
Jia dan Mia menatap iba pada Kaila, mereka tidak tahu apa yang terjadi, namun mereka mampu merasakan kesedihan yang Kaila rasakan.
"Kasihan Kaila, dia pasti sedih banget" lirih Jia.
"Memang nya, apa yang terjadi? Mengapa dia bisa jadi seperti ini?" tanya Mia.
Jia menarik nafas, kemudian menggeleng pelan, dia juga tidak tahu apa masalah yang Kaila alami.
"Gue gak tahu Mia, Kaila telfon gue,dan meminta gue menjemput dia ke rumah. "
Mia mengambil nampan yang berisi sarapan untuk Kaila, kemudian memberikan nya pada Kaila.
"Ayo Kai, makan. Sejak semalam Lo pasti belum makan!" ucap Mia.
"Iya Kai, Lo harus makan" sambung Jia.
Kaila menggeleng, dia tidak memiliki nafsu makan saat ini. Kejadian tadi malam membuatnya tidak selera.
"Ternyata dia selama ini sudah tahu!" Desis Kaila kesal, tangan nya mengepal kuat, seakan sedang menahan gejolak emosi yang ingin segera meledak.
Jia dan Mia kembali saling menatap, mereka bingung dan penasaran mendengar desisan Kaila barusan.
"Maksud Lo apa Kai?"tanya Jia .
"Kai" panggil Mia menuntut jawaban dari Kaila.
Huhh...
Ini saat nya untuk menceritakan kepada mereka, Kaila berusaha meyakinkan dirinya, bahwa Jia dan Mia adalah sahabat yang setia.
"Arkan, dia adalah orang yang pernah membuat gue merasa sangat hancur!"
"Huh?"
"Lo serius?" Kaget Jia, begitu juga dengan Mia.
"Maksud Lo, Arkan adalah orang yang Lo kenal di masa lalu?"ucap Mia memperjelas pemikiran nya agar tidak salah tanggap.
Kaila mengangguk, menarik nafas sebelum menceritakan kepada kedua sahabatnya.
"Dia adalah pria yang manis, tampan, dan baik hati. Sejak kecil gue sudah bergantung padanya, bahkan menyerahkan seluruh hati dan kasih sayang."
"Apalah yang dimengerti oleh anak yang berusia 8 tahun. Tapi, gue tahu. Gue menyukainya dan ingin menghabiskan waktu bersama nya."
Jia dan Mia tak bisa berkata kata apa lagi, ini benar-benar membuat mereka melongo.
"Namun, malapetaka itu datang. Gadis itu datang, menyita semua perhatian Arkan. Dia selalu mengganggu gue dan Arkan." Setetes air mata menetes di pelupuk mata Kaila. Perih yang dulu dia rasakan, kini kembali dia rasakan.
"Bukan kah itu bukan kesalahan Arkan, harusnya Lo marah sama cewe itu" sela Mia.
Kaila menggeleng, dia tersenyum getir pada kedua sahabatnya.
"Awal nya gue kesal dan marah pada gadis itu, namun Arkan juga berjanji tidak akan menggantikan gue dengan wanita lain"
"Tapi, lama kelamaan. Dia lebih banyak bersama gadis itu. Mengerjakan pr, bermain. Hingga suatu ketika. Dia berjanji akan menemui gue. Bermain bersama gue. Tapi dia malah bersama gadis itu."
Jia memeluk Kaila, dia tahu apa yang sahabat nya rasakan. Entah itu cinta monyet atau apa. Tetap saja, saat ini hati seorang gadis tengah di patahkan.
"Dia merasa gue menjadi beban, mengganggu dia, membuat langkahnya terhalang untuk berdekatan dengan wanita lain. "
Huh??
Jia dan Mia semakin memeluk Kaila, mereka mampu merasakan kesedihan Kaila. Air mata yang begitu tulus.
"Udah Kai, Lo gak usah khawatir. Kita tidak akan membiarkan tu cowok melukai Lo lagi!" Ujar Jia meyakinkan Kaila.
"Ya Kai, kita bersama tidak sendirian " sahut Mia.
Kaila kembali merasa beruntung, memiliki teman seperti mereka berdua.
...----------------...
"Semua nya harus sesuai yang ada di dalam daftar acara kita. Sketsa pemain nya tolong cepat di selesaikan" pinta Arkan pada anggota nya.
