Arkaila

Arkaila
First Kiss



Arkan melangkah mengitari rumah Kaila, mencari keberadaan tunangannya.


Di tangan kanan, Arkan memegang nampan yang berisi makan malam untuk Kaila. Kata bunda tari, Kaila belum makan malam, dia menghilang ketika keluarga sedang makan bersama.


"Mencari siapa?"


Arkan terkejut oleh seruan suara Ferdian dari arah belakang nya.


"Cari Kaila!"jawab Arkan jujur, dia berbalik menghadap Ferdian.


"Dia tidak di luar!" Jawab Ferdian singkat.


Arkan pun mengangguk, dia hendak pergi mencari Kaila ke dalam rumah lagi.


Namun,Ferdian menahan lengan nya.


"Arkan, gue butuh bicara sama Lo!" Ucap Ferdian.


Arkan kembali ke posisinya, menatap Ferdian dengan tatapan datar. Arkan tahu, Ferdian kurang menyukai dirinya sejak kejadian, di mana Kaila melarikan diri.


"Katakan!"


Ferdian menatap Arkan lekat, berusaha menyusun kata kata yang pas untuk menekan pria yang umurnya 1 tahun di bawahnya.


"Lo tahu kan, gue tidak suka apabila Kaila menangis oleh orang lain?" ujar Ferdian. Sedangkan Arkan, dia hanya diam, mendengarkan semua yang Ferdian katakan.


"dan, gue akan menghancurkan siapapun yang berani membuat Kaila meneteskan air mata nya!" Imbuhnya.


"Gue tidak akan membuat nya menangis!"balas Arkan.


"Harus! Karena, jika Lo berani membuat Kaila menangis, maka gue akan membunuh Lo!"


Huh.


Ferdian pergi begitu saja setelah mengatakan ancaman itu. Dia tidak bisa mengontrol emosinya, jika terus berhadapan dengan calon adik iparnya.


Sedangkan Arkan, dia hanya bisa menarik nafas dalam, kemudian menghembuskan nya secara perlahan .


Di dalam kamar nya, Kaila duduk sendiri. Dia tidak bergabung dengan keluarga nya di bawah, dengan alasan mau istirahat.


Ceklek.


Kaila terkejut, mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Dia baru ingat, tadi lupa mengunci nya.


"Ngapain Lo ke sini?" Serga Kaila saat melihat Arkan memasuki kamar nya.


"Gue hanya ingin membawakan Lo makan malam!" Jawab Arkan seperlunya. Dia melangkah menghampiri Kaila, kemudian menyodorkan nampan yang berisi makanan.


"Makan!" Titah Arkan.


Namun, Kaila tidak akan mau menurut. Meskipun demia sedang lapar,namun dia tetap akan menahannya dan tidak akan memakan makanan yang Arkan bawakan untuk nya.


"Mending Lo keluar, dan bawa kembali makanan itu. Jika gue lapar, gue bisa ambil sendiri!" Usir Kaila.


Arkan tidak bergeming, dia malah meletakkan makanan itu ke atas pangkuan Kaila. Mau tidak mau, gadis itu tidak bisa menolaknya.


"Apaan sih!" Dengus Kaila hendak mengembalikan nampan ke tangan Arkan, namun dengan cepat Arkan beranjak menjauh dari Kaila.


"Makan, jika Lo gak menghabiskan makanan itu. jangan harap, gue bakalan keluar dari kamar Lo" ancam Arkan.


Blam!


Pintu kamar telah di tutup dan di kunci dari dalam oleh Arkan. Dia juga mengambil kuncinya dan menyimpannya di dalam saku baju nya.


"Lo gila apa, jangan pikir setelah bertunangan sama gue. Lo bisa seenaknya yah!"


"Oh sabar dulu baby, gue gak seenaknya. Gue hanya menjalankan tugas, sebagai tunangan Lo. Memastikan Lo makan teratur dan hidup bahagia!"jawab Arkan santai, dia bahkan tersenyum manis pada Kaila.


Tentu saja hal ini semakin membuat emosi Kaila semakin memuncak. Dia merasa Arkan semakin mempermainkan dirinya.


Kaila meletakkan nampan ke atas nakas samping ranjang empuknya, kemudian mendekati Arkan yang berdiri seper mandor di hadapan nya.


"Kembalikan kunci kamar gue!" Pinta Kaila menadahkan tangan di depan Arkan.


"Lo tuli yah!" Bentak Kaila karena tak kunjung mendapatkan kuncinya.


"Santai honey, Lo akan mendapatkan kunci kamar Lo, setelah makanan di nampan itu habis!" Jelas Arkan.


"Berikan gak!" Seru Kaila, dia berusaha meronggoh saku baju Arkan, namun pria itu terus mengelak dan berusaha menjauhi jangkauan tangan Kaila.


