
Pagi yang indah, ini adalah hari pertama bagi Kai masuk ke sekolah baru nya. Kemarin ayah nya sudah mengurus kepindahan nya ke salah satu SMA ternama di kota ini.
Setelah bersiap, Kai turun ke bawah. bergabung dengan keluarga nya yang sudah duduk di meja makan.
"Pagi yah, Bun, Kak"
Kai duduk di samping bunda nya,di depan Viona.
"Pagi juga sayang, ayo makan lah sarapan ini" titah Tari sembari mengambilkan nasi goreng untuk suami nya. Kemudian, tari mengambilkan untuk anak anak nya.
"Gimana sayang, kamu sudah siap untuk masuk ke sekolah baru mu?"tanya Fahmi menatap putri kesayangannya.
"Tentu ayah, aku sudah siap dan sangat siap. Seperti yang ayah dan bunda, kakak juga katakan. Aku tidak akan kalah dengan masa lalu ku. aku bukanlah Arkaila yang dulu lagi. " Ucap Kaila mantap.
Ferdian dan Viona tercengang, kedua mata mereka tak berkedip mendengar penuturan Kaila.
"Waw, inilah adik Viona. Lihat ayah, apa aku bilang. Adik ku tidak akan melakukan hal bodoh selamanya" ujar Viona bertepuk tangan. Dia sangat bangga pada adiknya.
"Kaila ku sayang" tambah nya berusaha menepuk tangan Kai yang duduk di depan nya.
"Dia juga adik ku" sahut Ferdian tidak mau kalah.
Tari dan Ferdian tersenyum, "Sudah, ayo makan cepat, nanti kalian bisa terlambat" suruh Tari pada anak anak nya.
Setelah sarapan bersama, Kai di antar oleh Viona ke sekolah baru nya. Harusnya Fahmi yang akan mengantar Kaila. Tapi, karena ada sedikit kendala di kantor. Meeting nya di majukan. Fahmi jadi tidak bisa mengantar putrinya.
"Maafkan ayah nak, ayah tidak bisa mengantar mu ke sekolah. Kakak mu saja yah" tutur Fahmi sedikit merasa bersalah.
Kai tersenyum menggeleng, dia merasa tidak apa apa jika kakak nya yang mengantar nya. Dia bukan anak kecil lagi, siapapun yang mengantar nya itu sama saja bagi nya.
"Tidak apa apa ayah, ini bukan lah masalah besar" balas Kai.
Viona melirik arloji di pergelangan tangan nya, jam masuk hampir tiba.
"Ayo Kai kita berangkat. Nanti kamu bisa terlambat" ajak Viona.
"Baiklah" Kai berpamitan pada ayah dan bunda nya, kemudian dengan kakak laki-laki nya.
"Aku berangkat dulu semuanya"
"Iya sayang, hati hati yah. Belajar lah dengan baik"pesan Tari.
"Ya Bun"
Viona juga melakukan hal yang sama, berpamitan dengan semua anggota keluarga. Terakhir, dia menoyor kepala Ferdian sebagai salam pamit dari nya.
"Dasar kakak gak jelas"dengus Ferdian kesal, makan nya jadi terganggu oleh kakak nya. Sedangkan Viona, malah kabur bersama Kai menuju ke garasi.
Fahmi dan Tari hanya tertawa kecil melihat tingkah anak anak nya.
Viona mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang, dia tidak terlalu terburu buru. Ini adalah hari pertama adik nya masuk sekolah. Pasti tidak akan kena hukuman jika dia terlambat.
Jarak sekolah ke rumah Kai hanya membutuhkan waktu 20 menit, namun karena pagi jalanan lumayan padat, perjalanan mereka jadi menghabiskan waktu selama 30 menit.
Sekolah Kai hampir sampai, tiba-tiba ponsel Viona berdering. Dia melihatnya dan ternyata itu panggilan dari sahabat nya.
Dengan segera, Viona langsung menerima panggilan itu.
"Halo"
"...."
"Apa, Lo udah balik?"
"...."
"Oke oke, gue ke sana sekarang"
"..."
"Bye"
Klik.
Kai melirik kakak nya, bertanya dengan sorot matanya siapa yang menghubungi kakak nya itu.
"Dek, maaf yah. Kakak gak bisa antar ke dalam. Temen kakak baru balik. Dan kakak harus segera ke sana sebelum kakak masuk nanti. Kalau tidak segera, kakka pasti tidak akan bertemu dengan nya" jelas Viona dengan ekspresi memelas.
"Huh,sejak awal gue udah tahu begini akhirnya" dengus Kai menghempaskan punggung nya di jok mobil Viona.
"Please dek" mohon nya lagi.
