
"Kenapa Arkan tidak datang juga, bahkan dia tidak ada kabar. Sebentar lagi acara akan di mulai, pertandingan akan segera di mulai." Gumam Dea panik. Sejak tadi dia berusaha menghubungi Arkan, namun pria itu tak kunjung menjawab panggilan nya.
Bima yang juga tidak tahu kemana Arkan terlihat santai, dia sigap menggantikan posisi Arkan. Setelah pulang berbunyi, Bima langsung mengumpulkan panitia acara, memastikan acara akan lancar hari ini.
Sebelumnya,mereka sudah menyiapkan plan ini. Arkan sudah menjelaskan kepada Bima, sebagai kewaspadaan mereka, ketika suatu hari nanti Arkan memiliki kendala, dan Bima bisa menggantikan posisinya.
Lihat, firasat seorang ketua itu memang benar. Arkan masih belum menampakkan batang hidungnya. Sedangkan peserta pertandingan telah hadir dan menunggu acara di mulai.
"Ayo, kita mulai acara nya!"seru Bima. Semua anggota OSIS, langsung berkumpul dan juga panitia acara.
Bima siap memulai pertandingan, dia akan mengambil alih posisi Arkan.
"Heh, Lo gila apa. Ketua itu Arkan, bukan Lo. Mengapa Lo yang memutuskan untuk memulai atau tidak!" Cegat Dea, dia berdiri di hadapan Bima dan semua panitia acara.
"Benar, Arkan belum datang. Tapi mengapa kalian malah memulainya!" Sela Kasi.
"Heh, Lo itu gila apa. Lihat semua peserta, mereka sudah lama menunggu, wasit dan semuanya juga sudah siap. Mengapa harus menunggu Arkan." Bantah Bima.
"Lagi pula, acara bisa di langsungkan, ketua acara yang berhak, dan ketua OSIS hanya memantau agar acara berlangsung dengan lancar. " Sambung nya.
"Benar, apa Lo gak ngerti soal yang begini?" Sahut yang lain.
Dea terdiam, dia merasa sangat malu. Kekalutannya membuat dirinya malu di hadapan semua orang.
"Udah, ketua acara. Ayo segera mulai pertandingan nya!"seru Bima. Dia melirik sinis kearah Dea dan Kasi, kemudian pergi begitu saja.
Kini, Bima mulai paham. Kaila selam ini tidak bersalah, Dea dan Kasi yang sengaja membuat dia bersalah.
"Wahh,,, bagaimana ini. Mengapa kalian terlihat kacau." cibir Jia.
"Benar banget nih, perlahan kebenaran akan terungkap, dan yang bersalah akan terasingkan" sahut Mia.
Kedua gadis itu muncul dari belakang Dea dan Kasi, mereka mendengar perdebatan Bima dan juga Dea.
"Tutup mulut Lo!" Bentak Dea.
"Ups.." Jia dan Mia tertawa bersama, kemudian pergi begitu saja. Mereka senang dengan hal ini, Kaila dan Arkan tidak datang secara bersamaan, karena itu banyak opini yang beredar. Apalagi Kaila yang ternyata sengaja bolos.
Sedangkan di villa, Arkan dan Kaila kembali gaduh. Kaila ingin pulang, sedangkan Arkan dia ingin ke sekolah. Keduanya tidak sejalan dan tidak sepemikiran.
"Pokoknya gue mau pulang!" ucap Kaila tidak mau kalah.
"Lo gila, acara akan di mulai. Bagaimana gue bisa antar Lo pulang!" balas Arkan.
"Gue gak mau tahu, Lo harus antar gue pulang. Gue gak mau ke sekolah bersama dengan Lo, teman teman gue mikir apa nanti!" ucap Kaila lagi, dia sangat keras kepala, dia juga tidak mau semua orang tahu jika dirinya bersama dengan Arkan.
"Tapi, rumah Lo dan sekolah itu berbeda arah Kaila. Lo kenapa egois banget sih!"
"Yasudah, gue mau naik taxi aja!"putusnya. Namun, Arkan tidak mengijinkan Kaila melakukan hal itu.
"Lo gak boleh naik taxi!" Cegah nya.
Mata Kaila membulat besar, nafasnya tersengal sengal menahan emosi yang bergejolak.
"Lo maunya apa sih!" Dengus Kaila pasrah, dia sudah tidak tahu harus berkata apa dengan pria ini.
"Gue mau, Lo ikut gue ke sekolah. Lo harus menghadiri acara pertandingan ini!" Tegas Arkan.
"Itu hanya membuang buang waktu gue bege, gue males!" Kelu Kaila, dia menghempaskan bokong nya di atas sofa. Dia sudah malas membantah pria ini, dia tidak akan pergi ke mana mana jika pria itu tidak mau mengantarnya pulang, atau membiarkan dirinya naik taxi.
