Arkaila

Arkaila
Peringatan Arkan!



Di ranjang rumah sakit, Kaila berbaring dengan mata menatap lurus ke langit ruangan rawat inap nya.


"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Tari seraya berjalan mendekati putrinya.


"Bunda" lirih Kaila.


"Sudah nak, kamu baring aja." Cegah Tari ketika putri nya hendak duduk.


Kaila menuruti bundanya, dia berbaring seraya menatap sang bunda. Wanita kuat yang paling berjasa dan berharga dalam hidup nya.


"Bun, apa bunda sudah yakin sama pernikahan aku dan Arkan?"


Tari tersenyum, setelah terdiam beberapa detik. Tangan nya mengusap rambut putri nya lembut.


"Tentu saja nak, sebelum kamu memutuskan sesuatu, tentu kami sudah memikirkan apa dampak yang akan menimpa kalian berdua."


"Tapi bu-"


Belum sempat Kaila menyelesaikan ucapan nya, tari sudah menyela lebih dulu.


"Sttt....Sudah, kamu istirahat yah. Jangan banyak pikiran, meskipun bunda tidak tahu apa yang membuat kamu syok. Tapi, bunda yakin kamu akan baik baik saja setelah menikah bersama Arkan"


"Andai bunda tahu, apa yang menyebabkan Kaila seperti ini" balas gadis itu di dalam hati.


Kaila memeluk bundanya, merebahkan kepalanya di atas paha yang selalu nyaman ketika di jadikan bantal.


"Nak, nanti punggung kamu bisa sakit"


"Tidak Bun, biarkan seperti ini. Kaila gak tahu, entah kapan bisa seperti ini lagi" lirihnya.


Hehh


Tari menghela nafas dalam, memilih membiarkan putrinya tidur dengan berbantalkan paha nya. Dengan penuh kasih, Tari juga menepuk bahu putrinya pelan. Membuat Kaila menutup mata dan perlahan masuk ke alam mimpi.


Di luar ruangan rawat inap Kaila, Arkan berdiri mendengarkan semua percakapan ibu dan anak itu.


"Apa Kaila sakit karena gue?


Apa karena melihat gue dan Hyuna?" Pikir Arkan mulai menebak.


"Arkan!" Panggil seseorang dari arah belakang nya.


Arkan pun berbalik, dia melihat Hyuna tengah berjalan menuju ke arah nya.


"Hyuna?" gumam Arkan terkejut. Dia dengan cepat menghampiri Hyuna dan menarik gadis itu pergi dari sana.


"Arkan, ada apa? Kenapa Lo membawa gue pergi?" Tanya Hyuna tanpa bisa menolak, Arkan terlalu kuat mencengkram tangan nya dan menyeretnya pergi.


Arkan membawa Hyuna ke taman rumah sakit, karena saat ini tengah hari. Jadi, taman itu terlihat sedikit sepi.


"Ada apa Arkan, kenapa Lo lakukan ini?" Tanya Hyuna, dia mengusap pergelangan tangan nya terasa memanas, akibat cengkraman tangan Arkan.


"Tolong jangan dekati Kaila, ataupun gue!" pinta Arkan.


Hyuna terkejut, mata nya membesar setelah mendengar permintaan Arkan. Baru saja 2 hari dia bersama Arkan, tapi kini pria itu malah menyuruh nya menjauh.


"Kenapa Arkan, apa kesalahan gue?"


Masih dengan topeng malaikatnya, Hyuna masih berpura pura baik dan lembut.


"Setelah sekian tahun tidak bertemu, jangan berpikir gue akan melupakan apa yang telah Lo lakukan Hyuna!"


Mata Hyuna semakin melebar, dia menggeleng kuat. "Apa yang gue lakuin Arkan, kenapa Lo ingin gue jauhin Lo?" rengek nya mulai menangis. Hyuna mencoba meraih tangan Arkan, namun di tepis oleh pria itu.


"Sudah gue katakan, jangan dekati gue lagi. Sudah cukup Lo membuat gue dan Kaila berpisah selama bertahun tahun.


Kali ini, gue gak akan membiarkan Lo melakukan hal yang sama. "


Arkan memejamkan matanya sebentar, lalu membuka nya kembali. Mata nya terbuka dengan sorot tajam seakan menusuk ke manik mata Hyuna.


"Gue tidak pernah, dan tidak akan pernah membalas perasaan Lo. Jadi, berhentilah membuat kekacauan!"


