
Setelah dari perpustakaan, Kaila buru buru pergi ke kelas. Dia terlihat panik dan cemas, seperti orang kehilangan sesuatu.
Jia dan Mia tampak bingung , mereka mengikuti Kaila hingga ke dalam kelas.
"Kai, Lo cari apa?" tanya Jia.
Kaila tidak menjawab, dia mencari ke semua sudut kelas. Di bawah meja, tempat guru. Semua sisi pokoknya sudah ia periksa. Namun, dia tetap tidak melihat benda itu.
"Kai, Lo cari apa sih. Dari tadi di tanyain juga" kesal Jia menarik tangan Kaila, membuat gadis itu terhenti dan menatap kedua teman nya.
"Lo cari apa?" Ucap Jia mengulang kembali pertanyaan nya.
"Kalung gue hilang" jawab Kai singkat, kemudian dia kembali melanjutkan aktivitas nya.
"Ha, kok bisa. Di mana?"tanya Mia terkejut.
Huhh..
Kai dan Jia mendengus,mendengar ucapan Mia.
"Yang namanya hilang, pasti tidak tahu tempatnya Mia. " Ujar Jia gemes, sedangkan Mia malah tercengir.
"Oh iya yah" cengirnya.
Kai memutar matanya melihat kelakuan teman nya. Dia kembali melanjutkan pencarian nya.
"OSIS, yah. Gue kan kemarin-" Kai langsung berbalik, dengan tergesa gesah keluar dari kelas.
"Eh mau kemana??" teriak Jia.
"Sebentar saja" sahut Kai sambil berlari kencang.
Kaila baru teringat kejadian dia dan Arkan di dalam ruangan OSIS. Pasti terjatuh di sana.
Saat di lorong kelas, Kai berselisih dengan Dea. Dia berusaha untuk mengabaikan gadis itu. Namun, yah namanya juga pemancing keributan.
Bruk!
"AW ."
Kaila tersungkur di lantai, Dea dengan sengaja menjulurkan kakinya agar Kai terjatuh.
"Upss.." Dea tersenyum miring, menatap Kai yang membalas tatapan nya dengan sorot mata tajam.
Lama kelamaan kesabaran Kai mulai habis, selama ini dia sudah diam dan mengikuti apa yang telah gadis ini lakukan padanya.
Kai bangkit, berdiri di hadapan Dea dengan menantang.
"Mau Lo apa sih, selalu saja membuat masalah sama gue!"tantang Kai.
"Cih mau gue?" Sahut Dea.
"Gue mau Lo jauhin Arkan! Dia itu milik gue!"tekan Dea serius.
Kai mengerut, di tidak habis pikir dengan pemikiran gadis ini.
"Lo gila yah! Mana pernah gue deketin tu cowo astral!"balas Kai.
"Gak usah munafik deh Lo! Gue tahu Lo sengaja membuat masalah agar Arkan simpati dan terus memperhatikan Lo . Iya kan. Dasar murahan Lo!" Maki Dea, membuat emosi Kaila terpancing.
"Jaga ya ucapan Lo!" Peringat Kai.
Bukan nya takut, Dea malah tersenyum miring. Dia tidak akan mau menyerah, dia ingin membuat Kaila di benci oleh semua orang.
"Gue tahu sekarang, karena terlalu menyedihkan nya Lo. Arkan sampai meminta maaf sama gue, dan itu atas nama Lo"
Kaila semakin terheran, emosi nya semakin meningkat.
"Jangan sembarangan Lo yah! " Bentak Kaila, dan Dea semakin merasa menang.
"Dasar cowo astral, kenapa dia harus meminta maaf. Kenapa dia membuat gue semakin terlihat bersala!" gerutu Kaila dalam hati.
Tanpa berkata kata lagi, Kai berlalu dari hadapan Dea. Dia harus bicara dengan Arkan. Apa maksud pria itu, mengapa dia melakukan semua ini.
"Bye bye" Dea melambaikan tangan nya, tersenyum senang. Dia berhasil membuat Kaila dan Arkan semakin bertengkar.
"Wah parah Lo, emang nenek lampir Lo!" Sambung Mia.
Dea menatap cuek keduanya, urusannya bukan bersama cunguk ini. Jadi, dia tidak perlu membuang buang tenanga meladeni mereka.
