Arkaila

Arkaila
Drama Duo Nenek Lampir



Seluruh penjuru telah tahu, Arkan telah menggendong Kaila menuju ke UKS. Tentu hal ini sangat luar biasa bagi mereka.


Bagaimana tidak, Arkan yang terkenal super dingin dan tidak pernah tergoda oleh wanita mana pun. Namun, Kai mampu mendapatkan simpati darinya.


Dengan tangan nya langsung, Arkan menggendong Kaila dan berlari ke UKS.


"Ada apa dengan Arkan, dia mau menolong Kaila?"gumam salah satu siswi yang tengah bergosip dengan teman nya.


Mereka heran, dulu pernah juga terjadi seperti ini. Tapi, Arkan meminta Bima untuk membawa ke UKS.


Berita ini, terdengar ke telinga Dea. Tangan nya mengepal, saat mendengar siswi siswi itu berbicara.


"Sial, gadis itu lebih licik dari gue. Awas saja, gue akan memberinya pelajaran" gumam Dea berlalu pergi.


Kriingggg!!!


Bel istirahat pertama pun berbunyi, Jia dan Mia bersorak senang. Menyimpan buku buku ke dalam tas, kemudian berdiri di depan Kaila.


"Yuk, ke kantin" ajak Mia.


Kaila mengangguk,dia segera bangkit setelah menyimpan buku bukunya ke dalam tas.


Mia dan Jia menggandeng kedua lengan Kaila. Berjalan beriringan menuju ke kantin.


Keceriaan kedua gadis itu telah kembali, mereka sudah lengkap dengan kehadiran Kaila.


Saat di koridor, tiba-tiba Dea dan Kasi menghadang langkah mereka.


"Apa apaan sih kalian!" Seru Jia kesal. Jalan mereka jadi terhalan oleh kedua gadis ini.


"Tau ih, halangi jalan kita aja!" Sahut Mia, dia dan Jia maju berniat menyingkirkan Dea dan Kasi dari hadapan mereka.


"Sorry, kita gak ada urusan sama kalian berdua" ucap Dea mendorong Jia dan Mia hingga terantuk ke dinding.


Kaila terkejut, dia melihat keadaan kedua teman nya. Kemudian menatap tajam pada Dea.


Sejak awal bertemu, Kaila sudah tahu. jika Dea tidak menyukai nya, dan hal itu tidak membuat seorang Kaila takut.


"Heh anak pindahan! Lo gak usah kecentilan deh deketin Arkan!" Tuding Dea sembari mendorong bahu Kaila.


Langkah Kaila mundur selangkah,dia masih diam menatap Dea.


Melihat teman nya di tindas, Mia langsung maju dan mendorong Dea.


Bruk.


Tubuh Dea yang tidak siap menerima serangan dari Mia langsung terhenyak di lantai.


"Berani nya Lo menindas sahabat gue!" Marah Mia.


Kasi menjadi geram, dia hendak menyerang Mia. Namun, Jia lebih dulu mendorong nya dan jatuh tepat di samping Dea.


Suasana di koridor lumayan sepi, karena saat ini baru saja istirahat, jadi anak anak sebagian besar berada di kantin untuk mengisi tenaga.


"Kalian pikir, mentang mentang kalian anggota OSIS. Kalian bisa seenaknya nindas kita huh!" Bentak Jia.


Mereka berdiri di depan Kaila, menjadi benteng bagi gadis itu.


Kaila tersenyum miring, dia suka dengan sikap kedua sahabatnya ini. Tidak mau di tindas, inilah yang Kaila suka.


"Cih, lemah sekali"


Jia dan Mia terkejut, mereka langsung berbalik setelah mendengar gumaman Kaila.


Kai berjalan maju, mata nya menatap lurus pada kedua wanita itu.


"Kalian memilih lawan yang salah! Gue, diam. Bukan berarti gue takut!" Ujar Kai.


"Dengerin!" sahut Jia.


"Satu lagi, soal Arkan. Gue gak pernah mendekati nya. Tapi, dia yang mendekati gue!" Kaila tersenyum miring, melihat Dea dan Kasi terdiam di hadapan nya.


"Salah kita apa sih Kai, kita cuma menjalankan tugas. Kenapa Lo malah ngebully kita" Dea tiba-tiba menangis, membuat dahi Kai mengerut.