Nafas Hyuna tercekat, kata yang dulu pernah Arkan lontarkan kepadanya. Kembali ia dengar dari Arkan.


"Tidak...Gu-e tidak mau. Gue sudah cukup lama menunggu Lo move on dari perempuan itu. Bagaimana mungkin gue akan menyerah begitu saja" tolak Hyuna.


Arkan mengangkat bahu, dia sudah malas berurusan dengan gadis seperti Hyuna.


"Mau tidak mau, suka atau tidak suka. Lo harus menerimanya. Dan ingat!" Arkan menunjuk wajah Hyuna. Matanya menatap sinis pada gadis itu.


"Gue tidak akan mentolerir perbuatan Lo, jika Lo berani menyentuh atau mengganggu Kaila lagi!"


Setelah mengatakan hal itu, Arkan pergi begitu saja. Meninggalkan Hyuna yang kini ambruk di tanah.


Arkan kembali ke kamar inap Kaila, dia bertemu dengan bunda Tari yang kebetulan baru saja keluar dari sana.


"Eh Arkan?" sapa Tari.


"Iya Bun"


"Mau lihat Kaila? dia baru aja tidur" jelas Tari.


"Gak papa Bun, Arkan cuma mau lihat dia dan tungguin di bangun" ujar Arkan.


"Oh yaudah, makasih yah udah mau bantu jaga Kaila"ujar Tari merasa tidak enak.


"Gak papa Bun, Kaila calon istri Arkan, sudah menjadi kewajiban Arkan buat menjaga nya" balas Arkan.


Tari tersenyum, dia semakin yakin dengan keputusan nya menjodohkan mereka.


"ya sudah, bunda pulang dulu sebentar, karena ada kamu bunda jadi agak lega"


Arkan mengangguk patuh, dia menatap kepergian calon mertua nya.


setelah memastikan Tari benar benar telah pergi, barulah Arkan masuk ke dalam.


Arkan duduk di samping Kaila, menatap wajah gadis yang telah banyak terluka oleh nya.


"Maafin gue Kai, karena gue. Lo jadi kaya gini.


Gue tahu, Lo sakit ketika melihat Hyuna dan gue bersama.


gue mohon, jangan berpikir yang tidak tidak. Gue tidak pernah berpaling dari Lo. "


Arkan terus mengungkapkan keresahan nya dengan suara pelan. Menunduk untuk mengecup punggung tangan Kaila.


"Tolong, jangan pergi seperti dulu lagi. Gue gak bisa Kai, gue gak bisa menahan rindu lagi"


Arkan menunduk, menangis dalam diam. Ingin sekali dia memeluk Kaila, mengatakan dengan lantang bahwa dia mencintai gadis itu.


Namun, Arkan cukup tahu diri. Dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu.


Dia tidak akan mengganggu Kaila yang sedang istirahat.


Dengan pelan, Arkan kembali mengecup punggung tangan Kaila. Lalu, dia merebahkan kepala nya di samping tangan Kaila tanpa melepaskan genggaman nya.


Tanpa Arkan tahu, Kaila perlahan membuka matanya. Dia melirik Arkan yang menunduk pada tangan nya.


Ternyata sejak tadi Kaila mendengar semua yang Arkan ucapkan.


Dengan senyum getir, Kaila menatap pria yang sebenarnya juga ia cintai.


...----------------...


"Kaila Wilson!


Selalu saja, Lo yang membuat hidup gue kacau!


mengapa harus Lo yang di cintai Arkan!!


Kenapa???"


Prank!


Vas bunga dengan sekejap bertaburan dengan serpihan menyebar kemana mana.


Prank!!!


"Argggg!!!!!!


Sialan!!!"


Hyuna terus mengamuk, dia tidak bisa menahan amarah nya.


Setelah beberapa tahun meninggalkan Arkan, dan setelah kembali. Semua keadaan masih sama.


Hyuna benar benar tidak bisa memikirkan apapun lagi. Dia sudah mencoba segala cara. Namun, Arkan tidak pernah melirik kearah nya.


"Baik! jika gue tidak bisa memiliki Lo. Maka dia juga tidak!" tangan Hyuna menggenggam erat, terlihat darah segar mengalir perlahan dari luka yang di sebabkan oleh percikan kaca.


Kondisi kamar Hyuna sangat memprihatinkan. Semua barang barang berserakan di mana mana, serpihan kaca terlihat di lantai.