Arkaila

Arkaila
Menyebalkan!



Hari pertama sekolah yang sangat menyebalkan. Bagaimana tidak, Kai baru saja masuk di sekolah itu. tapi, dia malah sudah masuk ruang BK.


Dan semua itu, tidak lain dan tidak bukan karena Arkan. Ketua OSIS yang sangat Kai benci. Sejak mereka pertama kali bertemu, hingga kini kebencian di dalam hati Kai semakin besar.


"Jadi Lo gak di hukum apa apa kan?" tanya ketua kelas.


Kai menggeleng, " guru BK memberi gue kompensasi karena baru masuk"


"Bagus lah" ujar ketua kelas lagi..


Kai semakin penasaran, dia bertanya pada Jia dan Mia setelah ketua kelas dan antek nya pergi.


"Sebenarnya ada apa? Mengapa dia terlihat tidak suka dengan Arkan?"


Mia menghela nafas berat, dia terpaksa menceritakan pada Kai agar Kai mengerti.


"Dulu, pernah terjadi. Perseteruan di sekolah ini. Soal ketua OSIS dan murid biasa. Penindasan terjadi, yang berkuasa dia lah yang menang."


"Seakan mendarah daging, perseteruan terus berlanjut. Yang nama anak IPA 2. Selalu kompak, dan akan bermusuhan dengan anak OSIS."


Kai tidak mengerti, namun dia memilih untuk tetap mendengarkan cerita Mia.


"Lo dan Arkan terlibat masalah dan masuk ruang BK. Kami takut, Lo di marahi dan Arkan di bela. Karena itulah ketua kelas nanyain Lo" sambung Jia.


"Jika gue di hukum, memang kalian bisa apa?" Tanya Kai penasaran.


"Tentunya kita akan menuntut mereka semua. Memperjelas mengapa Lo di hukum. Yang jelas kelas kita tidak akan tertindas" jawab Mia.


Kai mengangguk pelan, mencoba untuk mengerti apa yang menjadi pokok permasalahan. Sedikit aneh, tapi Kai merasa senang. Di sekolah ini dia bisa bertemu dengan Jia dan Mia. Teman sefrekuensi yang pernah ia dambakan.


Cerita Mia dan Jia berakhir, ketika guru masuk ke dalam kelas. Kemudian memulai pembelajaran.


Kai mengikuti pelajaran dengan baik, dia bisa mengimbangi pelajaran di sekolah ini. Kai akui, jika di sekolah ini materinya sedikit lebih di depan di bandingkan dengan sekolah lama nya.


"Huuaaa...." Kai merenggangkan tubuh nya. Pelajaran terakhir pun selesai. Dia merasa otak nya tercabik cabik.


"Yuk pulang" ajak Jia.


"yuk" sahut Mia.


Kai mengangguk, dia merapikan buku buku nya ke dalam tas, kemudian beranjak bersama teman teman nya keluar.


"Kai, Lo gak bawa mobil?"tanya Jia.


Kai menggeleng, dia belum di beri mobil oleh ayah nya. menurut mereka, Kai masih belum bisa mengemudi sebelum ada SIM.


"Yaudah, bareng gue aja" tawar Mia.


Lagi lagi Kai menggeleng.


"Maaf yah, mungkin lain kali. karena gue dah janji di jemput kakak gue" tolak Kai.


"Yaudah deh, kita duluan yah"pamit Mia.


"Hmm" balas Kai. Dia melambaikan tangan nya pada kedua teman yang telah menjadi sahabat nya hari ini juga.


Kai menatap kepergian kedua teman nya, kini hanya tersisa dirinya berdiri di depan gerbang sekolah. Menunggu kakak nya yang tak kunjung datang.


"Kemana sih kak Viona, kenapa lama banget" Kelu Kai melirik ke kiri dan kanan, berharap kakak nya segera datang.


Di depan Kai, terdapat genangan kecil air bekas hujan semalam. Dia tidak terlalu menghiraukan nya. Dia tetap sibuk melihat ke kiri dan ke kanan, kemudian menatap layar ponselnya yang dia gunakan untuk menghubungi kakak nya.


Brrmmm...Brmmm...


Byur..


