Arkaila

Arkaila
Tertekan



Arkan tidak menurut apa yang di ucapkan oleh Kaila. Dia tetap berdiri tegap, meskipun Arkaila telah mendorong nya keluar.


Kekuatan Arkan, jauh lebih besar di bandingkan dengan kekuatan gadis seperti Kaila.


"Mau Lo apa sih, apa Lo belum puas menyakiti gue huh!" teriak Kaila.


"Yap, gue belum puas." jawab Arkan tersenyum mengejek, dia melangkah mendekati Kaila, sedangkan gadis itu melangkah mundur. Mereka saling membalas tatapan.


"Sudah cukup Lo sembunyi 8 tahun, dan kini saat nya. Lo merasakan sakit yang lebih parah!"


Arkan terlihat sangat membenci Kaila, namun pada dasarnya tidak seperti itu niatnya. Arkan sengaja melakukan semua ini, agar Kaila tidak lari lagi.


"Minggir!" usir Kaila, dia sudah tidak bisa lari lagi. Tubuhnya terduduk saat kaki nya membentur ranjang.


Hal itu membuat Arkan tersenyum miring, seolah tengah mengejek Kaila yang tidak bisa lari lagi.


"Gue gak akan membiarkan Lo lari bahkan gue akan membuat Lo selalu ada di dekat gue!" tekan Arkan.


Kaila terdiam, dia masih menatap mata Arkan. Namun, sorot kebencian nya bercampur dengan sorot kekecewaan, kesedihan.


"Gue kira Lo pintar bersembunyi, gue kira Lo handal menghindari gue." ucap Arkan membela pipi Kaila yang langsung di tepis nya.


"Jangan sentuh gue!" ketus nya.


"Sedikit menyakitkan, ketika melihat Lo tidak mengenali gue Aila"


Jleb.


Jantung Kaila memompa dengan ritme yang sangat cepat. Kini Kaila merasa nafas nya mulai tersengal, seperti orang baru saja selesai berlari.


"Jangan panik, dan jangan takut. Kita sudah berada di era yang berbeda. Di mana masa lalu hanya tinggal kenangan" ujar Arkan lagi.


Hal itu mampu membuat Kaila merasa semakin sesak. Entah mengapa, perkataan Arkan barusan membuatnya sedih


Apa karna Kaila masih mengharapkan Alcan nya? atau hanya karena dia terlalu gugup dan tertekan masa lalu.


Dengan sekuat tenaga nya, Kaila berusaha membalasnya.


"Minggir!" Kaila mendorong tubuh Arkan hingga mundur beberapa langkah ke belakang. Sehingga Kaila mendapat sedikit ruang bisa bernafas lega.


Dia menatap Arkan tajam, berusaha mengumpulkan keberanian untuk membalas pria ini.


"Gunakan kesempatan ini, sebagai balas dendam" ucap Haico.


Kaila seakan mendengar suara Haico, dan hal itu menimbulkan kekuatan bagi dirinya.


"Karena gue diam, bukan berarti gue mengalah!"


"Mungkin di masa lalu gue menangis, seperti orang bodoh lari meninggalkan keluarga. Tapi-" Kaila menarik nafas dalam, kemudian baru melanjutkan ucapan nya.


"Kali ini, gue tidak akan kalah. Lo tidak akan bisa menyakiti gue lagi!" tekan Kaila mantap.


Arkan tersenyum miring, misi nya berhasil.


"Waw.. Apakah Lo bersungguh sungguh mengatakan nya? atau hanya omong kosong saja?" ledek Arkan tersenyum menyeringai.


Kaila mengepalkan kedua tangan nya, menatap Arkan yang terus meremehkan dirinya.


"Pergi sekarang, atau gue bakalan membuat sesuatu yang sulit Lo bayangkan!" usir Kaila dan mengancam Arkan.


Bukannya takut, Arkan malah semakin menyeringai. Dia kembali mendesak Kaila agar mundur dan ...


Bruk.


Kaila kembali terduduk di atas ranjang nya, dia berusaha bangkit lagi. Namun, Arkan menahan bahunya agar tidak bisa kembali berdiri.


Dengan sedikit menunduk, Arkan menarik dagu Kaila dan mengikis jarak di antara mereka.


"Gue sangat menantikan kabar, Lo kabur dan menghilang dari kota ini. Seperti yang Lo lakuin 8 tahun yang lalu" ucap Arkan tepat di depan wajah Kaila.


Setelah itu, Arkan kembali menarik dirinya dan pergi dari sana.


