
"Kok Arkan belum datang sih, udah bel tapi dia masih tidak memperlihatkan diri!" Gumam Dea.
"Kemana Arkan Bim?"tanya kasih pada Bima.
Bima bergidik bahu, dia juga tidak tahu kemana Arkan. Pria itu tidak ada memberi kabar pada dirinya.
"Gimana ni, mau nunggu Arkan. Atau langsung patroli?"tanya salah satu anggota OSIS lain nya.
"Lanjut aja, seperti biasa kita harus menjalankan tugas kita sebagai aparat negara" jawab Bima lebai. Dia sejak tadi menghubungi Arkan, namun tak kunjung di jawab.
"Dasar lebai lu!" Cibir Kasi.
"Udahlah yuk cabut!"
Akhirnya mereka berpatroli tanpa ada Arkan. Meskipun tidak ada Arkan, mereka juga harus tetap menjalankan tugas.
Sementara itu, di dalam mobil. Kaila memantau arloji nya untuk memastikan, apakah waktu bel berbunyi telah lewat atau belum.
"Waktu yang pas"gumam nya tersenyum devil.
Kaila membuka kunci pintu mobil Arkan, membiarkan pria itu masuk dengan ekspresi wajah tidak senang.
"Lo sengaja kan, buat kita terlambat" tuding Arkan.
Dengan senyum manis nya, Kaila mengangguk. Dia terlihat seperti anak kecil tanpa dosa.
"Gue ingin melihat, ketua OSIS terlambat dan apakah mereka berani memberikan sangsi?"
"Oh begitu yah" Arkan mengerti sekarang, dan dia tidak akan tinggal diam. Dia akan membalas perbuatan Kaila saat ini.
BRMM...
Dengan sengaja, Arkan mengendarai ugal ugalan mobilnya. Kaila tentu saja terkejut, dengan segera dia memakai sabuk pengaman.
"Lo jangan gila yah, gue belum mau mati!" Teriak Kai.
"Kini, giliran gue membalas perbuatan Lo" balas Arkan tersenyum menyeringai. Dia melaju, meninggalkan pekarangan rumah calon mertuanya.
"Loh, mereka belum berangkat sejak tadi?" Gumam Viona terkejut, saat dia keluar, Viona melihat mobil Arkan baru saja keluar dari pekarangan rumahnya.
"Wah, perdana ni. Seorang Arkan terlambat" decak Viona takjub,ketika dia melihat jam tangan nya.
"Arkan!!! Lo mau mati huh! Jangan bawa bawa gue!! Kurangi kecepatan mobil nya!" Teriak Kai histeris. Arkan benar benar ugal ugalan, kecepatan mobilnya di atas rata rata.
Kai menutup matanya, tidak berani melihat jalanan. Tangan nya berpegang erat pada sabuk pengaman.
"God, tolong. Jika ini hari terakhir gue hidup. Maka ampuni dosa dosa hamba!"cicit Kail setengah menangisi dia benar benar ketakutan.
Sedangkan Arkan, dia malah semakin senang mendengar doa Kaila.
"Lo akan mati bersama gue, Lo gak akan bisa jauh dari gue Aila!" Teriak Arkan menoleh sebentar ke arah Kaila.
"Perhatikan jalan nya!!!" Teriak Kai khawatir. Dia tidak mau Arkan gagal fokus dan mengakibatkan mereka kecelakaan.
Kaila memberanikan diri melihat ke luar kaca mobil. Betapa terkejutnya dia, saat melihat jalur yang mereka lewati.
"Ini di mana? Kenapa bukan kearah sekolah?"teriak nya.
"Memang bukan, gue mau bawa Lo ke suatu tempat!" jawab Arkan semakin melajukan mobilnya.
"Argggg!!!" Kaila terus berteriak, setiap kali Arkan melewati tikungan.
Jalanan yang mereka lewati jalur satu, tentu saja terlihat sepi. Memang jalur ini sering di lewati oleh orang orang yang suka balapan.
Cittt....
Mobil berhenti, Kaila masih saja menutup matanya. Dia tidak sadar jika mereka sudah tiba di suatu tempat yang Arkan katakan.
"Ayo turun!" Titah Arkan. Dia turun lebih dulu.
"Huh?" Kaila melongo, dia meraba raba tubuhnya, takut salah satu organ tubuhnya menghilang karena ketakutan tadi.
Kaila turun dari dalam mobil, saat melihat pemandangan di depannya. Mata nya langsung terbuka lebar dan takjub.
