Arkaila

Arkaila
Di bangunkan Arkan.



Byurrr......


"Arggg!!! Banjir!!!"


Kaila melompat dari tempat tidurnya sembari berteriak nyaring.


"Bunda!! Ayah!! Banjir!!! Tolong!!" Kaila terus berteriak dan melompat lompat, dia belum sadar jika saat ini dia sedang dikerjai.


Arkan dengan sengaja menuangkan segelas air yang terletak di atas nakas tempat tidur Kaila. Seperti yang dia harapkan, gadis itu melompat lompat dan berteriak. Ingin rasanya Arkan tertawa keras. Namun, dia tetap berusaha untuk menahan nya.


"Ni banjir!" Ucap Arkan seraya melempar handuk yang sejak tadi memang dia pegang.


Kaila berhenti di tempat, dia terkejut mendengar suara yang tidak asing ada di kamarnya.


"Lo!" tunjuk Kaila dengan ekspresi terkejutnya. Sedangkan Arkan, dia malah tersenyum miring.


"Anak gadis, bangun nya terlambat terus" cibir Arkan.


Kaila yang mendengarnya langsung berkacak pinggang, memperlihatkan pada Arkan, jika dirinya tidak takut pada pria itu.


"Ngapain Lo di kamar gue!" Tanya Kaila ketus.


Arkan bergidik bahu, lalu dia memilih duduk di tepi ranjang Kaila.


"Mandilah, setelah itu turun dan sarapan bersama!"titah Arkan.


Kaila tidak percaya, pria ini bersikap seolah dia adalah tuan raja yang harus dia patuhi.


"Hei, lihatlah. Siapa diri Lo ha. Beraninya Lo memerintah gue!" decak Kaila hendak menarik tangan Arkan dan mengusirnya dari kamar nya.


Namun, belum sempat dia menggapai tangan pria itu, Arkan lebih dulu meraih tangan nya dan menariknya hingga mereka terguling di atas ranjang.


"Arkan! Apa yang Lo lakuin. Lepasin gue!" Teriak Kaila meronta ronta. Dia sangat kesal dengan sikap pria ini.


Bukan nya melepaskan,Arkan malah memeluk Kaila dengan sangat erat.


"Jika Lo gak mau mandi, maka gue tidak akan melepaskan Lo. Bahkan gue bisa melakukan sesuatu yang lebih!" Ancam Arkan.


Deg.


Jantung Kaila berdegup dengan sangat cepat. Kejadian tadi malam kembali berputar di benaknya.


Tidak! Kaila menggeleng cepat, dia tidak mau Arkan menodai bibirnya lagi. Apalagi hal yang lebih????


"Gak!!!" Dengan kuat Kaila mendorong dada Arkan, sehingga membuat dirinya terlepas dari cengkraman Arkan.


Kaila berlari cepat masuk ke dalam kamar mandi, dan menguncinya dari dalam.


Fyuu ..


Kaila membuang nafas lega, Arkan tidak akan bisa menodainya lagi.


Sedangkan di dalam kamar Kaila, Arkan tertawa terpingkal-pingkal mengingat ekspresi lucu Kaila. Tunangan nya terlihat manis ketika dia ketakutan seperti tadi.


"Kamu memang lucu Aila, masih terlihat seperti gadis ku di masa lalu" gumam nya seraya bangkit.


"Waktu Lo hanya 5 menit! Jika Lo gak turun setelah 5 menit. Gue akan buat Lo hamil 5 anak!"teriak Arkan mengancam, kemudian dia berlalu turun ke bawah.


Kaila yang mendengar ucapan Arkan melebarkan matanya, mengingat dia akan hamil 5 anak??


"Tidak!!!!!!!" Teriak Kaila frustasi, dia langsung mandi dan bersiap ke sekolah dengan sangat cepat.


Arkan turun ke bawah, bergabung dengan Fahmi, Tari dan kedua kakak Kaila yang nantinya juga akan menjadi kakak nya.


Pagi ini, Arkan sengaja datang ke rumah Kaila. Mengajak gadis itu berangkat ke sekolah bersama sama. Arkan tahu Kaila akan terlambat bangun, karena itulah dia berniat membangunkan kekasihnya itu.


"Eh Arkan, bagaimana apa Kaila sudah bangun?"tanya Viona antusias.


Arkan mengangguk, dia duduk di samping Ferdian yang sejak tadi hanya diam saja. Biasanya, dia akan sangat berisik berhadapan dengan Arkan.


Namun, sejak rencana perjodohan sang adik dan Arkan di lakukan. Ferdian jadi dingin pada Arkan.


