
Setelah pulang sekolah, Jia dan Mia langsung meluncur ke rumah sakit untuk menjenguk Kaila. Mereka sudah mendapatkan alamat rumah sakit dan nomor ruangan Kaila dari bu Riani.
"Buruan Jia, gue gak sabar pengen ketemu Kaila"seru Mia yang di balas dengan anggukan oleh Jia.
Jia pun melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Beruntung saat ini jalan tidak terlalu padat. Jadi, mereka bisa dengan cepat tiba di rumah sakit.
Sedangkan di rumah sakit, Kai hanya duduk diam menatap kosong ke luar jendela. Tidak ada ekspresi apapun, entah apa yang gadis itu pikirkan.
Ferdian yang menemani adik nya hanya bisa menghela nafas. Beginilah Kai, tidak banyak bicara dan berekspresi.
Drrttt..
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Ferdian, bertepatan saat itu pintu ruangan Kai terbuka.
Keduanya sama sama menoleh kearah pintu, menampilkan ekspresi yang berbeda.
Ferdian tersenyum menyambut kedatangan kedua teman adiknya, sedangkan Kai. Dia terlihat biasa saja.
"Kaila"lirih Jia dan Mia melangkah masuk. Mereka berdiri di samping Kai, menatap wajah pucat Kai yang hanya tersenyum tipis pada mereka.
"Gimana keadaan Lo, udah baikan kan?"tanya Jia perhatian.
"Sudah, gue udah baikan, besok bisa masuk sekolah" jawab Kai membuat kedua teman nya secara kompak melebarkan mata.
"Gila Lo yah, udah masuk rumah sakit gini. Masih aja pengen sekolah." Omel Mia.
"Tau ih Kai, pulihkan dulu tubuh Lo. Baru masuk sekolah!"sambung Jia .
"Gue udah gak papa kok"
"Gak boleh Kai, Lo harus istirahat dulu! Baru masuk" tekan Mia.
"Benar tu apa yang Mia bilang!"sahut Jia.
"Tapi gue mau ke sekolah!" protes Kai.
"Lo mau sakit lagi? " tekan Mia marah seperti ibu ibu sedang memarahi anak nya.
Ferdian terkikik melihat tingkah ketiga gadis itu. Dia senang, adik nya mendapatkan teman yang baik. Sangat jarang zaman sekarang mendapatkan teman setulus Jia dan Mia.
Drrtt..
Ferdian merasakan ponselnya bergetar lagi, membuat dirinya teringat dengan pesan yang belum sempat dia buka.
Setelah melihat isi dari pesan itu, Ferdian pun berdiri dari tempat nya.
"Kalian ngobrol lah dulu yah, kakak mau keluar sebentar" ucap Ferdian yang langsung diangguki penuh semangat oleh Jia.
"Mau gabung juga boleh kok kak" tawar Jia tersenyum genit, membuat tawa Ferdia keluar.
"Lain kali saja, kakak ada perlu sebentar" tolak Ferdian. Dia pun berlalu dari sana.
"Biasa aja kali, liatin nya" sungut Kai.
"Aduh kalian ini gimana sih, kalau ada pemandangan indah tu jangan di abaikan. Nikmatilah selagi ada"balas Jia sambil terkikik.
Sedangkan Kai dan Mia memutar bola matanya, ucapan Jia terlalu membosankan bagi mereka.
Mia menggenggam tangan Kai, entah mengapa dia sangat senang berteman dengan Kai. meskipun tidak terlalu banyak bicara, tidak terlalu berekspresi.
Namun, Kaila merupakan gadis yang tulus. Sangat cocok berteman dengan dirinya.
"Kai, tahu belum pulih kenapa maksain masuk tadi?" ujar Mia.
"Benar Kai, beruntung Arkan menolong Lo tadi. Membawa Lo ke UKS, dan langsung ke rumah sakit. Arkan melakukan segalanya untuk Lo" tutur Jia dengan penuh semangat. Dia lupa jika Arkan dan Kai tidak akur.
Kai terdiam, dia teringat ketika dia menabrak Arkan tadi. Dia juga teringat ketika dia muntah di hadapan Arkan. Namun, dia tidak ingat apa yang terjadi setelah itu.
