Arkaila

Arkaila
Kembali Pulang



"Sudah sampai non"


Kai tersenyum, dia memberikan 3 lembar uang tukaran 50 ribu pada supir taxi.


"Kembalian nya ambil saja pak" ucap Kai sebelum supir taxi bergerak untuk memberikan uang kembalian kepadanya.


"Makasih banyak yah non, sekali lagi makasih"


"Iya pak sama sama"


Kai keluar, dia menatap rumah besar milik keluarga nya. Sudah sangat lama dia tidak kembali. Sudah sangat lama dia tidak menginjakkan kaki di rumah ini lagi.


"Ini Non, koper nya"


Kai tersenyum ramah, dia menerima koper nya. Kemudian melangkah masuk sembari menarik koper besar milik nya.


Saat di depan pintu pagar nya, Kai mendorong pelan tanpa memanggil satpam.


"Loh, siapa yang buka pintu?" kaget Parto, sebagai satpam di rumah keluarga Kai.


"Pak"sapa Kai tersenyum ramah. Dia tahu, tatapan mata Parto adalah tatapan kebingungan.


"Maaf, cari siapa yah non?"


Tuh kan, benar. Parto bingung. Dia tidak mengenali nona muda nya sendiri.


"Sudah lupa yah pak, Kaila "


"Non Kaila? nona muda Kaila?" tanya pak Parto memastikan.


"Iya pak"


"Oh astaga, maaf non. Pak Parto lupa. Soal nya non Kai sudah jauh berubah"


Parto langsung membantu membawa koper Kai. Dia menarik nya masuk ke dalam.


"Mari saya bantu non"


"Iya pak"


Kai pun langsung melangkah menuju ke rumah nya, dengan pak Parto mengikutinya dari belakang.


Kai tersenyum melihat kondisi rumah yang masih sama seperti dulu ketika dia tinggalkan.


Dengan bersemangat, pak Parto membukakan pintu rumah. Dia tahu, pasti majikan nya akan sangat senang melihat putri mereka pulang.


"Nyonya!!! Tuan!!! nyonya!!!!" teriak pak Parto.


"Aduhhh Kenapa sih, kok ribut ribut pak"


Viona keluar dari kamar, di menuruni anak tangga yang langsung menghadap keruang tengah.


"Kai?"


"Ini beneran Kai?" gumam nya mengucek ngucek matanya, Viona berpikir jika ini adalah mimpi atau salah pandangan mata nya.


"Beneran Kai???" teriak Viona girang, dia langsung menuruni anak tangga dengan cepat.


"Ayah!!!, Bunda!!! Kai kembali!! Bunda!!! Ayah!!!!"


Fahmi dan Tari bergegas keluar dari kamar, begitu juga dengan Ferdian yang baru bangun tidur.


"Kai?"


"Kai??"


Mereka berdiri di depan Kami, menatap Kai dengan tatapan tidak percaya.


"Putri bunda, akhirnya kamu kembali sayang"


Kai tersenyum, dia memeluk bunda nya dengan sangat erat.


"Ayah" Kai beralih memeluk ayah nya. Kemudian memeluk Viona dan Ferdian.


"Gue senang, Lo kembali dek" ujar Viona.


"Hmm" balas Kai.


Hari itu menjadi hari yang paling bahagia di rumah keluarga Kai. Mereka duduk bersama di ruangan keluarga melepas rindu, menceritakan semua yang terjadi semenjak Kai tidak ada.


Apalagi, mereka hanya berkumpul ketika liburan di rumah nenek saja. Tara mengeluarkan seluruh kelu kesah nya. Hatinya kesepian semenjak putri bungsu nya tidak ada.


"Bunda senang, kamu kembali nak"


Kai tidak menjawab, dia hanya diam dan menunduk. Sejujur nya Kai belum bisa memutuskan untuk tinggal di sini lagi, atau kembali ke rumah nenek nya.


"Ayah tidak akan melepaskan kamu lagi Kai, kamu harus sekolah dan tinggal bersama ayah dan Bunda. Kamu sudah dewasa, jangan ke kanakan lagi. Nanti, kamu menikah, dan kamu di bawa oleh Sumi kamu. Kita berpisah lagi. Jadi, sebelum semua itu terjadi, ayah mau kita semua berkumpul " ujar Fahmi panjang lebar.


