
Di dalam ruangan UKS, Bima menatap Arkan penuh tanya. Pertama, soal dia bolos tanpa memberikan kabar apapun. Kedua,dia datang bersama Kaila ke sekolah. Ketiga, kejadian hari ini. Arkan sama sekali tidak melakukan apapun ketika Kaila membuat ulah lagi.
Merasa di tatap oleh Bima, Arkan pun membuka matanya perlahan. Menoleh dan benar saja, dia mendapati Bima sedang menatap kearahnya.
"Lo hutang penjelasan" ujar Bima.
Arkan meluruskan pandangan nya ke langit langit ruangan UKS. Dia mengangkat satu tangan nya, untuk di jadikan bantal oleh kepala nya sendiri.
"Jika gue cerita, apa Lo yakin siap mendengarnya? Dan apa Lo bisa berjanji untuk tidak berteriak?" Lirih Arkan.
"Ya" jawab Bima mengangguk pasti.
Arkan menghela nafas berat, sebelum dia menjawab dan menjelaskan pada Bima.
"Gue dan Kaila di jodohkan, sebentar lagi kita akan di nikahkan"
"Ha!!" Pekik Bima ingkar janji. Arkan menatap tajam kepadanya. Bima langsung menutup mulutnya, sadar akan kesalahan nya.
"Lo serius, kalian di jodohkan?" tanya Bima memastikan.
"Ya, dan sebenarnya sejak kita kecil. Hanya saja, sebuah tragedi terjadi dan membuat kami dalam situasi seperti ini" jelas Arkan lagi.
Bima mengangguk pelan, dia tidak menyangka kehidupan Arkan dan Kaila terasa seperti kisah di dalam novel.
"Lo menerimanya?"
"Tentu saja, sejak gue mengetahui dia adalah gadis yang selama ini gue cari dan gue tunggu. Gue langsung jatuh hati"
Arkan mengulum senyum, "Ternyata dia semakin cantik"
Bima memutar bola matanya, dia sadar kini Arkan masuk ke dalam fase mabuk asmara.
"Terus, Kaila gimana? Apa dia juga menerima nya?" tanya Bima penasaran, apalagi melihat Kaila selalu saja emosi ketika bersama Arkan, mereka selalu bertengkar.
"Gue gak perlu jawab kali yah, karena Lo pasti tahu jawaban nya" kekeh Arkan.
"Dia menolak?"tebak Bima.
Arkan mengangguk, kemudian menggeleng. Membuat Bima menggeram dan kesal.
"Lo jawab yang benar, di tolak atau di terima!" Dengus nya.
"Awal nya di tolak, kemudian gue di terima. Entah apa tujuan nya,dia hanya mengatakan, jika dia ingin mengusir gue dari hidupnya"
Air muka Arkan seketika itu berubah, dia merasa sedih mengingat Kaila sangat membenci nya.
"Sudahlah, gue mau istirahat. Apapun yang terjadi esok. Gue akan hadapi dan gue gak akan melepaskan Kaila!" Tempat Arkan seraya memejamkan matanya.
Bima menatap sedih pada sahabat nya, dia tahu Arkan seperti apa. Jika sudah suka dan cinta, maka dia tidak akan berpaling. Dia bahkan selalu menjaga hati nya untuk Kaila.
*******
Jam istirahat pun telah tiba, seluruh siswa siswi berhamburan keluar dari kelas. Mereka bersorak senang, seakan beban yang menghimpit bahu mereka sejak pagi tadi telah terangkat.
Sebagian ada yang ke kantin, ada yang ke taman, dan ada yang ke perpustakaan. Ada pula yang hanya nongkrong di depan kelas.
Begitu juga dengan Kaila dan kedua teman nya. Mereka bersiap ingin ke kantin, perut kosong terasa keroncong sejak tadi.
Di saat mereka berjalan di lorong kelas, tiba-tiba Kaila merasa kebelet buang air kecil.
"Aduh..Gue kebelet nih." Pekik Kaila, dia segera berlari menuju ke toilet.
"Mau ke mana??" Teriak Jia.
"Gue mau ke toilet bentar, kalian duluan aja!!" Balas Kaila yang sudah jauh di depan sana.
"Ihh kebiasaan banget deh, kebelet dadakan kaya gitu" gerutu Mia.
"Alah, Lo kaya gak tahu Kaila aja" seru Jia. Dia menggandeng tangan Mia menuju ke kantin.
