Arkaila

Arkaila
Kaila bolos?.



Tak dapat berkata apa apa lagi, Arkan hanya menatap kepergian Kaila. Bima yang menyaksikan semuanya juga tercengang melihatnya.


"Apa dia benar benar Kaila?"gumam Bima.


Arkan menghela nafas dalam, kemudian menghembuskan nya secara perlahan. Arkan mulai memikirkan semua yang Kaila ucapkan.


"Apa gue salah langkah?"batin nya.


Arkan kembali ke kursinya, mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Sedangkan Bima, dia mengikuti setiap pergerakan Arkan dengan tatapan matanya.


Baru kali ini Bima melihat Arkan pasrah pada seorang gadis. Bahkan Arkan banyak bicara tadi. Tidak seperti biasanya, dia hanya akan mengeluarkan satu pendapat dan itu tidak akan ada satu orang pun yang bisa membantahnya.


"Cepat kerjakan ini, setelah itu sebar brosur pendaftaran!"perintah Arkan. Bima tersentak, kemudian mengangguk.


Kaila tiba di kelas, dia mengambil tas nya. Kemudian keluar dari dalam kelas nya.


Jia dan Mia terkejut, bahkan ketua kelas yang melihatnya juga ikut terkejut. Dia melangkah ke depan Kaila.


"Mau kemana? jam terakhir sebentar lagi akan segera di mulai" cegah ketua kelas.


Kaila menatap nya malas, sejujurnya dia merasa risih dengan sikap berlebihan ketua kelas.


"Gue mau pulang, dan jangan halangi gue!" Jawab Kai dengan nada kesalnya.


Jia dan Mia langsung menghampiri Kai, menatap gadis dingin itu dengan tatapan heran.


"Kai ada apa, kenapa Lo mau pulang?"tanya Mia.


"Benar Kai, Lo akan mendapat masalah nanti!" Sambung Jia.


"Gue gak peduli, saat ini otak gue tidak bisa menerima materi" jelas Kai singkat, lalu pergi meninggalkan kelas.


"Aduhh gimana ini, kalau anggota OSIS tahu, mereka pasti memberi Kai hukuman!"gumam Mia panik bercampur khawatir.


Begitu juga dengan Jia, mereka tidak mau melihat Kai di hukum lagi.


"Tenang, gue akan membuat surat ijin untuk Kai. Nanti gue akan antar ke wali kelas" ujar ketua kelas.


Mia dan Jia tersenyum senang, ketua kelas benar benar pintar.


"Segeralah ketua, sebelum OSIS mendapatkan cela" seru Jia.


Ketua kelas pun segera membuat surat ijin, kemudian mengantarkan nya ke Bu Riani.


Selamat sudah, Kai tidak akan di hukum. Arkan maupun anggota OSIS lain tidak akan menghukum nya.


Kaila melangkah menuju ke gerbang sekolah, mengabaikan setiap tatapan mata yang memandangnya heran, bingung, penasaran.


Bagaimana tidak, waktu pulang masih lama. Tapi, Kai sudah menyandang tas ranselnya menuju ke gerbang sekolah.


Kai melewati pos security dengan aman, ternyata security nya sedang ke toilet. Karena itulah Kaila bisa bebas tanpa di interogasi.


"Taxi!" Panggil Kai melambaikan tangan pada taxi yang akan melewati nya.


Mobil taxi pun berhenti di depan nya. Tanpa menyia nyiakan waktu Kaila langsung masuk ke dalam, dan melaju pergi meninggalkan sekolah.


"Cih, dia kira bisa semudah itu" gumam orang itu yang ternyata adalah angle. Dia merekam Kaila melangkah keluar gerbang sekolah. Kemudian mengirimnya pada Dea.


"Rasain Lo, besok gue jamin Lo bakalan di hukum!"gumam nya tersenyum licik.


"Kaila, Lo udah balik?" Kaget Viona melihat adik nya sudah tiba di rumah. Padahal jam menunjukkan pukul 11.30. Harusnya Kai pulang 3 jam lagi.


Kai berjalan lurus, mengabaikan keterkejutan kakak nya.


"Kai! Kai!!" Teriak Viona memanggil sang adik, dia kesal sendiri karena diabaikan oleh sang adik.


Tari datang, dia heran melihat putri sulungnya berteriak teriak seperti itu.


"Ada apa ini nak, kenapa kamu teriak teriak?"tanya Tari.