"Makan dulu!" Titah Arkan.


"Gak! Gue gak mau makan sebelum Lo serahkan kunci kamar gue, dan Lo cabut dari kamar gue!" Tolak Kaila. Dia terus berusaha mengambil kunci yang kini sudah berada di dalam genggaman tangan Arkan.


"Ok fine,cobalah ambil jika Lo mampu" seru Arkan. Dia mengangkat tangannya tinggi keatas, sehingga Kaila tidak bisa menjangkau nya.


"Ayo ambil" ejek Arkan, dia tertawa geli melihat Kaila kesusahan menggapai tangan nya.


"Pria bego, tidak tahu malu, berikan kunci kamar gue!" Teriak Kaila semakin geram. Dengan sisa kekuatannya, Kaila menarik tangan Arkan dan dengan sengaja menginjak kedua kaki pria itu.


Deg.


Jarak mereka sangat dekat, Kaila terdiam saat menyadari posisi mereka saat ini.


Perlahan, matanya turun ke bawah, sejajar dengan tatapan mata Arkan. Kira kira, jarak wajah mereka hanya 3 cm saja.


Kaila terkejut, dia berusaha untuk menghindar. Namun, Arkan tidak memberinya kesempatan.


"Eh" kaget Kaila, saat Arkan memeluk pinggang nya dan membuat tubuh mereka semakin menempel.


"Gue tidak menyangka, setelah 8 tahun tidak melihat wajah Lo dari dekat, ternyata Lo semakin terlihat cantik!" Puji Arkan.


"Lepasin gue, atau Lo akan menyesal!"seru Kaila dengan suara tertahan.


"Tahan sebentar, gue masih nyaman merasakan hembusan nafas hangat Lo!" Balas Arkan membuat Kaila kesal. Dia berusaha mendorong Arkan menjauh, namun kekuatan pria itu menahan dirinya terlalu kuat.


"Lepasin gue pria jahat!"


"Panggil gue honey, atau gak gue gak bakal lepasin"


"Mimpi aja Lo kelaut!" Balas Kaila mendengus kesal.


"Yaudah, kita akan seperti ini hingga esok pagi!" ujar Arkan enteng. Dia tetapan menatap wajah Kaila dengan kepuasan yang tak terhingga. Kapan lagi, dia bisa seperti ini.


"Arkan lepas!" Geram Kaila.


"Berjanjilah untuk makan di hadapan gue!"ucap Arkan kembali mengajukan syarat.


"Tidak!" Tolak Kaila masih dengan keras kepalanya.


Lama lama, melihat sikap keras kepala Kaila saat ini. membuat Arkan menjadi gemas. Apalagi bibir manyunnya, ketika cemberut kesal kepadanya. Itu sangat menggemaskan bagi Arkan.


Kaila terus berusaha melepaskan diri, dia menyesal berusaha merebut kunci itu. Dia jadi terjebak seperti ini dengan pria yang membuat emosinya seketika naik ke ubun ubun.


"Lepas Arkan!!!!!! Lepasin gue!!!" Kaila mulai kehilangan kesabaran nya. Dia mendorong dada Arkan kuat, namun dia tetap tidak bebas. Entah Arkan yang sangat kuat, atau diri nya yang memang terlalu lemah.


Cup.


Seketika tubuh Kaila membeku, mata nya membulat besar menatap wajah Arkan yang sangat dekat dengan wajahnya.


Bukan hanya itu, karena perlawanan Kaila, yang terus mendorong Arkan membuat bibir mereka menempel.


"Waw, kecupan manis di malam pertunangan" decak Arkan tersenyum menyeringai.


Meskipun itu sangat singkat, namunteras berkesan di hati Arkan.


Kaila mendorong kuat, dan akhirnya Arkan melepaskan dirinya. Dia masih berbunga bunga setelah mendapatkan kecupan dari Kaila.


"Dasar biadap, pria tidak ada akhlak" maki Kaila memukul mukul Arkan.


Hap.


Arkan menangkap kedua tangan Kaila yang memukulnya, dia menatap ke bibir Kaila. Membuat gadis itu mengatupkan bibirnya.


"Jangan berpikir yang macam macam!" Ketus Kaila, dia tidak mau Arkan kembali menciumnya.


"Baiklah, jika Lo gak mau gue mencium Lo lagi. Maka, Lo harus makan sekarang!"


Mau tidak mau, Kaila mengangguk cepat. Dia benar-benar tidak mau Arkan kembali menodai bibirnya.


"Bagus, jadilah istri yang patuh" kekeh Arkan. Dia tidak menyangka Kaila akan sangat lucu ketika dia gugup seperti ini.