"Terlalu berpikirnya" sela Ferdian.


Bruk.


Fahmi langsung menghadiahkan bantal sofa ke wajah Ferdian.


"Sudah sudah, jangan ribut. Kai pasti capek, ayo Viona ajak adik kamu beristirahat ke kamar nya"


"Baik ma" sahut Viona dengan senang hati.


"Kamu, bawa koper adik kmu ke atas. " Titah Tari.


"Yah, kan berat ma" Kelu Ferdian hendak menolak. Namun, Fahmi malah mengompori istrinya.


"Eleh alesan doang Bun, masa anak cowo gak bisa ngangkat itu di tangga"


"Yaudah ayah lah" ketus Ferdian.


"Eh, ayah kan sudah tua. Kamu ini yah, cepat angkat!" tegas Tari tak terbantahkan.


"Iya iya Bun"pasrah Ferdian. Dia melirik ayah nya tajam, apalagi ayah nya tengah mengejek nya.


"Awas saja nanti, aku akan balas"


Kai masuk ke dalam kamar nya, dia tersenyum senang. Ternyata kamar nya masih sama, tidak ada yang berubah.


Viona memegang bahu adik nya, menuntun Kai duduk di tepi ranjang.


"Kamar ini sengaja kakak rawat sama seperti saat kamu pergi dulu. Kakak tidak mau merasa kamu pergi, berharap kamu akan segera kembali"


Viona menggenggam tangan Kai yang terletak di atas paha. Tersenyum dan menatap Kai dalam.


"Sekarang, Lo sudah dewasa dek. Lo gak boleh kalah sama masa lalu Lo, entah apa itu masalah Lo dengan Nya. Tetap saja, lo tidak boleh lari, Lo harus menghadapinya, dan buktikan pada dunia, kalau Lo itu kuat, tidak bisa di jatuhkan begitu saja"


Kai tersenyum, ucapan kakak nya memang benar. Dia tidak akan tenggelam dalam masa lalu.


"Terimakasih yah kak, maaf selama ini Kai tidak mau mendengar ucapan kakak" lirih Kai.


Vio tersenyum, dia merengkuh tubuh adiknya masuk ke dalam pelukan nya.


"Eh gue ikut" teria Ferdian menjatuhkan koper Kai begitu saja. Kemudian, berhamburan memeluk kakak dan adik nya.


Sudah lama moment ini tidak terjadi, Fahmi dan Tari saling memeluk melihat kebersamaan anak anak mereka.


Kai tersenyum, dia mulai sadar. Keputusan pergi dari rumah. Adalah keputusan yang salah.


Terimakasih tuhan, engkau masih memberiku kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga ku lagi. Menunjukkan kesalahan ku selama ini. Maaf, aku baru sadar.


...----------------...


Malam hari, Kai merasa sangat gerah. AC sudah di hidupkan dan di rendahkan suhunya. Tapi, masih terasa panas.


Akhirnya, Kai pun memutuskan untuk berkeliling komplek. Jam masih menunjukkan pukul 7 malam.


"Seperti nya berjalan jalan di taman kota enak" gumam Kai.


Dia pun bergegas keluar dari kamar. Kemudian mengambil kunci mobil kakak nya.


"Mau ke mana?" tanya Ferdian.


"Mau cari angin, bentar doang" jawab Kai.


"Hati hati, bawa ponsel yah" seru Ferdian memperingatkan adik nya.


Ponsel adalah benda pipih yang sangat penting. Apabila terjadi sesuatu di jalan, kita akan sangat mudah untuk meminta bantuan. Karena itulah Ferdian selalu memperingatkan bunda, ayah , Viona atau siapapun untuk selalu membawa ponsel.


"Iya iya, Gue udah bawa kok" balas Kai.


Kai berjalan santai menuju ke garasi, dia mengendarai mobil sport Ferdian.


Suasana malam di kota memang berbeda dengan di desa.


Dari segi pemandangan, dan suasana hiruk pikuk kebisingan jalanan. Tentu sangat berbeda, lihat lah saat ini. Jalanan kota sangat ramai dan lumayan padat.


"Berbeda sekali" gumam nya.


Kai melajukan mobil menuju ke taman kota. Dia kangen dengan jajanan kaki lima.