"Wah, tempat apa ini. Mengapa ini indah sekali?"kagum nya.
Arkan membawa Kaila ke villa yang dia beli sendiri dengan uangnya. Villa itu terletak di tepi pantai.
Biasanya, Arkan menggunakan tempat ini sebagai tempat menenangkan pikiran.
Kaila mengikuti langkah kaki tunangannya, mulutnya menganga setiap kali melihat interior yang sangat cantik dari villa ini.
"Bagaimana mungkin ada villa secantik ini!" Decak nya.
"Bagaimana, bagus?"tanya Arkan tiba-tiba.
Kaila langsung merubah ekspresi wajah nya"
"Biasa saja, tidak ada yang istimewa "jawab nya ketus.
Mendengar jawaban Kaila, Arkan hanya menggelengkan kepala. Masih saja gengsi, pikirnya.
Arkan masuk ke balkon kamar, dia meletakkan tas nya di sofa. Kemudian berdiri di pembatas balkon.
Pemandangan laut, terlihat sangat indah jika di lihat dari sana. Kai tidak tahu, apa yang harus dia katakan sebagai ungkapan kekaguman nya.
Kaila berdiri di samping Arkan, sama sama menikmati keindahan laut. Dengan hembusan angin, rambut Kai terlihat indah melambai lambai.
Arkan menoleh, dia tersenyum menatap Kaila dari samping.
"Kenapa Lo membawa gue ke sini, kenapa Lo gak sekolah?"tanya Kai ikut menoleh dan saling bertentang mata dengan Arkan.
Kai mampu merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapan mata pria ini.
"Gue tahu, Lo mau gue di hukum kan? Dan Lo juga tahu, gue tidak akan membiarkan harga diri gue jatuh di hadapan Lo!" Jawab Arkan paten.
Kaila tersenyum miring, dia lupa jika Arkan adalah siswa pintar dan berprestasi, tidak pernah menodai nama nya dengan sikap yang tercela.
"Kali ini mungkin Lo berhasil mengelak, namun tidak dengan lain waktu" balas Kaila.
"Dengan senang hati, gue menunggu rencana apalagi yang akan Lo lakuin" jawabnya.
Mereka kembali menatap ke laut lepas, entah mengapa hati mereka sama sama terasa tenang. Meskipun nada dan kalimat yang mereka ucapkan, sama sama memancing perselisihan. Tidak ada kata kata persahabatan.
*******
Tidak ada yang terlambat, Bima dan semua anggota osisnya berkumpul kembali ke ruangan.
"Arkan tidak ada, tumben sekali tidak ada yang terlambat" gumam Bima.
"Si Kaila juga tidak ada"sahut yang lain.
"Apa, Kaila tidak masuk?" ucap Dea terkejut.
"Benar, Arkan dan Kaila tidak masuk secara bersamaan. Dan ini, kakak Kaila menitip ini untuk adiknya" jelas anggota OSIS yang menerima titipan dari satpam. Dia menunjukkan pada semua anggota OSIS.
"Itu artinya, Kaila dari rumah berangkat, tapi tidak sampai ke sekolah!" Gumam Bima.
"Dasar, cewe brandal"desis Kasi.
Dea menatap buku yang yang kakak Kaila berikan. Otak nya mulai menerawang, kemana gadis itu pergi. Bukan, bukan gadis itu yang dia pikirkan. Tapi, Arkan. Kemana Arkan?
"Hubungi dia!!!"titah Dea.
"Siapa?"tanya Bima. Dea memberi perintah tidak jelas.
"Arkan, siapa Lagi!" Bentak nya.
Dahi Bima mengerut, ada apa dengan gadis ini. "Lo gila, Arkan tidak masuk. Itu bukan urusan Lo. Mau dia kemana, kenapa Lo yang sibuk!"
"Gue suruh Hubungi, yah hubungi!"titahnya lagi.
"Lo sinting, kita bukan budak Lo. Kalau pun memerintah, gue yang lebih berhak. Karena gue adalah wakil ketua!" Bantah Bima
Dea terdiam, dia menatap Bima tidak habis pikir. Lagi pula dia juga salah, karena tidak bisa mengontrol diri sendiri.
"Dea tidak salah, dia hanya ingin tahu dimana Arkan. Gue juga pengen tahu" sela Kasi membela Dea.
"Yasudah, Lo cari tahu saja sendiri. Gue mau masuk" balas Bima jengah. Dia dan beberapa anggota OSIS pergi meninggalkan Dea dan Kasi di dalam ruangan OSIS.