Arkaila

Arkaila
Di tolak!



"Anak anak, hari ini kita masuk ke perpustakaan. Kumpulkan referensi sebanyak banyak nya yang berkaitan dengan judul makala kalian"


"Baik Bu" jawab semua murid serempak. Bu Riani tersenyum puas, anak didik nya benar benar membuat nya bangga.


"Sekarang, siapkan semua peralatan kalian. Segeralah ke perpustakaan. Ibu sudah meminta ijin dan memberitahu pihak perpustakaan" ucap Bu Riani lagi. Setelah itu, Bu guru pun ikut membereskan buku dan juga tas nya dari atas meja. Kemudian, ia pergi ke kantor.


Untuk pengawasan anak murid, sudah Bu Riani serahkan pada pengawas perpustakaan.


"Ayo Kai, kita segera ke perpustakaan. Sebelum anak anak mengambil semua referensi kita" ujar Jia mendesak.


"Yaelah Jia, kaya gak tahu kelas kita aja. Kita bisa berlaku adil, demi semua tugas selesai, kita akan bekerja sama" decak Mia menyela ucapan Jia.


Sedangkan Kaila, dia terlihat biasa saja. Kelewat santai malah.


Mereka bertiga berjalan santai menuju ke perpustakaan. Mencari referensi sesuai yang telah Bu Riani perintahkan.


Perpustakaan terlihat ramai di isi oleh anak anak IPA 2, namun suasana nya terasa tenang dan damai. Hanya terdengar suara langkah kaki dan suara lembaran buku di bolak balik.


"Wah berbeda sekali yah, kalau anak IPA 1 yang masuk dengan kelas lain" gumam salah satu pengawas di perpustakaan.


"Memang benar, mereka adalah anak paling teladan dan kompak di sekolah ini" sahut teman nya. Mereka merasa tugas mereka tidak terlalu berat mengawasi anak anak ini.


"Mari kita kerjakan tugas yang lain" ujar penjaga itu.


"Hmm." Balas teman nya penuh semangat.


Kaila melihat lihat deretan buku yang tersusunrl rapih di rak khusus buku buku yang berkaitan dengan jurusan IPA. Baik kelas dari 1, 2, dan 3.


Dia baru mendapatkan 3 buku , butuh 3 buku lagi agar referensi nya lebih kuat.


"Hemm...Kurang lengkap" Kelu nya karena tidak menemukan buku yang dia inginkan.


"Nih, 3 buku ini cocok dengan judul makalah Lo" ujar seseorang seraya mengulurkan 3 buah buku.


Kai menatap buku itu, benar itu buku yang dia cari. Tapi, mengapa ketua kelas mengambil nya?.


"Sorry, gue gak bermaksud lain. Tadi, gue mendapatkan nya di rak belakang"jelas ketua kelas.


"Benar Kaila, tadi dia juga membantu gue" sahut salah satu siswi yang juga di bantu oleh ketua kelas.


"Terimakasih " lirih Kai, dia menerima buku itu.


"Sama sama. Jika Lo butuh bantuan gue. Jangan sungkan, kita satu kelas, dan harus saling membantu" tutur nya lagi.


Kaila menatap punggung ketua kelas yang sudah berbalik meninggalkan nya.


Tanpa ambil pusing, Kaila beranjak bergabung dengan Jia dan Mia. Mereka sudah sejak tadi mendapatkan referensi nya.


"Udah ketemu?"tanya Jia .


"Sudah" jawab Kai singkat. Dia duduk di samping Mia dan di depan Jia. Mereka tampak serius dalam menyelesaikan tugas.


Sementara itu, di ruangan OSIS. Arkan dan rekan rekan nya sedang membicarakan soal turnamen yang akan di laksanakan 3 hari lagi.


"Kita hanya ada 3 hari waktu untuk menerima pendaftaran peserta lomba. Selebihnya kita tidak akan menerima nya"


"Bima, urus semua yang telah mendaftar. Laporkan pada Dea"


"Baik" jawab Bima.


