Arkaila

Arkaila
Di tinggal



Rahang Arkan mengeras, setelah mendengar laporan dari Dea dan Kasi, bahwa Kaila telah bolos.


"Benar benar pembuat onar. Belum selesai masalah ini, dia sudah buat onar lagi" ucap Dea sengaja menjelekkan Kaila di depan Arkan.


"Benar, ini tidak bisa di biarkan. Bisa bisa anak anak yang lain bakalan ikut melakukan ini!" sambung Kasi.


"Huh, Kaila, Kaila. Sekali aja Lo gak bikin kepala gue pecah bisa gak sih" geram Arkan dalam hati. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Arkan! kok Lo diam aja sih, kenapa Lo gak tegaskan si anak pindahan itu!" desak Kasi.


"Lo gila, kaya gak tahu Arkan aja. Dia pasti akan menindak lanjuti kasus ini" seru Bima.


"Iya kan Ar?" Bima menyenggol bahu Arkan.


"Tentu saja, salah tetap salah! peraturan tetap peraturan!" seru Arkan.


Setelah itu, Arkan pun melangkah ke luar dari ruangan OSIS.


"Eh tunggu " teriak Bima ikut keluar menyusul Arkan.


Dea dan Kasi tersenyum menyeringai menatap kepergian Arkan dan Bima. Mereka senang sebentar lagi Kaila akan mendapatkan hukuman.


"Akan lebih bagus jika dia terlambat besok" ujar Kasi.


"Benar sekali" balas Dea.


Di kamar nya, Kaila membongkar lemari, tempat Make up, peralatan sekolah, semuanya nya telah dia bongkar.


Namun, tetap tidak di temukan.


"Di mana kalung gue?" gumam Kaila panik, dia menarik sprei dan bedcover ranjang nya. Namun, tetap saja tidak ada.


Kaila menyisir rambutnya dengan jari jarinya. Berusaha mengingat kemana terakhir kali dia memakai kalung nya.


Namun tetap saja, dia tidak bisa mengingatnya.


"Apa sih, kenapa gue gak bisa mengingat nya!" geram Kaila pada dirinya sendiri.


"Huh!"


Kaila pasrah, menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang telah berantakan.


"Bodo amat lah, toh gak berarti apa apa juga" lirih nya membohongi dirinya sendiri.


Kalung itu adalah pemberian dari Alcan, orang yang pernah membuat Kaila senang, dan orang yang juga membuatnya merasa marah, benci terkumpul menjadi satu.


Lama kelamaan tanpa sadar akhirnya Kaila tertidur pulas.


...----------------...


"Bagaimana, apa kita harus melakukan nya sekarang?" ujar Amora.


"Melakukan apa?" sela Viona penasaran.


Saat ini mereka sedang melakukan acara makan malam. Antara keluarga Fahmi dan keluarga Fiandi.


Namun, anak anak mereka yang hadir hanya Viona dan Jesica saja. Arkan, Kaila dan Ferdian tidak bisa menghadirinya.


"Perjodohan Kaila dan Arkan. Mama rasa ini waktu yang tepat untuk memberitahu mereka" jawab Amora tersenyum pada Tari.


"Apalagi mereka sudah bersama sejak kecil!" sahut Fiandi.


Viona dan Jessica saling pandang, mereka tahu jika keduanya tengah bermasalah. Meskipun mereka tidak tahu apa masalah intinya.


"Bun, aku rasa ini terlalu cepat" sela Viona.


"Tidak sayang, ini tidak terlalu cepat. Malahan ini terlalu lama." jawab Fahmi membantah.


"Tapi ayah, mereka masih sekolah. Kenapa harus kita jodohkan" balas Viona lagi.


Melihat perlawanan Viona, Jessica pun tak tinggal diam.


"Benar om, pa.ma dan Tante. Kita sama sama tahu, mereka itu sebelumnya bagaimana. Bahkan Kaila pergi karena Arkan!" jelas Jessica.


Semua orang langsung terdiam, ada benar nya juga ucapan kedua gadis cantik itu.


Namun, Fiandi dan Fahmi tetap kekeuh.


"Karena mereka berantem, makanya kita satukan. Sebelum ada orang lain yang membuat mereka nyaman." tutur Fahmi.


"Setuju" sambung Fiandi.