Beruntung toilet sedang kosong, dia tidak perlu antri .
"Ah lega nya" desah Kaila setelah merasa perutnya plong. Dia berjalan maju keluar dari toilet.
Baru keluar dari toilet, tiba-tiba seseorang dengan sengaja menubruk tubuhnya. Sehingga membuat tubuhnya terhuyung dan terjatuh ke lantai.
Kaila mendongak, melihat siapa orang yang menubruknya. Saat melihat Dea yang berdiri di hadapan nya. dengan segera Kaila bangkit.
Tak jauh dari sana, Farhan melihat Kaila terjatuh. Dia segera membantu Kaila berdiri.
"Lo kalo jalan liat liat dong! Gunain tu mata lepek Lo!" Kesal Kaila.
Melihat Farhan membantu Kaila, Dea menatap nya sinis. "Kenapa sih, Lo bantuin ni cewe brandal!"
"Eh, dia itu orang baik. Gak kaya Lo, nenek lampir. Yang selalu saja berpikir jelek sama orang " ketus Kaila menantang.
"Makasih yah Farhan" sambung nya dengan nada lembut, dan Farhan langsung menjawab dengan anggukan kepala.
"Lo itu kalo jalan liat liat, jangan suka tabrak aja!" peringat Farhan pada Dea.
Dea tampak tidak suka, Farhan membela gadis itu. Dia ingin semua orang membenci Kaila.
"Lo itu junior gue, bicara kaya gitu sama gue terdengar tidak sopan!" Kesal Dea.
"Kita para junior akan menghargai senior, apabila senior juga menghargai kita. Tapi lo-?" Farhan menggelengkan kepalanya. Sedangkan Kaila, dia malah tersenyum remeh pada Dea. Bahkan dia dengan sengaja mengejek Dea dengan menjulurkan lidahnya.
Kaila berbalik pergi, dia berjalan beriringan dengan Farhan.
"Dasar gadis pembuat onar, brandalan!" Teriak Dea membuat langkah kaki Kaila terhenti.
Kaila berbalik dan menghampiri Dea yang masih menatapnya dengan tatapan menantang.
"Lo bilang apa?" Ulang Kaila.
"Gue hilang, Lo pembuat onar! Gadis berandalan!" Ulang Kaila yang langsung melayangkan tamparan nya.
Plak!
Farhan yang melihatnya menganga, dia tidak percaya Kaila akan senekat itu.
"Sebelum berkata itu, ngaca dulu!" ucap Kaila.
Dea memegangi pipi nya, matanya memanas menahan gejolak emosi yang sudah tak terbendung lagi.
"Beraninya Lo!!" Teriak Dea mulai menyerang Kaila. Namun, dengan sigap, Kaila menangkis dan terus melawan Dea.
Siswa siswi yang melihat pertengkaran mereka, hanya bisa menonton saja. Tidak ada yang berani untuk melerai.
Farhan panik, dia mencoba mendekatinya dan melerai. Namun, malah dirinya yang tersungkur ke lantai.
"He bantuin dong!" Teriak Farhan pada siswa yang hanya menonton saja. Tapi, mereka tidak ada satu pun yang berani maju.
"Aw...Kaila!, awas Lo yah" Dea berusaha membalas serangan Kaila, dia mencoba menarik rambut Kaila. namun, ketika dia hendak menggapainya. Kaila lebih dulu menarik rambutnya, menghempaskan tubuhnya ke dinding.
"Gue udah pernah bilang sama Lo, jangan macam macam sama gue!" bisik Kaila.
Dea benar benar sudah terkunci, dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Dia hanya berharap Arkan datang dan melihat aksi Kaila terhadap dirinya.
"Kai udah Kai, stop. Lo jangan gitu, tu anak udah babak belur!" bujuk Farhan berusaha untuk menghentikan Kaila.
Kaila menghela nafas, dia hendak melepaskan nya. namun, dengan tiba-tiba dari arah belakang nya Kasi datang dan langsung menarik rambutnya.
"Sialan Lo, berani banget Lo nyerang teman gue" teriak Kasi.
"lepas bego!! jika Lo gak mau teman Lo botak!"ancam Kaila.
namun, Kasi tidak mendengarkan nya. Dia semakin mengencangkan cengkraman tangan nya pada rambut Kaila. Dia berusaha untuk melepaskan Dea yang sudah babak belur oleh Kaila.