"Untuk Dea dan Kasi. Pastika semuanya aman terkendali. Setiap ada kendala dan perubahan sekecil apapun itu, langsung lapor ke gue!" tegas Arkan.


"Tentu!"


"Tentu"


Dea dan Kasi saling membalas tatapan, mereka sangat senang jika di butuhkan seperti ini oleh Arkan.


Terutama Dea, dia yang paling senang jika Arkan membutuhkan nya.


"Mulai hari ini, kita harus bekerja keras, melancarkan program ini. Jangan sampai, di periode ini kita gagal dan membuat malu sekolah!" tegas Arkan.


"Tentu saja, kita akan membuat acara ini menjadi jauh lebih baik dari sebelum nya" sela Bima.


"Setuju" sahut yang lain.


Arkan tersenyum tipis, dia senang anggotanya bisa bekerjasama.


"Baiklah, rapat kita sudahi sampai di sini. Dan nanti akan di lanjutkan lagi setelah pulang sekolah!" tutup Arkan.


Mereka semua langsung bergegas keluar dari ruangan. Yang tersisa hanya Arkan, Bima dan Dea.


"Arkan, sebaiknya kita pergi ke kantin" usul Dea.


Arkan dan Bima menoleh, kemudian saling membalas pandang.


"tidak Lo pergi aja sendiri" tolak Arkan. pria itu beranjak pergi kemudian diikuti oleh Bima dari belakang.


"iiiihh... Kenapa sih Arkan selalu menolak gue. Apa yang kurang dari gue!!" kesal Dea menatap kepergian Arkan.


Segala cara sudah di lakukan, tapi Arkan tetap tidak pernah melirik kearahnya.


Jika bukan karena urusan OSIS, maka Arkan tidak akan pernah berbicara dengan nya.


Dea merasa sangat iri pada Kaila, baru pindah di sekolah ini saja. Arkan sudah menyelamatkan nya. Menarik tangan nya, bahkan meminta maaf untuk nya.


"lihat saja nanti, jika gue tidak bisa memiliki Lo. Maka, tidak akan ada yang bisa memiliki Lo!" Dea tersenyum licik, kemudian berlalu meninggalkan ruangan OSIS.


Sebelum keluar, Dea tidak lupa mengunci ruangan itu terlebih dahulu.


...----------------...


"Lo udah siap Kai?" tanya Mia. Jia juga menoleh pada Kaila.


"Belum" jawab nya tanpa menoleh. Kaila masih fokus dengan buku buku nya.


"Emang Lo udah?" sahut Jia menanyai Mia.


"Belum" jawab nya tercengir. Sedangkan Jia malah mencebik bibir.


Waktu menjelang istirahat tinggal 25 menit lagi. Sisa waktu mereka tidak banyak, mereka harus menyelesaikan tugas mereka dalam rentang waktu itu.


Peraturan di perpustakaan ini, tidak boleh membawa buku keluar. Jika ingin membaca, yah di dalam saja.


Masuk ke perpus juga harus atas ijin guru yang bersangkutan. Contoh seperti kelas Kaila sekarang.


Dan jika seandainya jam kelas kosong, anak murid boleh masuk ke perpus, dengan catatan guru yang mengajar mereka harus memberi ijin kepada pihak pengawas.


"Sudah siap!" ucap kedua gadis itu secara bersamaan. Kemudian,mereka menatap Kaila.


"Kai, gimana?" tanya Jia.


Kaila menutup bukunya, itu berarti dia juga sudah selesai.


"Gue juga" jawab nya.


Jia dan Mia tersenyum lebar, mereka memang sahabat yang sejati dan sejiwa. Lihat lah, menyelesaikan tugas saja kompak.


"5 menit lagi kita istirahat" ujar Mia memperhatikan jam tangan nya.


"Aduhh gue udah gak sabar pengen makan, bakso" ringis Jia menahan rasa lapar.


"Apaan sih, kaya anak kecil aja" ledek Mia.


"Gue antar buku dulu" ucap Kai seraya beranjak dari kursinya menuju ke rak buku.


Jia dan Mia pun ikut menyusul, mereka juga ingin mengembalikan buku yang telah mereka ambil.