
"Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, mereka semakin menjauh!" ucap Tari.
"Benar, kita harus segera menikahkan mereka!" sahut Amora.
Fahmi dan Fiandi hanya bisa menatap istri mereka yang tampak tidak bisa sabar.
Viona dan Jessica juga sama seperti bunda dan mama nya. Mereka terlihat tidak sabar ingin menikahkan Arkan dan Kaila.
"Tapi, ini terlalu cepat. Mereka masih muda, Kaila butuh 1 tahun lagi untuk lulus SMA." sela Ferdian. Hanya dia yang merasa keberatan dengan rencana kedua orang tua mereka.
"Aduh, Fer. Lo kaya gak tahu aja, cinta itu tidak memandang waktu. Lagian, setelah mereka menikah, mereka tetap bisa sekolah kok."
"Benar tu kata Jessica, mereka bisa tetap melanjutkan sekolah dan juga tetap melanjutkan pernikahan mereka"sahut Viona.
"Kalian berdua ini harusnya ngerti, jika ini di posisi kalian, apa kalian tetap setuju dengan rencana ini?" Ferdian mulai emosi, dia tidak suka adik nya di paksa. Apalagi menyangkut masa depan.
Melihat itu, Tari segera bangkit dan duduk di sebelah putranya. Menggenggam erat tangan putra nya.
"Nak, bunda ngerti apa yang kamu khawatirkan. Tapi, bunda dan Ayah gak akan salah jalan kok. Bukan hanya soal perjodohan, tapi ini juga demi kebaikan Kaila,adik kamu." ucap Tari mencoba memberi pengertian pada putranya.
"Tapi Bun,apa dengan memaksa akan menjadi hak yang terbaik?" sela Ferdian
"Kaila itu menyukai Arkan,dia hanya belum menyadarinya!" sahut Viona.
Ferdian menatap kakaknya tidak suka, dia berpikir jika kakak nya terlalu egois soal kehidupan sang adik.
"Jika di masa lalu Kai menyukai Arkan, berbeda dengan saat sekarang ini!"tegas Ferdian.
"Nak, maaf soal Arkan yang dulu. Tapi, semua itu hanya salah paham. Percayalah, Arkan dan Kaila sangat cocok untuk di persatuan" tutur Amora, dia berusaha meyakinkan Ferdian.
"Tapi Tante, Kai-"
"Ferdian please, percaya sama bunda dan ayah!" ucap Tari memotong ucapan putranya.
Huhhh.
"Terserah saja!" Ferdian bangkit, kemudian berlalu pergi begitu saja.
"Tidak apa apa, nanti Ferdian akan setuju, setelah melihat Kai bahagia" ujar Fahmi.
Semua orang mengangguk, mereka bisa memaklumi Fiandi, dan mereka juga akan kembali membahas soal pertunangan Kaila dan Arkan.
"Besok, kita harus melangsungkan pertunangan mereka" tegas Fahmi.
"Benar!" sahut Fiandi.
...----------------...
Tepat pukul 5 sore, Kaila tiba di rumah nya. Dia memarkirkan mobil, kemudian masuk ke dalam rumah dengan tujuan kamar kakak nya.
Di ruangan tengah, Kaila bertemu dengan Viona.
"Hai adek gue tersayang " sambut Viona sembari merentangkan kedua tangan nya. Namun, Kaila malah menghindarinya dan berjalan lurus ke arah tangga.
Viona melongo, dia tidak menyangka adik nya akan melakukan hal ini.
"Kai!" panggil Viona, langkah Kai terhenti. Tanpa berbalik Kai bertanya.
"Apa lagi?"
Huh? Viona kembali terkejut, sikap adik nya terhadap dirinya sungguh di luar dugaan nya. Viona tidak tahu apa kesalahan nya.
"Kenapa Lo marah sama gue Kai, apa salah gue?"
Cih, Kaila tersenyum kecut. Kakak nya bersikap seolah Kai tidak tahu apa apa.
Perlahan Kai berbalik, menatap kakak yang selama ini dia kagumi.
"Gue pikir, Lo itu ngerti gue. Tahu apa yang gue inginkan. Tapi-"
Kai tidak sanggup melanjutkan ucapannya, dia sudah terlanjur kecewa.
Viona terdiam, matanya menatap nanar adik nya yang kini berbalik pergi.
"Kai...Maaf, tapi ini semua gue lakuin demi Lo. Karena gue ngerti Lo, makanya gue lakuin ini. Karena itu gue mendukung rencana kedua orang tua kita!" cerca Viona menatap kepergian adiknya.
