
Malam yang di nanti telah tiba, Arkan dan kedua orang tua nya telah siap berangkat menuju ke rumah keluarga Wilson.
"Semoga semua nya baik baik saja" batin Arkan. Dia masuk ke dalam mobil, papa dan mama nya telah masuk lebih dulu.
"Ayo pa, ma" seru Arkan.
"Sudah siap?" tanya Fiandi.
"hmm" balas Arkan mengangguk. Amora tersenyum, mengusap pipi putranya.
Mungkin memang ini terlalu cepat, tapi ketakutan keluarga mereka terlalu besar. Janji di masa lalu harus di laksanakan sebelum mereka semakin dewasa dan menemukan cinta yang lain.
Mobil melaju cepat, melewati keremangan jalan. Menghalau keresahan hati yang sedang gelisah.
Strettt...
Mobil berhenti tepat di depan rumah besar milik keluarga Wilson.
"Ayo masuk" seru Fiandi seraya turun.
Amora mengangguk, mereka turun dari mobil dan membiarkan Arkan menyiapkan diri.
"Eh arkan-"
"Sudah, biarkan dia menyiapkan diri. Nanti dia pasti akan menyusul kita" ujar Fiandi. Dia menggandeng tangan istri nya masuk ke dalam rumah.
Kaila duduk santai di depan tv, dia sedang menikmati serial tv kesukaan nya.
Ting Tong..
"Kai, ada tamu. Tolong bukain pintu nya dong!!" teriak Viona dari arah dapur.
"Ya" sahut Kaila seraya beranjak menuju ke pintu utama.
Ceklek.
Pintu terbuka lebar,
Jleb.
"Ing-" ucapan Kaila mendadak terhenti, ketika dia melihat tamu yang datang. Tubuh nya mendadak terasa membeku.
"Kaila?" gumam Amora tersenyum senang, dia segera memeluk tubuh Kaila.
"Apa kabar kamu sayang, Tante kangen banget sama kamu" gumam Amora melepas rindu.
Kaila tidak bergeming, tatapan nya kosong. Hingga Amora mengurai pelukan mereka, lalu mengusap pipi Kaila.
"Kamu sudah dewasa sekarang, ya ampun..."
Tari muncul dari dalam, dia melihat ketegangan putrinya.
"Ehh...Sudah datang yah, Kaila kenapa tidak di bawa masuk"
"Ayo masuk Ra, Fi" ajak Tari memboyong calon besan nya masuk ke dalam rumah.
Tinggal lah Kaila dengan air mata yang entah mengapa perlahan mengaliri pipi nya.
Dia merasa luka yang sudah mulai membaik, kini kembali berdarah.
Jika orang tuanya ada di sini, maka anak-
Kaila menggeleng kuat, dia menatap setiap sudut halaman rumah nya, seolah mencari sosok yang tidak ingin dia temui.
Fyuu...
Kaila menghembuskan nafas lega, dia tidak melihat siapapun di sana. Itu artinya, Amora dan Fiandi datang berdua saja.
Gadis itu tidak tahu, jika di dalam mobil masih ada orang yang mungkin dia rindukan. Atau mungkin yang tidak dia harapkan.
Setelah mengatur nafas dan mengurangi sesak di dadanya. Barulah Kaila masuk ke dalam rumah, kembali menutup pintu utama.
"Kai, ayo sini. Bergabung!"panggil Viona. Dia berdiri dan menarik adik nya.
Kaila di dudukkan di antara kedua orang tuanya. Dia tampak gugup, menahan sesak yang tidak tahu mengapa tiba-tiba terasa di dadanya.
"Aku gak percaya, Kaila terlihat semakin cantik" ujar Jessica.
Kaila mendongak, dia tidak sadar jika ada Jessica juga di sini.
Kapan wanita itu datang? setahu Kaila tadi hanya kedua orang tuanya saja yang datang.
"Hai, Kai. Lo bingung yah. Lihat gue di sini", kekeh Jessica seakan membaca pikiran Kaila.
"Tadi dia udah datang sayang, pagi pagi malahan" jelas Tari.
Kaila terpaku, dia merasa seperti orang bodoh. Sejak tadi dia tidak melihat Jessica di rumahnya.
