
Keluarga Wilson telah siap, mereka akan segera berangkat menuju ke rumah Arkan. Hanya Ferdi yang tidak bisa ikut, karena dia besok ada presentasi. Jadi, Ferdi harus tetap di rumah dan menyelesaikan tugas kuliah nya.
"Ayo, sudah waktunya kita berangkat" ujar Fahmi.
"Iya ayah, ayo" balas Tari. Dia mengurung kedua putrinya masuk ke dalam mobil.
Fahmi mengemudi, tari duduk di sebelahnya. Sedangkan kedua putrinya duduk di bangku belakang.
Tari melihat ke spion dalam mobil, dia melihat wajah masam putri bungsu nya. Dengan cepat tari menoleh ke belakang. Membandingkan, apakah di kaca dan real nya sama, atau malah beda. Konyol memang.
"Kenapa kamu cemberut sayang, senyum dong" sanggah nya.
Kaila melirik bunda nya sebentar, kemudian menghembuskan nafas gusar. Setelah itu, barulah dia tersenyum pada bunda nya.
"Puas?" Seru nya dengan suara merajuk.
"Nah, kan cantik" sorak Tari. Kaila mendengus, sedangkan Viona. Dia malah terkikik melihatnya.
"Apaan sih" dengus Kaila menyikut lengan kakak nya agar berhenti menertawai nya.
Mobil pun melaju, membela jalan ya g lumayan padat di malam ini. Tepat nya saat itu jam menunjukkan pukul 7 malam. Perjalanan menempuh waktu hanya 30 menit untuk sltiba di kediaman keluarga Fiandi.
Selama perjalanan, terdengar sebatang kecil dari Viona dan Kaila. Kadang Kaila dengan bunda nya.
Meskipun yang mereka ributkan bukanlah hal yang rumit, namun mampu membuat telinga Fahmi tuli.
Srmmm....
Mobil berhenti, pertanda mereka telah tiba di kediaman Fiandi dan keluarga nya.
"Ayo turun" seru Tari.
Mereka semua langsung turun, kecuali Kaila. Dia masih duduk di dalam mobil, mata nya menatap pada rumah besar yang dulu menjadi tempat favorit baginya.
Menyadari putri bungsu nya belum keluar, Tari membukakan pintu nya. Menatap putrinya yang terdiam menatap kearah rumah besar milik sahabat nya.
"Ayo nak, kita masuk. Di dalam lebih indah, ketimbang melihat dari luar" ujarnya.
Kaila masih tidak bergeming, kilasan masa lalu berputar di benak nya. Dan itu, membuat rasa sakit kembali terasa di dalam lubuk hatinya.
"Mengapa sakit sekali?" Batin nya.
"Kai" panggil Tari lagi, dia juga menarik tangan putrinya agar tersadar dan segera turun.
"Eh Bun, iya" sahut Kaila tersentak kaget, saat merasakan pegangan tangan bundanya di lengan nya.
"Kamu kok bengong, ayo masuk" ajak Tari lagi. Tapi, kali ini dia berhasil. Putrinya turun dari mobil, berdiri di samping Viona, kemudian berjalan beriringan dengan membentuk 2 barisa .
Di bagian depan, Fahmi dan Tari berjalan sembari bergandengan tanga . Sedangkan di belakang mereka, terdapat 2 gadis cantik ya g mempesona.
Ketika keluarga Wilson memasuki rumah, Fiandi dan Amora langsung menyambut mereka.
"Halo BESTie ..." pekik Amora dan Tari seperti anak zaman sekarang ketika bertemu dengan sahabat nya.
Kaila yang melihat itu, hanya bisa memejamkan mata. Dia tidak menyangka datang ke sini itu adalah hal yang paling sulit baginya.
"Ayo silahkan duduk" Amora menuntun mereka duduk di sofa ruang tamu.
Setelah mereka duduk, Barulah Amora memanggil art nya untuk membuatkan minum.
"Tante, Jessica mana? Kok gak keliatan?" tanya Viona.
"Oh ada sayang, dia barusan pulang. Terus cepat cepat mandi setelah tahu acara malam ini" jelas Amora.
"Benarkah? Yaudah. Viona ke kamar Jessica dulu ya."pamit Viona langsung melesat pergi.
Amora tersenyum, dia mengobrol dengan Tari. Fiandi mengobrol dengan Fahmi. Mereka membicarakan tentang urusan mereka masing-masing.
