Arkaila

Arkaila
Pertemuan Keluarga



Remuk, Kaila merasa tulang belulang nya tidak berdaya dan terlepas semua persendian nya.


"Oh astaga, Dea sialan. Jika bukan karena dia yang mencari masalah, dan Arkan yang bodoh, tubuh gue tidak akan seperti ini!" Maki Kaila seraya menghempaskan tubuh nya di atas ranjang.


Blam!.


Baru saja mata nya terpejam, tiba tiba suara pintu kamarnya terhempas kuat. Memaksa matanya terbuka kembali.


"Kaila!!" Teriak Viona berjalan cepat masuk menghampiri sang adik.


"Oh gods, apalagi ini. Mengapa hidup gue tidak bisa nyaman walau hanya sedetik saja" erang Kaila.


Viona berdiri menatap sang adik yang juga menatap ke arah nya. "Hei girls, ayo kita bersiap. Gue akan mendandani Lo. Ayo cepat mandi!" Titah nya.


Kaila mengeyitkan dahi," apa sih kak, ngapain Lo capek capek mau dandani gue. Gue capek, dan tolong jangan ganggu gue!"tegas Kaila. Dia kembali memejamkan matanya dan. . .


"Kaila!!! Kenapa Lo tidur lagi. Lo harus mandi Sekarang, kita harus segera bersiap!"


Viona menarik tangan adik nya, agar gadis imut itu segera bangkit dan mendorong nya menuju ke kamar mandi.


"Oh ayolah Viona, gue mau tenang bisa gak sihhh Lo gak ganggu gue..." Teriak Kaila kehabisan kesabaran. Di berbalik menghadap sang kakak, kemudian menatap nya dengan tatapan tajam.


Jika Kaila berpikir Viona akan berhenti, maka dia salah besar. Lihat, Sekarang Viona malah mengangkat tubuhnya dan membawa nya masuk ke dalam kamar mandi.


"Kak...." Erang Kaila kesal. Dia mencak mencak, namun Viona terus menahan nya di dalam kamar mandi.


"Jika Lo gak mandi sendiri, gue akan mandiin Lo!" Ancam Viona.


Tentu saja Kaila tidak akan mau, meski mereka sesama perempuan dan mereka adalah kakak adik. Kaila tetap tidak suka mandi bersama kakak nya, apalagi di mandiin. Ogah banget,Kaila bergidik ngeri.


"Memangnya ada apa sih, mengapa Lo bikin gue kaya anak kecil gini!"


Viona memutar bola matanya, dengan malas dia menjawab. " Malam ini adalah pertemuan keluarga kita dan keluarga calon suami Lo. Kita akan membicarakan soal tgl pernikahan dan acara nya seperti apa" jelas Viona.


Deg.


Tubuh Kaila menegang, ketika mendengar kata pernikahan. Dia tidak menyangka akan secepat ini.


"Ayo cepat, jangan melamun!" seru Viona membuyarkan lamunan Kaila.


"Gue tunggu di luar yah, sembari menyiapkan pakaian yang akan Lo pakai nanti!" Ucap Viona melangkah keluar dari kamar mandi sang adik. Dia mendekati lemari besar milik Kaila, kemudian memulihkan dres mana yang cocok uny adiknya pakai malam ini.


Di rumah besar keluarga Fiandi, Arkan baru saja tiba di rumah. Tepatnya pukul 18.30. Arkan pulang terlambat, karena melakukan closing turnamen hari ini, kemudian rapat sebentar untuk persiapan turnamen selanjutnya.


"Baru pulang nak?" Sambut Amora, dia mendekati putranya dan mengulurkan tangan nya pada putra kesayangannya untuk di cium punggung nya, seperti yang Arkan lakukan setiap pergi dan pulang ke rumah.


"Iya ma, tadi ada sedikit kendala. Sehingga Arkan harus pulang telat" jawab Arkan.


Setelah Salim, Arkan berniat ingin segera ke kamar nya. Namun, Amora menahan nya.


"Kamu nanti ada acara ?"


Arkan menggeleng, dia tidak ada acara. Tapi, dia akan pergi ke cafe nya untuk melakukan pembayaran gaji karyawan, mengecek laporan penghasilan bulanan, mengingat ini adalah akhir bulan.


"Aku cuma mau ke cafe, bayar gaji karyawan" jawab Arkan.