"Tidak Viona, kamu jangan menentang nya. Ini gak yang serius, mereka sudah dewasa dan bisa di persatuan. Bunda gak mau keluarga kita semakin jauh" ucap Tari.


"Tapi Tante, ini zaman modern. Biarkan kita semua menentukan jodoh kita sendiri " bantah Jessica.


"Ini sudah sebuah perjanjian Viona, Jessica. Kita tidak bisa mengelak. Sejak saat mengandung, kami sudah membuat sebuah perjanjian " jelas Amora.


Viona dan Jessica sudah tak bisa berbicara lagi, mereka berdua sudah kehabisan akal untuk membela adik adik mereka.


"Kalian tidak perlu ikut campur, ayah, bunda, dan Om Tante kalian tahu, mana yang terbaik untuk kalian!" tegas Fahmi.


Viona dan Jessica semakin terdiam, tekanan dari kedua orang tua mereka sangat kuat.


"Yasudah, kapan akan di pertemukan?" tanya Viona pasrah.


Maafkan kakak Kaila, kakka tidak bisa membantu Lo.


"Kita akan mengadakan acara makan malam di rumah Om dan Tante" jawab Amora.


"Dan waktunya secepat mungkin" sambung Tari.


"Hem...Mana yang baik saja" lirih Jesicca pasrah, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. apapun yang akan dia katakan hal itu tidak akan merubah apapun, jadi lebih baik mereka diam saja.


...----------------...


setelah bangun tidur, tepatnya pukul 08.00 malam. Kayla langsung membersihkan dirinya karena merasa tubuhnya lengket.


Kayla turun ke bawah, dia tidak melihat siapapun di rumah.


"ke mana mereka???" gumam Kayla bertanya-tanya.


Kayla pergi ke dapur, dan dia bertemu dengan asisten rumah tangganya.


"Eh non kok di rumah?" tanya bibi heran.


dahi Kayla menurut, dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh asisten rumah tangganya.


"maksud Bibi apa, memangnya Ayah dan Bunda ke mana Kak Fiona juga tidak terlihat" ucap ucap Kaila balik bertanya.


"bukannya Semua orang pergi makan di luar."


Kayla menggeleng, dia sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Kayla juga bertanya-tanya, Mengapa mereka tidak mengajaknya.


"non, apa Non tidak diajak?"


Kayla menggeleng, dia tidak tahu karena tadi dia tidur.


"Aku tidak tahu mungkin karena aku tidur makanya aku nggak diajak"jawab Kayla.


assassin rumah tangganya hanya mengganggu kemudian menghidangkan makan malam untuk Kayla.


"Ini non, makan lah.bibi tahu non pasti sangat lapar" tutur art nya.


Kayla mengganggu dia pun langsung meraih piring dan mengisinya dengan makanan yang telah dibuat oleh art-nya.


Kaila makan dengan lahap, jujur saja dia sangat lapar saat ini.


Setelah makan, Kaila hendak kembali ke kamar nya. Namun, saat itu kedua orang tuanya tiba di rumah.


"Sayang..." seru Tari dia langsung memeluk putrinya. Seolah sudah lama tidak


Kaila membiarkan bunda nya memeluk nya, meskipun terheran di dalam hatinya. Apa yang terjadi, dan mengapa bundanya bersikap seperti ini.


"Bunda" gumam Kaila dengan nada datar nya.


"Sayang mama udah gede," lirih Tari lagi, ini sungguh membuat nya heran dan bingung.


"Sudah sudah, ayo masuk ke kamar. Aku sudah lelah sekali" ajak Fahmi menarik tangan istri nya.


Viona memutar bola mata nya melihat sikap kedua orang tuanya. Sudah tua, tapi masih seperti anak kecil.


Setelah kepergian ayah dan bunda nya, Kaila pun melenggang ke kamar nya. Di iringi oleh Viona ya g juga ingin pergi ke kamar nya.


"Lo baru bangun?" tanya Viona.


"Yh" jawab Kai singkat.


"Kita pergi, dan sudah membangunkan Lo. Tapi Lo gak mau buka pintu" jelas Viona agar adiknya tidak salah paham.


"Santai, gue gak marah dan gue gak sekecil itu untuk merajuk karena di tinggal" ketus Kaila sebelum kakinya dan juga tangan nya membuka pintu.