
Jam istirahat pertama, Kaila baru saja selesai membersihkan taman belakang sekolah. Bagaimana tidak, dia seorang diri tapi, taman yang di bersihkan sangat luas.
"Huh..Dasar Pria brengsek" umpat Kai dengan nafas tersengal, tubuh nya basah oleh keringatnya sendiri.
Di saat siswa siswi berhamburan pergi ke kantin. Kai malah berjalan menuju ke kelas nya. Penampilan gadis itu terlihat kacau, namun dia tetap terlihat cantik.
"Kai?" gumam Jia menyambut kedatangan sahabat baru nya.
"Kita pikir Lo gak datang hari ini" ujar Mia.
"Huh, gue datang kok" balas Kai masih dengan nafas tersengal. Dia duduk di kursinya, kemudian merebahkan kepalanya di atas meja.
Jia dan Mia saling melirik, mereka bingung melihat kondisi Kai yang seperti orang kelelahan.
"Lo kenapa gitu sih, kaya orang abis kerja berat aja?" tanya Jia.
Kai tidak menjawab, dia lebih memilih memejamkan matanya dan mengatur nafas.
"Kai, Lo kenapa sih. Kok lesu gitu?" desak Mia penasaran.
Kai akhirnya menegakkan kepalanya, menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
"Gue tadi telat beberapa menit. Di hukum sama makhluk astral" jelas Kai.
"What? jadi Lo abis di hukum? ngapain ?" kaget Jia, Mia mengangguk setuju dia juga penasaran Arkan memberi hukuman apa pada Kai.
"Dia nyuruh gue bersihkan halaman belakang. Kalian tahu sama siapa?"
"Siapa?" tanya Jia penasaran.
"Sendirian, gue bersihin semua sampah di sana seorang diri. Gila gak tuh" dengus Kai.
"Gila, parah banget. Ketos kita memang super tega. Tapi,,, dia Ganteng guys.."
Mia memutarkan bola matanya, Jia mulai lagi. Menurut Mia, Jia telah terkena virus Arkan.
"Eh, ke kantin yuk!" ajak Mia menarik tangan Kai, agar Kai tidak bisa merebahkan kepalanya di atas meja lagi.
"Aduhh Mia, Jia. Gue tuh capek, malas banget melangkah. Lemes banget" Kelu Kai kembali merebahkan kepalanya di atas meja. Dia benar benar lelah, rasanya tidak sanggup untuk berdiri lagi.
"Terus gimana dong, gue lapar banget." gumam Jia memegangi perutnya.
"Sama, gue juga" sahut Mia.
"Kai, emang Lo gak laper?" tanya Jia.
Kai terdiam, sebenarnya dia juga lapar. Tapi, kaki nya terlalu lepas untuk melangkah.
"Kai...hmm" bujuk Jia dan Mia dengan ekspresi memelas nya.
"Yaudah deh, yuk"
"Yeay!!" Jia dan Mia bersorak, mereka senang Kai akhirnya mau ikut ke kantin.
Mereka bertiga pergi ke kantin, melepaskan dahaga lapar.
Seperti biasa, mereka bertiga selalu menjadi pusat perhatian. Baik bagi kaum wanita, maupun kaum pria.
Jika kaum pria menatap mereka dengan tatapan memuja, berbeda dengan kaum wanita. Mereka menatap sinis pada ketiganya, merasa ketiga gadis itu terlalu caper ke kakak kelas atau pun ke adik kelas. Intinya, mereka iri dengan apa yang Kai, Jia, dan Mia miliki.
"Dulu dia orang, kini sudah menjadi tiga orang " gumam salah seorang gadis yang berdiri di depan kelas nya menatap kepergian Kai dan kedua sahabatnya.
"Benar Ci, semakin songong deh mereka berdua" sahut Lala.
Mereka adalah Cia, Lala,dan Angle. Trio pembuat onar, namun pintar menutupinya. Sehingga semua masalah tidak terlihat mereka yang melakukan nya.
Lala dan Angle mengangguk setuju, mereka memang harus melakukan sesuatu uny membuat Kai dan kedua teman nya mendapatkan masalah.
