Arkaila

Arkaila
Kakak Kai Tampan



Malam hari nya, Kai tengah duduk di balkon kamar nya. Dia bosan,selain menonton Drakor. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Drrrtttt...


Kai melirik ponsel nya yang tergeletak di samping nya.


"Jia?" gumam nya membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


Dengan segera Kai pun menerima panggilan dari Jia.


"Hallo, Kai" panggil Jia di sebrang sana.


"Iya ada apa?"


"Kita lagi di luar ni, Lo mau gabung gak. Mumpung malam Minggu" ujar Jia.


Kai tampak berpikir sejak, dia juga melirik arloji nya. Masih pukul 7 malam.


"Di cafe mana?"


"Cafe AiKai, buruan ke sini" seru Jia, kemudian langsung memutuskan panggilan nya secara sepihak.


"Ihh Dasar gak ada sopan santun nya ni bocah!" dengus Kai menatap layar ponsel nya kesal.


Kai segera bangkit, dia berniat ikut bergabung dengan Jia. Dari pada melamun di balkon, lebih baik ngumpul sama mereka. pikir Kai.


Kai menyambar jaket jeans nya,dia tidak perlu berdandan atau memakai pakaian yang berlebihan.


Cukup mengenakan celana jeans panjang, dan kaos lengan pendek di padukan dengan jaket jeans.


Cantik, penampilan Kai seperti itu membuat dia terlihat semakin menarik.


Kai berjalan santai melewati ruang tengah rumah nya. Di sana terdapat ayah, bunda dan Ferdian. Mereka tengah duduk menonton tv.


"Kak, kunci mobil kakak di mana?" tanya Kai sopan.


Ferdian menoleh,dia memperhatikan penampilan adik nya.


"Mau kemana?" tanya Ferdian


"Mau ke kafe AiKai, jumpa teman" jawab Kai jujur.


Mendengar jawaban putrinya,Tari dan Fahmi tertarik untuk menoleh.


"Teman yang mana? bunda kok gak tahu?" tanya Tari penasaran.


"Teman sekolah Bun,Jia dan Mia. Entar deh, Kai ajak main ke rumah" tutur Kai.


"Oke" balas Tari tersenyum manis. Dia merupakan orang tua yang simple dan paling pengertian.


Bersikap seperti ini, bukan berarti Tari tidak memperhatikan putra dan putrinya. Dia sangat memperhatikan mereka. Namun, cara nya yang sedikit berbeda.


Tari dan Fahmi tetap memantau perilaku anak anak mereka. Namun, mereka tidak terlalu mengekang dan tidak mau menekan anak anak nya.


Bagi tari dan Fahmi, anak anak mereka memiliki hak masing-masing, memiliki kebebasan dan memiliki privasi tersendiri.


Tari dan Fahmi bersikap seolah olah mereka berteman dengan anak anaknya. Jadi, mereka bisa saling terbuka. Saling curhat, Sehingga mereka jadi tahu apa yang sedang putra dan putri nya rasakan.


Di luar sana,mata mata Fahmi bertebaran. Memantau putra dan putrinya di luar sana. Jika sudah melewati batas wajar, maka mereka akan segera mengatasinya.


Mata mata ini, hanya terletak di tempat tempat tertentu. contohnya di setiap bar, hotel, dan tempat tempat yang rawan lain nya.


"Cantik cantik gak dek? kenalin dong" bujuk Ferdian.


Kai memutar bola matanya, melihat sikap kakak nya yang seperti ini.


"Udah deh, buruan mana kunci nya kak" desak Kai.


"Gak bisa Kai, kakak mau ngumpul juga"


"Kemana?" tanya Kai.


"Bukan ke cafe AiKai sih, tapi masih searah" jelas Ferdian.


"Yaudah bareng aja, anterin gue ke cafe AiKai dulu"pinta Kai.


Ferdian mengangguk menyetujui permintaan adik nya. Dia segera bangkit dan berpamitan dengan ayah dan bunda nya.


"Pergi dulu yah, Bun" pamit Ferdian.


"Hati hati, jangan lupa sebelum jam 10 pulang!" peringat Fahmi.


"Oke Ayah" balas Ferdian.


"Aku juga yah, Bun. Mau ngumpul bentar" sahut Kai, dia juga berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Pulang nya nanti bareng Ferdi, atau di jemput?" tanya Fahmi.


"Bareng aku aja Yah, biar nanti aku yang jemput dia lagi" jawab Ferdian.


"Iya yah, nanti kakak aja jemput" sahut Kai.


"Yaudah hati hati ya"


AiKai, bukan nya itu?? Ah sudahlah. Batin Ferdian.