"Kamu tadi gak ikut makan siang, makanya kamu gak lihat dia datang" sambung Viona menjelaskan.
Amora tersenyum, "Kamu benar benar cantik sayang, setelah 8 tahun tidak berjumpa"
"Makasih Tante" balas Kaila lirih, tidak ada ekspresi lain di wajahnya selain wajah datar.
Sedangkan Kaila sibuk dengan pemikiran nya sendiri.
Hingga tiba-tiba, pertanyaan yang keluar dari mulut Tari, membuat suasana menjadi tegang.
"Eh ngomong-ngomong, di mana dia?"
Jleb.
Kaila menoleh pada bunda nya.
Viona dan Jessica langsung gelisah, mereka panik dan tidak tahu harus melakukan apa.
Sedangkan Tari, dia menutup bibirnya, karena dia baru sadar dengan apa yang dia katakan.
"Bagaimana ini?" tanya Viona melalui tatapan matanya pada Jessica.
"Gue gak tahu" jawab Jessica dengan gelengan kepala pelan, dan bergidik bahu.
"Ehh... Sebaik nya kita makan sekarang, nanti keburu makanan nya dingin" usul Jessica.
"Ah benar, ayo" sambung Viona.
"Ya ya, kita makan malam dulu, yuk Amora, yuk di" ajak Tari canggung.
Kaila masih terdiam, kilasan masa lalu kembali merasukinya, meskipun terlihat samar.
"Maaf, aku terlambat "
Jleb.
Kaila menoleh, dia langsung berdiri dari duduk nya ketika melihat siapa yang baru saja datang.
"Aduh,, bakalan kacau ini" bisik Viona yang juga di balas oleh Jessica dengan berbisik juga.
"Lihat saja dulu"
Kaila melangkah maju, tatapan matanya menatap tajam Arkan.
"Lo! ngapain ke rumah gue!" bentak Kaila.
Arkan tidak bergeming, dia hanya membalas tatapan Kaila dengan tatapan dingin nya.
"Kaila, kenapa kamu marah sama nak Arkan. Dia itu kan putra nya Tante Amora dan om Fiandi" tutur Fahmi.
Deg.
Dada Kaila terasa di tekan, dia sangat terkejut mendengar ucapan ayah nya.
"Mampus..." desis Viona semakin gelisah.
"Jadi dia?-" gumam Kaila terhenti, dia menunduk, menggeleng cepat. Seakan tidak percaya dengan fakta yang baru saja dia ketahui.
Orang yang selama ini di hindari nya, ternyata berada di hadapan nya.
Kaila tak sanggup lagi, dia berbalik dan berlari menuju ke kamar nya.
"Kaila!!" panggil Tari, dia hendak mengejar putrinya, namun di tahan oleh suaminya.
"Biarkan dia menenangkan diri sayang, dia pasti sangat terkejut"ucap Fahmi.
Arkan masi terdiam, dia tidak berkata kata. Melihat raut wajah Kaila, dia sudah dapat menebaknya.
Dia sangat membenci gue.
"Kamu sabar yah, dia mungkin masih terkejut" ujar Amora mengusap bahu putranya.
"Iya ok ma, i'm fine" balas Arkan lirih.
"Ayo, kita makan dulu. untuk Kalian, nanti akan aku urus" ujar Viona.
Mereka semua mengangguk, kemudian berlalu ke ruang makan.
Kaila menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, menelungkup dan menangis dalam diam.
Luka yang dulu hampir menutup, kini kembali terbuka dan berdarah.
*Kenapa gue tidak tahu, jika cowo astral itu adalah dia!
Mengapa gue terlihat bodoh dan tidak mengetahui apapun?
Hikss...Hikss*..
Kaila mengamuk sendiri, merutuki dirinya yang bodoh.
Kaila terus menangis, dia tidak sadar seseorang telah masuk ke dalam kamar nya.
"Apa dengan menangis Lo bisa merubah segala nya?" ucap Arkan yang sedang bersandar pada daun pintu kamar Kaila.
Tangis Kaila terhenti, dia langsung berbalik dan menatap Arkan penuh kebencian.
"Keluar!" usir Kaila. Dia menghapus air matanya kasar, mendekati Arkan dan berusaha mendorong pria itu keluar.