
Kringgg!!!!!!
Suara bel terdengar nyaring, siswa siswi berhamburan keluar dari kelas mereka masing masing, seperti lebah di pukul sarangnya.
Di saat semua orang berlomba lomba ingin pulang, Kaila malah terlihat enggan untuk pulang.
"Lo balik ke rumah, atau ke rumah gue?"tanya Jia.
Kaila terdiam, dia memikirkan apa yang harus di lakukan. Apakah dia harus terus bersembunyi, atau dia harus segera menghadapi nya.
"Nggak deh, gue balik ke rumah aja" jawab Kaila.
Jia mengangguk mengerti, dia bersyukur Kaila tidak lari lagi dari masalah.
Mia tersenyum getir, mengusap bahu Kai agar tetap tabah.
"Lo harus kuat, Lo harus bisa melawan dia!"semangat Jia.
"Tentu, gue tidak akan mudah di kalahkan. Gue tidak akan membiarkan dia menginjak injak hargadiri gue lagi!" gumam Kail dengan tatapan serius.
Mia dan Jia tersenyum, mereka sangat mendukung apapun yang Kaila lakukan.
"Yasudah, gue antar Lo pulang deh" ucap Jia, namun Kaila langsung menggeleng.
"Gue naik taxi, Lo gak perlu muter anter gue!" Tolak Kai.
"Gak papa kali, biasa aja. Muter dikit aja" balas Jia.
Kaila tetap menggeleng, dia tidak mau merepotkan kedua sahabatnya. Lagi pula, Kaila juga ingin menyendiri sebelum sampai ke rumah.
"Yaudah deh" pasrah Jia.
Mereka pun akhiy pulang ke rumah masing masing, setelah sebuah taxi membawa Kaila pulang.
"Ini yah pak,ongkosnya" ucap Kaila sembari menyodorkan uang tukaran 50 1 lembar."
"Makasih neng"balas supir taxi . Kaila mengangguk, kemudian keluar dari dalam mobil. Dia melangkah pelan masuk ke dalam rumahnya.
"Kai, kamu sudah pulang sayang?"
Tari menyambut hari putrinya, dia menyusul dan memeluk putrinya penuh kasih sayang.
Dia berpikir, putrinya akan lama baru mau pulang. Atau kemungkinan besar, dia berpikir putrinya akan kembali ke desa.
"Ma aku capek" lirih Kai mengurai pelukan Tari. Kemudian, dia hendak beranjak menuju ke kamar.
Namun, Fahmi turun dan mencegah putrinya pergi ke kamar.
"Tunggu Kaila!" Tahan Fahmi.
Kaila terhenti di tempat nya, menunggu papa nya berbicara.
"Papa mau bicara sama kamu!"
"Bicaralah" balas Kaila dingin.
Fahmi memberi kode pada istri nya, agar dia menuntun Kaila duduk di sofa.
Mengerti maksud dari suaminya, Tari pun langsung menuntun putrinya duduk di sofa.
Kaila menurut saja,dia duduk di sofa tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Kaila,kamu ini sudah dewasa. Ayah yakin, kamu pasti bisa memikirkan mana yang baik dan buruk. Kamu juga pasti bisa menyikapi setiap masalah yang tengah kamu hadapi. "
"Jangan berbelit Ayah, langsung saja ke intinya!" Sela Kai.
Fahmi sempat naik pitam, beruntung Tari cepat mengusap tangan suaminya agar terhindar dari amarah.
"Sejak kapan kamu kehilangan sopan santun kamu Kaila? Kenapa kamu menjadi seperti ini? Ayah tidak pernah mengajarkan kamu hal yang seperti ini" lirih Fahmi sedih, melihat putrinya seperti ini.
"Maaf" lirih Kaila merasa bersalah, dia hanya menunduk sedih.
"Kai.." Fahmi meraih tangan putrinya, menggenggam dengan sangat erat.
Kaila mendongak, menatap mama ayahnya.
"Kamu percayakan, semua yang ayah dan bunda lakukan untuk mu, adalah yang terbaik untuk mu?"
Kaila mengangguk, dan entah bagaimana dia sudah merasakan hal yang tidak baik di hatinya.
"Kaila, ayah sama bunda berencana ingin menjodohkan kamu dengan Arkan"
Deg.