"Ini nak, sarapan lah" suruh tari, dia menyodorkan pada Arkan sepiring nasi goreng.


Suasana di meja makan terasa canggung, namun Viona berusaha membuat suasana kembali hidup.


"Aku di siram pake air bunda, dia memaksa ku untuk mandi dalam waktu 5 menit!" jawab Kaila.


Semua orang terkejut, Viona menoleh ke belakang untuk melihat adiknya. Sedangkan Ferdian, dia menganga mendengar penuturan Arkan.


"Bagaimana bisa, dia memaksa Kaila? Bukan nya dia tidak suka di paksa?" Pikir Ferdian terkejut.


"Wahh...Hebat, kamu bisa memaksa seorang Kaila" sorak Viona bertepuk tangan.


Arkan tercengir, dia terlihat berbeda di hadapan keluarga Kaila. Lebih manis dan hangat, berbeda ketika di hadapan Kaila saja. Dia akan terlihat seperti harimau mencari mangsa. Setidaknya, seperti itu yang Kaila pikirkan.


"Hebat apa nya, dia itu pemaksa. Harusnya dia di laporkan ke polisi." Cerca Kaila.


"Sudah sudah, ayo sarapan dulu. Sebentar lagi kalian harus berangkat ke sekolah " suruh Tari.


Fahmi mengulum senyum, ternyata pilihan dan keputusan nya tidak salah. Arkan memang orang yang tepat untuk putrinya.


Setelah sarapan bersama, Kaila bergegas berangkat ke sekolah. Dia mengabaikan Arkan yang masih duduk di sebelah Ferdian.


"Eh mau kemana?" Teriak Viona.


Kaila tidak peduli, dia terus berjalan cepat keluar. Sedangkan Arkan, dia langsung berpamitan dan menyusul Kaila.


"Pergi dulu om, Tante, kak Vi, ka fer"


"Hei Kalian tunggu!!!" Teriak Arkan berlari.


Brak!


Kaila menutup pintu mobilnya dan langsung menguncinya.


"Huh...huh.." nafas Arkan tersengal,baru selesai makan langsung berlari.


Arkan mendekati mobil Kaila, berdiri menatap gadis yang kini juga menatap dirinya. Lalu, Arkan berjalan ke pintu kemudi.


"Lah! Kok gak bisa di buka??" Gumamnya terkejut. Dia menatap Kaila dan mengendor pintu.


"Buka pintu nya. Kaila!!" Titah Arkan tegas. Dia meronggoh saku celana abu abu nya,mencari kunci mobil yang tadi dia simpan di situ.


"Lah kok gak ada?" Pikir Arkan heran, tadi di menyimpan nya di dalam saku, dia yakin itu. Tapi, kenapa sekarang tidak ada.


"Oh astaga..." Arkan menatap Kaila yang saat ini menunjukkan kunci mobil ada di tangan nya.


"Bukakaila!!!!"


"Buka!!!" Desak Arkan semakin terbakar emosi.


Kaila tidak bergeming, tanpa ekspresi dia tetap duduk di dalam mobil sambil bersidekap dada.


Arkan melirik arloji nya, waktu semakin singkat. Jika dia dan Kaila tidak segera berangkat. Maka mereka akan terlambat.


"Cepat Kaila! Buka pintu nya!"


"Kaila! Sebentar lagi kita akan terlambat. Ayo buka pintu nya!" Titah Arkan menggeram menahan amarah.


"Sayangnya, itu adalah rencana gue" Kaila tertawa dalam hati.


Tersisa 5 menit lagi, mereka akan di pastikan terlambat. Arkan terus berusaha, namun Kaila tetap tidak mau membukanya.


Sementara itu, Mia dan Jia tampak gelisah menunggu kedatangan Kaila. Bel sebentar lagi akan berbunyi, namun tanda tanda Kai akan datang masih belum terlihat.


"Kai mana sih!" gumam Jia.


"Gak tahu, kayanya dia gak masuk deh!" Jawab Mia.


Kedua nya menghela nafas berat, kemudian melangkah menuju ke kelas mereka.


Kringgg!!!!!!!


Bel masuk telah berbunyi, seluruh siswa siswi langsung berhamburan menuju ke kelas masing-masing. Begitu juga dengan Jia dan Mia. Mereka tidak mau berurusan dengan anggota OSIS. Apalagi dengan Dea dan Kasi. Kedua wanita yang mereka juluki wanita iblis.


"Udah lah, mungkin dia gak masuk. " Ucap Mia menarik tangan Jia pergi ke kelas.