"Lo gila yah!" Seru Mia.


"Benar Kai, kenapa kalian malah memperlakukan kita berdua seperti ini. Kita kan hanya menjalankan tugas sebagai anggota OSIS " tambah Kasi.


Ketiga gadis itu semakin bingung, apa yang di maksud kedua wanita ini. Mereka berbicara seolah mereka sedang tertindas.


Padahal yang terjadi sebalik nya, merekalah ya g menindas.


Suasana mulai ramai, Kaila semakin menatap tajam pada mereka.


"Ada apa ini?" suara bariton terdengar dari arah belakang mereka.


Kai mengangguk pelan,dia mengerti mengapa sikap Dea dan Kasi mendadak berubah seperti tadi.


"Mampus, ini bakalan panjang urusan nya" bisik Jia.


"Udah, tenang saja" balas Mia menenangkan.


Kaila mendengar bisikan ketakutan dari kedua teman nya. Namun, dengan santai dia berbalik. Menatap Arkan yang sedang menatapnya datar.


Dea dan Kasi segera berdiri, mereka bergegas berlindung di belakang pria itu.


"Arkan tolong" lirih Dea.


"Apa yang terjadi Dea, kenapa kalian ketakutan seperti ini?" Tanya Bima.


"Mereka marah, karena kami menghukum Kaila waktu itu"


"Huh?" Bima terkejut mendengarnya. dia tidak habis pikir dengan apa yang Kalian lakukan.


Arkan yang g sejak tadi hanya diam saja, langsung bergerak mendekati Kaila. Kemudian menarik tangan nya pergi.


"Ikut gue!" Seru nya.


Tampa sempat menolak,Kaila terpaksa mengikuti kemana Arkan membawanya.


Semua orang terkejut, apa yang di lakukan Arkan barusan tentu mengundang perhatian.


"Arkan tunggu!!" teriak Bima mengejar Arkan.


Jia dan Mia tersenyum menang, menatap Dea dan Kasi yang cemberut.


"Wahh... Bagaimana ini, Arkan tampak nya menyukai Kaila deh" gumam Jia sengaja memanasi Dea.


"Gak pernah tuh, sejarahnya Arkan Megang tangan cewe. " Sahut Mia ikut ikutan.


Dea semakin kesal, dia pergi begitu saja dari sana.


"Bye bye nenek lampir.."ledek Jia melambaikan tangan dengan ekspresi mengejek. Kemudian mereka berdua tertawa bersama.


"Makanya, jangan jahat jadi orang!" Seru Mia.


"Huuu"


Arkan menarik tangan Kai masuk ke dalam ruangan OSIS. Menutup pintu dengan hempasan keras dan langsung menguncinya.


Deg.


Kaila terkejut melihat apa yang Arkan lakukan.


"Apa yang Lo lakuin bego!" maki Kai hendak membuka pintu.


Namun, Arkan menahannya. Mendorong tubuh Kaila ke dinding, kemudian mengurungnya di antara kedua lengan nya.


Kai semakin panik, dia mendorong tubuh Arkan agar menjauh darinya.


Namun, kekuatan Arkan jauh lebih kuat.


"Minggir ga!" titah Kaila.


Arkan tidak menggubrisnya, dia sudah tidak terkendali lagi.


"Lo kenapa selalu membuat gue susah sih!" lirih Arkan.


Kaila mendongak, sorot mata nya tajam menatap Arkan.


"Gue gak pernah menyusahkan siapapun, mau Lo atau siapapun!" tekan nya.


"Minggir! atau gue teriak!" ancam Kai.


Arkan tertegun, dia melihat sorot mata Kaila penuh dengan kebencian. Sama seperti ketika mereka bertengkar 8 tahun yang lalu.


perlahan, Arkan melepaskan Kaila. memberi jarak di antara mereka.


"Jangan mentang mentang Lo ketua OSIS, Lo bisa berbuat sesuka hati Lo sama gue.!" ucap Kaila menantang.


"Gue gak mengandalkan jabatan, tapi gue menegakkan kebenaran!" balas Arkan tegas.


"Kebenaran apa! Lo gak tahu apa!" bantah Kaila.


"Lo yang gak tahu apa apa!" balas Arkan menunjuk wajah Kaila.


"Arkan!" teriak Bima dari luar, dia berusaha membuka pintu yang terkunci dari dalam.