Arkaila

Arkaila
Menemukan Kembali Arkaila yang Ceria



"Apa? Arkan di hukum?" pekik Dea terkejut. Bukan hanya Dea, Kasi dan Bima juga sangat terkejut, begitu pun dengan seluruh siswa siswi di sekolah ini. Mereka tidak menyangka Arkan akan terkena hukuman.


"Bagaimana bisa Arkan di hukum, apa kesalahan nya?" tanya Dea penasaran menatap siswi yang memberitahu nya soal ini.


Siswi itu menggeleng, dia juga tidak tahu penyebab Arkan di hukum.


"Gue harus tanyakan sama Arkan!" gumam Bima segera pergi.


."Gue juga" sahut Dea menyusul Bima, Kasi pun turut pergi.


Sedangkan Kaila, dia menikmati kemenangan nya bersama semua teman sekelasnya.


"Bagus Kaila, Lo pandai membalas mereka" seru Ketua kelas tersenyum bangga.


"Tentu saja, jika singa yang tidur telah di ganggu, maka dengarkanlah Auman nya" sahut Kaila tersenyum miring.


"Benar sekali, mereka pikir anak IPA 2 itu bisa di pandang remeh" celetuk Mia.


Mereka merayakan kemenangan dengan mengadakan acara makan di taman belakang sekolah. Ketua kelas yang bijak berhasil meminta ijin pada wali kelas dan kepala sekolah.


Jam mata pelajaran sosial, mereka gunakan untuk saling berbagi cerita di taman, sama seperti piknik.


Banyak dari kelas yang lain merasa iri dengan kelas mereka.


Sementara itu, di toilet laki laki. Arkan sibuk membersihkan toilet.


Sembari membersihkan, Arkan juga teringat dengan ucapan Kaila.


"Saya di hukum atas apa yang bukan saya lakukan, tapi dia di maafkan tanpa di di berikan sangsi apapun, menurut saya ini kurang adil Bu" ucap Kaila.


"Apa yang kamu inginkan?" seru Arkan dengan suara tertahan. Emosinya seakan sedang di pancing saat ini.


Tanpa menatap Arkan, Kaila meneruskan jawaban nya.


"Saya ingin, Arkan menebus kesalahannya dengan hal yang sama dengan yang saya lakukan!" pinta Kaila.


"Lo gila, gue-" ucapan Arkan terhenti.


"Ibu menyetujui nya Kaila, " jawab guru BK. Mata Arkan langsung terbelalak mendengarnya.


"Bu, ini hanya kesalahpahaman, dan saya-"


"Tidak mungkin membersihkan toilet?" sambung Kaila dengan nada mengejek.


Arkan menatap Kaila tajam, dia tidak habis pikir gadis ini akan seperti ini.


"Bukan kah, Lo, gue dan murid yang lain itu sama? mengapa Lo melakukan kesalahan, tapi tidak bisa di hukum?" ucap Kaila.


Nafas Arkan tercekat, gadis nya ini sungguh menguji kesabaran nya. Bisa bisa nya Kaila melakukan semua ini di depan guru.


"Benar, Arkan. Kamu harus membersihkan toilet!" tegas Bu Riani.


Huhh..


Tanpa bisa membantah lagi, Arkan hanya bisa mengangguk pasrah.


Kekesalan nya masih bersemayam di ubun ubun nya. Arkan menggosok lantai toilet dengan kasar.


"Andai saja dia bukan Aila, sudah gue pites tu benak nya" geram Arkan.


Brak!


Pintu toilet terbuka lebar, Bima dengan langkah lebarnya menghampiri Arkan. Mata nya melebar, melihat kenyataan yang di sampaikan oleh siswi tadi.


"Arkan!!!" pekik Dea yang baru sampai, di susul oleh Kasi.


"Apaan sih, kenapa kalian teriak teriak!" dengus Arkan, dia terus melanjutkan kerjaan nya.


"Kenapa Lo melakukan semua ini, kenapa Lo bisa di hukum!"tanya Dea tak habis pikir.


Arkan menghentikan gerakan nya, dia segera bangkit dan berdiri menatap kasi dan Dea.


" Ada apa, kenapa Lo menatap kita berdua?" tanya Dea gugup.


"Kalian kan yang memberikan informasi palsu itu! karena kalian, gue jadi kena hukum!" bentak Arkan.


"Kenapa jadi kita yang salah, bukan nya dia memang bolos?" bantah Dea


"Benar, dia memang bolos. Tapi ketua kelas nya sudah membuat surat ijin. Arrgg!" geram Arkan. Dia kembali melanjutkan kegiatan nya.


"Pergi lah, dan jangan ganggu gue!" usir nya.


