Arkaila

Arkaila
Ternyata Benar, Dialah Aila



Setelah mendapatkan nomor kontak keluarga Kaila, sebagai ketua OSIS Arkan terlihat sangat bertanggung jawab. Dia langsung menghubungi keluarga Kaila. Memberikan kabar buruk ini.


"Halo, selamat siang"


Deg.


Jantung Arkan seakan berhenti berdetak.


"Suara ini? suara ini tidak asing bagi gue" batin nya.


"Halo, ini siapa yah?" seru Tari lagi, karena tak kunjung mendengar balasan.


Mendengar pertanyaan Tari lagi, membuat Arkan segera tersadar.


"Maaf Bu, apa ini dengan keluarga Arkaila Wilson?"


"Yah, ada apa yah?" jantung Tari mulai berdetak cepat, firasatnya sudah mulai tidak enak.


"Maaf Bu, putri anda jatuh pingsan, dia akan segera kami bawa kerumah sakit" jelas Arkan memberitahu.


"Astaga...Baiklah baiklah, bawa saja putri ku ke rumah sakit. Saya akan segera menyusul kesana. mohon kirimkan alamat rumah sakitnya" balas Tari mulai panik. Dia langsung memutuskan panggil telfon itu dan segera bersiap.


"Astaga putri ku"lirih nya setengah menangis. Tari langsung bergegas pergi ke rumah sakit.


Sedangkan Arkan, dia masih tercengang mendengar suara yang tidak asing di telinga nya.


"Suara Tante Tari" gumam nya.


Fakta tentang siapa Kaila semakin nyata. Arkan semakin deg deg kan bertemu dengan keluarga Kaila.


Siapa dia??


Sesuai arahan dokter, Arkan mengikuti Kaila ke rumah sakit, bersama wali kelas Kaila juga.


Di dalam kelas, Jia dan Mia tampak gelisah. Kai tak kunjung kembali ke kelas.


"Dia ke toilet, atau membersihkan toilet sih. Lama banget" gerutu Jia.


"Gak tahu tuh, udah hampir setengah jam Loh" sahut Mia.


Mereka jadi tidak konsentrasi memperhatikan guru menjelaskan di depan, pikiran mereka tertuju pada Kaila.


Ketua kelas merasakan ponsel nya bergetar. Dia segera memeriksanya, dan ternyata itu pesan WhatsApp dari wali kelas nya.


"Astaga, Kaila pingsan dan di bawa ke rumah sakit!" pekik nya terkejut setelah membaca pesan itu.


"Apa? Kaila masuk rumah sakit?" ucap Mia dan Jia tak kalah terkejut nya.


"Iya, Bu Riani baru saja mengirim gue WhatsApp" tutur ketua kelas.


Bu guru yang sedang mengajar, seketika menghentikan kegiatan nya. Dia memeriksa ponselnya, dan benar saja Bu Riani juga mengirimnya pesan soal berita Kaila.


Setelah membalas pesan dari Bu Riani, guru itu kembali melanjutkan mengajarnya.


Jia dan Mia tidak bisa fokus, mereka jadi kepikiran Kaila.


"Jia, Mia! jika tidak bisa. Lebih baik kalian keluar saja!" seru Bu guru marah.


"Baik Bu" jawab mereka dengan senang hati.


Jia dan Mia langsung keluar dari dalam kelas, sesuai dengan perintah Bu gurunya.


"Astaga, polos amat" gumam Ketua kelas melihat Jia dan Mia keluar.


"Sudah! sekarang kembali fokus!" tegas Bu guru.


...----------------...


Kaila di bawa ke rumah sakit, dia langsung di tangani.


Sedangkan Arkan, dia masih deg degan menunggu keluarga Kaila tiba.


Tap Tap!!


Langkah kaki Tari terdengar tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Dia sangat khawatir dengan kondisi putri bungsu nya.


Tari melihat Bu Riani, kemarin dia sudah bertemu dengan wali kelas Kaila. Makanya dia mengenal Bu Riani.


"Bu, di mana putri saya. Apa sudah di tangani Dokter?" tanya Tari khawatir.


"Tenang yah Bu, Kaila pasti baik baik saja. Jangan panik yah, Kaila sedang di tangani" ucap Bu Riani menenangkan Tari.


Arkan mematung, semuanya sudah terjawab.