...----------------...
Arkan tiba di rumah, dia melihat mama dan kakak nya seperti tergesa-gesa ingin pergi.
"Mau kemana ma?" tanya Arkan dengan alis terangkat sebelah.
"Ke rumah sakit sayang" jawab Amora membuat kening Arkan semakin berkerut.
"Siapa yang sakit?"
Amora menghentikan kegiatan nya yang sedang mengenakan heelsnya. Menatap putra nya dalam sambil mengelus rahang tegas Arkan.
Arkan menatap kepergian mama nya, dia tahu siapa yang mama nya maksud.
Kaila,gadis yang selama ini dia cari. Dan Arkan mendapatkan kebingungan baru. Mengapa mama dan anggota keluarga lain tidak berterus terang kepadanya.
mereka tidak menjawab dengan pasti. Selalu hanya mengatakan anak teman mama.
"Huh, apa mereka sudah tahu?" pikir Arkan.
Pria itu pun berlalu menuju ke kamar nya,menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk milik nya.
"Jika Kai adalah anak Tante Tari, maka dia adalah Aila" monolog Arkan, mata nya menatap lurus ke langit langit kamar nya.
"Sebegitu benci kah Lo sama gue? sampai Lo sendiri gak ngenalin gue?" lirih Arkan sedih.
Sejak awal malam itu, ketika mereka kembali bermasalah di bawah guyuran hujan. Arkan sudah mulai menduga duga.
Wajah Kai ketika terkena air hujan, ekspresi nya ketika dia marah terlihat sama.
Namun, karena sifat mereka yang sangat bertolak belakang. Arkan jadi ragu dan berpikir salah mengenali orang.
"Hati tidak mungkin salah" gumam nya lagi.
Arkan meraih bantal gulingnya, kemudian meletakkan di atas wajah nya.
"Aila, maafin gue!!" teriaknya tertahan oleh bantal guling.
Entah apa yang akan dia lakukan, jika nanti dia bertemu dengan Kaila.
...----------------...
1 Minggu, akhirnya Kai keluar dari rumah sakit. Kali ini, dia sudah benar-benar pulih.Dia sudah merasa sangat fit Sekarang.
Besok, Kaila sudah bisa masuk sekolah.
Sekarang, dia tengah duduk santai sambil membaca buku novel yang kemarin Haico bawakan ketika menjenguk dirinya.
Karena perkebunan sedang panen, jadi Haico tidak bisa berlama lama di kota. Dia segera kembali bersama nenek ke desa.
Kai menikmati suasana sore di depan rumah nya. Banyak pohon kecil dan tanaman bunga yang sengaja bunda nya tanam. Sehingga suasana halaman nya terasa seperti berada di perkebunan nenek nya.
"Sayang" panggil Tari.
Mendengar suara bunda nya, Kai langsung mendongak, meskipun tanpa ekspresi.
"Sini masuk, sebentar lagi akan turun hujan" seru tari.
Kai langsung menatap ke langit, benar saja awan hitam sudah berkumpul dan bersiap menurunkan hujan.
Tik Tik..
"Astaga"
Kai langsung mengumpulkan buku bukunya. Kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.
Baru saja Kai masuk ke dalam rumah, hujan deras pun langsung turun.
Huhh..
"Bersyukur tepat waktu" gumam Tari bernafas lega. Dia tidak mau putrinya kembali jatuh sakit seperti kemarin.
Kai langsung masuk ke dalam kamar nya, dia menyusun buku buku nya lagi.
Drrttt...
Setelah menyusun buku bukunya, Kai mendengar suara getaran ponselnya, yang tergeletak di atas nakas.
"Siapa sih" gumam nya beranjak mengambil ponselnya dengan gerakan malas.
Saat melihat layar ponselnya, Kai mengerutkan dahi.
"Tidak ada nama" gumam Kai seraya mematikan layar ponselnya. Dia tidak suka menerima panggilan dari nomor yang tidak di kenal.
"Kurang kerjaan" dengus nya.
Kai meletakkan kembali ponsel nya, kemudian beranjak menuju ke kamar mandi.
Tanpa Kai sadari, layar ponselnya kembali menyala. Nomor itu kembali menghubungi nya.