"Baiklah" Desah Dea pasrah, kemudian menarik Kasi keluar dari toilet laki laki.


Kini tinggal Arkan dan Bima di toilet. Tampa bersuara, Bima membantu Arkan membersihkan nya.


"Udah, Lo pergi juga. Biarkan gue yang urus ini!" suruh Arkan, namun Bima tidak mendengarkan nya. Dia terus membersihkan lantai yang sudah hampir terselesaikan oleh Arkan.


"Bima!" teriak Arkan, agar pria itu mendengarkan nya.


Brak!


Arkan melempar brus lantai, dia kesal pada Bima yang tidak mendengarkan nya.


Sedangkan Bima, dia juga berhenti dan menatap Arkan datar.


"Lo di hukum karena tidak teliti kan, dan gue adalah bawahan Lo, harusnya kami juga teliti agar semua nya berjalan lancar. Karena kita tidak teliti bersama, jadi ini adalah kesalahan gue juga!" ujar Bima panjang lebar.


Huh..


Arkan tidak bisa berkata apa apa lagi, apa yang dikatakan Bima memang benar. Namun, Arkan tetap merasa semua ini salah dirinya.


"Sudah lah, kita harus menyelesaikan semua ini dengan cepat, sebelum bel istirahat berbunyi" seru Bima.


"Hmm.." balas nya.


Kembali ke taman belakang sekolah, Kaila dan teman teman sekelasnya terlihat sangat bahagia. Mereka menikmati acara mereka .


"Ok Guys, lihat ke sini. Ini akan menjadi topik bagus di Mading dan sosial media sekolah" seru sekretaris kelas yang juga merupakan jurnalis sekolah, dia menyetel kamera di depan mereka, kemudian mengambil posisi yang estetik.


"Smile..."teriak nya sebelum menekan remote kontrol kamera.


"Yeeee!!!" sorak mereka bersama sama.


"Kai, akhirnya kita bisa melihat Lo tersenyum. Sejak Lo datang, kita semua tidak melihat Lo tersenyum" celetuk salah satu siswi.


Kai hanya tersenyum membalas ucapan teman teman nya,dia juga baru sadar, entah kapan terakhir dia tersenyum lepas seperti ini.


"Kai itu gampang tersenyum, tapi hanya pada orang orang yang tepat!" seru Mia membanggakan diri.


"Jadi, maksud Lo?" wakil ketua kelas menyipitkan mata pada Mia yang hanya tercengir.


"Gak maksud apa apa" cengir nya.


Kalian adalah keluarga, sahabat gue. Kenapa gue selama ini tidak melihat hal ini pada kalian. kenapa gue baru sadar. Masih ada orang yang baik, tulus seperti kalian.


Kaila tersenyum menatap satu persatu teman teman nya.


"Guys, terimakasih. Kalian membuat gue menemukan diri gue yang selama ini hilang di bawa angin. Terimakasih guys!" ungkap Kaila tulus.


"Kaila, Lo juga membuat gue menemukan seseorang yang berhasil membuat hati gue berdetak cepat" balas Ketua kelas yang langsung mendapatkan sorakan.


"Cieee...."


Kaila terdiam, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Heh apaan sih, jangan ada yang cie cie in teman gue!" marah Jia, dia memeluk Kaila. Kemudian tersenyum menggoda.


"Bagaimana, apa Lo menyukai Farhan juga?" ucap nya, yang sama saja seperti yang lain.


Awalnya sudah merasa lega di bela, eh ternyata Jia sama saja.


"Apaan sih Lo" dengus Kaila dengan wajah kesal nya.


Farhan berdiri, dia berdiri di hadapan Kaila, menatap lekat pada gadis itu.


"Kaila, mungkin ini terlalu cepat. Tapi, gue menyukai Lo. Terlepas Lo menyukai gue atau tidak!"


Farhan memegang tangan Kaila, tersenyum manis pada Kaila.


Kaila menjadi gugup, dia mengalihkan pandangan matanya dari Farhan, menunduk di hadapan nya.


"Aku menyukai Lo Farhan, tapi sebagai teman. Gue belum sempat memikirkan untuk lebih dari itu" jawab Kaila pelan.


Semua orang bersorak, mereka senang mendengar jawaban Kaila.


"Ciee....Cie...."


Farhan, adalah siswa teladan di sekolah ini. Sama seperti Arkan dia juga merupakan laki laki dingin, sulit di ajak bergaul. Kecuali , pada orang orang yang sudah biasa dengan nya.


Soal tampang, Farhan juga tidak kalah dengan Arkan. Meskipun Arkan lebih tampan darinya, namun mereka memiliki ketertarikan yang berbeda.