
Setelah makan di kantin, Kaila, Jia dan Mia berjalan santai melewati lorong kelas. Mereka terlihat senang dan tertawa bersama mendengar cerita Jia yang baru saja memutuskan salah satu teman kencan nya kemarin.
"Gila lu, benar benar pro player" decak Mia pada Jia.
"Mau bagaimana lagi, ciuman nya gak bikin gue kesemsem" jawab Jia sambil tertawa.
Kai dan Jia hanya menggelengkan kepala mendengar cerita Jia.
grerrggg...
Kai merasa perut nya sembelit, dia langsung membungkuk sambil memegangi perut.
"Ada apa Kai?" tanya Jia dan Mia panik.
"Gak tahu ni, perut gue tiba-tiba terasa sakit banget. Kaya nya kebelet ke toilet deh" jawab Kai sambil menahan sakit.
"Yaudah, ayo kita ke toilet" sahut Jia.
Namun, Kai menggeleng. Sebentar lagi bel akan berbunyi. Kai tidak mau membuat teman teman nya terlambat masuk.
"Kalian duluan aja ke kelas, gue buang air besar dulu"
"Tapi kai-" protes Mia.
"Gak papa, gue sebentar doang. Kalau kita bertiga telat. Siapa yang akan memberitahu guru?" cegah Kai.
Tampa menunggu balasan dari kedua teman nya, Kai sudah keburu berlari ke toilet. Dia sudah tidak bisa menahan nya lagi.
"Yaudah deh, kita ke kelas" gumam Mia. Jia pun mengangguk setuju.
Kai masuk ke dalam toilet, dia benar-benar tidak bisa menahan nya lagi.
Beruntung toilet tidak penuh. Jadi, Kai bisa langsung masuk ke bilik toilet.
Haa..
Kai bernafas lega, panggilan alam yang tidak dapat dia hindari akhirnya terselesaikan juga.
Setelah perutnya kembali nyaman, Kai pun keluar dari bilik toilet. Dia pergi ke wastafel untuk mencuci tangan dan memperbaiki penampilannya.
Blam.
tiba-tiba pintu toilet tertutup dengan hempasan kuat. Membuat Kai terkejut dan langsung berbalik.
3 orang cewe datang mendekat kearahnya.
"Ada apa ini?" tanya Kai dengan nada bicara sebisa mungkin. Dia tidak mau terlihat takut di hadapan para cewe ini.
"Cih, belagu banget Lo dengan nada seperti itu" dengus Cia. Dia tersenyum miring pada Kai.
"Mau apa Lo?" tantang Kai.
"Mau apa? kita cuma mau kenalan kok sama Lo" sahut Lala.
"Kenalan kok keroyokan, gak elit banget Lo" cibir Kai. dia mulai menguasai suasana. Kai sama sekali tidak terlihat takut, membuat Cia merasa di remehkan.
Kai memalingkan wajah nya ke samping, menghindari tangan cia yang hendak menepuk pipi nya.
"Jangan sentuh gue! jika Lo gak mau mati!" tekan Kai serius.
"Hahahaha.... Lo pikir ngomong sama siapa hm?" cia.
"ngancem anak SD?" sahut Angle.
"Uuu takut .." sahut Lala.
Mereka bertiga mengelilingi Kai, memegangi kedua tangan Kai . Agar gadis itu tidak berani melawan.
"Lepas! pengecut! berani nya keroyokan!"teriak Kai.
plok plok.
Cia menepuk kedua pipi Kai secara bergantian, tersenyum menyeringai menatap ketidak berdayakan Kai.
"Tidak perlu takut anak pindahan, seperti yang kita bilang. Kita cuma mau kenalan sama Lo" ucap Cia.
"Biar Lo tahu, di sekolah ini harus tahu aturan dan sopan santun" sambung Lala.
Kai menggelengkan kepalanya, dia melihat cia mengeluarkan lipstik mate dari saku nya.
"Mau apa Lo. Jangan bego!" teriak Kai menggelengkan kepalanya, Cia berusaha mengoleskan lipstik ke bibir Kai dengan asal.
Membuat Kai terlihat seperti badut.
Brak!
Semuanya terkejut, pintu toilet tiba tiba terbuka. Lala dan Angle langsung melepaskan tangan Kai.
"Dea" gumam Cia gugup, aksinya di ketahui oleh anggota OSIS.