"Yaudah deh, turunin depan aja!" Putus Kai dengan nada ketus nya. Dia sudah tahu ini akan terjadi, sejak dulu kakak nya selalu seperti ini. Apalagi di desa, setiap kali kakak nya berkunjung. Pasti dia akan pergi dengan buru buru, di jemput pacar lah, janjian teman lah. Huh, Kai sudah bosen dengan semua ini.
Viona tersenyum tipis, dia merasa bersalah pada adiknya. Namun, dia tetap memberhentikan mobilnya di depan gerbang SMA Laykanara.
"Gue cabut dulu" pamit Kai pergi begitu saja. Dia tidak menoleh lagi ke belakang, kakak nya sudah membuat pagi nya tidak bagus.
Setelah melihat adik nya masuk ke gerbang, Viona langsung menancap gas mobilnya menuju ke tempat yang sudah ia janjikan dengan teman nya tadi.
Kai berjalan pelan, dia melirik ke kiri dan kanan. Memperhatikan setiap sudut sekolah yang tampak sepi.
"Mengapa sepi begini?" Gumam nya sambil melirik arloji nya. Memastikan jika dia tidak terlalu cepat datang.
"Sudah pukul 7.40. Harus nya sudah ramai" gumam Kai heran.
Dia terus melangkah menyusuri koridor sekolah, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah belakang nya.
"Berhenti!"
Kai berhenti di tempat nya, dia perlahan berbalik dengan wajah bingung.
Beberapa saat mata nya membola, melihat siapa yang berdiri di hadapan nya.
"Lo!"
"Lo!"
Kaget keduanya serempak, dengan ekspresi yang langsung berubah kesal. Kai mendekati pria yang dia temui di bandara waktu itu.
"Oh, jadi Lo sekolah di sini juga. Cih, nyesel gue menerima tawaran sekolah di sini oleh ayah" gumam Kai menggerutu sendiri.
Arkan menatap gadis yang tidak dia kenal di hadapan nya. Dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan nya. Entah kesialan apa, sehingga mereka kembali bertemu.
"Ikut gue!"titah Arkan menarik lengan Kai.
Tentu saja Kai menolak nya, dia menepis tangan Arkan dari lengan nya.
"Enak saja Lo narik narik tanga gue!"ketus nya.
"Arkan!" Panggil Bima, dia berlari menghampiri rekan nya.
Bima menatap Kai bingung, dia baru pertama kali bertemu dengan siswi cantik ini.
"Hei, Lo murid baru?" tebak Bima.
"Yah, gue baru masuk hari ini"jawab Kai singkat.
Bima tersenyum senang, murid pindahan yang kemarin guru nya bicarakan adalah Kai. Gadis cantik dan mempesona.
"Kenalin, gue Bima. Wakil ketua OSIS. Dan dia Arkan, ketua OSIS sekolah ini" ucap Bima memperkenalkan diri dan juga Arkan.
"Oh" balas Kai singkat.
"Wadaw, hanya oh aja Brother " bisik Bima merasa tertantang dengan sikap Kai.
"Cih, sombong sekali " decih Arkan.
"Lo terlambat, tetap akan menerima hukuman"putus Arkan tegas. Dia hendak menarik tangan Kai lagi, namun gadis itu kembali menepisnya.
"Lo gila apa. Mana gue tahu peraturan di sekolah ini. Gue baru pertamakali masuk sudah main hukum aja"
"Gue gak mau!" tolak Kai tegas.
"Telat ya telat!" Kekeuh Arkan.
"Ketua OSIS macam apa Lo ini, tidak ada toleransi dan menghukum semena mena seperti ini, dasar ketua osis tidak berguna!" Caci Kai.
Mendengar hal itu, Arkan menjadi geram. Dia hendak menarik tangan Kai lagi. Namun, cepat cepat Bima melerai mereka.
"Eh stop stop....Ini masih pagi, dan ini adalah hari pertemuan pertama kita. Jadi, sebaiknya kita berdamai damai saja yah" pinta nya.
"Ogah!"
"Ogah!"
Jawab keduanya serempak.
"Waduh, bakalan menarik ni" batin Bima.
Malas berlama lama berhadapan dengan dua pria menyebalkan. Kai pun memutuskan untuk pergi dari sana.
"Hei hei... Lo harus menerima hukuman!" Teriak Arkan hendak mengejar Kai, namun di tahan oleh Bima.
"Sudahlah Arkan. Dia kan masih baru. Biarkan dia tahu dulu peraturan nya. Ok"
Fyu.
Arkan mendengus kesal, kekesalannya kemarin belum terselesaikan. Karena itulah dia emosi melihat Kai tadi.