Kai terkejut, genangan air muncrat mentmyiram seragam nya.


"Oh my God?" Gumam nya terkejut. Dia melihat kearah motor yang melaju jauh.


Brmm...


"huh, dasar tidak ada otak!!" Maki nya mencak mencak kesal. Tiba-tiba pengendara menghentikan motornya, kemudian menoleh ke belakang menatap Kai dari balik kaca helmnya.


"Woy, Lo gak pu-" ucapan Kai terhenti, setelah melihat siapa yang ada di balik helm itu.


"Sorry, gue gak lihat Lo berdiri di situ. Gue pikir patung" ucap Arkan tersenyum miring. Terlihat jelas jika dia sengaja melakukan nya.


"Sialan Lo, gue gak percaya Lo gak liat gue-" belum sempat selesai ucapan Kai, Arkan sudah kembali melajukan motor nya. Membuat Kai semakin naik pitam.


"Arrrggggg "


Tettt..


Viona turun dari mobil, dia terkejut melihat adiknya.


"Astaga Kai, kenapa kamu kotor begini?"


Kai memutar mata nya jengah, kemudian melenggang masuk ke dalam mobil.


"Gila, mobil gue!!" Pekik Viona histeris.


"Udah deh, gak usah lebay. Buru cabut, dah gatal gatal ni!" Seru Kai sebal.


Huhh..


Mau tidak mau, Viona terpaksa masuk dan melajukan mobil nya pulang.


"Nyuci mobil lagi deh gue" gerutunya.


Sesampai di rumah, Kai langsung masuk ke kamar nya. Mengabaikan Ferdian yang terheran melihat penampilan adik nya.


"Kenapa dia?" tanya Ferdian pada kakak nya.


"Gak tahu, lihat tuh. Mobil gue jadi kotor. Padahal baru kemarin gue cuci" Kelu Viona sedih.


Kai masuk ke dalam kamar nya, membuka seragam sekolah nya yang kotor. Kemudian dia langsung membersihkan tubuhnya.


"Awas aja Lo Arkan! Gue akan membuat perhitungan sama Lo!"


Arrgg!!


Kai menyiram tubuh nya dengan air shower, berusaha meredam emosi dengan dingin nya air.


Di sisi lain, dalam waktu yang bersamaan. Arkan tiba di rumah. Dia melihat kakak nya tengah duduk di sofa.


"Tumben masih di rumah, biasanya pergi nongkrong lu" ucap Arkan merebahkan tubuh nya di samping kakak nya.


"Baru balik gue, tadi ketemu sama Viona"


Deg.


"Viona??" Beo Arkan terkejut.


Jessica yang tadinya fokus ke layar ponsel nya, langsung menoleh menatap adik nya.


"Kenapa Lo terkejut begitu?"


Arkan tidak menjawab, dia menatap kakak nya serius.


"Viona Wilson?" tanya Arkan memastikan.


"Iyalah, sahabat gue yang dari kita masih kecil" jawab Jessica polos.


"Sejak kapan mereka ada di sini? Apa semua keluarga nya ada di sini?"


Kedua alis Jessica menyatu, pertanda dia tengah bingung.


"Arkan, sejak kapan keluarga mereka pindah?" Tanya Jessica heran.


"Huh?"


Arkan terdiam, dia memilih pergi ke kamar nya. Meninggalkan kakak nya yang masih bingung.


"Bukan nya gue yang pergi, kenapa dia bilang keluarga Viona yang pindah?" Jessica menatap kepergian adik nya.


Jessica menggeleng pelan, di kembali fokus pada layar ponsel.


Brak.


Arkan menutup pintu kamar nya,dia masih terheran.


" Jika mereka tidak pindah, lalu mengapa dulu orang lain yang keluar dari rumah itu." gumam Arkan.


Flashback on.


"Alcan, kamu?" seorang gadis menatap nanar pada anak laki-laki yang dia panggil alcan.


Anak laki-laki itu terkejut, dia melepaskan seorang gadis yang tengah bersama nya.


"kamu tega yah, aku benci kamu. Aku benci!!" teriak gadis itu. Dia berbalik pergi meninggalkan mereka berdua.


"Aila tunggu, Aila."


"Aila!!!"