"Ayo ikut gue!" Tegas Arkan.
"Gak mau" tolak Kaila ketus.
"Lo kenapa keras kepala banget sih, cuma datang doang, tapi minta nya susah minta ampun!" Dengus Arkan.
Mendengar ucapan Arkan yang mengatakan dirinya keras kepala, emosi Kaila kembali memuncak.
"Gue minta antar pulang, tapi Lo gak mau dengan alasan ,Lo ingin ke sekolah. Lo merasa tidak sempat mengantar gue pulang hanya karena beda arah dan memakan banyak waktu. Nah, jika begitu. Gue memutuskan untuk naik taxi. Tapi apa?" Ucap Kaila mempertanyakan respon Arkan.
"Lo menolak nya, Lo melarang gue naik taxi dan Lo menolak mengantar gue. So, yang begi itu siapa? Dan yangckeras kepala itu siapa?" Kaila mulai kehabisan kesabaran nya.
"Pokoknya, Lo harus ikut gue ke sekolah!" Putus Arkan lagi.
"Gue gak mau, gosip dan mush gue akan semakin banyak! Gue malas meladeni mereka"tolak Kaila, dia menepis tangan Arkan agar terlepas dari tangan nya.
"Ok fine, kita akan tetap di sini. Seperti yang Lo inginkan!"
"Dan Lo harus tahu, jika laki laki dan perempuan bersama di sebuah ruangan, maka tidak dapat mengelak rayuan Setan" imbuh Arkan. Pria itu menggantikan posisi Kaila duduk di sofa, menatap reaksi gadis itu setelah mendengar ucapan nya.
Glek.
Tubuh Kaila membeku, pikiran nya mulai menerawang. Dia tidak bisa membayangkan, dirinya dan Arkan bersama di villa ini dan saling mera-
"No!!!!" Teriak Kaila histeris.
"Gue mau ke sekolah, apapun itu deh, gue gak masalah. Ayo ke sekolah" teriak Kaila mengemasi tasnya, kemudian menarik tangan Arkan menuju ke mobil.
"Gue gak mau, dia dan gue terpengaruh oleh setan dan kita...ah gak mau gak mau " gumam Kaila menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran pikiran kotor.
Sedangkan Arkan,dia tersenyum geli. Rencana nya berhasil. Dia memang sengaja mengatakan hal itu, padahal dia saja tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.
Karena Arkan tahu Kaila orang nya memikirkan segala hal, maka dia sengaja memancing imajinasi negatif Kaila.
Arkan mengendarai mobilnya menuju ke sekolah, dia tahu jika nanti akan menimbulkan banyak pertanyaan dari teman sekolahnya, ketika melihat Kaila turun dari mobil nya.
Namun, itulah yang Arkan inginkan. Dia mau, Farhan melihat kedekatan dirinya dan Kaila.
Saat mobil Arkan hampir mendekati sekolah, kaila langsung meminta Arkan menghentikan mobilnya.
"Stop!!!!"
Arkan menoleh, menatap bingung tunangan nya.
"Ada apa, ini belum sampai di sekolah" ujar Arkan.
"Gue sampai di sini saja, gue gak mau semua orang melihat kita!"jawab Kaila. Dia hendak membuka pintu mobil, namun Arkan langsung menguncinya.
"Lo tidak akan kemana mana. Kita akan keluar dari mobil di sekolah!"tegas Arkan,dia kembali melajukan mobilnya.
"Lo gila apa!"bentak Kaila.
"Yah, gue sudah gila. Kenapa Lo harus takut, jika mereka mengetahuinya? Bukan kah kita sebentar lagi akan menikah?" Seru Arkan menantang.
"Stop Arkan! Lo mau gue di musuhin sama penggemar Lo? Lo mau gu-"
Citttt....
Mobil Arkan terparkir indah di temoat biasa, dia tidak memperdulikan ucapan Kaila.
Dengan santai, Arkan turun dari mobilnya, lalu mengitari mobilnya menuju ke samping Kaila.
"Eh itu Arkan, dia bawa siapa?"
"Iya, Arkan membukakan pintu untuk siapa?"
Semua orang terkejut, dan penasaran siapakah yang Arkan bawa. Dea dan Kasi yang kebetulan melewati koridor, melihat mobil Arkan.
"Itu Arkan"seru Dea, dia langsung berjalan menghampiri pria yang baru saja keluar dari mobilnya. Melihat Arkan berjalan ke sisi samping mobilnya, dahi Dea dan Kasi berkerut.
"Tapi dengan siapa dia?" Gumam Kasi penasaran.