jessica memegangi pipi kanan nya yang terkena pukulan majalah gaun yang mereka lihat tadi.
"Makan tuh!" decak Viona menatap Jessica kesal.
"Ihhhh...Viona, sakit tahu! lecet ni" balas Jessica merengek. Sedangkan Kaila, dia malah menggeleng kepala melihat pertengkaran kedua wanita dewasa ini.