" Masih belum berubah" gumam Kaila, mata nya mengedar mengamati rumah yang masih terlihat sama seperti dulu.
Tidak ada yang berubah, hanya kondisi hati Kaila saja yang berubah.
Malam itu, Kaila menjadi anak yang baik. Dia duduk diam, mendengarkan para orang tua bercerita. Entah itu nostalgia, atau menceritakan sesuatu pengalaman yang lucu untuk mereka.
"Selamat malam"
Semua orang menoleh, kemudian tersenyum pada Arkan yang baru saja turun dan langsung menyalami calon mertua nya.
"Sudah lama om, Tante?" Ujar Arkan basa basi.
"Sudah cukup lama, sekitar 3 tahun lebih" jawab Fahmi bercanda. Mereka semua langsung tertawa. Kecuali Kaila, dia hanya tersenyum tipis mendengar lelucon ayah nya.
Tanpa sengaja, Kaila melihat kearah Arkan. Ternyata pria itu juga melihat kearahnya. Tatapan mereka bertemu, dan saling menatap dalam waktu yang cukup lama.
Kaila menyipitkan matanya, memiringkan bibirnya. Memperlihatkan ekspresi menantang dan permusuhan.
Namun, Arkan membalas nya dengan tatapan penuh cinta. Dia tidak akan membalas Kaila dengan kemarahan. Dia akan membalas Kaila dengan cinta, agar hati yang terluka segera sembuh, dan bisa kembali terbuka untuk dirinya.
"Nah, karena kalian sudah ada di sini. Kita akan membahas soal tanggal pernikahan kalian" ujar Fahmi memulai pembicaraan utama acara mereka malam itu.
"Bener, setelah itu kita akan makan enak!!" Sahut Fian, mengundang gelak tawa mereka semua kecuali Kaila. Dia tidak banyak memperlihatkan ekspresi.
"Papa, makan makanan aja yang ada di pikiran nya." Gerutu Amora.
"Mau bagaimana lagi, tujuan kita malam ini adalah makan bersama" balas Fiandi lagi. Membuat Amora mendengus kesal.
"Sudah sudah, kita kembali ke topik utama." Lerai Fahmi.
"Kami sudah sepakat, pernikahan mereka akan di laksanakan tanggal 25" lanjutnya.
Mata Kaila terbelalak besar, sekarang adalah tanggal 21, itu artinya dia akan menikah dengan Arkan 4 hari ke depan.
"Ayah, ini terlalu cepat. Aku dan dia juga sebentar lagi ujian" protes Kaila.
"Masih 1 bulan lagi. Setelah menikah, apa Lo tidak bisa belajar?" Balas Arkan menyela ucapan Kaila.
Kaila terconga, ucapan Arkan barusan seakan dia juga menginginkan pernikahan ini segera terjadi.
Namun tenang, Kaila tidak akan Sudi menikah dengan pria itu. Dia akan merencanakan sesuatu agar pernikahan ini batal.
"Lo gila yah, walaupun otak gue cerdas, gue tetap harus fokus belajar, apalagi itu ujian. gue tidak mau nilai gue hancur!" balas Kaila lagi.
"Benarkah?" Arkan tersenyum miring, dia tahu gadisnya tengah mencari cara agar pernikahan mereka batal di percepat, kalau bisa gagal.
"Easy, setelah nikah. gue akan membantu lo dalam pembelajaran, gue juga bisa memberikan Lo ujian, agar Lo bisa menjawab ujian nanti". tutur Arkan.
"Benar, Arkan kan pemegang juara satu umum, 2 tahun berturut turu " kata Tari memperkuat ucapan menantunya.
Kaila menghela nafas, dia salah ambil alasan.
Kaila melirik kearah ayah nya, meminta agar ayah nya menerima alasan darinya,
"Keputusan telah bulat, mau ambil atau tidak, kami tidak menerima keluhan." tegas Fahmi.
Kaila menunduk sedih, dia tidak tahu harus mengatakan apa agar semua orang tahu dengan apa yang dia rasakan saat ini.
Betapa sakitnya, perasaan Kaila saat kenangan pahit itu kembali menggerayangi otak nya.
"Besok, kalian harus datang ke butik ternama di kota ini. Pilih gaun dan tuxedo yang Senda nanti" tutur Amora.
"Arkan, mohon di antar jemput yah Kaila nya. Soalnya dia tidak memiliki mobil, dan hanya mengendarai mobil kakak nya saja" tutur Amora meminta pada Arkan.