"Bunda lihat sekarang jam berapa?" Tanya Viona seraya menunjukkan jam tangan nya.


"Jam 11.30" jawab Tari bingung, entah apa maksud putrinya sulungnya itu menunjukkan jam.


"Nah, jam segitu Kaila sudah pulang sekolah. Di tanya malah diam aja" jelas Viona.


Tari terkejut, dia menoleh kearah kamar Kaila.


"Kai sudah pulang?" Kaget nya.


"Kok bisa??"


"Gak tahu bunda, makanya Viona tanya. Tapi, tu bocah malah nyelonong masuk ke kamar!"gerutu Viona.


Tari menggeleng pelan, kemudian dia melangkah menuju ke kamar putri bungsu nya. Dia harus tahu apa yang terjadi, tari tidak mau kejadian 8 tahun lalu terjadi lagi.


Viona yang juga penasaran apa yang terjadi pada adiknya, dia ikut menyusul bundanya.


Tok tok!!


"Kaila, apa kamu di dalam?"panggil tari dari luar.


Viona menarik tangan bundanya menjauh dari pintu kamar Kaila.


"Kok bunda di trik sih" protes Tari.


"Bunda gimana sih, kenapa malah nanya dia ada di dalam atau tidak. Sudah jelas tadi Viona bilang Kai masuk kamar!" Ujar Viona heran dengan apa yang bunda nya lakukan.


"Aduh Viona, kan ceritanya bunda gak tahu!" Jawab Tari.


"Aduhh bunda, kalau bunda gak tahu.kenapa bunda mengetuk coba? Harusnya bunda ingatnya Kai di sekolah!" Ucap Viona lagi, dia berusaha menjelaskan agar bunda nya mengerti.


"Oh iya yah"lirih Tari.


Viona menepuk jidatnya, ampun banget deh dengan kepolosan bundanya.


Tari kembali mengetuk pintu kamar Kaila, berseru memanggil nama putrinya. Tak lama kemudian.


Ceklek.


Kai membuka pintu kamarnya, berdiri di hadapan bunda nya dengan ekspresi datar.


"Ada apa Bun?"tanya Kai santai.


"Kamu kok udah pulang? Bukan nya kamu pulang jam 2?" Tanya Tari to the poin.


"Kelas lagi kosong, jadi Kai memilih pulang" jawab Kai singkat.


"Benarkah? gak biasanya anak IPA pelajaran nya kosong" gumam Viona mulai meragu.


Kai tidak terlihat takut, dia tetap menatap bunda dan kakak nya secara pergantian.


"kenapa Bunda?" tanya kai polos.


"tidak ada nak, bunda percaya sama kamu" jawab tari tersenyum lebar, membuat Viona terbelalak mendengarnya.


"yaudah nak, kamu pasti capek. Masuk dan istirahat lah" ujar Tari mengusap pipi putrinya.


Kaila mengangguk pelan,lalu Kai pun masuk ke dalam dan melepas segala pemikiran nya.


Fyu..


Tari menatap putrinya, menariknya kembali ke lantai bawah.


"kamu ini gimana sih Vio, informasi gak jelas banget " gerutu Tari kesal. dia sudah terlanjur suuzon pada putri bungsunya, ternya dia hanya lelah dan tidak bolos.


Vio melebarkan matanya, bisa bisanya bundanya malah menyalahkan dirinya.


"mari kita telfon wali nya Bun, biar jelas!" usul Viona.


bukan nya menyetujuinya, tari malah menjewer telinga Viona.


"Kamu ini kenapa sih Vio, biarkan adik mu istirahat. jangan membuat dia semakin kesal!" omel Tari.


"Tapi bum-" ucap Vio terhenti.


Tari menatapnya lekat" udah sayang, jangan ribut lagi. biarkan saja adik mu" ujar Tari, kemudian dia berlalu kembali ke dapur. Viona benar benar membuatnya meninggalkan pekerjaan nya.


"Ihh bunda, Viona kan cuma memperjelas" ujar Viona mencak mencak. dia tidak terima di anggap salah oleh bundanya.


Viona kembali menoleh dan melihat kamar adik nya yang terlihat sedikit dari bawa.


"Hmm.." dengus Viona lagi, dia akhirnya pasrah dan memilih untuk tiduran di sofa.


"Gue yakin dia bolos" dengus nya m