Brak!
Kai masuk ke dalam kamar Ferdian, lalu menutup intinya dengan hempasan kuat.
Ferdi yang sedang tertidur di sofa kamar nya langsung berteriak kaget.
"Aagghhh!!"
Namun, Kai malah cuek dan langsung duduk di tepi ranjang kakak nya, tanpa rasa bersalah.
Ferdia menetralkan dirinya, kemudian menatap sang adik.
"Ada apa?" tanya Ferdi.
"Nih!" ucap Kai menjawab ucapan kakak nya dengan melempar kunci ke arah nya.
"Eh " beruntung Ferdian berhasil menangkap kunci itu, jika tidak maka wajah tampan nya yang akan menjadi korban.
"Hampir aja" ujar Ferdia bernafas lega.
Kaila terlihat acuh, dia malah merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk kakaknya.
"Kak" panggil Kaila lirih. Matanya masih menatap lurus ke atas.
Saat ini, hanya Ferdian yang memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.
"Kak" panggil Kaila lagi. Namun, kakak nya tak kunjung menjawabnya.
Kaila bangkit, dia mencari keberadaan kakaknya yang ternyata ada di hadapannya.
"Kak" lirih nya.
Ferdian masih diam, namun dia memeluk adiknya Dia tahu apa yang saat ini adiknya rasakan. Dia tahu adiknya tertekan, dan merasa sedih.
Namun, dia tidak bisa berbuat apa apa. Kecuali, menghibur sang adik.
"Kak .. Mengapa semua orang tidak mengerti, mengapa mereka tetap memaksa ku menikahi pria itu"
"Mereka tidak memikirkan aku, aku masih sekolah, aku belum cukup umur untuk menikah. Tapi-" Tangisnya. menjeda ucapannya sendiri.
Ferdia yang mampu merasakan kesedihan di dalam hati adiknya, semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku tahu, apa yang kamu rasakan. Tapi, aku juga tida tahu harus melakukan apa sayang. Aku hanya bisa memeluk dan menyemangati mu saja" balas Ferdia.
"Apa yang harus gue lakukan? apa gue harus pergi?"
Deg.
Ferdia mengurai pelukan nya, menatap wajah penuh air mata Kaila.
"Ini bukan solusi Kaila, lari bukan solusi"
"Lalu apa kak, Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa. Dia seakan beban yang mampu membunuh ku secara perlahan."
Ferdian kembali memeluk Kaila, dia tidak sanggup melihat Kaila menangis.
"Kamu tidak boleh pergi, aku tidak akan mengijinkan hal itu. Kamu harus tetap melawannya. Ya, kita harus melawannya Kai. " ucap Ferdian.
Kai mengerut, dia menghapus air matanya. Kemudian mengurai pelukan kakaknya.
"Apa yang harus gue lakukan, bagaimana cara gue melawan mereka?" tanya Kaila frustasi.
"Jika kita tidak bisa melawan kedua orang tua, maka buat lah Arkan yang membatalkan perjodohan ini. Buat dia yang menolak nya, sehingga kita tidak bersalah" jelas Ferdian.
Kai tersenyum, ide kakak nya sangat bagus.
"Kamu benar benar kakak terbaik di sepanjang masa" ungkap Kai.
Cup.
Ferdian terdiam, ini pertama kalinya adik bungsu nya memberikan kecupan di pipinya, setelah dia pergi ke desa.
"Kamu mencium ku???" ucap Ferdia tak percaya.
Kai tersenyum malu, dia tahu semenjak melarikan diri. Dia tak lagi sedekat ini dengan saudaranya.
"Maaf kak, selama ini aku tidak memikirkan kalian. Aku lari dan meninggalkan kalian."
"Meninggalkan keluarga yang menyayangiku" sesal Kaila.
Ferdian tersenyum, menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata di pipi adik ke sayangan nya.
"Apapun yang li lakuin, aku, Ferdian Wilson. Akan selalu ada di belakang kamu, tidak akan pernah pergi, atau membenci kamu. Adik ku tersayang, dan juga kakak ku tersayang. Kalian adalah keluarga yang paling aku sayang setelah ayah dan bunda" ungkap Ferdian.
Viona yang mendengar percakapan kedua adiknya, tersenyum haru.
"Maafkan aku Kaila, aku bukan kakak yang baik untuk mu"