Amora terdiam, dia terlihat ragu untuk mengatakan pada putranya. Apalagi pembayaran gaji karyawan adalah hal yang tidak bisa di tunda.


Melihat keraguan mama nya, Arkan menatap penuh selidik. "Memangnya ada apa?"


"UMM...Nanti kita makan malam bersama keluarga calon istri kamu. Kita akan mempercepat pernikahan kalian"


"Benarkah?" Wajah Arkan langsung sumringah, apalagi mengingat Farhan menggenggam tangan Kaila tadi.


"Oh tidak masalah ma, Arkan akan menelfon manager cafe, gaji akan di transfer dan soal bonus akan di hitung besok" jawab Arkan penuh semangat.


"Benarkah? Apa bisa begitu?" tanya Amora turut senang.


"Tentu saja ma, Arkan juga tidak sabar. Ingin menikahi Kaila dan memiliki nya seutuhnya"jawab Arkan membuat Amora memukul bahu nya.


"Yaudah sana cepat gih, mandi" ujar Amora.


Arkan mengangguk, dia segera berlari ke kamar nya. Untuk membersihkan diri, dia akan menyambut kedatangan keluarga calon istri nya.


"Oke Farhan, Lo bisa memegang tangan calon istri gue tadi. tapi, tidak untuk esok! setela Kaila menikah sama gue!" Arkan. tertawa dalam hati.


Cling~


Saat membuka kemeja nya, ponsel Arkan tiba-tiba berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Arkan mengernyitkan dahi, dia memeriksa ponselnya dan mendapatkan sebuah pesan dari no yang tidak di kenal.


08xxx....


Sampai jumpa lagi Arkan!


"No siapa ini, mengapa dia memiliki nomor ponsel ku?" gumam Arkan heran.


"Ah bodo lah"


Arkan melempar ponsel nya ke atas ranjang, kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi, sambil bersiul dan sedikit bersenandung riang.


...----------------...


Seorang gadis berdiri menghadap ke jendela kaca kantor milik papa nya.


Tak lama kemudian, seorang pria memasuki ruangan itu. Pria itu membungkuk memberikan hormat pada nona muda nya.


Tanpa menoleh, gadis itu melemparkan pertanyaan.


"Bagaimana, apa semua berkas ku telah siap?" tanya seorang gadis cantik berambut panjang yang di biarkan tergerai begitu saja.


Jika di lihat dari penampilan nya, gadis ini terlihat kalem dan elegan. Setiap cowo pasti akan menoleh 2 atau bahkan lebih untuk melihatnya lagi.


"Sudah, besok nona sudah bisa masuk ke SMA itu" jawab seorang pria bertubuh tegap dan memakai pakaian serba hitam.


Dia adalah bodyguard sekaligus asisten yang di tugaskan untuk mengawasi dan membantu gadis itu.


"Bagus" gadis itu tersenyum menyeringai, membayangkan apa yang akan terjadi esok hari.


"Pergi lah, Aku akan menunggu papa di sini"


"Baik, non"


Setelah membungkuk memberikan hormat, pria itu berbalik keluar dari ruangan dan menutup pintu.


"Aku tidak sabar, bagaimana reaksi dia setelah sekian lama tidak bertemu dengan ku. Apa dia akan senang? apa dia akan suka dengan penampilan ku yang cantik??" gumam nya tersenyum senang, dia benar-benar tidak sabar menunggu hari esok.


...----------------...


"Tara!!!" Viona menghadapkan Kaila ke depan kaca besar yang ada di kamar adik nya itu.


"Bagaimana?" tanya Viona penasaran, dia baru saja selesai mendandani adik nya.


Kaila menatap pantulan dirinya, dia hampir tidak percaya. Jika dia bisa secantik ini.


Karena malu untuk mengakuinya, Arkaila Wilson memasang wajah biasa saja.


"Biasa aja, selalu cantik. " jawab nya datar.


Air muka Viona langsung berubah, dia menatap adiknya jengkel.


"Lo bisa hargai usaha gue gak sih, udah capek capek juga, Lo malah kaya gitu" gerutunya.


"Mau hargai gimana, orang gue emang cantik. Mau di apain juga tetap sama hasilnya!" cecar Kaila.


Viona memutar bola matanya, lalu memperlihatkan ekspresi mual mendengar kenarsisan Kaila.