Pembukaan turnamen akan di selenggarakan besok pagi.Jafi,hari ini anggota OSIS dan panitia acara akan mengalami kesibukan yang teramat sangat.
Setelah memberikan arahan pada anggota nya, Arkan pun pergi melapor pada kepala sekolah.
Di lorong kelas, dari arah yang berlawanan. Seorang pria berjalan cepat kearah Arkan. Dengan senyum miring, dia sengaja menubruk bahu Arkan.
Bug.
"Ahs..." Desis Arkan menatap Farhan kesal. Dia menegakkan tubuhnya, membalas tatapan menantang dari Farhan.
"Upss..Sorry, gue gak sengaja" ucap Farhan dengan nada mengejek. Kemudian dia terkekeh pelan.
"Ketua OSIS, umm... Sangat menarik, namun sayang sekali. Jatuh ke tangan yang salah" ujar Farhan.
Mendengar hal itu, membuat emosi Arkan hampir terpancing. Namun, dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan nya. Terlihat dari rahan Arkan mengeras.
"cih, menggeram. Menahan emosi. Lalu, menggunakan jabatan untuk membalas musuh?" ejek Farhan.
"Jaga ucapan Lo!" desis Arkan menggeram.
"Waw...Sorry Arkan si ketua OSIS, jangan hukum gue ..Hahaha..."
Farhan terus mengejek Arkan, mereka memang sejak dulu terlibat dalam persaingan.
Namun, permusuhan di antara mereka tidak ada yang mengetahui nya. Hanya Bima seorang yang tahu.
Setelah puas menertawakan Arkan, air muka Farhan me dadak berubah.
"Mungkin untuk semua hal gue akan mengalah, dan membiarkan Lo menang. Tapi, tidak pada Kaila!" tekan Farhan.
Jleb.
Arkan terdiam, apa dia akan terlibat perselisihan dengan Farhan lagi? memperebutkan Kaila?
"Jangan membawa bawa gadis itu!" sanggah Arkan.
"Kenapa? apa Lo takut? "tantang Farhan.
Rahang Arkan semakin mengeras, sorot matanya seakan ingin menusuk ke manik mata Farhan.
"Apapun itu, Kaila bukanlah sebuah kompetisi, dia seorang gadis dan bukan bahan taruhan!" tegas Arkan.
Prok! Prok!
Farhan tersenyum, dia bertepuk tangan atas apa yang Arkan ucapan kan.
"Bagus sekali Arkan, Sekarang Lo berkata seola Lo adalah makhluk paling sempurna. "
Farhan mendekat pada Arkan, mengikis jarak diantara mereka. Dengan sedikit mencondongkan tubuhnya pada Arkan. Farhan membisikkan sesuatu.
"Kali ini gue tidak akan mengalah, Gue akan mendapatkan Kaila!" setelah mengucapkan itu, Farhan kembali ke posisinya, dia tersenyum pada Arkan, kemudian berlalu pergi.
"Lo tidak akan menang Farhan, Kaila tidak akan menjadi milik Lo, karena dia adalah milik gue!, dan tidak akan menjadi bahan perebutan Lo!"tekan Arkan, meskipun Farhan tidak mendengar nya.
Arkan kembali melanjutkan langkah nya menuju ke ruangan kepala sekolah. Dia harus segera menyelesaikan acara ini, setelah itu dia akan fokus pada Kaila.
Di dalam kelas nya,Kaila, Jia dan Mia duduk sambil menikmati cemilan yang Viona kirimkan tadi pagi.
Karena Kaila tidak pulang semalaman, tari dan Fahmi merasa sangat khawatir pada kondisi putri bungsu mereka.
Karena itulah, Tari menyuruh putri sulungnya untuk mengirimkan makanan kesukaan Kaila.
"Enak banget yah. Bunda Lo pinter banget masak nya" puji Mia sembari memasukkan satu potong kue ke dalam mulutnya.
"Bunda hobi memasak, mau kue, masakan lauk,atau apapun itu. Dia akan membuat nya" jelas Kaila bangga.
"Wah, bisa gagal diet jika punya orang tua seperti bunda Lo" seru Jia.
"Di rumah tidak boleh Diet, kita harus makan, asal pola nya teratur" balas Kaila lagi.
"Ah apapun itu, tetap saja. Bunda Lo yang paling terbaik" ujar Mia.