Mengapa dia tidak mengenalinya, mengapa dia tidak tahu jika Kaila adalah Aila nya.


"Arkan?"


Pria itu tersentak kaget, mendengar panggil bunda Kaila.


"Iya Bun" sahut nya.


"Kamu di sini juga? jadi kamu satu SMA sama Kaila?" ujar Tari terkejut.


"Ibu kenal dengan siswa tampan ini? dia itu ketua OSIS di sekolah, dia juga yang membawa Kaila ke UKS tadi" ucap bu Riani bercerita.


Tari tersenyum, dia menggenggam tangan Arkan.


"Terimakasih yah nak, kamu sudah menyelamatkan putri Tante"


"Iya Tante, sama sama" balas Arkan tersenyum.


Ceklek.


"Dokter" Tari langsung mendekati sang dokter.


"Siapa keluarga pasien?" tanya Dokter.


"Saya bunda nya dok, apa yang terjadi pada putri saya?" jawab Tari khawatir.


"Suhu tubuh pasien terlalu tinggi, karena itulah pasien menjadi drop dan pingsan" jelas Dokter.


"Sekarang bagaimana kondisinya dok?" kini Arkan yang bersuara.


"Suhu tubuh pasien sudah mulai turun, sebentar lagi dia akan siuman"


Tari bernafas lega, begitu juga dengan Arkan dan Bu Riani.


"Syukurlah, Kaila tidak apa apa" lirih Bu Riani bernafas lega.


"Pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap, untuk beberapa hari pasien harus di rawat di rumah sakit" tutur dokter lagi.


"Kalau begitu, saya permisi" ucap dokter pamit.


Arkan mengangguk, "Terimakasih dok" balasnya mempersilahkan.


Setelah menyelesaikan prosedur administrasi, Kaila pun di pindahkan pada ruangan rawat inap.


Tari sudah memberitahu suami dan kedua anak nya yang lain. Mereka langsung bergegas menuju ke rumah sakit.


Setelah memastikan Kaila di rawat oleh keluarga nya. Bu Riani pun berpamitan pada Tari.


Begitu juga dengan Arkan, dia juga pamit kembali ke sekolah. Tari ingin menahan nya, dia tahu jika Arkan sudah lama tidak bertemu dengan Kaila.


Namun, Arkan menolak nya. Dia belum siap bertemu langsung dengan Kaila sebagai orang di masa lalu nya.


"Kamu yakin, gak nunggu Kaila siuman dulu?" kata Tari lembut. Dia mengantar Arkan ke depan ruangan Kaila.


"Maaf tante, Arkan masih belum siap bertemu lagi dengan Kaila, dia pasti marah dan membenci Arkan" lirih nya terdengar sedih.


"Memang nya apa sebenarnya yang terjadi, mengapa kalian bertengkar?" tanya Tari mulai menyelidiki. Jujur saja, kehancuran pertemanan antara Kai dan Arkan masih menjadi misteri bagi kedua keluarga.


Arkan memilih diam, dia tidak bisa menjelaskan apa permasalahan mereka. Karena Arkan yakin, semua ini hanya kesalahpahaman.


Namun, kesalahpahaman ini sulit untuk di buat titik terang.


"Yasudah, jika kamu masih belum mengasih tahu Tante, gak papa. Lain kali saja" pasrah Tari.


"Maaf Tante, Arkan minta tolong, jangan bicarakan apapun pada Kaila. Jangan bilang siapa Arkan sebenarnya." pinta Arkan membuat Tari terkejut.


"Loh kenapa sayang, apa dia tidak mengenali mu?" tanya Tari tak percaya.


Arkan menggeleng " Arkan pun hampir tidak mengenali Kaila"


"Ya ampun,,, tapi wajar sih, kalian memang terlalu banyak berubah" ujar Tari memaklumi.


Arkan mengangguk pelan, dia merasa bodoh tidak dapat mengenali Kaila sejak awal. Malah mereka terjebak konflik.


"Arkan pergi Tante" pamit nya seraya meraih tangan Tari dan mencium punggung wanita paru baya itu.


"Hati hati yah" balas Tari.


"Iya Tante" balas Arkan lagi.


Aku pergi dulu Ai, aku belum bisa menemui mu untuk saat ini. Tapi, aku janji akan memperbaiki semuanya.