Di dalam ruangan OSIS, Arkan dan Bima tengah menyusun struktur keanggotaan panitia turnamen. Mereka tampak serius, tiba-tiba.
Brak!
"Arkan!" Panggil Kaila dengan suara lantang.
Kedua cowo itu terperanjat, mereka langsung berdiri dan menatap Kaila bingung.
"Ada apa ini, apa Lo udah kehilangan sopan santun mu!"dengus Arkan marah.
Kaila tidak langsung menjawab, dia melangkah masuk dan berdiri di hadapan Arkan.
"Yah! Gue sudah kehilangan sopan santun gue! Kenapa?"tantang Kaila.
Bima melongo, dia tidak menyangka Kaila sama sekali tidak takut pada Arkan.
Tak mau kalah, Arkan berdiri dengan tegap di hadapan Kaila. Mereka saling membalas tatapan tajam. Sedangkan Bima menghadap di antara kedua nya.
Seolah seperti wasit, Bima hanya menatap keduanya dalam diam, menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kenapa Lo meminta maaf kepada nenek lampir itu! Huh!"
"Siapa nenek lampir?" Sela Bima bertanya
"Dea!" Jawab Kaila tanpa menoleh pada Bima yang mengangguk.
"Lo bersalah, dan gue tahu itu. Lo gak akan mau meminta maaf padanya. Gue gak mau terus terusan ada masalah di sekolah ini. Gue capek mengurus Lo , Lo dan Lo terus !"jawab Arkan panjang lebar.
Hal itu tentu membuat Bima terkejut, Arkan menjawab dengan panjang lebar dan penuh emosi.
"Lo pemimpin macam apa ha, apa Lo gak bisa membedakan antara yang benar atau yang salah huh. Apa tidak bisa?" Tekan Kai.
"Gue melihat Lo yang mendorong nya, Kasi juga menjadi saksi. Terus apa gue gak percaya kalau Lo tidak bersalah huh?" Ucap Arkan dengan suara kerasnya.
"Lo bisa bertanya juga sama kedua teman gue!" Balas Kaila tak kalah kerasnya.
Keduanya saling membalas dengan suara kerasnya, beruntung tidak sampai memakai tangan untuk memukul.
"Kenapa gue harus bertanya sama mereka, gue tahu mereka adalah teman Lo, dan mereka pasti akan membela Lo!" Balas Arkan yang langsung membuat Kaila tertawa.
Dahi Arkan mengerut, mengapa gadis itu malah tertawa.
"Bravo, ketua OSIS,pimpinan organisasi yang ada di sekolah ini.lo benar benar hebat" ucap Kaila sambil bertepuk tepuk tangan.
"Jia dan Mia adalah teman gue, dan mereka pasti akan membela gue. Itu adalah hal yang pasti" ekspresi wajah Kaila berubah menjadi sinis seketika.
"Lalu, apa Dea dan Kasi tidak berteman? apa mereka musuhan, sehingga saling mendukung?"
Arkan terdiam, begitu juga dengan Bima yang mulai kebingungan.
"Wah, gue tidak menyangka ketua OSIS sebodoh ini." ejek Kaila.
"jaga ucapan Lo Kaila" peringat Bima. Dia tidak suka mendengar sahabat nya di jelekkan.
"Diam Lo!"bentak Kaila menatap Bima tajam.
"Ini tidak ada urusan nya sama Lo, jadi tolong diam!" ucap Kaila masih sopan memperingatkan Bima dengan kata kata tolong.
"Kasi tidak akan bohong, dia pasti mengatakan yang sebenarnya" jelas Arkan,namun suara nya mulai rendah.
"lalu, apa Lo pikir Jia dan Mia akan berbicara tidak benar.Apa begitu??"
Lagi dan lagi Arkan terdiam dengan ucapan Kaila, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada gadis ini.
"kenapa diam, apa Lo baru sadar? atau Lo masih menganggap jika anggota OSIS akan selalu berkata jujur, apa benar begitu?"
"jika ya,wahh bagus sekali Arkan,si ketua OSIS yang bijak sana, Lo pasti akan memajukan sekolah ini dengan kebiasaan Buruk itu"
perkataan Kaila benar benar menusuk ke dalam jiwa Arkan. Gadis yang selama ini dia cari, dia tunggu, dan kini mereka bertemu. Namun, kondisi dan situasi mereka telah berbeda.