Kai dan Jia duduk di meja paling dekat dengan pintu kantin. Karena mereka terlambat datang, makanya semua meja yang dekat dengan tempat memesan makanan sudah penuh.
"Lo duduk aja di sini Kai, biar gue yang pesankan makanan buat kita" ujar Mia.
"Boleh deh,gue juga lagi lemes banget" jawab Kai.
"Seperti biasa yah Mia"
"Ok Jia, Lo mau makan batagor lagi?" tanya Mia beralih menatap Kai.
"Gak usah deh, gue mau nasi goreng aja. Tadi gak sempat sarapan di rumah"
Mia mengangguk mengerti, dia bergegas ke ibu kantin, memesan makanan dan minuman.
Sementara itu, di atap sekolah. Arkan duduk sendirian menatap ke langit biru. Dia masih mengingat masa lalu yang tidak pernah hilang dari ingatan nya.
Maafkan aku Aila, aku tidak sengaja melukai hati dan kepercayaan mu. Meskipun kita waktu itu masih kecil. Tapi, aku sadar. Aku sayang kepadamu.
Arkan mengusap wajahnya kasar, bayangan gadis yang dulu pernah menghiasi harinya. Karena kesalahpahaman, gadis itu pergi dan tidak pernah kembali.
Ketika Arkan mendatangi rumah nya, orang asing malah keluar dan mengatakan rumah itu sudah di jual.
Arkan mencari kemana mana, dia bertanya kepada kedua orang tuanya. Namun,tidak ada yang mau menjawab nya.
Sering Arkan menguping pembicaraan kakak dan juga mama nya. Namun, mereka tidak ada yang membicarakan soal gadis nya. Apalagi kakak nya yang berteman dengan kakak Aila. Tapi, kakak nya malah bilang tidak lagi bertemu dengan teman nya itu.
"Arkan!" panggil seseorang dari belakang.
Arkan terkejut, dia menoleh ke belakang.
"Ada apa?" tanya Arkan setelah melihat Bima yang memanggilnya.
Bima menggeleng pelan, dia mendekati sahabat nya.
"Gue tahu, Lo ada masalah.Cepat katakan sama gue!" paksa Bima.
"Gak ada apa apa" elak Arkan. Namun, dia tidak bisa mengelak. Karena ini adalah Bima,pria yang selalu ada untuk Arkan.
Dia tahu, semua tentang Arkan. Bima dan Arkan sudah seperti gila dan kopi. Saling melengkapi dan saling membantu. Keduanya berteman sudah sejak SMP.
"Udahlah Ar, Lo gak bisa bohong sama Bima! Ini Bima, pria tahu segalanya tentang Arkan"
"Ayo cepat! katakan sama gue!" desak Bima.
Huff
Arkan menghela nafas berat, menatap Bima dengan tatapan sia sia. Menyembunyikan sesuatu dari Bima juga bukanlah hal yang bagus, karena pria ini pasti akan mengetahuinya.
"Kemarin kakak gue bilang, kak Viona masih di kota ini" jawab Arkan.
"Viona?" beo Bima, dia mencoba mengingat siapa Viona itu. Mata nya membesar saat dia mengingat siapa wanita itu.
"Kakak nya Aila Lo kan? jadi dia tidak pernah pindah?" tanya Bima terkejut.
Arkan menggeleng, " Kak Jesi kemarin bertemu dengan Kak Viona. Makanya gue jadi penasaran, apakah Aila Sangat membenci gue? sampai dia berbohong, dan mengatakan kalau dia pindah" ujar Arkan panjang lebar.
"Gue gak tahu sih Ar, tapi menurut kisah yang Lo pernah ceritakan. Mungkin dia terlalu sakit hati" tutur Bima. Dia mengusap punggung Arkan, agar lebih sabar lagi.
"Gue pengen banget ketemu sama dia. Bahkan gue sering ikut mama arisan. Tapi, gue gak pernah lihat bunda Tari. Mereka seakan hilang dalam hidup gue Bim. "
Arkan kembali mengungkapkan rasa sedihnya di hadapan Bima. Di balik sifat nya yang dingin, dan tatapan nya yang tajam. Inilah diri Arkan yang asli. Dia sangat rapuh dan penyayang. Sekali suka sama orang, maka dia akan sangat mencintainya.