"Gue gak lihat apapun" ujar nya sebelum masuk ke bilik toilet.
Cia pun tersenyum menang, ternyata Dea berpihak kepadanya.
Angle dan Lala hendak memegangi tangan Kai lagi. Namun,gadis itu menepisnya. Kemudian mendorong mereka hingga terjatuh.
"Kurang ajar!" geram Lala. Dia hendak menghajar Kai , namun di tahan oleh Cia.
"Sudah cukup, perkenalan pertama sudah cukup" tajam Cia.
"Huh, awas saja Lo" geram nya.
Cia membawa kedua teman nya keluar dari dalam toilet, dia tidak mau melanjutkan aksinya. Apalagi ada Dea, walaupun dia terlihat membela.
"Yuk cabut!" seru nya.
Kai menghela nafas lega, dia menatap pantulan wajah nya yang terlihat seperti badut.
Dengan kesal, Kai membasuh wajahnya dan mencoba menghapus lipstik dari bibirnya.
Ini adalah lipstik mate, sulit untuk menghapusnya. Jalan satu satunya adalah dengan toner, agar lebih cepat terhapus.
Di saat kesibukan Kai membersihkan wajahnya, Dea pun keluar dari bilik kamar mandi.
Kai menatap nya acuh, dia mulai mengerti apa yang di maksud dengan perseteruan kelas nya dengan anggota OSIS. Ternyata beginilah kerja nya.
Para anggota OSIS tidak benar-benar menjalankan tugasnya. Mereka hanya menjadikan jabatan mereka sebagai alat penindasan.
Dea berdiri di samping Kai, melihat pantulan dirinya di cermin sambil merapikan penampilan nya.
"Semua ini baru permulaan. Gue akan pastikan, Lo akan mendapatkan hal yang lebih, jika Lo berani melawan gue!" peringat nya .
"Gue gak takut, apalagi dengan gadis yang hanya mengandalkan jabatan sebagai alat penindasan!" balas Kai.
"Lihat saja nanti"
Dea mendengus kesal, kemudian berlalu dari sana.
Huffhaaa..
Kai menarik nafas dalam, kemudian menghembuskan kembali. Dia terus berusaha membersihkan bekas lipstik itu.
Sedangkan di dalam kelas, Jia dan Mia malah resah dan khawatir.
"Kemana sih Kai, sudah 30 menit. Tapi dia belum kembali juga" gumam Jia menoleh ke belakang.
"Dia buang air besar, atau buang anak sih" sahut Jia.
Keduanya gelisah menatap ke pintu kelas. Berharap melihat Kai masuk ke dalam kelas.
Guru sudah sejak tadi masuk, sudah hampir setengah pelajaran di jelaskan.
"Jia!" panggil Bu guru.
"Iya Bu" jawab Jia spontan.
"Kemana Kaila, mengapa dia masih belum masuk?"
"Maaf Bu, saya tidak tahu. Tapi tadi Kaila ke toilet" jawab Jia jujur.
"Kenapa dia belum kembali?" tanya Bu guru dengan suara keras.
"Saya di sini Bu!"
Semua orang menoleh ke arah pintu. Menatap Kai yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Ke sini kamu dulu Kai!" titah Bu guru.
Dengan patuh, Kai berjalan mendekati hu guru. Dari wajah nya, Kai dapat menebak jika gurunya ini sangat galak.
"Kenapa kamu lama sekali di toilet, apa betul kamu ke toilet, atau kamu malah keluyuran?" tuduh Bu guru dengan suara tegas nya.
Kai tampak kesulitan ingin menjawab apa, jika dia jujur pasti Bu guru tidak akan percaya. jikapun dia percaya, maka masalah ini akan semakin besar dan menjadi rumit.
"Itu tidak mungkin Bu. Kita semua sama sama tahu, anggota OSIS sangat ketat. Bagaimana mungkin Kai bisa keluyuran " bela ketua kelas.
Kai menghela nafas lega, dia bersyukur ketua kelasnya sangat care pada anggota nya.
"Benar Bu, saya memang ke toilet. perut saya sakit ,dan membuat saya jadi lama di toilet" jelas Kai jujur.
"Iya Bu, tadi Kai makan nasi goreng. Tapi, cabe nya kebanyakan sama Bu kantin" ujar Jia ikut membela.
"Baiklah, kamu ibu bebaskan"
"Terimakasih Bu" Kai menunduk hormat, kemudian berbalik ke bangkunya.