Mobil Ferdian melaju cepat, membelah jalan padat di malam Minggu.


"Tumben banget lu mau keluar? teman cowo?" tanya Ferdian membuka suara.


"Bukan lah, Lo pikir gue apaan?" dengus Kai.


"Lalu siapa? sulit di percaya Lo punya temen cewe" tanya Ferdian pemasaran.


"Yah seperti yang gue bilang sama bunda dan ayah tadi" jawab Kai singkat.


"Gue tahu Lo Kai, susah bergaul. Apalagi sama orang yang gak satu frekuensi sama Lo" ujar Ferdi. Kai tertawa pelan, melirik kakak nya yang terdengar lucu.


Memang Kai akui, kedua kakak nya sangat care dan tahu betul dengan satu sama lain.


"Benar, tapi gue serius kak. Gue nemu teman yang memang tidak sepemikiran sama gue. Tapi, frekuensi kita tu kaya nyatu gitu. Melengkapi lah" jelas Kai. Senyum manis nya terbit di bibir nya.


Ferdian yang melihatnya, jadi yakin. Jika adiknya tidak berbohong.


"Mereka baik, saling membantu, care. Pokoknya , gue nyaman berteman sama mereka. " jelas Kai mendeskripsikan teman teman nya.


"Bagus deh, kalau Lo dapat teman seperti itu. Tapi, Lo harus ingat! " peringat Ferdi.


"Apapun yang terjadi, siapapun yang nyakitin Lo. Bilang cepat sama gue. Gue akan menghabisi mereka!" ucap Ferdi serius.


Kai menoleh, menatap kakak nya dengan senyum manisnya.


"Tenang aja, gue akan melapor semuanya sama Lo, dan biarkan Lo menghabisi mereka" Kai tersenyum pada kakak nya. Dia bersyukur, kakak nya sangat sayang kepada nya.


Ferdian tersenyum, dia merasa lega adiknya telah kembali. Dulu, jauh sebelum kejadian yang memisahkan mereka, adik nya juga bersikap seperti ini.


Tak berapa lama, mobil Ferdian berhenti di depan cafe AiKai. Cafe yang menjadi pilihan anak anak muda untuk di jadikan tempat tongkrongan.


Kai menatap cafe itu, kemudian keluar dari dalam mobil.


"Rame juga, Gue malas mencari cari di mana mereka" gumam Kai yang hendak masuk ke dalam mobil lagi.


Namun, belum sempat tangan nya meraih pintu mobil. Jia dan Mia berteriak memanggil nama Kai.


"Kaila!!!"


Kai berbalik, dia tersenyum melihat kedua teman nya berjalan ke arahnya.


Ferdian ikut keluar, dia heran mengapa asik ya masih berdiri di depan mobilnya.


"Ada apa Kai?"tanya Ferdi.


Bertepatan saat itu, Jia dan Mia tiba.


"Akhirnya Lo datang juga" gumam Jia.


"Iya ni, kita udah nunggu dari tadi" sahut Mia.


Kedua gadis itu terkejut, mereka menatap Ferdian.


Saudara akan tatapan kedua teman nya, Kai langsung memperkenalkan kakak nya.


"Guys ini kakak gue, Ferdian."


"Kak, ini Jia dan ini Mia. Teman gue yang tadi gue bicarakan"


"Benarkah? gue pikir ini pacar Lo Kai. Ganteng banget " pekik Jia tertahan. Dia langsung mengulurkan tangan nya untuk berkenalan dengan Ferdian.


"Jia kak" ujarnya.


"Ferdian" balas Ferdian.


Mia dan Kai mencebik, penyakit Jia kambuh lagi, Ga bisa liat yang bening dikit.


Setelah melepaskan tangan Jia, Mia menjabat tangan Ferdian.


"Mia"


"Ferdian" balas Ferdi.


Jia menatap Ferdian dengan tatapan memuja, jujur saja dia merasa jantungnya ingin keluar saking cepat nya berdetak.


"Kai, kenapa Lo gak bilang sama gue. Punya Abang sebegini tampan" bisik Jia.


"Lo gak pernah nanya" balas Kai singkat.


"Yaudah dek, gue pergi dulu. Nanti gue jemput" pamit Ferdian. Dia tersenyum pada kedua teman adiknya, kemudian berlalu pergi melajukan mobil nya.


Sedangkan Jia, dia masih menatap kepergian mobil Ferdian.


"Ya ampun...Kai, Abang Lo tampan banget, kaya oppa oppa Korea"


Kai dan Mia menggeleng pelan, mereka menarik Jia masuk ke dalam cafe. Di jawab pun, nanti tu bocah gak bakal nyambung.