Seakan terhipnotis, Kaila masih terpaku dengan tatapan kosong. Setelah beberapa detik, dia baru sadar jika Arkan sudah pergi.


"Arrrrgggg!!!!!" teriaknya histeris.


Kaila mengamuk, melampiaskan amarahnya pada semua barang yang ada di kamar nya.


"Sialan!!!"


Prak!


Bruk!


Bug!


Suara benda benda berjatuhan silih berganti. Dalam sekejap, kamar Kaila berubah menjadi kapal pecah.


Kaila mengambil semua barang barang yang masih tersusun rapi di atas meja belajar nya, kemudian melemparkan nya ke sembarang arah.


Deru nafasnya terdengar menggebuh gebu. Emosinya benar benar memuncak sekarang.


"Arrrggggg!!!!!"


Di balik pintu kamar Kaila, Arkan tersenyum getir. Dia senang bisa membuat Kaila marah dan tidak berpikir untuk pergi.


Namun, Arkan juga sedih. Situasi dirinya dengan gadis yang selama ini dia tunggu jauh dari harapan nya.


Gue akan pastikan, Lo hanya milik gue.


Arkan berlalu, dia kembali berkumpul dengan kedua orang tuanya dan juga orang tua Kaila.


Saat tiba di ruangan makan, Viona langsung menghampiri Arkan.


"Bagaimana?" tanya Viona penasaran.


"Tidak buruk, aku yakin. Kaila tidak akan kabur lagi"


fyu..


Mereka semua bernafas lega, ketakutan mereka sedikit berkurang.


Tari bangkit, dia memeluk Arkan, calon menantunya.


"Terimakasih sayang" lirihnya.


"Sama sama Tante" balas Arkan.


Semua orang telah tahu, dengan bantuan Viona dan Jessica. Arkan mampu menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu.


Karena mereka tahu betapa Arkan menyayangi Kalian di masa lalu, jadi mereka mempercayai nya.


"Kamu sabar yah, Kaila pasti akan kembali menyukai kamu!" hibur Fahmi.


"Tentu, dan harus!" jawab Arkan yakin.


"Bagus, putra papa harus yakin dan pantang menyerah" sahut Fiandi.


Makan malam pun berlangsung, meskipun tanpa ada nya Kaila di sana.


Mereka membiarkan Kaila menenangkan diri di kamar nya.


Di dalam kamar nya, Kaila menghubungi Jia dan Mia. Dia merasa tertekan menangis seorang diri di kamar.


Drrtt..


Kaila menelfon Jia, di dering ke dua. Barulah panggilan terhubung.


"Halo Kai, ada apa?" seru Jia di sebrang sana.


Kaila tidak menjawab, hanya Isak tangis nya yang terdengar oleh Jia. Hal itu mampu membuat Jia terperanjat dan langsung panik.


"Kai, apa yang terjadi?"


"Lo di mana Sekarang?"


"Katakan di mana Lo sekarang, gue akan pergi ke sana!!"


"Hiks...Hiks.." Kaila hanya bisa menangis, dia tidak sanggup untuk menjawab.


"Kaila!!!" erang Jia frustasi.


"Gue di rumah, apa gue boleh menginap di rumah Lo malam ini?" pinta Kaila di sela sela Isak tangis nya.


"Tentu saja, sebentar lagi gue akan tiba di sana. Dan gue akan meminta ijin sama nyokap bokap Lo!" tutur Jia, kemudian memutuskan panggilan nya.


Kaila kembali menangis, suasana hatinya benar benar buruk sekarang.


Kaila hanya bisa menangis dan menekan dadanya yang masih terasa sesak.


Seperti yang Jia janjikan, dia tiba di rumah Kaila tepat 20 menit setelah memutuskan panggilan telfon.


Arkan dan semua orang terkejut melihat kedatangan Jia, apalagi mendengar permintaan ijin Jia untuk membawa Kaila ke rumahnya.


Awalnya Tari menolak, namun setelah Viona memberikan pengertian. Barulah Tari mengijinkan.


"Maaf yah Tante, tapi ini atas permintaan Kaila" jelas Jia tidak enak, dia bisa merasakan keberatan Tari.


"Tidak apa apa nak, tolong jaga Kaila, beri dia pengertian" ujar Fahmi.


Jia mengangguk pasti, meskipun sebenarnya Jia bingung dengan masalah yang Kaila alami. Apalagi keberadaan Arkan di rumah Kaila, sungguh membuat Jia bingung.