Seakan di sambar petir, Kaila .lepaskan genggaman tangan ayah nya, dia mendadak kaku.
"Ayah, Kaila gak salah dengarkan?"tanya Kai memastikan.
Fahmi menggeleng, dia kembali menggenggam tangan putrinya. Namun, Kaila menepisnya.
Kai segera bangkit, kepalanya menggeleng kuat.
"Kai, dengerin penjelasan ayah dulu"
"Tidak ayah, Kai tidak mau. " Tolak Kai.
Bagaimana mungkin dia menikah dengan Arkan. Pria yang selama ini dia benci. Jika kejadian 8 tahun lalu tidak terjadi, maka dia akan menerima dengan senang hati.
Tidak, bukan berarti Kaila masih menyukai Arkan. Baginya, perasaan nya pada Arkan sudah lama mati.
"Ayah dan bunda tidak memberi kamu pilihan Kaila, kami sudah memutuskan nya!" Tegas Fahmi.
Kai menatap kedua orang tua nya tidak percaya. Bagaimana mungkin mereka memaksakan kehendak nya.
"Ayah, bunda. Kaila tidak mau. Ini sudah modern. Mengapa kalian masih melakukan perjodohan seperti ini?" tanya Kai.
Tari mendekati putrinya, berusaha menenangkan putrinya.
"Sayang, ini--"
"Tidak bunda, Kai tetap tidak mau" tolak Kai, dia menjauh dari bundanya.
" Kenapa kalian tidak mengerti, mengapa kalian berubah menjadi orang tua yang mengatur hidup ku"
"Kai, kamu!" Tunjuk Fahmi, dia malah terpancing emosi mendengar ucapan putri nya.
"Maaf ayah, jika Kai berdosa telah membentak, tapi kau benar-benar tidak bisa menerima ini!"
"Kamu tetap harus melakukan nya Kai, perjodohan ini sudah di lakukan sejak kamu lahir!" Kata Arkan.
"Apapun yang terjadi, perjodohan ini tetap akan di langsung kan. Minggu depan pertunangan akan di lakukan!" Tegas Fahmi.
Kai menggeleng, dia tidak mengerti mengapa kedua orang tuanya berubah menjadi seperti ini.
"Secepat itu? Ayah, bunda. Putri kalian ini masih sekolah, mengapa kalian tega mengambil masa muda Kai, dan menghancurkan masa depan Kai" mata Kai mulai terasa panas, air matanya mulai mengalir di sudut matanya.
Tari menggigit bibirnya sendiri, dia tidak tega melihat kondisi putrinya.
"Sayang, ini demi kebaikan mu, demi kebahagiaan mu sendiri!" Kata Taru meyakinkan.
Kai menggeleng kuat, dia tidak habis pikir dengan keputusan kedua orang tuanya ini.
"Terserah kalian!" Kai berbalik pergi, berlari menuju ke kamarnya.
Blam!
"Kai.." lirih Tari. Fahmi memeluk istrinya, dia tahu hati istri nya tidak tahan melihat putrinya, tapi ini harus mereka lakukan demi kebaikan putri mereka dan demi memenuhi janji yang pernah mereka ucapkan.
"Jahat!! Jahat!! Jahat!!" Teriak Kai histeris. Dia melempar semua barang barang nya ke sembarangan arah. Melampiaskan amarah yang sedang menggebuh.
"Mengapa mereka sejahat ini!" Lirih nya dalam tangis. Air mata yang sudah persis seperti derasnya aliran sungai.
" Hikss...Hiks..."
"Arrggggg!!!"
Kai tidak bisa mengendalikan emosinya, dia meraih ponselnya, kemudian melemparkan nya ke kaca rias miliknya.
Prank!!
Pecah, hancur, berderai di lantai. Persis seperti hati nya saat ini. Luka yang hampir sembuh, kembali berdarah dan terus berdarah. Bahkan sekarang ia merasa luka nya di tusuk tusuk oleh semua orang.
Lelah menangis, Kaila tidak sadar jika dirinya telah tertidur di lantai. Di sekeliling nya terdapat pecahan kaca dan vas bunga yang hancur berkeping keping.
Sedangkan di bawah, Viona dan Ferdian baru saja pulang. Mereka terkejut melihat ayah dan bunda nya terduduk di sofa. Bunda nya menangis di dalam pelukan sang ayah.
"Ada apa Bun?"